
"Apa kalian yakin ini adalah tempatnya?" tanya Darrel pada anak buahnya, begitu mereka turun dari mobil.
"Iya Tuan, saya melihat Baryl bolak-balik ke sini dan saya juga pernah melihat pria yang membawa Non Trisha bersamanya melalui cctv tempat ini, keluar dari sini, dari cara mereka berinteraksi mereka orang yang cukup dekat," terang anak buahnya itu.
Darrel pun hanya mengangguk dan langsung melangkah memasuki lobby apartemen itu.
"Apa kamu sudah memastikan di mana unit apartmentnya?" tanya Darrel lagi sambil memasuki lift.
"Sudah tuan."
Darrel pun tidak bicara lagi, dia memasang wajah dinginnya, bersiap untuk meledakkan amarahnya pada Baryl, jika pria itu memang benar-benar telah menculik Trisha.
"Menurut karyawan di sini, itu adalah unit milik Baryl," tunjuk anak buahnya, pada sebuah pintu yang tidak terlalu jauh dari lift, saat mereka sampai di koridor.
Darrel semakin mempercepat langkahnya, ketika sampai di depan pintu itu, bertepatan dengan pintu yang terbuka dan Baryl yang tengah bersiap untuk keluar.
"Darrel, mau ngapain kamu ke sini?" tanya Baryl berusaha bersikap tenang.
"Jangan banyak omong, di mana istriku!"
Tanpa menunggu sahutan dari Baryl, dia langsung melayangkan pukulan telak pada Baryl, hingga membuat tubuh Baryl kembali terdorong ke dalam apartement itu.
"Tuan!" panggil anak buah Baryl yang membantu dia untuk berdiri.
Baryl kembali berdiri tegak, dia kemudian merapikan bajunya dan menatap Darrel dengan menyeringai.
"Apa maksud kamu? Apa kamu punya bukti–"
"Apa kamu pikir masih bisa ngeles lagi," potong Darrel sambil melemparkan beberapa foto anak buahnya yang membawa Trisha memasuki apartement itu.
"Kalau aku memang membawanya ke sini kamu mau apa? Toh sekarang dia juga sudah pergi," tantang Baryl.
Darrel meminta dua anak buahnya untuk memegangi tubuh Baryl, sementara anak buahnya yang lain, memberikan pelajaran pada kedua anak buah Baryl itu, dia kemudian kembali memberikan beberapa pukulan padanya.
"Katakan di mana istriku!" bentak Darrel sambil terus memukuli Baryl dengan membabi buta.
Dia menjadikan tubuh Baryl, sebagai samsak tinju untuk melampiaskan kemarahannya yang sudah menguasainya beberapa waktu ini karena tidak dapat menemukan istrinya juga.
"Uhuk, uhuk. A–aku tidak tau di mana dia," sahut Baryl dengan napas tersenggal.
"Jangan bohong!" geram Darrel masih tidak menghentikan aksinya.
__ADS_1
"Di–dia sudah kabur, aku sudah tidak tau lagi," ucap Baryl dengan nada sudah mulai melemah.
Darrel meminta anak buahnya itu untuk melepaskan Baryl, hingga Baryl pun terduduk di lantai dengan wajah yang sudah babak belur.
"Katakan dengan jelas, di mana istriku!" tekan Darrel lagi.
Darrel mengapit kedua pipi Baryl yang sudah lebam itu oleh tangannya dengan kencang, hingga membuat pria itu meringis merasa ngilu karena.
"Dia sudah pergi," sahut Baryl terkekeh, menatapnya dengan tatapan puas.
Dia puas karena meskipun Trisha pergi, tapi saat ini Darrel masih belum bisa bersama dengannya.
"Kalian periksa setiap sudut tempat ini!" perintah Darrel sambil mendorong tubuh Baryl, hingga pria itu terbaring dengan lemah di lantai.
Begitu pun dengan anak buah Baryl, mereka sudah berhasil dilumpuhkan oleh anak buahnya.
"Baik Tuan."
Beberapa anak buahnya memeriksa ruangan itu, Darrel pun ikut mencari di memasuki kamar yang sebelumnya menjadi tempat Trisha, mencari ke setiap sudut ruangan itu juga ke kamar mandi.
Namun dia kembali dibuat kesal, karena tidak dapat menemukan keberadaan istrinya itu.
"S*al, aku telat lagi!" geram Darrel menendang pintu ruangan itu, sambil berjalan ke luar.
"Kalian lakukan apa yang aku perintahkan," perintah Darrel lagi pada anak buahnya.
Anak buahnya itu mengangguk, mereka mengambil beberapa suntikan yang ada di dalam tas yang mereka bawa.
"Apa yang akan kalian lakukan b"rengsek!" teriak Baryl menatap Darrel dengan tajam begitu anak buahnya mengarahkan suntikan itu padanya.
"Bukannya kamu suka obat-obatan ini, aku sengaja menyiapkannya untukmu!"
"Lepaskan aku b*rengsek!" teriak Baryl saat kedu anak buahnya telah mulai menyuntikkan obat itu padanya.
"Ini balasan karena kamu telah berani-beraninya mengganggu istriku."
Darrel menyimpan kakinya di dada Baryl yang telah terbaring dengan kesadaran yang mulai menurun akibat dari obat yang anak buahnya siapkan itu.
"Hahaha!" Baryl tiba-tiba saja tertawa keras, dengan matanya yang merah dia menatap Darrel tanpa rasa takut sedikit pun.
"Kamu lihat kamar itu." Tunjuk Baryl dengan tangan gemetarnya menunjuk kamar yang baru saja dimasuki olehnya.
__ADS_1
"Di sanalah aku dan Trisha menghabiskan setiap malam bersama," sambung Baryl dengan terkekeh.
Darrel mengepalkan tangannya dengan erat, dia semakin menekan dada Baryl dengan kakinya, hingga Baryl kembali terbatuk karena rasa sesak.
"A–aku senang, Trisha adalah wanita penurut, dia selalu mengikuti apa pun yang aku ucapkan, uhuk, uhuk," racau Baryl menatap Darrel dengan puas.
"Trisha jauh lebih penurut daripada pacar kamu dulu, hingga aku tidak perlu berlaku kasar padanya."
Karena tidak tahan legi mendengar ocehan Baryl, Darrel pun memilih berbalik akan pergi dari sana.
"Jika kamu bertemu lagi dengannya ucapkan terima kasihku atas pelayannya beberapa minggu ini, bilang padanya aku benar-benar puas."
Darrel terus melangkah keluar dari ruangan itu, berusaha mengabaikan apa yang didengarnya, meskipun hatinya terasa sesak memikirkan apa saja yang telah terjadi di antara Baryl dan Trisha beberapa waktu yang lalu itu.
"Tuan, polisi sudah di bawah," ucap anak buahnya, membuat lamunan Darrel terhenti.
"Bagus, ingat untuk musnahkan bukti jika kita pernah ke sini," ucap Darrel.
"Baik Tuan," sahut anak buahnya itu dengan patuh.
Mereka memasuki lift, begitu sampai di lobby, dia berpapasan dengan anggota kepolisian yang akan menuju ke tempat Baryl.
Dia sebelumnya memang sudah memberikan bukti tentang kesalahan-kesalahan Baryl dan membocorkan informasi tentang tempat itu pada polisi.
"Sekarang kita harus ke mana Tuan?" tanya buahnya begitu mereka sampai di parkiran.
Baru saja Darrel akan membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan dari anak buahnya itu, suara ponselnya membuat dia mengurungkan niasaat itu.
Dia mengambil ponsel yang berada di saku celananya, melihat nama Romi yang tertera di layar ponselnya itu.
"Halo Rom," ucapnya saat mengangkat panggilan itu.
[Rel, datanglah ke rumah sakit ….]
"Ada apa?" tanya Darrel dengan heran.
[Trisha ada di sini.]
Mendengar hal itu, akhirnya tanpa banyak bertanya lagi, Darrel pun segera mematikan teleponnya.
"Sebagian pulang saja, dan sebagian lagi ikut aku ke rumah sakit!" perintah Darrel pada para anak buahnya sambil bergegas memasuki mobil.
__ADS_1
Para anak buahnya itu pun mengikuti apa yang dikatakannya, sebagian pulang ke rumah dan dua orang ikut dengannya ke rumah sakit yang Romi sebutkan tadi.