
Trisha tersadar dari pingsannya, dia tersadar dengan keadaan kaki dan tangan yang terikat, tubuhnya tergeletak begitu saja di lantai yang tertutup debu.
Dia melihat ke sekelilingnya, ruangan itu hanya diterangi oleh lampu kecil berwarna kuning yang berada di tengah ruangan itu, hingga suasana di sana nampak temaram dengan beberapa botol dan kardus bekas yang berserakan hampir memenuhi ruangan yang tidak terlalu besar itu.
"Rupanya kamu sudah bangun," ucap seseorang yang baru saja memasuki ruangan itu.
"Hmmmppp, hmmmppp."
Salah satu pria di depannya itu berjongkok, menatap Trisha yang meminta yang sedikit meronta.
"Ada apa Nona manis, apa kamu ingin mengatakan sesuatu? Baiklah, karena kami adalah orang yang baik maka kami akan melepaskan penutup mulutmu itu," kekeh pria itu lalu melepaskan lakban yang menutupi mulutnya.
Namun, mereka masih membiarkan Trisha tergeletak di lantai dingin nan kotor itu, tanpa membangunkannya.
"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Trisha begitu lakban itu terlepas dari wajahnya.
Dia menatap kedua pria itu dengan wajah tenang, tidak memperlihatkan ketakutan yang sebenarnya tengah dia rasakan.
Trisha tidak ingin menampilkan raut takutnya itu, karena dia tidak ingin kedua pria itu menjadikan hal itu sebagai kelemahannya.
"Sayangnya, belum saatnya kamu mengetahui hal itu," sahut pria dengan wajah yang terlihat sangar itu, sambil mulai menegakkan kembali tubuhnya.
__ADS_1
"Tapi, asal kamu bersikap baik di sini, maka kami akan memperlakukanmu dengan baik juga," sambung pria lain sambil mengedipkan sebelah matanya.
Trisha hanya diam, dia tidak boleh memprovokasi orang-orang itu agar dirinya tetap aman untuk beberapa saat, sebelum Darrel datang menemukannya.
*Aku yakin kamu akan datang Rel, aku menunggumu di sini*. Batin Trisha dengan penuh harap.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang memasuki ruangan itu, seorang teman dari kedua orang yang berada di sana memasuki ruangan itu dengan sebuah kardus yang dibawanya.
"Lihatlah, aku membawa apa, malam ini kita akan berpesta sepuasnya," ucap pria dengan senang.
Pria itu menyimpan dus yang berukuran sedang itu ke meja yang tidak jauh dari tempatnya.
"Iya, dia baru saja mengirim uang DP-nya, sisanya nanti setelah tugas kita beres."
"Baguslah, kalau gitu sekarang kita berpesta, sambil jagain tamu kita ini," sahut temannya yang lain.
Akhirnya mereka pun mulai membuka kardus yang ternyata isinya adalah minuman keras, dengan beberapa cemilan.
"Apa kamu mau minum ini Nona?" tanya salah satu pria itu pada Trisha.
"Tidak, terima kasih," sahut Trisha.
__ADS_1
"Ya sudah kalau gitu." Ketiga pria itu pun mulai menegak minuman keras itu.
Sementara Trisha berdoa dalam hati, agar ketika mereka mabuk, mereka tidak sampai berbuat macam-macam padanya. Dia yang semula merasa tenang, perlahan ketenangan itu mulai hilang, apalagi melihat ketiga pria itu sudah mulai mabuk.
"Tenang Trish, kamu pasti baik-baik saja, asal kamu tidak memprovokasi mereka," gumam Trisha dengan penuh kewaspadaan.
...*******...
"Bagaimana keadaan di sana?" tanya Darrel melalui sambungan teleponnya.
Darrel tampak serius mendengarkan apa yang orang di balik teleponnya terangkan, dia memutar-mutar pulpen yang ada di tangannya itu.
"Bagus, jika Baryl sudah masuk perangkap maka segera sergap dia."
Tak lama kemudian dia pun memutuskan sambungan telepon itu, dia kemudian menatap ke kosong di depannya.
"Kamu sabar ya Trish, aku akan segera menemukanmu."
"Tuan, sebaiknya anda istirahat terlebih dahulu, besok anda ada pertemuan di perusahaan anda, membahas tentang peluncuran parfum di negara A," ucap Arya yang sedari tadi di depan meja kerjanya.
"Iya, kamu juga pulanglah ini sudah malam,' sahut Darrel dengan lemah.
Dia kemudian mulai beranjak dari kursinya itu, lalu berjalan ke luar dari ruang kerjanya.
"Baik Tuan," sahut Arya menunduk hormat, lalu mengikutinya meninggalkan ruangan itu.
"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan," pamit Arya saat mereka sudah berada di ujung tangga.
__ADS_1
Darrel hanya mengangguk, tanpa menghentikan langkahnya menuju ke kamarnya, meskipun dia tidak akan bisa istirahat dengan tenang malam ini.
Pikirannya tertuju hanya pada keberadaan istrinya, tapi dia memiliki keyakinan jika saat ini istrinya baik-baik saja, setidaknya untuk saat ini.