
Mendengar hal itu, Trisha yang sudah setengah jalan menuju ke pintu pun, menghentikan langkahnya, kemudian berbalik dan kembali menatap Darrel.
"Jadi kamu benar-benar sengaja melakukan hal ini, hanya untuk ini?" Trisha menatapnya tak percaya.
"Aku tidak mau jadi orang ketiga." Trisha menatap Darrel dengan tatapan kecewa dan benci.
Kini dia sudah menghilangkan bahasa formalnya, dia benar-benar tidak percaya jika Darrel benar-benar melalukan hal itu hanya demi keegoisannya semata.
"Semua keputusan ada di tanganmu, jadi istriku atau membawa Ibu dan anak-anak yang tidak bersalah itu terlunta-lunta," sahut Darrel dengan nada santai.
"Aku tidak menyangka jika kamu orang yang seperti itu," sahut Trisha masih berdiri di tempatnya.
"Aku memang seperti ini," sahut Darrel kelewat santai.
"Sekarang duduklah kembali dan bicarakan lebih jauh masalah ini ... itu pun jika memang kamu benar-benar peduli pada nasib orang-orang di panti itu," sambung Darrel, mulai menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya.
"Sayangnya kamu harus kecewa, karena aku yakin aku akan menemukan jalan keluar untuk masalah ini!" tegas Trisha yang memilih untuk teguh pada pendiriannya itu.
Trisha kembali berbalik dan melangkah tanpa ragu keluar dari ruangan itu.
"Baiklah, kita lihat saja, sekeras apa pun usahamu, maka sekeras itu pula aku akan menutup jalan keluar untukmu!" ucap Darrel dengan tegas.
Trisha keluar dengan tangan terkepal kuat hingga buku jari-jarinya nampak memutih dan menonjol.
Dia pergi dari kantor itu dengan tangan kosong, tapi dia berharap akan ada jalan untuk masalah yang kini tengah dihadapinya, setidaknya dia sudah berusaha mempertahankan harga dirinya agar tidak jatuh, di mata pria yang entah seperti apa jalan pikirannya itu.
...********...
Sebulan kemudian...
Sekuat apa pun dia dan Ayu berusaha mencari tempat yang pas untuk mereka, tapi hingga kini masih tidak menemukannya, ada saja masalah yang mereka hadapi, setiap kali menemukan tempat yang benar-benar cocok untuk mereka tinggali.
Ditambah saat ini, para donatur di panti itu, secara tiba-tiba memutuskan untuk tidak memberikan bantuan pada mereka lagi, mengetahui keadaan semakin sulit membuat Trisha bingung harus berbuat apa.
__ADS_1
"Kenapa Bu?" tanya Trisha saat pulang dari kantor, melihat Ayu tengah termenung di teras rumah itu.
"Besok kita harus segera pindah, karena besok adalah batas akhir kita menempati tempat ini," sahut Ayu dengan helaan napas beratnya.
"Tapi sampai saat ini kita masih belum menemukan rumah yang tepat untuk tempat tinggal kita," sahut Trisha mendudukkan dirinya di samping Ayu dan menyimpan tas yang dibawanya ke meja.
"Seandainya rumah yang aku sewa itu agak besar, kita bisa tinggal di sana untuk beberapa waktu," gumam Trisha.
Rumah sewanya itu memang sangat kecil, tidak akan cukup ditempati untuk mereka semua, juga barang-barang yang mereka miliki.
*Apa aku harus menyetujui, syarat dari Darrel* **itu**. Batin Trisha termenung.
"Sekarang kondisi keuangan kita juga semakin menipis," cerita Ayu lagi.
Trisha menatap Ayu dengan intens, jika ibunya itu berani membicarakan masalah itu padanya, itu artinya saat ini kondisinya sudah semakin parah.
"Ibu jangan terlalu memikirkan hal itu ya, aku yakin kita akan bisa melewati masalah ini," ucap Trisha berusaha menenangkan Ayu.
"Iya, semoga saja kita bisa melewati masalah ini, besok mungkin kita harus coba berbicara lagi pada pemilik tanah ini, biar bisa memberikan kita sedikit waktu lagi."
"Iya Bu," sahut Trisha tersnyum.
"Iya Bu, Trisha mau ke kamar dulu ya mau ganti baju dulu," ucap Trisha yang juga sudah ikut berdiri.
"Iya, cepatlah nyusul ke meja makan," sahut Ayu, mengangguk dan mulai berjalan ke arah dapur.
Sementara Trisha, dia menuju ke kamarnya, tapi sebelum itu, dia menatap setiap anak yang saat ini tengah melakukan kegiatan mereka, ada yang bermain ada yang berlajar, ada juga yang hanya diam menonton siaran televisi.
Dia melihat wajah sumringah dari setiap anak itu, mereka tersnyum tanpa beban, apakah dia tega mengganti senyuman polos itu dengan kesedihan yang tidak seharusnya mereka dapatkan.
Rasanya sudah cukup kesedihan mereka karena tidak memiliki keluarga, tidak seharusnya mereka merasa sedih juga karena tidak memiliki tempat tinggal dan kehidupan layak seperti saat ini.
Trisha pun membulatkan tekadnya, untuk menghubungi Darrel malam itu juga, dia yakin pria itu tidak akan pernah melepaskannya, meskipun dia pergi sejauh mungkin.
"Aku setuju untuk menikah denganmu," ucap Trisha saat dia menelepon Darrel di kamarnya.
[Baiklah, besok kita akan melaksanakan pernikahan.]
"Apa harus secepat itu?" tanya Trisha tidak percaya dengan apa yang Darrel ucapkan itu.
\[Kamu tidak bisa menghindar lagi, karena aku tidak menerima negosiasi lagi!"
__ADS_1
Mendengar ucapan tegas dari pria yang sudah memporak-porandakan hati dan perasaannya itu, membuat Trisha akhirnya hanya bisa pasrah.
"Tapi aku memiliki syarat," sahut Trisha.
\[Sebutkan, selain dari tidak adanya kontak fisik, aku akan menyetujui apa pun syaratnya, karena aku pria normal, aku pasti membutuhkan kebutuhan biologisku.\]
"Bukankah kamu bisa meminta hal itu pada istrimu."
\[Bukankah kamu juga akan menjadi istriku mulai besok, jadi sudah kewajibanmu, memberikan hakku itu.\]
Trisha akui, berdebat dengan pria di balik teleponnya itu bukanlah hal yang benar, karena peia itu pasti selalu bisa menjawab setiap ucapan yang dia ucapkan.
"Baiklah, aku akan menuruti setiap ucapanmu itu, termasuk memberikanmu hak yang seharusnya, tapi syarat dariku adalah, bisakah kamu berjanji, jika kamu akan menjamin masa depan setiap anak di sini, juga akan melakukan apa yang kamu ucapkan sebelumnya," tutur Trisha.
Bukankah kini dia tidak bisa lari lagi, jadi yang saat ini bisa dia lakukan, hanya membiarkan dirinya tenggelam ke dalam permainan yang Darrel inginkan.
Anggap saja ini sebagai simbiosis mutualisme, sama-sama saling menguntungkan satu sama lainnya.
\[Aku tidak akan pernah ingkar, atas apa pun yang telah aku ucapkan, aku akan menjamin masa depan yang layak untuk setiap anak di panti itu, aku juga akan mengalihkan kepemilikan atas tanah yang kini menjadi tempat panti itu berdiri.\]
"Baguslah jika begitu, tapi aku masih memiliki syarat lain."
\[Apa?\]
"Aku ingin pernikahan ini dirahasiakan, termasuk dari Ibuku dan umum," ucap Trisha yang belum siap, jika dia dianggap sebagai orang ketiga nantinya, meskipun kebenaran itu pasti tidak akan bisa dia hindari.
\[Baiklah, aku setuju. Besok kamu tunggu saja Andi akan menjemputmu ke sana.\]
"Baiklah," sahut Trisha.
__ADS_1
Setelah itu, dia pun mematikan sambungan telepon itu, Trisha termenung beberapa saat, hingga tak lama kemudian, setitik air mata jatuh di pipinya.