
"Kenapa, apa ada masalah?" tanya Romi menengok pada Trisha, saat mendengar beberapa kali dia menarik napas.
Trisha pun menengok ke arahnya pula, dia kemudian tersenyum samar dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa Pak," sahut Nayna.
Romi pun menganggukkan kepalanya, memilih tidak bertanya lagi kepada Trisha dengan apa yang terjadi padanya, karena dia tidak ingin terlalu ikut campur dengan pribadi sekretarisnya itu.
"Apa kamu masih lama akan di sini?" tanya Romi.
"Saya masih ingin berada di sini Pak."
Romi pun mengangguk paham, dia kemudian mulai berdiri dari bangku itu, lalu berucap, "Baiklah, kalau gitu aku harus kembali ke kantor lagi."
"Iya Pak, makasih untuk minumannya," ucap Trisha yang sudah ikut berdiri.
Romi pun berlalu dari sana, sedangkan Trisha, memutuskan untuk pulang ke rumahnya, kini dia sudah merasa lebih tenang.
Dia pun sudah merasa lebih baik sekarang dan merasa lebih siap untuk berhadapan dengan pacarny itu.
Wanita dengan perangai kalem itu pun, sama seperti sebelumnya, dia pulang ke rumah dengan berjalan kaki, dengan tekad yang sudah kuat.
Cukup lama dia berjalan, kini dia pun telah sampai di jalan menuju ke rumahnya, saat jarak ke rumahnya, tinggal beberapa meter lagi, dia melihat ternyata mobil pacarnya masih berada di sana.
"Ayo Trish, kamu bisa, cukup katakan padanya jika kamu ingin mengakhiri hubungan ini," ucap Trisha berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Setelah menarik napas sedalam-dalamnya, dia pun kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, mulai mendekati rumahnya secara perlahan.
Dari kejauhan, dia melihat pria yang beberapa waktu lalu dia hindari, tengah duduk dengan kepala tetunduk, di teras rumahnya, melihat hal itu ada rasa tak tega dalam hatinya.
Namun, dia segera mengenyahkan rasa itu, dia tidak boleh goyah lagi, ini bukan hanya untuk dirinya, tapi demi kehidupan lain, dia tidak boleh egois dengan bahagia dia atas penderitaan wanita lain.
"Trish, akhirnya kamu datang juga," ucap Darrel secara refleks berdiri, dengan wajah senangnya saat menyadari keberadaannya.
__ADS_1
"Untuk apa kamu di sini?" tanya Trisha dengan wajah dinginnya.
"Aku nungguin kamu dari tadi," ucap Darrel masih memasng senyumnya.
Melihat wajah tanpa dosa dari pria yang tidak lain adalah pacarnya itu membuat Trisha tersenyum kecut.
"Apa kamu masih punya muka untuk menemuiku!" sindir Trisha sambil berjalan mendekati pintu rumahnya.
Deg....
"Apa maksud kamu Trish?" tanya Darrel dengan perasaan yang sudah mulai tak tenang.
Darrel berusaha mengikuti langkah Trisha itu, dia berhenti saat Trisha sedang membuka kunci rumahnya.
"Apa kamu benar-benar menganggap aku bodoh Rel!" Trisha berbalik dan menatapnya tajam.
"Aku benar-benar tidak mengerti Trish, sumpah kalau ada masalah, kamu bisa mengatakan dengan jelas jangan seperti ini, jangan membuat aku bingung," ucap Darrel menatapnya frustasi.
"Zola Melissa adalah pasangan yang serasi denganmu," kekeh Trisha menatapnya dengan tatapan kecewa yang tidak dapat dia sembunyikan.
Darrel mematung mendengar ucapan yang keluar darinya itu, bibirnya terasa kelu untuk memberikan penjelasan pada Trisha.
"Aku memang sudah menikah tapi—"
"Tapi apa? Apa kamu sudah tidak mencintai istri kamu, atau kamu memang berniat akan meninggalkan istri kamu itu?" potong Trisha masih dengan tatapan tajamnya.
"Aku bisa jelasin semuanya Trish, tapi aku mohon dengarkan penjelasanku ini," ucap Darrel berusaha mengambil tangan Trisha.
Namun, Trisha segera menepis tangannya itu, dia masih menatapnya dengan kecewa, matanya memerah nyaris menumpahkan air hangat yang sudah mendesak ingin keluar.
"Pergilah Rel, aku tidak butuh penjelasanmu ... satu lagi, aku ingin kita mengakhiri hubungan kita ini, anggap tidak pernah ada apa pun yang terjadi di antara kita!" tegas Trisha yang akan bergerak memasuki rumahnya.
"Tidak Trish, dengarkan aku dulu. Aku tidak ingin hubungan kita berakhir," ucap Darrel menarik tangan Trisha dan menggenggamnya dengan cukup kuat.
"Lepas!" tekan Trisha dengan berusaha melepaskan tangannya dari Darrel.
"Tidak akan, sebelum kamu mendengarkan penjelasanku, aku tidak akan melepasnya," kukuh Darrel.
__ADS_1
"Jangan buat aku semakin membencimu, cukup dengan kamu membohongiku saja yang membuatku kecewa," ucap Trisha dengan suara bergetar.
"Aku mohon dengarkan dulu penjelasanku Trish, aku tidak pernah mencintai istriku, pernikahan antara aku dan dia tidak ada cinta sama sekali," terang Darrel menatapnya dengan lamat.
"Enteng banget kamu mengatakan hal itu Rel, apa selama ini kamu hanya menganggap aku orang yang bodoh. Pernikahan bukanlah hal sepele yang bisa kamu permainkan Rel!"
"Aku memang bodoh, dengan mudahnya aku jatuh dalam cinta yang kamu tunjukkan itu, dan dengan mudahnya aku mempercayakan hatiku yang lemah ini padamu."
"Maaf Trish, aku—"
"Tidak! Tidak perlu minta maaf, kamu tidak salah apa pun. Yang salah adalah aku, tidak seharusnya aku menjadi wanita yang gampangan," potong Trisha sambil terkekeh, menertawakan kebodohannya.
Darrel menggeleng keras, mendengar ucapan Trisha itu.
"Tidak Trish, jangan mengatakan itu, kamu bukan wanita seperti itu," ucap Darrel menyanggah ucapan dari Trisha itu.
Trisha berusaha sekuat tenaga agar dia tidak menjatuhkan air matanya, dia tidak boleh terlihat lemah, di depan pria yang tidak dapat dipungkiri, telah dicintainya itu.
"Aku ingin kita mengakhiri hubungan kita, Rel. Kamu kembalilah pada istrimu, jalani kehidupanmu dengan baik bersamanya, aku tidak ingin menjadi alasan dari rusaknya sebuah hubungan, apalagi hubungan yang sangat sakral itu."
Trisha menarik tangannya dengan sekali tarikan, dia kemudian masuk ke dalam rumahnya dan menutup rapat pintu itu, meninggalkan Darrel yang masih mematung di tempatnya.
"Tidak Trish, jangan akhiri hubungan ini. Bukankah kamu sudah janji tidak akan meninggalkan aku apa pun yang terjadi, jadi aku mohon buka pintunya Trish dan tarik kembali kata-katamu itu, aku tidak ingin hubungan kita berakhir," ucap Darrel mengetuk pintu.
"Keluarlah Trish, aku mohon," ucap Darrel lagi, berharap Trisha mendengarnya dan berubah pikiran.
"Pergilah! Jangan buat aku semakin membencimu!" teriak Trisha dari dalam rumahnya.
"Aku tidak akan pergi, aku akan tetap berada di sini," sahut Darrel lalu memundurkan badannya.
Dia berdiri di depan rumah itu, berharap Trisha akan luluh dan mendengarkan setiap penjelasannya.
Sementara itu, Trisha menjatuhkan tubuhnya di depan pintu rumah itu, memukul dadanya yang terasa sakit dan sesak.
Dia menarik napas sedalam-dalamnya dengan air mata yang kian berjatuhan di pipinya, kecewa, terluka, sakit. Itulah yang kini dirasakan oleh hatinya.
"Kenapa? Kenapa kamu harus hadir Rel, kenapa kamu harus masuk ke dalam hatiku, menempatkan aku dalam posisi ini," gumamnya sambil menutup wajahnya dengan tangan.
Dia menggigit bibirnya dengan erat, agar suara tangisannya itu tidak terdengar keluar, karena takut pria yang masih berdiri di depan rumahnya itu mendengarnya.
"Aku tidak akan pergi Trish, aku akan tetap di sini!" teriak Darrel dari luar rumahnya.
Trisha menutup telinganya, berusaha tidak mendengar apa pun yang dia ucapkan, dia tidak ingin goyah hanya dengan ucapan pria itu.
__ADS_1
Sementara Darrel masih tetap kukuh berdiri di halaman rumah itu, dia sesekali berbicara dengan suara yang cukup lantang, tidak memedulikan beberapa orang yang kini tengah menatapnya dengan heran.