
Trisha secara perlahan mulai membuka matanya, dia mendengar seseorang sedang berbicara dengan ibunya di samping ranjang miliknya.
Tak lama kemudian, orang itu pun mulai pergi dari kamarnya, diantar oleh Nia, Ayu mulai kembali duduk di ranjang miliknya menatapnya dengan dalam.
Untuk beberapa saat tidak ada yang dia ucapkan pada Trisha, hanya menatapnya dengan intens seolah banyak pertanyaan yang ingin dia utarakan.
"Bu, aku ambilkan minum dulu ya," pamit Titi, seolah ingin memberi ruang pada Trisha dan Ayu untuk berbicara.
"Iya Mbak," sahut Ayu, menoleh ke arahnya sekilas.
Titi pun mulai melangkah meninggalkan kamar itu, hingga kini hanya tersisa Ayu dan Trisha di dalam kamar itu.
Trisha mulai bangun dan mendudukkan dirinya, hingga kini dia berhadapan dengan ibunya itu.
"Sebenarnya ada apa, Nak?" tanya Ayu menggenggam tangan Trisha dengan lembut.
Meskipun dia bukanlah ibu kandung Trisha, tapi dia yang sudah membesarkan Trisha selama ini, jadi dia bisa tahu jika saat ini anaknya itu memang tidak baik-baik saja.
Terlebih dia mendengar penjelasan dokter barusan yang mengatakan jika anaknya itu kemungkinan tengah hamil, dia tidak ingin mempercayai itu, dia beranggapan jika dokter hanya salah prediksi saja.
"Aku baik-baik saja Bu," sahut Trisha berusaha tersenyum.
"Kamu tau gak, barusan dokter bilang ada kemungkinan kalau kamu hamil, tapi ibu tidak percaya itu, apa yang terjadi padamu belakangan ini bukan karena tanda-tanda kehamilan, tapi pasti karena kamu kecapean saja."
Tidak ada sedikit pun raut kesal atau curiga dari wajah Ayu yang dapat Trisha lihat, hanya ada raut tenang seperti sebelumnya, disertai senyuman tipis.
Trisha menatap Ayu dengan sedih, ibunya begitu mempercayainya, tapi sampai saat ini dia terus saja membohongi wanita yang sudah menyayanginya dengan tulus itu.
__ADS_1
"Maafin Trisha, Bu," lirih Trisha menundukkan kepalanya dan mulai menangis.
"Maaf untuk apa? Apa kamu telah membuat kesalahan?" tanya Ayu mengusap kepala belakang Trisha dengan penuh sayang.
"Iya Bu, Trisha begitu banyak salah sama Ibu." Trisha mengangguk dengan kepala masih tertunduk.
"Kesalahan apa saja? Katakanlah semuanya, jangan kamu tutupi lagi," ucap Ayu dengan sabar.
Trisha mulai mengangkat wajahnya, menatap Ayu dengan dalam, apakah dia harus menceritakan semuanya pada Ayu atau terus menyimpannya sendiri.
"Cerita saja," ucap Ayu tersenyum karena melihat keraguan di mata Trisha.
"Apa yang dokter itu katakan memang bener, Bu. Trisha saat ini sedang hamil."
Mendengar hal itu Ayu tentu saja kaget, dia juga tidak menyangka anak yang dia besarkan itu tengah hamil, sementara dia tahu sendiri jika anaknya belum menikah.
Trisha yang dapat melihat raut wajah Ayu berubah pun, segera berbicara lagi dan mulai menjelaskan semuanya, agar ibunya itu tidak salah paham.
"Apa! Kapan kamu menikah dan bagaimana bisa kamu menikah, siapa pria yang menikahimu?" tanya Ayu dengan beruntun.
"Trisha menikah dengan Tuan Darrel," terang Trisha lagi.
"Darrel?" Ayu semakin menatapnya dengan heran.
"Iya Tuan Darrel anaknya Nyonya Merry, donatur tetap panti ini," terang Trisha lagi membuat Ayu menatapnya dengan tak percaya.
"Tapi Tuan Darrel, bukannya sudah menikah, kamu jadi orang ketiga?" tanya Ayu dengan shock.
__ADS_1
Trisha menggeleng dan mulai menceritakan semuanya, bagaimana dia dan Darrel menikah, bagaimana kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini, hingga sikap Darrel yang tidak mempercayai jika dia saat ini tengah hamil anaknya.
"Bagaimana bisa dia lebih percaya omongan orang lain dibanding istrinya sendiri," ucap Ayu dengan kesal ketika Trisha selesai berbicara.
"Terus sekarang apa yang akan kamu lakukan lagi?" sambung Ayu.
"Trisha juga bingung Bu, tapi yang jelas saat ini Trisha udah terlanjur kecewa pada Darrel, jadi Trisha tidak akan menjelaskan apa pun padanya lagi," ucap Trisha yang sudah terlanjur kecewa pada suaminya itu.
"Ya udah kalau itu keputusanmu, ibu hanya bisa mendukung apa pun yang kamu lakukan, selama itu tidak salah, ibu hanya berharap jika kalian memang berjodoh, kalian akan bersatu lagi dan dapat melewati masalah ini."
"Apa Ibu tidak kecewa pada Trisha?"
"Tidak, karena kamu tidak salah, kamu juga tidak menjadi orang ketiga dari rumah tangga orang lain, apalagi niat awal kamu melakukan hal itu demi panti ini dan demi anak-anak kurang beruntung di sini," sahut Ayu menggeleng.
"Makasih Bu," sahut Trisha memeluk Ayu dengan erat.
"Semoga saja kamu selalu bisa menghadapi masalah yang datang padamu dan dapat menyelesaikannya dengan baik."
"Iya aamiin Bu," sahut Trisha mengangguk.
"Usia berapa kandunganmu ini?" tanya Ayu ketika mereka melepaskan pelukan mereka.
"Pas kemarin di usg sebelum pulang dari rumah sakit, delapan minggu Bu," terang Trisha tersenyum.
"Semoga saja dia dan kamunya selalu sehat, hingga waktunya persalinan tiba," ucap Ayu.
"Iya aamiin Bu." Trisha pun mengangguk.
__ADS_1
Kini Trisha merasa sedikit lega karena dia telah berterus-terang pada Ayu dan menceritakan apa saja yang menjadi keluah kesahnya beberapa waktu ini.
Sementara untuk masalah Darrel, untuk sekarang dia akan membiarkan pria itu terus dengan pikirannya itu, tidak mau terlalu ambil pusing lagi, agar dia dan kandungannya selalu baik-baik saja.