Satu-satunya Cinta

Satu-satunya Cinta
Ada Masalah dengan Panti


__ADS_3

"Kenapa Ibu sampai pingsan sih Bu, kata Mbak Titi, tadi Ibu pingsan setelah menerima telepon, emang itu telepon dari siapa? kok Ibu sampai pingsan?.Ada masalah ya Bu?"


Trisha terus bertanya pada Ayu yang baru saja sadar, dia tidak dapat menyembunyikan kekhawatirannya terhadap wanita yang kini tengah memasang senyuman itu.


"Ibu baik-baik saja, kamu kok jam segini udah di sini, pasti kamu pulang lebih awal ya," ucap Ayu.


"Iya Bu, tadi Trisha izin pulang lebih awal pada atasanku, saat Mbak Titi ngabarin kalau Ibu pingsan," terang Trisha.


"Seharusnya kamu tidak perlu khawatir, hingga mengabaikan pekerjaanmu begitu, ibu baik-baik saja," sahut Ayu berusaha menenangkan Trisha.


"Kalau Ibu baik-baik saja Ibu tidak mungkin pingsan," sahut Trisha.


"Sebenarnya ada apa sih Bu? Siapa yang menelepon Ibu tadi?" sambung Trisha yang masih penasaran, dengan penyebab Ayu sampai tidak sadarkan diri seperti itu.


"Tadi yang menelepon pemilik tanah yang kita tempati," sahut Ayu yang tidak bisa menyembunyikan hal itu dari Trisha.


"Untuk apa dia menelepon Ibu?"



"Dia meminta kita untuk pindah, karena rencananya tanah itu akan dia bangun, buat bisnisnya."



"Kenapa mendadak Bu, bukannya dia sudah merelakan tanah itu untuk pembangunan panti."



"Itu dulu, saat pemilik tanah itu masih hidup, tapi sekarang pemilik tanah itu sudah tidak ada, jadi yang menginginkan tanah itu saat ini adalah anaknya."



"Terus sekarang kita harus gimana Bu?" tanya Trisha menatapnya dengan bingung.



"Mau tak mau, kita harus meninggalkan panti itu dalam waktu dekat ini dan mencari tempat lain untuk kita dan anak-anak," sahut Ayu masih berusaha memasang senyumannya.



Meskipun Trisha tahu, jika ibunya saat ini pasti tengah sedih juga bingung, karena untuk pindah tidaklah mudah, apalagi dengan banyaknya anak seperti itu.



"Tapi kita butuh waktu yang cukup lama untuk pindah Bu," sahut Trisha.



"Iya memang butuh waktu yang cukup lama, tapi kita pasti bisa secepatnya menemukan tempat yang cocok untuk anak-anak," sahut Ayu menggenggam tangan Trisha.



Trisha berpikir untuk membantu ibunya, tapi dia tidak tahu apa yang bisa dia lakukan untuk membantu masalah yang datang kini.



"Apa Ibu tau alamat pemilik tanah itu?" tanya Trisha menghadirkan sebuah kerutan di kening Ayu.



"Memangnya kamu mau apa?" tanya Ayu.



"Aku ingin bertemu dengannya saja, untuk meminta waktu agar kita bisa persiapan dulu untuk kita pindah, syukur-syukur kalau dia ngizinin kita buat menyewa tempat itu," saran Trisha.



"Tidak perlu Nak, biar nanti Ibu saja yang coba bicara lagi padanya," tolak Ayu pada Trisha.



"Biar aku saja Bu, Ibu kan harus banyak istirahat dulu, jangan sampai Ibu kenapa-napa karena terlalu memikirkan hal ini."



"Tapi kamu juga harus fokus pada pekerjaanmu, jangan terlalu memikirkan hal ini," ucap Ayu.



Trisha tersenyum pada ibunya, lalu mengambil tangan sudah merawatnya semenjak ayah dan ibu kandungnya meninggal dunia.

__ADS_1



"Ibu tenang saja, Trisha pasti baik-baik saja, Trisha juga ingin membantu Ibu menangani masalah ini, karena mereka juga adik-adikku, aku juga ingin yang terbaik untuk mereka," sahut Trisha menatapnya dengan lamat.



"Baiklah, tapi kalau ada apa-apa kamu langsung kasih tau Ibu ya, kamu juga tidak perlu terlalu memaksa, jika memang mereka tidak setuju, biarkan saja. Keselamatan kamu lebih penting," ucap Ayu akhirnya hanya bisa pasrah.



"Baiklah, kalau gitu Ibu kasih tau saja alamat pemilik tanah itu, biar besok aku temui dia."



"Iya ...." Ayu pun memberikan alamat pemilik tanah itu pada Trisha.


...******...


Keesokan harinya, sesuai dengan rencananya, setelah pulang bekerja, Trisha akan menuju ke alamat yang Ayu berikan terlebih dahulu.



"Kamu udah mau pulang Trish?"



Trisha mengangkat wajahnya yang tengah serius membereskan meja kerjanya itu, lalu tersenyum pada Romi yang ternyata sudah berdiri di depan meja kerjanya.



"Iya Pak, Pak Romi juga udah mau pulang?" tanya Trisha.



"Iya, ayo kita bareng ke bawahnya," ajak Romi.



"Iya mari Pak," sahut Trisha, segera menyelesaikan kegiatannya.



"Pak Rizky tidak pulang?" tanya Trisha karena melihat Rizky masih ada di ruangannya.




"Oh gitu." Trisha mengangguk.



Mereka masuk ke lift untuk mengantarkan mereka ke lantai dasar gedung itu bersama, mereka berdiri beringin, Trisha menekan tombol tujuan mereka,



"Gimana keadaan Ibu kamu?" tanya Romi, membuka percakapan setelah beberapa saat terdiam.



"Sekarang sudah lebih baik Pak, kemarin dia hanya sedikit syok saja," sahut Trisha.



"Seharusnya kamu tidak perlu masuk dulu, rawat saja ibu kamu," ucap Romi.



"Ada Art yang nungguin Ibu, lagian tadi siang juga Ibu sudah pulang dari rumah sakit, karena tidak ada hal yang serius."



"Baguslah kalau gitu," sahut Romi sambil mengangguk.



"Iya Pak." Trisha pun ikut mengangguk sambil tersenyum.



Setelah itu tidak ada lagi percakapan yang terjadi, mereka sama-sama diam, Trisha fokus menatap ke depannya sedangkan Romi, diam-diam mencuri lihat ke arahnya.

__ADS_1



Ada hal yang hanya dia sendiri yang tahu, tentang dirinya dan sekertarisnya itu, siapa yang tahu, jika sikap biasanya saat ini, menyimpan sesuatu yang tidak seharusnya ada dalam hatinya.



"Pak kita sudah sampai," ucap Trisha membuat Romi tersadar dari lamunannya.



"Eh iya, ayo kita keluar," sahut Romi tanpa melihat ke arahnya.



"Iya ayo Pak." Trisha mengangguk lagi.



Mereka pun keluar dari lift, menuju ke lobby kantor itu, setelah sampai di lobby Romi menawarkan tumpangan pada Trisha.



"Tidak perlu Pak, terima kasih atas tawarannya, tapi saya sudah pesan taksi. Itu taksinya sudah datang." Trisha menunjuk sebuah mobil yang mendekati mereka.



"Baiklah kalau gitu."



"Saya duluan ya Pak," pamit Trisha.



"Iya." Angguk Romi.



Trisha pun mulai meninggalkan Romi, menuju ke taksi yang tidak jauh dari posisinya, Romi masih memperhatikan Trisha dari jarak jauh, setelah mobil yang membawa wanita itu tidak terlihat lagi, dia pun melanjutkan niatnya menuju ke mobil.


...*******...


Butuh waktu sekitar satu jam, taksi yang membawa Trisha itu pun, kini telah berhenti di sebuah gerbang berwarna hitam yang menjulang tinggi.



Trisha turun dari taksi, dia kemudian memencet bel yang ada di tembok gerbang itu, tak lama kemudian gerbang itu pun mulai terbuka dan munculah seorang security.



"Maaf cari siapa ya Mbak?" tanya security itu.



"Saya cari Bapak Malik, Pak. Apakah ini benar rumah Bapak Malik?" tanya Trisha.



"Oh iya benar Mbak, ini rumah Bapak Malik, kalau boleh tau ada perlu apa ya?" tanya security itu.



"Saya ingin berbicara masalah panti dengan Bapak Malik," terang Trisha.



"Baiklah, silakan masuk Mbak. Tuan Malik baru saja pulang dari kantor."



Security itu pun langsung membuka gerbang dengan cukup lebar, agar Trisha bisa masuk.



"Terima kasih Pak," ucap Trisha menunduk hormat.



Trisha pun berjalan memasuki rumah yang mewah itu, dia berjalan dengan santai tidak terlihat gugup sama sekali.


__ADS_1


Dia dipersilakan untuk duduk di sofa, menunggu tuan rumah yang kata art di sana tengah berada di kamarnya.


__ADS_2