Satu-satunya Cinta

Satu-satunya Cinta
Terbongkar


__ADS_3

Sementara di sisi lain, Trisha sudah selesai membereskan dapur setelah makan malam, dia sedang membuat teh untuknya dan Ayu karena dia akan menonton sambil bercengkrama bersama Ayu sebelum tidur.


    Trisha membawa nampan berisi tiga cangkir teh untuk menemani obrolan mereka itu ke ruang keluarga, sementara anak-anak yang lainnya sudah pada tidur  setelah makan malam mereka memang langsung disuruh tidur oleh Ayu.


    Saat sampai di ruang televisi dia melihat Ayu dan orang yang bekerja di sana sedang mengobrol sambil melihat televisi.


  "Tuan Darrel dan istrinya sangat serasi ya yang satu cantik seperti model dan yang satunya lagi tampan dan gagah," ucap wanita yang bekerja di panti itu bernama Reni.


   "Iya mereka memang sangat serasi sama-sama tampan dan cantik," sahut Ayu yang tengah fokus pada siaran televisi itu.


   Trisha yang sudah berada di belakang sofa, tempat Ayu menonton hanya mematung di tempatnya. Pandangan lurus ke televisi yang sedang menampilkan acara perusahaan Darrel secara langsung.


   Trisha mematung, melihat Darrel menggandeng mesra perempuan cantik dan membaca tulisan yang ada dilayar televisi itu. Tertulis dengan jelas jika mereka adalah pasangan suami istri yang benar-benar serasi.


   Karena terlalu serius menatap acara yang di siarkan di televisi nampan yang ada di ditangannya terlepas begitu saja, hingga suara pecahan gelas mengagetkan Ayu dan Reni yang sedang serius menonton siaran langsung di televisi itu.


   "Trish, kamu kenapa Nak?" Tanya Ayu mengalihkan perhatiannya kepada Trisha karena mendengar suara barang jatuh di belakangnya.


   "Tidak kenapa-napa Bu, barusan tangan Trisha licin jadi nampannya terlepas dari tangan Trisha, biar Trisha bersihkan dulu pecahan gelasnya Bu."


     Trisha segera berjongkok dan memungut pecahan gelasnya itu satu persatu, tapi karena pikirannya yang kacau dan terlalu tergesa-gesa, hingga membuatnya tidak berkonsentrasi dan mengakibatkan tangannya tergores pecahan gelas itu.


   "Aww." Trisha meringis saat merasakan jarinya yang terasa perih karena tergores.


   "Biar Bi Reni saja yang membereskannya kamu duduk saja di sini, biar Ibu bantu dulu obati lukanya." Ayu segera menuntun Trisha untuk duduk di sofa.


    Saat Ayu mengobati luka di jarinya, tatapan mata Trisha, masih fokus ke arah televisi dimana Darrel dan wanita yang disebut sebagai istrinya, sedang menjawab pertanyaan dari para wartawan.


     Apa benar yang ada televisi itu benar-benar orang yang sama, pria beberapa bulan ini memenuhi hati dak pikirannya.


       Bermacam pertanyaan, kini timbul di hatinya, semakin dipikirkan, semakin hatinya terasa sesak, apalagi melihat senyum dari pasangan itu.


   "Sudah selesai Trish, kamu kenapa melamun?" Suara Ayu menyadarkan Trisha kembali dari lamunannya itu.


  


    "Tidak Bu, Trisha hanya sedang melihat acara di televisi saja," alibi Trisha, berusaha tersenyum.

__ADS_1


   "Oh itu, Tuan Darrel dan istrinya, dia pernah ke sini beberapa kali, bukankah saat dia ke sini kamu juga sedang ada di sini ya, apa kamu tidak ingat?" tanya Ayu.


  "Iya, Trisha ingat Bu waktu itu Trisha baru lulus kuliah 'kan." Trisha  berusaha tetap tersenyum, agar Ayu tidak tahu kalau ada yang dia sembunyikan darinya.


   "Mereka serasi 'kan? Tuan Darrel dan nona Zola juga sama-sama dari keluarga yang terpandang dan sederajat," ucap Ayu sambil melihat televisi.


   "Iya mereka sangat serasi," ucap Trisha pelan, dia menahan sakit di hatinya.


   Trisha mendengar setiap kata yang Darrel dan Zola katakan, bagaimana saat ini mereka sedang merencanakan untuk memiliki anak.


   "Apa arti kedekatan kita selama ini Darrel? Apa kamu hanya memanfaatkan kenaifanku ini untuk hiburan semata." Trisha berusaha menahannya air matanya agar tidak jatuh di depan Ayu.


   "Bu Trisha mau istirahat sekarang ya," pamit Trisha pada Ayu dia ingin menyendiri dulu sekarang.


    "Iya, kamu istirahatlah, dari tadi kamu sudah mengerjakan banyak hal, ibu juga mau istirahat," Sahut Ayu.


    "Iya Bu, Trisha ke kamar duluan ya," Kata Trisha tersenyum kepada Ayu.


    Mereka pun pergi ke kamar masing-masing, Trisha merebahkan tubuhnya di kasur, memikirkan tentang Darrel, setiap perhatian dan sikapnya yang terlihat seperti seorang pria yang sangat mencintainya.


    "Halo." Trisha bersikap biasa saja seperti tidak ada yang terjadi kepada hatinya.


    "Syukurlah kamu mengangkat telponnya, aku sudah sangat merindukan mu," ucap Darrel dari balik telepon dengan suara lembut seperti biasanya.


   "Kamu lagi ngapain?" tanya Darrel saat tidak mendapat sahutan dari Trisha.


    "Aku mau tidur," jawab Trisha singkat.


    "Oh baiklah, selamat tidur sayang, jangan lupa mimpiin aku ya," ucap Darrel sambil terkekeh  sementara Trisha sudah menangis tanpa suara.


    Trisha langsung mematikan teleponnya, dia menangis karena kecewa dengan kebohongan yang Darrel lakukan dan juga kecewa, pada kebodohannya sendiri yang tidak mencaritahu apa pun terlebih dahulu  sebelum memulai membuka hatinya untuk Darrel.


    "Kenapa semua ini terjadi kenapa kamu membohongiku selama ini Rel? Apa aku dari awal memang terlihat seperti orang yang bodoh sehingga kamu begitu mudahnya membohongiku," gumam Trisha.


     Dia memeluk kakinya dak menyembunyikan wajahnya itu di lipatan kakinya, agar meredam tangisnya.


   Terlalu lelah dengan berbagai pertanyaan yang hadir di pikirannya, Trisha pun memutuskan untuk memejamkan matanya terlebih dahulu, dia berharap besok hatinya mulai tenang dan bisa berpikir dengan jernih untuk membicarakan semuanya dengan Darrel.

__ADS_1


    Dia harus mengakhiri semuanya, dia tidak ingin jadi orang ketiga dalam sebuah hubungan dia tidak ingin menyakiti hati perempuan lain.


   ******


   Sementara  di sisi lain Darrel merasa ada yang aneh dengan suara Trisha tadi, dia merasa kalau Trisha tidak seperti biasanya.


    "Trisha kenapa ya? Kenapa suaranya seperti orang yang sedang sedih, bukankah seharusnya dia senang karena dia sedang berada di panti, apa mungkin sedang ada masalah di sana atau Trisha hanya sedang capek saja, sehingga dia ingin cepat-cepat tidur," gumam Darrel, memikirkan tentang keanehan Trisha.


     "Darrel cepatlah, kamu sudah di panggil lagi sama Papa Aji, para tamu akan berpamitan untuk pulang!" teriak Zola dari luar ruangan Darrel.


   Darrel memang ijin dulu untuk keruangannya, saat dia selesai di wawancarai oleh wartawan karena dia merasa tidak nyaman dan terus kepikiran Trisha, hingga akhirnya dia pun memutuskan untuk menelpon Trisha terlebih dahulu di ruangannya.


    "Iya ayo, kita kembali ke sana aku ingin acara ini segera selesai dan pulang, aku ingin segera istirahat," ucap Darrel saat keluar dari ruangannya dan berjalan mendahului Zola.


    "Iya, aku juga sudah bosen harus terus tersenyum sampai gigiku rasanya sudah kering," keluh Zola mengikuti langkah Darrel dan melingkarkan tangannya di lengan Darrel.


    "Harus ya seperti ini," ucap Darrel berusaha melepaskan tangannya dari Zola.


     "Ya haruslah, kita 'kan dianggap sebagai pasangan yang sangat romantis," sahut Zola santai.


    Darrel tidak bicara lagi karena mereka sudah sampai di ruangan tempat acara itu, para tamu undangan sudah mulai berpamitan kepada Darrel dan keluarganya.


    Setelah pestanya selesai dan para tamu berpamitan dari sana, Darrel pun pulang ke rumahnya bersama dengan Zola.


   Selama di perjalanan Darrel tidak mengeluarkan suaranya, dia merasa tidak tenang karena terus kepikiran Trisha, entah kenapa dia merasa sangat tidak tenang saat ini.


   Setelah sampai di rumahnya pria itu segera turun dari mobilnya, disusul oleh Zola, mereka masuk ke kamar mereka masing-masing untuk istirahat.


  


   


   


  


   

__ADS_1


__ADS_2