Satu-satunya Cinta

Satu-satunya Cinta
Pikiran Kacau Darrel.


__ADS_3

Darrel diikuti oleh kedua anak buahnya berjalan dengan langkah besarnya, menuju ke sebuah ruangan yang sudah Romi beritahukan padanya melalui pesan singkat ketika di perjalanan tadi.



Ruangan tempat Trisha berada di lantai tiga rumah sakit itu, dia kini tengah melewati koridor untuk sampai ke tempat tujuan.



Darrel menelankan langkahnya begitu sampai di sebuah lorong, di depannya ada Romi dan asistennya Rizky tengah duduk di kursi tunggu.



"Rom," panggilnya membuat kedua orang yang tengah duduk di kursi tunggu itu beranjak dari tempat duduknya.



"Trisha baru beres diperiksa, dia saat ini belum sadar," ucap Romi mendekat ke arah Darrel.


Darrel mengangguk sambil tersenyum, dia benar-benar senang karena istrinya baik-baik saja.


"Bagaimana kamu bisa bertemu dengannya?" tanya Darrel dengan penasaran.



"Tadi aku sama Rizky dalam perjalanan dari luar kota, kebetulan melihat dia yang sedang dikerumuni banyak orang karena pingsan di pinggir jalan, dia pingsan karena kelelahan," terang Romi.



"Baguslah kalau dia baik-baik saja," sahut Darrel dengan lega.



"Kanu dari mana, kenapa tampang kamu berantakan seperti itu?" tanya Romi yang melihat penampilan Darrel yang sangat acak-acakan, sisa perkelahian dirinya dan Baryl.



"Tadi aku habis menemui Baryl," sahut Darrel dengan marah karena mengingat kejadian tadi.



"Apa benar-benar dia yang menculik Trisha?" tanya Romi menatapnya dengan serius.



"Iya, tapi tadi saat aku datang Trisha sudah kabur lebih dulu," sahut Darrel singkat.



"Aku benar-benar tidak menyangka, jika dia benar-benar melakukan hal itu," decak Romi tak percaya.



"Aku mau melihat dulu Trisha," ucap Darrel malas untuk membahas tentang Baryl.



"Baiklah, kamu masuk saja. Aku juga mau pamit mau langsung istirahat," ucap Romi.



"Iya, makasih ya, kamu udah nolongin dia dan bawa dia ke sini," ucap Darrel dengan tulus.



"Iya sama-sama."



Romi menepuk pundak Darrel dan mulai melangkah pergi, tapi saat baru beberapa langkah, dia kembali menghentikan langkahnyadan kembali menghadap pada Darrel.



"Oh iya, selamat ya Rel bentar lagi kamu akan seorang jadi ayah."



Deg....



Jantung Darrel serasa behenti berdetak beberapa saat mendengar apa yang baru saja sahabatnya katakan itu.



"Ma–maksudnya?" tanya Darrel berbalik badan dan menatap Romi.


__ADS_1


"Tadi dokter mengatakan kemungkinan Trisha hamil, tapi untuk lebih jelasnya besok bisa kamu periksa secara langsung aja ke dokter kandungan," terang Romi dengan senyuman tipisnya.



"Apa!" Entah harus senang atau sedih mendengar hal itu.



Darrel ingin senang, tapi tiba-tiba saja ucapan dari Baryl beberapa saat yang lalu terus terngiang membuat rasa senang itu diliputi oleh rasa ragu.



"Kenapa Rel?" tanya Romi karena melihat Darrel tidak menunjukkan reaksi senang dengan kabar yang baru saja disampaikannya itu.



"Tidak apa-apa, kamu sebaiknya segera pulang, karena ini sudah mau dini hari," ucap Darrel yang sengaja mengalihkan ucapannya.



"Baiklah, aku pulang dulu kalau gitu," ucap Romi.



Darrel mengangguk dan hanya menatap kepergian sahabatnya itu dengan pikiran kosong.



"Kalian tunggu saja di sini," perintahnya ketika akan memasuki kamar rawat Trisha, pada kedua anak buahnya itu.



"Baik Tuan," sahut kedua anak buahnya itu dengan patuh.



Darrel mulai memasuki ruangan yang sepi dan terasa dingin itu dengan langkah pelan, dia langsung mendudukkan dirinya di kursi yang ada di samping istrinya.



Menatap wajah tenang yang terlihat pucat itu dengan dalam, lagi dan lagi ucapan Baryl mengganggu pikirannya, dia pun mencoba menghela napas sedalam-dalamnya.



Berharap hal itu dapat meringankan perasaan tak karuan yang kini ada di dalam hati dan menenangkan pikirannya itu.




Dia ingin istirahat, berharap ketika dia bangun nanti, dia sudah melupakan apa yang mengganggu hati dan pikirannya itu.


...*******...


Keesokan harinya, Trisha secara perlahan mulai membuka matanya yang semula tertutup dengan sempurna itu, bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri memindai tempatnya saat itu.



Karena tangannya terasa berat, dia pun melihat ke bawahnya dan ternyata pria yang dia rindukan, saat ini tengah tenang dengan mata terpejamnya.



"Apa semalam Darrel yang menemukanku?" gumam Trisha dengan hati yang senang.



"Rel," panggilannya dengan suara masih lemahnya, sambil berusaha menggerakkan tangannya yang berada dalam genggaman Darrel.



Merasakan gerakan di dekatnya itu, Darrel pun mulai membuka matanya, dia kemudian menegakkan tubuhnya ketika sadar jika Trisha yang memanggilnya.



"Kamu sudah sadar," ucap Darrel menatapnya dengan mata yang belum sepenuhnya sadar.



Trisha tersenyum dengan anggukan kepala antusiasnya, dia kemudian berusaha bangun dari tidurnya.



"Hati-hati." Darrel membantunya untuk duduk.



"Aku kangen kamu Rel, aku senang banget ternyata aku berhasil kabur," tutur Trisha dengan raut bahagianya.

__ADS_1



"Maaf aku telat menyelamatkanmu," ucap Darrel dengan wajah menyesalnya.



"Tidak apa-apa yang terpenting saat ini kita bisa bersama lagi, oh iya pria yang nahan aku itu Baryl, dia bilang jika dia adalah kakak kamu," terang Trisha.



"Iya, kamu tenang saja aku sudah menanganinya," sahut Darrel berusaha tersenyum pada Trisha.



"Baguslah kalau gitu, dia benar-benar orang yang aneh,' gumam Trisha.



"Rel apa kamu tidak merindukanku?" tanya Trisha karena Darrel masih belum memeluknya juga, padahal biasanya pria itu selalu menempel padanya.



Darrel yang mengerti dengan maksud dari istrinya itu tidak segera menyahut, dia hanya menatapnya dengan dalam, jujur saja dia begitu merindukan Trisha.



Namun, entah kenapa dia ragu untuk memeluk istrinya itu, perasaannya masih benar-benar kacau saat ini.



"Aku mau ke kamar mandi dulu ya." Darrel sengaja menghindari Trisha.



"Iya," sahut Trisha menatapnya dengan heran.



Darrel segera beranjak dari kursi tempatnya duduk, dan langsung masuk ke kamar mandi yang ada di ruangan itu, tidak memedulikan tatapan heran dari Trisha.



"Dia kenapa, kenapa dia sepertinya tidak senang dengan kehadiranku," gumam Trisha.



"Itu pasti cuma pikiranku saja, dia pasti sudah kebelet jadi buru-buru ke kamar mandi." Trisha menggeleng, mengenyahkan pikiran jelek tentang suaminya itu dan menunggu suaminya dengan tenang.



Sementara itu di dalam kamar mandi, Darrel mencuci wajahnya dengan air yang mengalir dari keran di wastafel, dia kemudian mengangkat wajahnya dan menatap wajahnya di cermin.



"Lupakan itu Rel, bisa saja dia berbohong, kamu tinggal tanyakan yang sebenarnya pada Trisha," gumam Darrel pada bayangan dirinya di depan cermin.



Darrel merasakan getaran dari ponselnya yang berada di saku celananya, dia pun segera mengeluarkan benda pipih itu dan segera menjawab panggilan dari mamamnya.



\[Rel, kamu di mana? Saat ini Papa kamu sedang ngamuk di depan rumah, sampai mama tidak berani keluar.\]



"Mama diam saja di rumah, tidak usah keluar, biar anak buahku yang mengurusnya," sahut Darrel memijat keningnya.



\[Tapi apa lagi yang terjadi di antara kalian? Kenapa Papa kamu sampai semarah itu, bahkan mamanya Baryl pun ikut dan sedang nangis-nangis.\]



"Nanti akan Darrel ceritain semunya Ma, yang penting sekarang Mama diam saja di rumah jangan menemui mereka," ucap Darrel dengan tegas.



\[Ya udah kalau gitu, tapi jawab dulu, kamu sekarang lagi di mana?\] tanya Merry.



"Aku di rumah sakit, lagi nungguin Trisha."



\[Apa! Trisha udah ketemu?\]

__ADS_1



"Iya udah, aku tutup ya teleponnya Ma, nanti kalau pulang aku ceritain semuanya."


__ADS_2