Satu-satunya Cinta

Satu-satunya Cinta
Negosiasi.


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, tapi hingga saat ini Darrel masih belum bisa untuk menemukan Trisha karena dia masih belum menemukan pegutunjuk apa pun.



Kini Trisha telah berusaha untuk melepaskan ikatan di tangannya itu, dia telah mencoba melepaskan ikatan itu, dengan menggunakan sebuah pecahan dari botol yang sengaja dia pecahkan saat para penyekapnya itu tidak ada.


Meskipun dia sudah berusaha, tapi ternyata memutuskan tali yang begitu besar itu tidak semudah yang ada di sinetron-sinetron, dia harus bersabar meskipun dia sudah melakukan hal itu dari semalam.


"Aku mau buang air kecil lagi," ucap Trisha karena merasa ada panggilan alam.



"Bukannya tadi udah," ucap pria yang saat ini tengah duduk sambil memainkan ponselnya, mengalihkan pandangan pada Trisha dengan mencebikkan bibir.



"Itu hal yang normal jika dalam sehari kita buang air kecil sampai beberapa kali," sahut Trisha.



"Ya udah ayo," ucap pria itu lalu membantu Trisha untuk melepaskan ikatan di kakinya dan berdiri.



Pria itu menggiring Trisha untuk keluar dari sana, menuju ke sebuah kamar mandi dengan keadaan memperihatinkan.



Sudah dua hari ini Trisha harus buang air kecil dengan kurang nyaman, di tempat yang kotor juga becek itu.



Beruntung saat ini dia mengenakan celana dengan model pinggang karet, tanpa resleting dan kancing, hingga dia bisa melepaskan da memakai celananya, meskipun para pria itu tidak melepaskan ikatan di tangannya.



"Cepatlah!" teriak pria itu dengan tidak sabar.



"Iya," sahut Trisha, segera menyelesaikan kegiatannya itu. Setelah selesai memperbaiki celananya, dia pun kembali berjalan ke arah pintu.



"Aku udah selesai," ucap Trisha saat sudah berdiri di depan pintu.



Pria itu kemudian membukakan pintu untuknya, mereka kembali ke ruangan sebelumnya. Kaki Trisha pun kembali diikat lagi oleh tali sebelumnya.



Tak lama kemudian, dua orang temannya datang dengan beberapa pria berpakaian hitam dengan badan kekar, seperti seorang pengawal.



"Lepaskan ikatan kaki wanita itu," ucap salah satu pria yang sudah dua hari menyekapnya itu.



"Kenapa dilepaskan, dia mau dibawa ke mana? Dan siapa mereka," tanya pria yang dari tadi menemani Trisha dengan heran.


__ADS_1


"Kami datang untuk menjemputnya ke sini, oleh orang yang menyuruh kalian untuk menyekapnya," sahut salah satu pria berbadan besar itu.



"Kenapa orang yang memerintahkan kami sebelumnya tidak menghubungi kami." Pria yang dari tadi berada di sana menatap satu per satu orang itu dengan curiga.



"Tuan kami sedang sibuk, dia sedang menyelesaikan masalah lain, jadi dia meminta Kami untuk langsung datang … ini sisa bayaran untuk kalian, tuan kami juga memberikan uang lebih karena puas dengan kerja kalian." Salah satu pengawal itu memberikan uang yang berada di sebuah amplop berwarna coklat pada ketiga orang itu.


Salah satu pria yang menyekap Trisha itu, memeriksa uang yang berada di amplop itu, lalu dia melihat pada kedua temannya dan mengangguk.


"Baiklah, kalian boleh membawanya," ucap pria itu mulai menjauh dari Trisha.



"Tidak, aku tidak mau ikut kalian," ucap Trisha menggelengkan kepalanya, saat salah satu pria berbadan kekar itu mendekatinya.



Entah kenapa, dia melihat ada aura lain dari para pria itu, hingga membuat dia merasa takut, berbeda ketika bersama dengan ketiga pria sebelumnya.



"Diamlah, kami tidak akan menyakitimu!"



Trisha menggelengkan kepalanya lagi, apalagi melihat pria itu tersenyum miring padanya, dia benar-benar yakin jika saat ini dia tengah benar-benar dalam bahaya.



Pria di depannya itu, memasang lakban pada mulutnya lalu menutupi kepalanya dengan sebuah kain hitam, mereka pun langsung membawa Trisha keluar dari sana.


Mobil van yang membawa Trisha mulai menjauh dari tempat penyekapan itu, Trisha benar-benar tidak tahu ke mana orang-orang itu akan membawanya.


"Apa ini?" tanya Aji menatap sebuah amplop berwarna coklat di atas meja yang baru saja Darrel lempar itu dengan heran.



"Lihat saja sendiri," sahut Darrel menyilangkan kakinya.



Aji pun mulai mengambil amplop itu, lalu mengeluarkan isinya, melihat dengan seksama.



"Apa maksdunya ini?!" Aji menatap Darrel dengan tajam.



"Itu adalah bukti-bukti kejahatan yang telah anak kesayanganmu lakukan, melakukan suap, mengorupsi uang perusahaan, berjudi, meminum minuman keras, sama satu lagi mengonsumsi obat terlarang," terang Darrel tersenyum miring melihat raut tak percaya dari lawannya itu.



"Tidak mungkin, ini pasti hanya akal-akalan kamu kan, kamu hanya memfitnahnya, ingat Darrel walau bagaimanapun, dia adalah kakak kamu. Jangan karena kamu memiliki masalah denganku, kamu sampai menjebak orang tidak bersalah."



Mendengar apa yang pria di depannya itu katakan Darrel tertawa dengan keras, bahkan di saat bukti sudah ada di depan matanya pun, pria yang sialnya adalah papanya itu, masih saja membela pria itu.


__ADS_1


Bagaimana jika saat ini yang ada di posisi Baryl adalah dirinya sendiri, ada bukti yang mengatakan jika dia bersalah, dia yakin seratus persen, pria di depannya itu akan langsung membunuhnya saat itu juga.



"Terserah anda mau percaya atau tidak, karena bukan itu maksud kedatanganku ke sini, maksud kedatangan aku adalah, untuk mengatakan, jika dalam beberapa menit lagi apa yang ada di tanganmu itu akan berada di tangan polisi juga," ucap Darrel dengan santai.


"Apa maumu? Apa kamu melakukan hal itu hanya demi wanita murahan itu!" sinis Aji.


"Wanita yang kamu panggil wanita murahan itu adalah istriku, dia bukan wanita murahan!Yang murahan adalah wanita simpananmu itu!" tekan Darrel.


"Apa! Bagaimana bisa kamu menikahi wanita itu!" bentak Aji.


"Setidaknya aku tidak sepertimu," sahut Darrel dengan santai.


"Katakan di mana kamu menyekap Trisha, aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi," sambung Darrel.


"Tidak akan, aku masih belum memberikan dia pelajaran," sahut Aji.


"Oke kalau itu yang kamu mau, tapi aku mau mengingatkanmu satu hal, setauku wanita simpananmu itu memiliki riwayat sakit jantung, bagaimana jika dia melihat anak kesayangannya itu dijemput paksa oleh polisi," ucap Darrel terdengar santai.


Namun, merupakan ancaman yang benar-benar membuat Aji dilanda kebimbangan.


"Baiklah, asal kamu berjanji tidak akan melakukan apa pun kepada Baryl." Aji pada akhirnya setuju.



"Aku tidak akan pernah ingkar dengan apa yang sudah aku katakan, asal aku merasa puas," sahut Darrel dengan serius.



"Dia berada di rumah kosong, di daerah …." Aji menyebutnya alamat tempat Trisha disekap sebelumnya.



Darrel menghela napas lega mendengar hal itu, dia senang karena berpikir tidak akan lama lagi dia akan bertemu lagi dengan istrinya.



"Jika kamu melakukan trik lagi, maka aku tidak akan segan-segan melakukan apa yang aku katakan tadi pada anak kesayanganmu itu!" ancam Darrel sambil beranjak dari tempat duduknya.



"Ini kesempatan terakhir untuk Mama, masih mau bertahan atau ikut aku, setelah ini aku benar-benar tidak akan peduli lagi dengan apa pun yang terjadi padamu," sambung Darrel menatap ke arah tembok.



Tak lama kemudian Merry keluar dari tembok yang dilihat Darrel itu, dia memang sudah cukup lama berada di sana, mendengar apa yang anak dan suaminya bicarakan.



Merry menatap Darrel dan Aji bergantian, dia menghela napas sedalam-dalamnya, lalu berjalan ke arah mereka berdua, berdiri di antara anak dan suaminya.



"Mama akan ikut kamu, sepertinya sudah cukup Mama kecewa dan sakit hati selama ini, Mama tidak ingin menghabiskan sisa hidup Mama dengan menyiksa diri Mama sendiri," ucap Merry setelah berpikir dengan keras.



Darrel tersenyum puas mendengar jawaban itu, dia kemudian menatap papanya dengan tatapan puasnya.



"Baiklah kalau begitu, semoga kedepannya anda bisa hidup bahagia dengan keluargamu itu, Papa!" ucap Darrel dengan penuh penekanan saat menyebutkan nama papa.

__ADS_1



Darrel pun menggandeng tangan wanita yang sudah mengandung, melahirkan dan menjaganya dari kecil itu, membawa wanita itu pergi dari tempat yang hanya memberikannya kesengsaraan.


__ADS_2