Satu-satunya Cinta

Satu-satunya Cinta
Apa yang Harus dilakukan


__ADS_3

"Selamat sore Pak Malik," sapa Trisha dengan ramah pada pria yang lebih tua darinya yang baru saja datang ke ruangan tempatnya menunggu itu.



"Selamat sore, silakan duduk lagi," sahut Malik sembari duduk di sofa yang bersebrangan dengan Trisha.



"Terima kasih Pak." Trisha pun kembali duduk di tempat duduknya semula.



Setelah dia duduk dengan tenang, begitu pun dengan Malik, si tuan rumah itu, dia pun mulai mengutarakan maksud kedatangannya ke sana.


"Saya yakin anda sudah tau, maksud dari kedatangan saya ke sini Pak," ucap Trisha yant memulai pembicaraan.


"Kalau kedatangan anda untuk membahas masalah panti, maaf saya tidak bisa merubah keputusan saya sebelumnya," sahut Malik dengan santai penuh wibawa.


"Saya mohon, agar Bapak mau membiarkan kami untuk tetap tinggal di sana, kami pasti akan membayar uang sewanya," ucap Trisha.



"Maaf saya tidak bisa, karena sejujurnya saya sudah menjual tanah itu, jadi tanah itu sudah menjadi milik orang lain, saya tidak bisa mengambil keputusan untuk itu," terang Malik.


Trisha menarik napas sedalam-dalamnya, mendengar apa yang Malik katakan itu, jika memang begitu ceritanya, itu artinya, percuma dia bela-belain datang ke sana.


"Baiklah kalau gitu, tapi saya mohon berikan waktu untuk saya dan keluarga saya pindah, karena kita harus mencari dulu tempat yang cocok," ucap Trisha lagi masih dengan ketenangan dalam dalam bicaranya.



"Seperti yang saya ucapkan tadi, jika kini tanah itu sudah menjadi milik orang lain, jadi saya tida bisa memutuskan apa pun lagi dengan tanan itu."


"Apa saya boleh bertemu dengan pemilik tanah itu sekarang?" tanya Trisha menatap Malik penuh harap.


"Ini adalah kartu nama dan alamat perusahaan pemilik tanah itu, anda bisa coba bertanya kepada beliau, karena saat ini tanah itu sudah menjadi milik beliau."


Malik memberikan sebuah kartu nama berwarna hitam dengan tulisan berwarna emas itu pada Trisha. Tangan Trisha mulai terulur, mengambil kartu nama yang berada di atas meja itu.


Deg ....


Jantungnya terasa berdetak lebih dari biasanya, melihat nama yang tertera di kartu nama itu, nama yang sangat dikenalnya.


"Anda bisa coba hubungi beliau di nomor itu, atau bisa langsung mendatanginya di alamat itu," ucap Malik membuat Trisha secara perlahan mulai mengangkat kembali wajahnya yang semula fokus pada kartu nama itu.


"Baiklah, terima kasih atas waktunya Pak," sahut Trisha, lalu mulai bangun dari duduknya.


"Iya, semoga beliau bisa merubah keputusannya," ucap Malik yang ikut bangun.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi Pak." Trisha menunduk hormat.


"Iya, biar art saya yang mengantar anda keluar," sahut Malik.


"Terima kasih Pak."



Trisha pun pergi, dengan diantar oleh art Malik, keluar dari rumah itu, sedangkan Malik masih berdiri di tempatnya menatap kepergiannya.


__ADS_1


Suara ketukan sepatu yang berasal dari arah tangga, membuat Malik secara perlahan berbalik dan melihat seorang pria yang kini tengah menuruni tangga rumahnya itu.



"Aku sudah melakukan apa yang kamu mau," ucap Malik pada pria itu.



"Iya aku akan segera memberikan apa yang kamu inginkan itu, tunggu kabar dari asistenku saja," sahut pria yang kini tengah berhadapan dengannya itu.



"Tapi untuk apa kamu melakukan hal ini?" tanya Malik yang tidak mengerti maksud dari pria yang tidak lain adalah temannya itu.


"Aku akan menceritakan semuanya, jika sudah waktunya, sekarang aku harus pulang dulu, sekali lagi terima kasih untuk bantuannya."


"Baiklah, kamu hutang penjelasan padaku," sahut Malik mengangguk pasrah.



Pria yang tidak lain adalah temannya itu pun, mulai pergi meninggalkan rumahnya itu, meskipun dia tidak mengerti dengan rencana pria itu, tapi Malik tidak ingin terlalu banyak bertanya lagi.


...*******...


Trisha kini sudah sampai di depan panti, kini langit sudah gelap, dengan langkah ringan dan memasang senyuman, wanita itu mulai mengetuk pintu panti.


"Mbak Trisha, ayo masuk Mbak, kok sampainya malam," ucap Nia.


"Aku mampir dulu ke tempat lain Mbak, jadi sampai sininya agak malam," sahut Trisha tersenyum, dia mulai masuk ke dalam panti itu.


"Oh gitu Mbak."




"Lagi istirahat di kamarnya."



"Baiklah kalau gitu, aku mau nemuin Ibu dulu."



"Iya, Mbak. Saya mau ke dapur lagi, mau bantuin Mbak Titi masak untuk makan malam," sahut Nia.



"Iya Mbak." Setelah itu Trisha pun langsung menuju ke kamar Ayu.



Saat sampai di depan kamar Ayu, dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka dia melihat Ayu tengah fokus melihat sesuatu, Trisha dapat melihat raut bingung dari wajah yang sudah menunjukkan usia yang tidak muda lagi itu.



"Bu," panggil Trisha mulai membuka pintu kamar itu.


__ADS_1


"Iya Trish, kamu sudah datang Nak," ucap Ayu memasang senyumnya.



Dia segera menyimpan beberapa kertas yang sedang dilihat sebelumnya itu, lalu melepaskan kacamata yang bertengger di hidungnya.



"Iya Bu, Ibu lagi lihat apa?" tanya Trisha melirik benda yang baru saja Ayu simpan di belakangnya.



"Ah ini bukan apa-apa, ibu hanya melihat daftar bulanan saja," sahut Ayu masih tersenyum.



Namun, Trisha merasa jika ada yang Ayu sembunyikan darinya itu, melihat gerak-gerik mencurigakan ibunya itu.



"Ibu udah makan belum?" tanya Trisha.



"Belum, kebetulan ibu belum minum obat juga, ya udah kalau gitu kita lihat Mbak Titi sam Mbak Nia, apa mereka sudah selesai masak apa belum," ucap Ayu sambil beringsut turun dari ranjang.



"Ya udah ayo Bu, kita makan malam dulu, setelah itu Ibu minum obat biar bisa langsung istirahat," sahut Trisha membantu Ayu untuk berjalan keluar dari kamar.



"Kamu pergilah bersih-bersih dulu, ibu bisa ke meja makan sendiri," ucap Ayu saat mereka sudah keluar dari kamarnya.


"Ibu benar-benar bisa?" tanya Trisha.


"Bisa, pergilah bersih-bersih dulu dan nyusullah ke meja makan," ucap Ayu sambil berjalan dengan perlahan meninggalkan Trisha.


"Baiklah Bu, aku mau mandi dulu kalau gitu," sahut Trisha.



Ayu hanya mengangguk dan meneruskan langkahnya menuju ke meja makan, sedangkan Trisha, setelah memastikan Ayu tidak terlihat lagi, dia kembali ke kamar Ayu.



Melihat apa yang tadi tengah dilihat oleh Ayu itu, ternyata itu adalah laporan keuangan panti itu, juga laporan pemasukan dan pengeluaran.



"Jika kita harus tetap pindah, itu pasti membutuhkan biaya yang cukup besar, belum lagi tidak mudah mencari tempat yang cukup untuk kita semua," gumam Trisha menatap kertaa-kertas itu dengan bingung.


"Apa aku harus menemuinya, dan meminta keringanan," gaumam Trisha lagi dengan bimbang.


"Apa yang harus dilakukan sekarang, aku tidak ingin berhadapan dengannya lagi, tapi jika aku tidak melakukan itu, bagaimana dengan nasib anak-anak itu, mereka pasti tidak akan nyaman jika harus berpindah tempat."


Trisha pun menyimpan kertas-kertas itu ke tempat semula, lalu keluar dari kamar Ayu dan pergi membersihkan dirinya.


Selama dia beraktivitas, pikirannya terus berkelana, bertanya-tanya dengan apa yang harus dia lakukan, apa tidak ada cara lain untuk dia mengatasi masalah panti selain menemui orang yang paling ingin dia hindari.

__ADS_1


__ADS_2