
Ketika waktu sudah tengah malam, Trisha menyelinap keluar dari kamar yang selama ini mengurungnya itu.
Dua hari yang lalu, dia berhasil mengambil kunci pintu apartemen itu, ketika para anak buah Baryl sedang lengah, dia menyelinap keluar dari pintu kamar yang sebenarnya pernah tidak dikunci itu untuk mencari duplikat kunci apartemen itu.
Beberapa minggu ini dia memang sengaja bersikap patuh untuk membuat Baryl percaya padanya, hingga pria itu mengendurkan kewaspadaan terhadapnya.
"Semoga di luar tidak ada orang lagi." gumam Trisha dengan suara yang teramat pelan, ketika dia sudah berhasil keluar dari kamarnya.
Di sofa yang terletak di ruang tengah itu, kedua anak buah Baryl tengah tertidur dengan televisi yang menyala.
Trisha terus mendap-ngendap dengan kaki tanpa alas, dia terus melangkah dengan hati-hati ke arah pintu yang tinggal tiga langkah lagi di depannya itu.
Begitu sampai di depan pintu, dia segera membuka pintu itu dengan kunci yang dibawanya, lalu kembali menutup pintu itu dengan hati-hati.
"Syukurlah," ucap Trisha langsung lari menuju ke lift, dia memasuki lift dengan perasaan lega karena dia akan segera terbebas dari pria aneh itu.
Begitu lift terbuka, dia segera pergi dengan langkah lebarnya keluar dari tempat itu, tempat yang membuatnya terpenjara.
"Aku harus cari kendaraan umum," gumam Trisha sambil terus berlari, dia tidak memedulikan kakinya yang terasa sakit karena berlari di jalan aspal tanpa memakai alas.
Trisha mendudukkan dirinya ketika dia sampai di halte, dia melihat ke kanan dan ke kiri, malam-malam seperti itu memang pasti jarang kendaraan umum yang lewat, hanya ada beberapa kendaraan pribadi saja yang lewat di depannya itu.
"Bagaimana aku pulang kalau tidak ada kendaraan umum yang lewat," gumam Trisha dengan perasaan cemas.
Sesekali dia melirik ke arah dia datang tadi, takut jika Baryl menyadari jika dia sudah tidak ada dan pergi menyusulnya.
"Tidak, aku tidak boleh diam di sini, tempat ini belum terlalu jauh dari tempat itu."
Trisha mulai berdiri dari tempat duduknya, dia berjalan lagi ke arah yang lebih jauh, agar Baryl tidak mudah menemukannya.
Di sela-sela langkahnya itu, Trisha merasa jika langkahnya semakin berat, napasnya juga semakin sesak di sertai kepalanya yang menjadi pusing.
"Apa aku kelelahan, sampai aku merasa sangat pusing." Trisha menggelengkan kepalanya, berusaha untuk tetap tersadar.
"Kamu harus kuat Trish, jangan sampai kamu ketemu lagi dengan pria aneh itu," gumamnya berusaha terus melangkah.
"Huh … huh."
Napas Nayna kian tersenggal, kakinya kini sudah mulai gemetaran.
Dia pun berjongkok terlebih dulu, menyembunyikan kepalanya di lututnya berusaha mengatur napasnya yang terasa kian sesak itu.
__ADS_1
"Aku harus terus berjalan, kalau tidak pria itu akan menemukanku lagi, aku harus pulang Darrel sekarang pasti sudah menungguku dan khawatir padaku."
Trisha terus menyemangati dirinya dan melanjutkan langkahnya kini dengan perlahan, tidak menghiraukan kakinya yang sudah terasa lemas itu.
Kini yang ada di pikirannya, hanya bagaimana caranya agar dia segera pulang ke rumahnya, bertemu dengan suaminya.
Dia benar-benar sudah merindukan Darrel, beberapa hari ini dia rasanya ingin sekali ketemu dengan suaminya itu, dia benar-benar sudah merindukan pria itu.
Brukk.
Tubuh Trisha tiba-tiba saja tergeletak begitu saja di trotoar, hingga membuat beberapa pengendara menghentikan laju kendaraannya dan memeriksa keadaannya.
"Ada apa Ky?" tanya Romi karena Rizky tiba-tiba saja menghentikan mobilnya.
"Dia depan kayaknya ada kecelakaan Pak, orang-orang pada berkerumun," terang Rizky membuat Romi langsung menatap ke depan mobilnya.
Di jarak yang tidak jauh darinya, banyak orang yang berkerumun juga menghentikan mobil mereka hingga menyebabkan terjadinya kemacetan.
"Saya turun dulu untuk lihat ya Pak," ucap Rizky pada Romi.
"Ya, pergilah," sahut Romi yang memilih untuk memejamkan matanya karena mengantuk.
Saat ini dia dan Rizky memang sedang dalam perjalanan dari luar kota, tadi dia yang menyetir hingga saat ini merasa ngantuk.
"Kenapa Mas, kecelakaan ya?" tanya Rizky pada pria yang sebaya dengannya.
"Sepertinya bukan Mas, kata orang yang melihatnya tadi, wanita itu tiba-tiba pingsan," sahut orang itu.
"Oh cuma pingsan," ucap Rizky bermaksud akan pergi lagi, karena berpikir pasti banyak orang yang membatunya.
"Ayo angkat ke mobil saya saja," ucap seorang pria yang sudah berumur pada beberapa orang.
Ketika tubuh Trisha baru diangkat, Rizky pun baru melihat dengan jelas wajah Trisha yang tersorot oleh lampu jalan itu.
"Eh Pak, tunggu! Ini teman kerja saya, ayo bawa masuk ke mobil saya aja," ucapan Rizky itu.
Membuat langkah beberapa orang yang membawa Trisha itu teralihkan padanya, menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.
"Saya tidak bohong Pak, di mobil saya ada atasan saya, kalau tidak percaya ayo tanyakan saja," ucap Rizky menuntun orang-orang itu untuk ke mobilnya.
Rizky segera membuka pintu penumpang bagian belakang, membuat Romi yang semula sedang memejamkan mata menjadi terganggu.
__ADS_1
"Tuan, Trisha pingsan di pinggir jalan," ucap Rizky membuat Romi melotot tak percaya.
"Apa! Di mana sia sekarang?" tanya Romi.
Rizky tidak menjawab pertanyaannya itu, tapi dia langsung meminta orang-orang yang memboponng tubuh lemah Trisha untuk memasukannya ke dalam mobil.
"Ayo Mas-Mas, sama Bapak-Bapak masukan ke mobil bos saya saja."
"Anda mengenalnya Pak?" tanya salah seorang pada Romi.
"Iya Pak, dia karyawan saya, masukin saja ke mobil, biar saya yang mengantarkannya ke rumah sakit," terang Romi.
Orang-orang itu pun percaya, lalu memasukkan Trisha ke dalam mobilnya, dibantu oleh Romi dari dalam. Romi menjadikan pahanya sebagai bantal Trisha, agar Trisha tidak terjatuh.
"Terima kasih ya semuanya, telah membantu karyawan saya," ucap Romi pada orang-orang itu melalui jendela mobil yang terbuka.
"Iya sama-sama Pak, semoga si Mbaknya baik-baik saja," sahut orang-orang itu.
Romi dan Rizky pun mengangguk, kemudian pamit dan langsung menjalankan mobilnya menuju ke rumah sakit.
"Apa dia baru saja lari dari orang-orang yang menculiknya Pak?" tanya Rizky.
"Kayaknya iya," sahut Romi karena melihat penampilan Trisha yang tidak terlalu rapi.
Juga melihat kaki Trisha yang memerah, akibat dari dia berjalan cukup jauh tanpa alas kaki.
"Semoga dia baik-baik saja," ucap Rizky lagi sambil fokus pada jalannya mobil yang dikemudikannya.
"Iya," sahut Romi dengan tatapan lurus pada wajah pucat Trisha yang berada di pangkuannya.
Dia mengusap dengan lembut pipi yang lembut itu, menatapnya dengan intens, baru kali ini dia dapat menatapnya dari dekat seperti itu, bahkan menyentuhnya.
"Apa yang kamu lakukan Rom, ingat dia istri sahabat kamu," gumam Romi dengan sangat pelan ketika sadar dengan apa yang di pikirannya itu.
"Kenapa Pak?" tanya Rizky menatapnya dari kaca spion karena mendengar gumaman yang tidak jelas dari atasannya itu.
"Tidak apa-apa, cepatlah jalankan mobilnya, biar kita segera sampai." Romi mengalihkan perhatiannya ke arah samping.
__ADS_1
Romi juga mulai menurunkan tangan yang semula dia gunakan untuk mengusap pipi Trisha itu.