Satu-satunya Cinta

Satu-satunya Cinta
Merasa Tidak Nyaman


__ADS_3

Darrel dan Zolla pun duduk di tempat yang masih kosong, Darrel di sofa yang ditempati oleh Agito dan asistennya. Sedangkan Zolla duduk di samping Trisha.


"Tidak masalah, kan kalau saya duduk di sini?" tanya Zolla pada Trisha.


"Tidak Nyona," sahut Trisha dengan senyumannya.


Kini dia sudah bisa menguasai dirinya, hingga dia bisa kembali bersikap biasa saja. Namun, tidak dapat dipungkiri, jika matanya itu tidak bisa diam.


Sesekali dia melirik ke sampingnya, memperhatikan Zolla yang benar-benar terlihat cantik, sungguh berbanding terbalik dengan dirinya itu.


"Baiklah, karena makanannya sudah datang, sebaiknya kita mulai saja makan malamnya," ucap Agito yang langsung diangguki oleh semua orang yang hadir di sana.


"Sayang, bukankah biasanya kamu suka bantu aku potongin daging seperti ini." Suara manja yang berasal dari Zolla itu, membuat mata Trisha secara reflek menatap pria yang berada di depannya.


"Baiklah," sahut Darrel singkat, lalu mengambil alih piring yang ada di depan Zolla.


Pria itu dengan telaten memotong, steak istrinya itu dengan potongan kecil-kecil. Dan apa yang dilakukannya itu tidak lepas dari perhatian Trisha.


Melihat Darrel yang terlihat perhatian pada Zolla, membuat hatinya terasa ngilu dan sesak, seolah terhimpit, bahkan kerongkongannya pun terasa mengecil hingga makanan yang masuk ke mulutnya, sulit untuk melewati kerongkongannya.


Trisha menarik napasnya sedalam-dalamnya berusaha untuk menenangkan hatinya itu, meskipun memanglah tidak mudah.


"Ini makanlah," ucap Darrel mendorong piring milik Zolla pada si empunya.


"Terima kasih Sayang," sahut Zolla dengan senyuman manisnya.


"Wah, kalian kalau mau memamerkan kemesraan tolong lihat situasi," kekeh Agito bercanda.


"Suami saya memang begitu Tuan, suka sekali menunjukkan rasa cintanya di depan umum," sahut Zolla ikut terkekeh.


"Tapi itu hal yang bagus, itu artinya Tuan Darrel benar-benar mencintai anda Nona Zolla," sahut Agito tersenyum pada Zolla.



"Iya Tuan." Zolla mengangguk setuju sambil kembali menatap Darrel sambil tersenyum.


Darrel hanya membalas senyuman dari istrinya itu sekilas, kemudian melanjutkan makannya, sementara Romi dari tadi hanya menyimak apa yang terjadi itu.


Namun, matanya sesekali melihat ke arah, Trisha yang terlihat tidak nyaman dengan keadaan itu.


"Oh iya Tuan, apa anda masih lama berada di sini?" tanya Romi sengaja mengajak Agito berbasa-basi.


"Tidak Tuan Romi, lusa saya harus kembali lagi, saya tidak bisa meninggalkan perusahaan begitu lama," sahut Agito.


"Sayang sekali, saya kira anda bisa berada lama di sini," sahut Romi.

__ADS_1


"Tenang saja, saya sekarang pasti akan lebih sering ke sini, karena saya sudah bekerja sama dengan perusahaan Tuan Darrel dan Tuan Romi," sahut Agito.


"Baguslah jika begitu," sahut Romi mengangguk.


Trisha dari tadi memilih diam, karena sejujurnya dia tidak pandai berbahasa Jepang, berbeda dengan Romi dan Darrel yang memang sudah terlihat fasih.


Trisha hanya mengerti sedikit-sedikit saja apa yang mereka ucapkan itu, tapi tidak bisa menyebutkannya, itulah alasan, dia hanya berbicara kata yang pendek, saat Agito mengajaknya berbicara tadi.


Namun, melihat Zolla yang juga terlihat fasih berbicara dengan Agito dan terlihat mudah berbaur, dia semakin insecure dan merasa jadi kerdil, berada di samping wanita cantik nan elegan itu.


Kini dia jadi semakin menyadari perbedaan antara dirinya dan Zolla, ibarat langit dan bumi, dia kemudian kembali melirik ke arah Darrel yang ternyata tengah memperhatikannya.


Trisha merasa benar-benar tidak cocok dalam segi apa pun, bersanding dengan pria itu, tapi kenapa pria itu malah memilih mendua, mengkhianati istrinya yang nyaris sempurna itu.


Apa kamu tidak bisa hidup dengan satu cinta saja seumur hidupmu Rel? Kenapa kamu malah menjadikan aku duri dalam rumah tanggamu yang sempurna itu? Batin Trisha, kembali membuag pandangan ke arah lain.


Menghindar dari tatapan Darrel yang menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak.


Kini makanan yang tersaji di meja itu pun telah habis, setiap orang yang berada di sana memutuskan untuk segera pergi dari restoran itu.


"Terima kasih atas undangannya Tuan, dan terima kasih juga karena anda sudah mempercayai perusahaan kami untuk kerja sama ini," ucap Romi pada Agito, ketika mereka semua sudah sampai di parkiran


"Iya sama-sama Tuan, saya harap kerja sama ini akan berjalan lancar," sahut Agito.


"Baiklah, jika begitu saya pamit terlebih dahulu," pamit Agito membungkukkan badannya.


"Iya silakan Tuan!" sahut Darrel dan Romi bersamaan.


Mereka berempat pun membungkuk hormat pada Agito. Setelah memastikan mobil yang membawa Agito itu pergi, Darrel memilih berpamitan terlebih dahulu.


"Aku balik duluan ya Rom." Darrel menepuk pundak Romi.


"Iya Rel," sahut Romi mengangguk.


"Sampai ketemu lain waktu lagi Rom," pamit Zolla sebelum melangkah mengikuti suaminya.


Zolla dan Darrel pergi ke arah mobil mereka yang tidak terlalu jauh dari posisi mereka, dengan Zolla yang masih bergelayut manja, di lengan suaminya.


"Ayo Trish, aku anterin kamu pulang," ucap Romi membuat Trisha yang tengah menatap nanar pasangan yang baru saja masuk ke dalam mobil itu teralihkan padanya.


"Baiklah, terima kasih Pak," sahut Trisha, lalu mengikuti langkah mengikuti Romi memasuki mobilnya.


Sepanjang perjalanan Trisha hanya diam, tatapannya kosong ke arah di depannya, tidak ada hal lain yang selalu memenuhi pikirannya itu, selain tentang pernikahannya itu.


Melihat Darrel dan Zolla bersama-sama seperti itu, membuat perasaan tak nyaman itu muncul kembali, memikirkan Darrel menghabiskan waktu bersama Zolla yang notabenenya adalah istrinya juga, membuat sudut di hatinya terasa sakit.

__ADS_1


Namun, dia harus sadar, dia tidak boleh membiarkan hal itu terlihat, dia harus terlihat baik-baik saja, karena dia sadar statusnya itu, hanyalah orang ketiga.


"Trish!"


"Trish!"


"Eh iya Pak," sahut Trisha tersentak kaget dengan panggilan dari atasannya itu. Dia beralih menatap Romi dengan sedikit heran.


"Kita sudah sampai," ucap Romi menunjuk ke depannya, dengan isyarat matanya.


Trisha pun beralih menatap ke depannya, dia menarik napas sedalam-dalamnya, ternyata mereka sudah benar-benar sampai di depan rumah Darrel.


"Ah, maaf saya melamun Pak, tapi kenapa Pak Romi bisa tau alamat rumah ini," ucap Trisha dengan heran.


Dia dari tadi tidak sempat menyebutkan alamat rumah itu pada Romi, karena terlalu sibuk melamun.


"Kamu lupa, jika aku ini adalah temannya Darrel, jadi aku pasti tau alamat rumah ini," sahut Romi.



"Oh iya," sahut Trisha mengangguk paham.



"Kamu sebaiknya turunlah, ini sudah malam," ucap Romi.



"Iya terima kasih ya Pak, karena Bapak sudah nganterin saya," ucap Trisha sambil terus bergerak menuruni mobil itu.


"Iya sama-sama."


Setelah Trisha turun, Romi pun kembali menjalankan mobilnya, meninggalkan Trisha yang masih berada di depan gerbang rumah yang masih tertutup itu.



Saat tengah memperhatikan mobil Romi yang semakin menghilang, entah kenapa Trisha merasa jika saat ini dia sedang diawasi, dia segera menoleh ke kana dan ke kirinya, tapi tidak ada yang aneh di sana.



"Mungkin hanya perasaanku saja," gumamnya yang kemudian membunyikan gerbang, agar penjaga di sana membukakannya untuknya.


"Maaf Nyonya, saya kira barusan bukan anda," ucap salah satu penjaga itu, saat membukakan gerbang untuknya.


"Iya tidak apa-apa Pak," sahut Trisha tersenyum, sambil terus melangkahkan kakinya memasuki halaman rumahnya itu.

__ADS_1


__ADS_2