
Setelah mematikan teleponnya itu terputus, Darrel pun kembali memasukkan ponselnya ke saku celana dan langsung keluar dari kamar mandi.
Begitu keluar dari kamar mandi, dia melihat Trisha tengah berbincang dengan dokter yang terlihat baru saja selesai meriksanya.
"Baiklah, terima kasih Dok," ucap Trisha tersenyum ramah pada dokter wanita yang berhijab itu.
"Iya sama-sama Bu, semoga Ibu sama kandungannya baik-baik saja ya," ucap Dokter dengan ramah.
"Iya Dok, terima kasih."
Dokter itu pun mengangguk dan langsung pergi dari sana, tapi saat berpapasan dengan Darrel dokter itu kembali menunduk hormat.
"Rel, aku hamil," ucap Trisha dengan antusias sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Darrel tidak menyahuti ucapannya itu, dia secara perlahan berjalan ke arah Trisha, menatapnya dengan dalam.
"Apa saat kamu tinggal bersama dengan Baryl kalian benar-benar tidur bareng?"
Trisha merasa jantungnya berdegup tak karuan, mendengar pertanyaan itu, dia menatap Darrel dengan khawatir dan bingung.
"Jawab Trish!" tekan Darrel.
"I–iya, tapi aku terpaksa melakukan hal itu kare–"
"Itu artinya dia belum tentu anak aku," potong Darrel menatap perut Trisha dengan tajam.
Trisha menatap Darrel dengan terluka, setelah mendengar apa Darrel ucapkan itu, matanya mulai terasa panas melihat keraguan yang jelas terlihat dari mata suaminya itu.
"Apa maksud kamu, aku tidak melakukan apa pun dengan pria itu," ucap Trisha dengan lirih.
"Tapi kamu sudah tidur dengannya, tidak tau apa yang terjadi saat kamu tertidur!" takan Darrel dengan gusar.
Luruh sudah, air mata yang sedari tadi telah menggenang di pelupuk matanya itu, setelah mendengar ucapan dari pria yang tidak lain adalah suaminya itu.
Apa di mata pria itu, dia wanita seperti itu, wanita yang tidak bisa menjaga dirinya dan menyerahkan dirinya dengan mudah pada laki-laki lain.
"Aku butuh waktu untuk berpikir jernih dulu Trish," ucap Darrel dan setelah itu dia pergi begitu saja, meninggalkan Trisha yang menatapnya dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
"Apa aku orang seperti itu di matamu Rel, apa kamu tidak tau bagaimana aku berusaha bersabar berhadapan dengan pria itu, hanya agar aku bisa bebas dan bisa bersama denganmu lagi."
Trisha menangis sejadi-jadinya, dia tidak mampu lagi menahan rasa sesak di hatinya, selama diculik, dia berusaha tetap tenang dengan harapan dia bisa tetap aman dan kembali bersama dengan Darrel.
Namun, kini yang ada adalah, pria itu meragukan dirinya, meragukan kesetiaan dan cintanya, dia bahkan pergi begitu saja, tanpa ingin mendengar penjelasan darinya terlebih dahulu.
"Maaf Mbak, waktunya sarapan," ucap suster yang baru saja memasuki ruangan itu dengan nampan yang berada di tangannya.
__ADS_1
"Iya sus," sahut Trisha mengusap pipinya dan berusaha tersenyum.
"Ini untuk sarapannya Mbak," ucap suster itu menyerah makanan khas rumah sakit padanya.
"Terima kasih sus," ucap Trisha mengambil alih wadah berisi makanan untuk sarapannya itu.
Meski terasa seret, dia terus memaksa makanan itu untuk masuk ke dalam perutnya, karena saat ini bukan hanya dia tapi ada nyawa yang kini tengah bersemayam dalam dirinya itu.
Ternyata sesakit ini rasanya diragukan oleh orang yang begitu penting dalam hidupku. Batin Trisha dengan hati yang terasa seolah tersayat oleh sebuah silet.
"Mbak baik-baik saja?" tanya suster yang melihat Trisha makan sambil menangis.
"Tidak apa-apa Sus." Trisha menggeleng dan mengusap kembali pipinya.
Trisha segera mengakhiri makannya itu, dia kemudian menyerahkan wadah itu kembali ke suster yang masih menunggunya.
"Apa ada yang anda butuhkan lagi Mbak?" tanya Suster.
"Sus, saya sudah bisa pulang siang ini tidak?" tanya Trisha.
"Kayaknya boleh Mbak, karena tidak ada hal yang serius, Mbak hanya perlu istirahat, tapi nanti saya tanyakan lagi ke dokter ya, biar lebih jelas," sahut Suster dengan.
"Mbak mau saya hubungi keluarga Mbak dulu?" sambung suster.
"Semalam bukan saya yang jaga Mbak, jadi saya kurang tau," jawab Suster.
"Oh baiklah kalau gitu, bisa tolong tanyain ke dokternya Sus, saya mau pulang," ucap Trisha.
Dia ingin menenangkan hatinya terlebih dahulu, dengan berdiam diri di rumah sakit seperti itu, dia tidak akan bisa membuatnya merasa tenang.
"Baiklah Mbak," ucap Suster itu, kemudian pamit pada Trisha dan mulai pergi dari rumah sakit itu.
...*******...
Darrel memutuskan untuk pulang dulu ke rumahnya, sedangkan dia meminta Andi untuk menjaga Trisha terlebih dahulu di rumah sakit.
Selain pikirannya yang tengah kacau dihantui oleh pertanyaan apakah anak yang saat ini Trisha kandung adalah anaknya atau bukan.
Saat ini dia juga tengah di pusingkan dengan papanya yang mengacau di kantor, pria paruh baya itu melampiaskan amarahnya karena dia yang telah membuat anak kesayangannya dipenjara.
"Rel kamu udah pulang, di mana Trisha apa dia masih di rumah sakit?" tanya Merry saat berpapasan dengannya yang tengah berjalan dengan langkah cepat menaiki tangga rumahnya.
"Dia masih di rumah sakit, Darrel buru-buru Ma, nanti aja bicaranya." Darrel berbicara tanpa menghentikan langkahnya.
Merry yang mengerti jika Darrel sedang memiliki masalah pun memilih untuk diam, tidak bertanya lebih banyak hal lagi, dia kembali melanjutkan langkahnya yang akan ke dapur itu.
__ADS_1
Baru saja 15 menit, Darrel sudah turun kembali, dia kini sudah rapi dengan setelan kerjanya, berjalan dengan cepat keluar dari rumahnya itu.
Merry melihat Darrel yang tengah buru-buru itu dari jauh, dia yakin pasti ini berhubungan dengan perusahaan dan papanya, mengingat pria yang saat ini masih sah menjadi suaminya itu tadi mengamuk ke sana.
Sementara itu, Darrel menjalankan mobilnya dengan langkah yang cukup cepat, dia ingin cepat sampai ke kantor, ingin melihat apa yang dilakukan oleh papanya itu.
Setengah jam kemudian, dia pun sampai di kantornya itu, dia segera keluar dari mobil dan berjalan dengan langkah tegas menuju ke ruang rapat.
Sesuai dengan yang Arya katakan melalui telepon. Saat ini papanya tengah berkumpul dengan para pemilik saham dan direksi di perusahaan itu, untuk membuat dia pergi dari posisi pemimpin saat ini.
"Tuan, mereka sudah berkumpul di dalam," ucap Arya yang menunggunya di depan pintu ruang rapat.
Darrel mengangguk dan langsung masuk ke dalam ruangan itu, dia melihat meja panjang yang biasa dipakai untuk pertemuan penting hampir dipenuhi oleh orang penting di perusahaannya.
"Terima kasih telah menunggu saya," ucap Darrel yang langsung mendudukkan dirinya di kursi pemimpin seperti biasanya.
"Kalian bisa langsung mengutarakan maksud dari diadakannya rapat secara dadakan ini," ucap Darrel dengan wajah tenangnya.
"Karena saat ini, Tuan Aji masih jadi pemilik saham terbesar di perusahaan ini, jadi kami ingin dia yang memimpin perusahaan ini kembali," ucap pria yang seumuran dengan papanya.
Sudah Darrel pastikan, jika pria itu pasti salah satu orang yang berada di pihak papanya.
"Apalagi alasan saya harus memberikan posisi ini pada Papa saya lagi?" tanya Darrel menatap satu per satu orang itu masih dengan ekspresi tenangnya.
"Gagalnya proyek di daerah … itu adalah hal yang serius, kami berpikir anda belum cukup matang untuk terus memimpin."
"Terus apa alasan Tuan Aji, agar saya turun dari posisi saya ini?" tanya Darrel menatap papanya itu dengan intens.
"Karena saya yang membangun dari awal perusahaan ini, saya juga saat ini sudah bisa kembali fokus menjalankan kinerja perusahaan ini, jadi tidak membutuhkanmu lagi."
Darrel mengangguk-anggukan kepalanya mendengar ucapan papanya itu, dia kemudian beralih menatap Arya sekilas.
"Bagikan berkas yang ada di tangan kamu itu," perintah Darrel pada Arya yang dari tadi berdiri di sampingnya.
"Baik Tuan," ucap Arya dengan patuh.
Arya mulai membagikan berkas-berkas yang dibawanya itu, kepada setiap orang yang hadir di sana.
"Di sana kalian bisa lihat, saya sudah membeli saham dari, Tuan Permana, Tuan Angga, Tuan Mario, juga Tuan Ferdy, jika dijumlah menjadi 20% ditambah dengan saham pribadi milikku sebelumnya, semuanya menjadi 52% itu artinya aku sudah jelas menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan ini."
Setiap orang yang hadir di sana, kini hanya bungkam tidak ada yang berani berbicara lagi, sedangkan Aji menatapnya dengan tajam, dia benar-benar tidak menyangka jika Darrel sudah mempersiapkan hal ini.
"Dan untuk proyek itu, saya memang sengaja tidak mengambil tindakan lagi, karena itu akan percuma, jadi saya memiliki jalan lain, untuk salinannya bisa kalian lihat di berkas yang satunya lagi."
Melihat rencana Darrel untuk kemajuan perusahaan juga kepemilikan saham yang jelas dia lebih besar, semua orang di sana akhirnya hanya bisa bungkam, dengan artian bahwa kali ini Aji kalah dari Darrel.
__ADS_1