Satu-satunya Cinta

Satu-satunya Cinta
Permintaan Maaf Darrel.


__ADS_3

Trisha mengerjakan pekerjaannya dengan serius, seperti biasanya, hingga waktu untuk pulang pun datang. Dia pulang dengan dijemput Andi.


Selama dalam perjalanan pulang itu, dia merasa harap-harap cemas, karena memikirkan tentang Darrel yang dia dengar dari Zola sebelumnya, berpikir apa yang harus dia katakan saat berhadapan dengan suaminya itu nanti.


"Jika selama ini Darrel dan Nona Zola sudah berencana bercerai, terus selama ini Darrel tinggal di mana? Apa di apartemennya?" tanya Trisha pada dirinya sendiri.


"Non, kita sudah sampai," ucapan Andi itu membuat Trisha tersadar dari lamunannya.


"Iya Mas, makasih ya." Trisha pun turun dari mobil itu, dia berjalan memasuki rumahnya.


Namun, baru saja dia akan membuka pintu rumah itu, matanya melihat ke arah garasi yang berada di samping rumah itu, dia dapat melihat mobil yang biasa Darrel pakai dari garasi yang masih terbuka.


"Dia udah pulang? Tumben?" gumamnya dengan heran, karena biasanya, jam segini Darrel belum pulang.


Trisha pun melanjutkan niatnya, yaitu membuka pintu rumah yang sudah beberapa bulan dia tempati itu, dia berjalan ke arah dapur terlebih dahulu untuk menanyakan sesuatu pada Art di sana.


"Bi, Darrel sudah pulang?" tanya Trisha pada wanita yang biasa dia sapa Bibi yang tengah serius dengan masakan di kompor.


"Sudah Non, sudah dari tadi malahan. Tapi dari tadi diam di kamar Non." Bibi itu berbalik menatapnya dan menjawab pertanyaannya dengan ramah seperti biasa.


"Oh Mbak Laila ke mana?" tanya Trisha karena tidak melihat keberadaan Art yang satunya lagi.


"Barusan pamit mandi dulu Non," sahut Bibi lagi.


"Oh, ya udah kalau gitu aku ke kamar dulu ya Bi," pamit Trisha pada Bibi.


"Iya Non," sahut Art itu.


Trisha berjalan menaiki tangga, berjalan ke arah kamarnya, begitu memasuki kamarnya itu, dia mengerutkan kening karena ternyata kondisi kamarnya yang gelap.


"Bukannya tadi Bibi bilang Darrel ada di kamar, tapi kenapa sekarang tidak ada siapa pun," gumam Trisha, lalu berjalan secara perlahan ke arah saklar di kamar itu.

__ADS_1


Dia menekan saklar lampu, hingga dalam sekejap lamu di kamar itu pun menyala, menampilkan isi kamar itu yang terlihat berbeda dari sebelumnya.


Dia ranjang yang tadi pagi dia tinggalkan dalam keadaan rapi, kini telah ada ratusan kelopak bunga yang berbentuk hati, dengan tulisan Sorry and I Love You *di tengah kelopak bunga mawar merah berbentuk hati itu.


"Apa-apaan ini?" gumam Trisha dengan sedikit mengangkat bibirnya tersnyum.


Tak lama setelah itu, sepasang tangan kekar melilit di perutnya yang rata, disusul oleh kepala yang bertumpu pada pundaknya.


"Maaf untuk semua kesedihan yang aku berikan untukmu, maaf untuk kebohongan yang aku lakukan padamu, maaf karena terlalu mencintaimu, hingga aku tidak sanggup untuk kehilanganmu, maaf karena aku tidak bisa mengurangi sedikit pun rasa yang sudah terlanjur tumbuh besar di hatiku ini, maafkan aku Trish, maaf."


Trisha mematung di tempatnya, dengan apa yang didengarnya itu, apakah sebesar itu cinta yang pria itu miliki untuknya, apa pria itu selama ini sudah menderita sendiri, sedangkan dirinya yang dari awal langsung memvonis dia bersalah, tanpa ingin mendengarkan penjelasannya dulu.


"Kamu bisa membenciku Trish, tapi aku mohon jangan menjauh dariku, jangan pergi dari hidupku, aku tidak akan sanggup jika sampai kamu pergi dalam hidupku ini."


Trisha mengendurkan belitan di perutnya itu, lalu berputar dan menatap dalam wajah suaminya yang tidak dapat menyembunyikan kesedihan itu.


"Aku tidak ingin kamu pergi Trish, bagiku kamu lebih dari segalanya, aku terpaksa melakukan hal itu, hanya untuk mengikat kamu agar tetap di sisiku, aku—"


"Maafkan aku yang tidak mengerti akan dirimu, aku langsung menganggapmu bersalah, tanpa mau tau kebenarannya terlebih dahulu," sahut Trisha yang merasa menyesal akan sikapnya dulu.


"Tidak kamu tidak bersalah, wajar jika kamu merasa seperti itu, karena aku memang bersalah, tidak mengatakan semuanya dengan jujur sejak awal," sahut Darrel menarik pinggang Trisha agar semakin dekat dengannya.


"Apa kamu mau memaafkan aku dan kita mulai semuanya dari awal lagi," ucap Darrel menatapnya dengan serius.


Trisha pun mengangguk dan tersenyum begitu manis pada Darrel, hingga pria itu kembali mendekap dengan erat tubuh yang selalu dia rindukan itu.


"Tapi dengan satu syarat, aku tidak ingin kamu bohongin lagi, dalam hal apa pun!" peringat Trisha, dia sedikit bergerak memberikan jarak pada tubuh mereka itu.


"Iya aku janji, mulai sekarang aku tidak akan menyembunyikan apa pun darimu lagi," ucap Darrel dengan yakin.


"Baiklah," sahu Trisha kembali menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Oh iya, aku punya sesuatu untukmu," ucap Darrel pada Trisha.


"Apa?" tanya Trisha dengan heran.


Darrel pun merogoh saku jas yang melekat di tubuhnya itu, lalu mengeluarkan sebuah benda beludru berwarna merah berbentuk hati, lalu membukanya dan memperlihatkan isinya pada Trisha.


"Sekarang kita bisa memakai ini, karena aku sudah melepaskan cincin sebagai pengikat aku sebelumnya," ucap Darrel menunjukkan jari manisnya yang kini sudah polos, tidak lagi terpasang cincin seperti beberapa saat yang lalu.


Trisha lagi dan lagi dibuat tersenyum karena hal itu, dia kemudian mengulurkan jarinya agar Darrel memakaikan cincin sebagai pengikat mereka itu ke jari manisnya.


Darrel pun dengan senang hati mengambil cincin itu, lalu memakaikannya dia jari lentik Trisha, untuk menghiasi jari yang semula polos itu.


"Sekarang giliran aku," ucap Darrel kemudian mengulurkan jarinya juga pada Trisha.


Trisha pun tersenyum lalu melakukan hal yang sama pada Darrel, hingga kini jari manis mereka sudah diisi oleh cincin yang menjadi saksi jika kini mereka sudah dipersatukan.


"Terima kasih," ucap Darrel mencium kening Trisha dengan khidmat, Trisha pun memejamkan matanya, menikmati ciuman di keningnya itu.


Tak lama kemudian, mereka melepaskan diri mereka dari pelukan hangat itu, saling menatap dengan dalam dan penuh cinta.


Trisha pikir rasa itu telah hilang, tapi ternyata rasa yang dulu masih utuh, tersimpan dengan rapi di posisi spesial dalam hatinya itu.


Hanya saja, sebelumnya rasa itu tertutup oleh rasa kecewa yang dia dapat dari kebenaran tentang Darrel, tapi begitu dia mendengar ucapan Zola, juga ucapan Darrel barusan.


Kekecewaan yang semula menutupi rasanya itu, kini telah lenyap begitu saja, seperti awan gelap yang menutupi matahari hingga dunia pun menjadi gelap, tapi setalah awan itu menghilang, matahari pun kembali menampakan sinarnya, memberikan kehangatan pada bumi.


"Kamu tau, melihat kamu pergi dari sisiku, itu lebih menyakitkan dari apa pun, jadi jangan pergi lagi, jangan renggut lagi warna yang kamu bawa untukku," ucap Darrel penuh permohonan.


"Aku tidak akan pergi lagi," sahut Trisha dengan yakin.


Mereka pun kembali saling menatap dengan dalam, hingga entah siapa yang memulai, kini bibir mereka telah bertautan, saling membelit lidah dengan rakus.

__ADS_1


Permainan tidak cukup sampai di sana saja, kini kamar yang semula sunyi telah dipenuhi oleh suara cinta yang saling menyatu, melebur dalam hangatnya cinta yang memabukan*.


__ADS_2