
Trisha segera menuruni ranjang dengan tubuh polosnya, mengabaikan Darrel yang saat ini masih mengatur napasnya setelah melakukan ritual malam mereka.
Dia segera membersihkan dirinya dan keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk yang menutupi sebaigan badannya juga rambutnya.
"Kenapa kamu mandi malam-malam begini? Kenapa tidak besok saja," ucap Darrel yang masih merebahkan tubuhnya dengan selimut yang kini sudah menutupi tubuh polosnya.
"Biar nyaman saja," sahut Trisha sambil bergerak memunguti pakaian mereka yang berserakan, lalu menyimpannya ke keranjang khusus untuk pakaian kotor.
Setelah selesai melakukan kegiatan itu, dia pun melanjutkan langkahnya menuju ke ruang ganti, dia memakai pakaiannya dan saat sudah mengenakan baju tidurnya, Trisha pun mengambil sebuah obat dari laci yang ada di lemari pakaiannya.
Dia baru saja akan mengeluarkan obat yang berukuran kecil itu dari cangkirnya dan meminumnya, tapi.
"Obat apa itu." Suara dari belakangnya itu sontak membuat Trisha kaget, hingga obat yang semula dipegangnya terlepas begitu saja dari tangannya.
Dia kemudian berbalik badan, menatap Darrel yang tengah menatapnya dengan tajam. Pria itu langsung mengambil obat yang Trisha jatuhkan itu dan melihatnya dengan seksama.
"Apa ini?" tekan Darrel menatapnya dengan tajam.
Dia tentu saja tahu obat itu, dia merasa kecewa karena ternyata selama ini Trisha mengonsumsi obat-obatan itu.
"Kamu tidak ingin mengandung anakku hah?" tanya Darrel lagi, kini dengan nada yang sudah naik satu oktaf.
Trisha tidak menyahutinya, dia hanya bergerak, bermaksud untuk mengambil obat itu dari tangan Darrel, tapi Darrel tidak membiarkan dia mengambilnya.
"Jawab!" sentak Darrel.
__ADS_1
"Iya, aku tidak mau hamil," sahut Trisha dengan wajah santainya.
Raut di wajah pria itu seketika berubah menjadi kaku, terlihat menahan amarahnya, secara tiba-tiba saja pria itu menonjok lemari di belakang Trisha yang terbuat dari kaca. Trisha memejamkan matanya dengan erat, nyalinya menciut melihat amarah yang jelas terpancar dari sorot mata Darrel itu.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Darrel mulai menjauh darinya, dia mengambil pakaian dan setelah berpakaian dengan lengkap, dia pergi dari ruangan itu.
Trisha meluruhkan tubuhnya itu di lantai, tanpa diundang air mata pun ikut meluncur begitu saja, bukannya dia tidak ingin memiliki anak, tapi dia memikirkan bagaimana nasib anaknya kelak, saat ini dia sendiri pun tidak tahu, nasib pernikahanya itu.
"Aku hanya tidak ingin anak kita yang jadi korban karena hubungan semu kita ini," monolog Trisha pada dirinya sendiri.
Trisha kemudian mengelap air matanya itu, lalu berdiri, melihat bekas pukulan Darrel tadi yang ternyata meninggalkan bekas. Pintu lemari yang terbuat dari kaca itu telah retak.
Dia menghela napasnya dengan dalam, lalu keluar dari ruangan itu dan ternyata tidak mendapati keberadaan Darrel di sana, dia yakin jika pria itu pasti pergi ke rumah Zola.
Trisha memilih langsung merebahkan tubuhnya, dia menerawang memikirkan tentang kehidupannya itu. Apakah dia dapat terlepas dari hubungan itu, atau malah dia akan terus berada diikatan itu, dia hanyalah manusia biasa yang ingin egois dengan memiliki suaminya sendiri.
Ingin menjadi cinta satu-satunya dalam hanti suaminya, dia tidak akan sanggup, jika selamanya berada dalam situasi itu, menjadi orang ketiga, juga membagi suaminya dengan wanita lain. Larut dalam lamunannya, tanpa sadar telah menelan kesadaranya, mulai berselancar dalam mimpinya.
Sementara itu, Darrel kini menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, dia memilih pergi, dari hadapan Trisha agar dia tidak sampai melampiaskan kekesalannya pada istriya itu. Tujuannya saat ini adalah apartemen sahabatnya, siapa lagi jika bukan Romi.
Begitu sampai di depan pintu unit milik pria itu, dia pun segera menekan bell, tidak membutuhkan waktu lama, pintu itu terbuka dengan Romi yang membukakan pintu itu degan wajah ngantuknya.. Bagaiman tidak mengaatuk, saat ini sudah tengah malam dan dia baru saja memejamkan matanya.
"Masuklah," ucap Romi pada Darrel, lalu berbalik berjalan ke arah sofa, diikuti oleh Darrel yang sudah meutup pintu itu terlebih dahulu.
Romi merebebahkan tubuhnya di sofa, dia juga memejamkan mata, sedangkan Darrel mengikutinya dengan duduk di sofa yang tidak jauh dari Romi. Pria itu beberapa kali menarik napas dan mengeluarkan.
"Kenapa lagi?" tanya Romi karena melihat sahabatnya itu yang terlihat tengah dalam masalah lagi.
"Aku memergoki Trisha sedang minum obat pencegah kehamilan," cetus Darrel.
"Terus apa masalahnya?" tanya Romi masih dengan mata terpejam.
"Aku berharap dia tidak melakukan itu, dia juga segera hamil."
"Egois."
__ADS_1
Mendengar hal itu, Darrel menatap lawan bicaranya itu dengan kening mengerut heran, tidak mengerti maksud dari ucapan itu.
"Maksud kamu siapa yang egois, Trisha?" nanya Darrel menatap pria yang memejamkan matanya itu.
"Kamulah," cebik Romi membuka mata dan menatapanya.
"Aku?" tunjuk Darrel pada dirinya sendiri.
"Iya, kamu egois jika memikirkan untuk punya anak saat ini, apa kamu lupa status kamu itu." Romi menhetikan ucapannya dan mendudukan dirinya sambil menata Darrel yang masih memansang wajah bingungnya.
"Kenapa kamu jadi b*doh!" decak Romi memutar matanya jengah.
"Menurutmu apa yang akan terjadi pada Trisha jika saat ini dia hamil, sedangkan menurut pandangan orang lain, saat ini statusnya masih sebagai wanita singgel yang belum menikah."
Darrel mematung di tempatnya dengan tatapan lurus pada Romi, dia membenarkan apa yang sahabatnya itu atakan, terus kenapa sebelumnya dia tidak terpikirkan ke arah sana, dia hanya berpikiran negatif pada Trisha dan meniggalkanny begitu saja, setelah melakukan hal yang tidak baik pada istrinya itu.
"Berarti aku sudah salah paham padanya," gumam Darrel yang sadar akan kesalahannya.
"Saran aku, sebaiknya kamu mulai ceritakan semuanya dengan jujur pada Trisha, agar dia tidak terus salah paham dan berpikiran buruk tentang dirimu," saran Romi.
"Jangan sampai nanti Trisha merasa lelah dengan keadaanya dan malah pergi dari kehidupanmu, atau malah dia menemukan orang membuatnya lebih nyaman, hingga ksempatan untukmu pun akan hilang."
Darrel mendengar ucapan Romi itu dengan seksama, dia tentu saja tidak ingin jika sampai apa yang Romi ucapkan itu terjadi, dia tidak ingin Trisha benar-benar pergi dari kehidupan, tapi untuk menceritakan semuanya pun, entah kenapa dia tidak bisa.
Setiap kali berhadapan dengan istrinya itu, dia merasa kesulitan untuk mencari waktu tang tepat untuk itu.
"Apa kamu akan pulang?" tanya Romi sambil menguap, dia tidak bisa menahan kantuknya itu.
"Aku nginep saja," Sahut Darrel.
Mengingat waktu sudah tengah malam seperti itu, dia males untuk menyetir, dia juga merasa malas jika harus pulang ke apartmennya.
"Ya udah, kalau gitu aku tidur dulu, udah ngantuk. Kamu tidur di mana aja terserah," sahut Romi sambil berdiri dan mulai brjalan menuju ke kamarnya.
Setelah Romi tidak terlihat lagi, Darrel kembali memikirkan tetang apa yang harus dilakukan. Apa dia harus mengatakan semuanya pada trisha, tapi Trisha selalu menghindar setiap kali berhadapan dengannya.
"Apa aku harus meminta bantuan Zola?"
__ADS_1