
Setelah dua hari dia menghabiskan waktunya di panti, juga memikirkan tentang hubungannya dan Darrel, Trisha pun telah memutuskan untuk menghindar dari pria itu.
Mengetahui kebanaran itu, cukup membuatnya terasa tertampar, bagaimana tidak, dia sudah mempercayakan hatinya pada pria itu, tapi ternyata Darrel sudah memiliki kehidupan lain.
Terlebih lagi, kebanaran tentang pria itu yang ternyata sudah menikah selama dua tahun, ditambah rencana mereka yang mereka ucapkan di depan banyak orang yang menjadi saksi, jika mereka akan segera memproses memiliki anak.
"Aku tidak pernah ingin jadi orang ketiga Rel, aku tidak ingin jadi perusak kebahagiaan dari wanita lain," gumam Nayna menatap kosong ke arah luar dari jendela kamarnya.
Dia sama sekali, tidak bisa menyalahkan pria itu atas apa yang terjadi itu, dia juga tidak bisa menyalahkannya, atas sakit yang kini dia rasa dalam hatinya itu.
Semua ini terjadi bukan kesalahan Darrel seorang, tapi dia pun ikut bersalah. Bersalah karena tidak mencari tahu sejak awal tentang pria itu, bersalah karena terlalu mudah mempercayakan hatinya pada Darrel.
Kini yang bisa dia lakukan hanya menikmati rasa sakit itu, menelannya sendiri, juga menghindar dari rasa sakit lainnya.
"Kamu sudah siap Nak?" tanya Ayu saat memasuki kamarnya itu.
"Sudah Bu, ayo kita keluar," sahut Trisha tersenyum, lalu berdiri dari ranjangnya.
"Kalau kamu ada cuti, datang lagi ke sini ya," ucap Ayu merangkul Trisha sambil berjalan keluar dari kamarnya itu.
"Pasti Bu, nanti aku ke sini lagi," sahut Trisha masih dengan senyuman yang hadir.
Mereka berjalan ke ruang tamu yang berada tepat di depan pintu masuk rumah itu, saat sampai di sana, anak-anak yang lainnya sudah menyambut dengan wajah sedihnya.
"Kakak memangnya tidak bisa tinggal di sini, beberapa hari lagi?" tanya salah satu anak sambil cemberut.
Trisha hanya tersenyum, lalu berjongkok dan menguap puncak rambut anak itu dengan lembut.
"Tidak bisa Sayang, besok kakak harus pergi bekerja lagi, jadi harus pulang lagi." Trisha berusaha menjelaskan dengan lembut.
"Tapi nanti pasti ke sini lagi kan?" tanya anak berusia enam tahun itu, menatapnya penuh harap.
"Iya tentu saja, ini adalah rumah kakak, jadi pasti kakak akan ke sini lagi, kalian jangan nakal ya, harus nurut apa kata Ibu, harus rajin belajarnya," ucap Trisha pada setiap anak yang ada di sana.
"Baik Kak!" sahut anak-anak itu dengan serempak.
Trisha tersenyum pada setiap anak itu, dia kemudian mulai berdiri dan beralih menatap Ayu lagi, lalu memeluk ibu keduanya itu dengan erat.
"Ibu jaga kesehatan ya, jangan terlalu lelah. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku," ucapnya dalam pelukannya ibunya itu.
"Iya, kamu juga hati-hati ya, jaga kesehatan," sahut Ayu mengusap punggungnya.
__ADS_1
"Iya Bu, ya udah aku berangkat ya. Taksi yang aku pesan sudah datang," ucap Trisha sambil melepaskan pelukannya itu.
"Iya, ayo ibu anterin ke depan," ucap Ayu.
Mereka pun berjalan keluar dari rumah itu, Ayu hanya mengantarkan Trisha sampai teras , setelah itu dia melambai melepaskan kepergian Trisha itu.
Trisha pun masuk ke mobil, membawa serta tas yang berisi beberapa setel bajunya itu, setelah itu dia menyebutkan alamatnya pada sopir taksi itu.
...********...
Di kantor Darrel....
"Kamu sebenarnya ke mana Trish, kenapa kamu tidak bisa dihubungi?" tanya Darrel sambil melamun di kursi kerjanya.
Setelah malam diadakannya acara di perusahaannya itu, Trisha tidak bisa dihubungi pada keesokan harinya. Dia benar-benar tidak mengerti, kenapa Trisha tidak bisa dihubungi seperti itu.
"Apa dia sakit, atau terjadi sesuatu di panti?" tanyanya lagi mengusap wajahnya dengan kasar.
Dia pun kemudian, mengambil ponselnya, lalu menghubungi nomor Romi untuk menanyakan tentang Trisha.
"Rom, besok Trisha masuk kerja lagi?" tanya Darrel, begitu sambungan telepon itu terhubung.
[Kenapa kamu menanyakan hal ini?]
[Benar, dia besok masuk lagi.]
"Berarti, hari ini dia pulang dong," sahut Darrel tersenyum.
[Iya, mungkin. Kenapa kamu menanyakan hal itu, apa terjadi sesuatu?]
"Tidak, ya udah kalau gitu aku tutup dulu teleponnya, aku mau kerja dulu."
Darrel pun segera menghubungi Andi, agar sopirnya itu pergi ke panti dan menjemput Trisha untuk pulang.
Setelah selesai menghubungi Andi, dia pun melanjutkan kembali pekerjaannya, dia ingin segera menyelesaikan tugas-tugasnya itu, agar dia bisa segera menemui pacarnya itu.
"Baru tiga hari tidak ketemu, tapi aku udah benar-benar merindukannya," gumamnya sambil terkekeh.
Dia mengerjakan pekerjaannya, kali ini dengan semangat, tidak seperti sebelumnya yang malas-malasan.
Tak lama kemudian, pintu ruangan itu diketuk dari luar, dia pun segera meminta si pengetuk itu masuk ke ruangannya.
__ADS_1
"Tuan, ini laporan dari bagian pemasaran minggu ini," ucap Arya menyerahkan beberapa berkas pada Darrel.
Darrel pun mengambilnya dan memeriksanya dengan seksama, setelah beberapa saat kemudian, dia pun mengangguk dan menyimpan berkas itu ke meja kerjanya.
"Bagaimana dengan pembangunan apartemen di daerah A, apa semuanya berjalan dengan lancar?" tanya Darrel menatap Arya serius.
"Untuk saat ini semuanya berjalan dengan baik, saat ini juga pembangunan itu sudah hampir 70 persen," jelas Arya.
"Baguslah, aku tidak ingin ada kendala dalam pembangunan itu, hingga dijadikan si pak tua itu untuk memojokkanku," sahut Darrel manggut-manggut.
"Saya akan memastikan semuanya berjalan dengan baik, orang-orang kepercayaan yang kita perintahkan untuk mengawasi pembangunan itu pun, bekerja dengan baik."
Darrel mengangguk puas, dengan apa yang Arya ucapkan itu, dia tidak ingin ada kesalahan dengan apa yang tenga dikerjakannya, apalagi jika itu berhubungan dengan papanya.
"Terus bagaimana perkembangan bisnisku, kapan parfum yang aku kembangkan itu bisa mulai di rilis?" tanya Darrel lagi.
"Kurang lebih dari dua bulan lagi, kita sudah bisa launching parfume itu, dan kemungkinan kita akan memasok parfum itu ke perusahaan yang di Singapura terlebih dahulu, sebagai penyuntik dana. terbesar untuk saat ini" terang Arya lagi dengan lugas.
"Baiklah, pastikan pada bagian produksi agar tidak melakukan kesalahan, karena ini bisnis pertamaku, aku tidak ingin ada kesalahan dan mengecewakan orang yang sudah memberikan kepercayaan padaku," ucap Darrel.
"Baik Tuan," sahut Arya menunduk.
"Kamu sudah boleh pergi," ucap Darrel.
"Baik, Tuan. Permisi," pamit Arya.
Darrel pun hanya menganggukan kepalanya samar, tapi saat Arya baru saja sampai di pintu, dia teringat sesuatu, hingga dia pun menghentikan Arya kembali
"Apa parfume yang aku buat khusus untuk pasangan sudah selesai diproduksi juga?" tanya Darrel.
"Sudah Tuan." Arya kembali membalikan badan dan berdiri di depan pintu.
"Kamu kirimkan ke apartemenku, ingat parfume itu tidak untuk dijual!" ucap Darrel dengan tegas.
"Baik Tuan, nanti akan saya kirimkan ke apartemen anda," sahut Arya dengan patuh.
"Pergilah!" perintah Darrel menggerakkan tangannya agar Arya pergi.
"Baik Tuan, permisi." Arya pun menundukkan kepalanya, lalu keluar dari ruangan Darrel itu.
......................
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya, bagi yang sudah mampir ke cerita ini, semoga suka🙏🥰