SAYANGKU JADULKU

SAYANGKU JADULKU
Season 2 Part 1


__ADS_3

...* Sayangku ( bukan ) jadulku*...


Lebaran telah berlalu, semua orang masih bersukacita, ada yang di kampung halaman, ada yang stay di kotanya karena satu dan lain hal, begitu juga keluarga kami, Parlindungan dan Nia..


Sore itu kami jalan-jalan di taman, bawa dua anak, Ucok dan Butet. Aku duduk di bangku taman baca buku, sementara suamiku dan dua anak kami bermain di rumput. Entah kenapa, sudah enam tahun tinggal di kota, Bang Parlin tak bisa move on dari rumput. Kalau jalan-jalan, pilihannya kalau gak taman, ya, pemandian alam.


"Mak, ada orang gila," lapor si Ucok seraya menunjuk seseorang di pinggir jalan.


"Huss, gak boleh ngomong gitu," kataku seraya menyilangkan jari telunjuk di bibir.


"Memang orang gila, kok, Mak," kata si Ucok lagi.


Sementara itu Bang Parlin lagi bermain kejar-kejaran dengan si Butet. Butet kini sudah sudah tiga tahun, si Ucok lima tahun. Sudah sekolah TK.


Ucok kembali bermain, aku kembali sibuk dengan bukuku.


"Maaakkk ...!" tiba-tiba terdengar jeritan si Ucok. Segera aku berlari mendekat, Bang Parlin juga berlari sambil gendong si Butet.


"Orang gila itu ambil minumku," kata si Ucok sambil menangis.


Ternyata orang gila itu merampas botol minuman dari tangan Ucok.


"Mamak sih, kubilang orang gila, Mamak gak percaya," kata si Ucok sambil menangis.


Orang gila itu tampak kehausan, dia minum habis isi botol minuman si Ucok. Bang Parlin mendekat, lalu menberikan uang lima ribuan ke orang gila tersebut.


"Sana, beli minuman," kata Bang Parlin seraya menunjuk warung yang tak berapa jauh dari situ.


Orang gila tersebut menerima uang itu, akan tetapi bukannya dia pergi beli minuman, dia justru merobek uang tersebut, sambil ngoceh tak karuan.


Bang Parlin seperti tak habis akal, dia pergi ke warung beli air mineral dan roti, terus memberikan kepada orang gila tersebut.


"Uang bikin gila, makanan buat bahagia," kata orang gila tersebut seraya pergi.


"Hahaha, hahaha," aku tak bisa menahan tawa lagi. Ada juga orang gila bisa berkata seperti itu.


"Dengar itu, Dek, uang bikin gila, makanan bikin bahagia," Bang Parlin ikut tertawa.


Menjelang magrib kami pulang ke rumah, Bang Parlin mengemudi dengan santai. Di lampu merah ada seorang pengemis mengetuk pintu kaca mobil kami. Bang Parlin orang yang tidak suka sama peminta-minta, apabila pengemisnya tampak sehat, Bang Parlin tidak suka. Akan tetapi pengemis yang ini sepertinya buta.


"Kasih aja, Bang, itu buta," kataku kemudian.


"Itu pura-pura buta, Dek,"


"Dari mana Abang tahu?"

__ADS_1


"Lihat itu, Dek, dia menunduk, kalau orang buta benaran kepala tegak atau lurus," kata Bang Parlin.


"Ah, aku gak percaya, Bang,"


"Gak percaya, ini coba kasih dari sebelah sana, dia pasti lari ke sana," kata Bang Parlin seraya memberikan uang lima ribu.


Ingin ku coba juga, kuturunkan kaca jendela dari sebelah kiri, pengemis yang di depan kaca sebelah kanan langsung berjalan dengan cepat ke kiri, padahal aku tak ada bicara. Aku belum juga percaya, kuambil uang sepuluh ribu, dua tangan kukeluarkan dari jendela mobil. Uang lima ribu di tangan kiri, uang sepuluh ribu di tangan kanan. Astaga benar juga, dia meraih uang sepuluh ribu tersebut. Aku kesal Bang Parlin benar.


"Bang, singgah di warung mie ayam simpang itu ya, kita makan mie ayam dulu," kataku pada Bang Parlin.


Mie ayam yang kumaksud adalah mie ayam langgananku sejak dahulu. Pembelinya selalu ramai. Akan tetapi Bang Parlin tidak suka mie ayam, kedua anakku juga tidak suka, entah kenapa dengan lidah mereka. Makanan enak tidak mau.


"Bungkus saja, Dek, dah mau magrib ini," kata Bang Parlin ketika berhenti di warung mie tersebut.


Kuturuti kata Bang Parlin, biarpun sebelumnya aku tak pernah bawa pulang mie tersebut.


"Dibungkus, Bang, satu," kataku pada penjual sambil menunjukkan jari telunjuk.


"Ok, Bu," katanya seraya tangannya dengan cekatan ambil mie.


Warung ini selalu ramai, ini saja yang menjelang magrib tempat duduk penuh semua. Mienya memang enak. Biarpun pernah ada selentingan kabar mie ayam ini pakai pesugihan, aku tak percaya.


Mie ayamku akhirnya datang, dibungkus di pelastik dua lapis, aku segera berlari kecil menuju mobil. Suami langsung tancap gas karena Magrib sudah dekat.


Begitu sampai rumah, Bang Parlin langsung ke kamar mandi, ambil wudhu dan salat magrib berjamaah dengan si Ucok, aku sendiri tidak ikut salat karena lagi ada halangan.


Satu sendok pertama masuk ke mulut, akan tetapi apa ini, rasanya tidak seperti biasa aku makan. Ini seperti hambar. Aku langsung teringat kabar selentingan penglaris dagangan. Konon rasanya akan lain jika di makan di rumah, hanya enak bila makan di tempat.


Kucoba sekali lagi, rasanya tetap lain, sudah pasti ini pesugihan. Sial, ternyata selama ini aku makan mie ayam yang tidak enak. Pantas saja Bang Parlin tidak mau makannya.


Tak lupa ku-foto mie tersebut sebelum kubuang ke selokan. Geram dan sedih rasanya.


"Dah siap makannya, Dek?' tanya suami ketika dia sudah selesai salat.


"Kubuang, Bang, ternyata pakai penglaris,"


"Penggaris bagaimana, Dek?"


"Itu mie pesugihan, Bang, hanya enak jika makan di tempat,"


"Ah, mana ada itu, Dek,"


"Ishh, Abang gak percaya aja," kataku sambil buka HP, aku sungguh kesal, gagal sudah makan mie ayam. Ternyata yang kumakan selama ini mie setan.


Ingin kuposting tentang mie pesugihan ini, sebagai warning untuk teman yang lain. Karena kata orang sering makan yang begitu bisa membuat kita sakit.

__ADS_1


"Jangan sebut nama, Dek?" kata suami seraya melihat ke layar HP-ku.


Ini suami sok alim saja, bagaimana orang bisa tahu kalau nama tak disebut. Tetap saja kuketik nama warung tersebut. Aku tak ingin teman yang lain kena. Akan kubuat status FB.


"Kalau tidak benar bisa mematikan usaha orang lo, Dek, adek bisa dituntut," kata suami lagi.


"Kebenaran harus diungkap, Bang, katakan yang benar itu sekalipun pahit, jangan pernah takut selagi kita benar," kataku bergaya bak aktivis.


Sial, sinyal terganggu, postinganku tak terkirim juga. Sinyal sialan, ketika perlu begini dia berulah. Kuletakkan HP di meja.


Si Butet ternyata sudah turun dari ayunan, dia datang menghampiriku sambil memanggil "Mak" tapi tunggu dulu, apa ini di tangan si Butet dua bungkusan plastik kecil. Ya, Allah, ternyata cabe dan saus mie-nya dibungkus terpisah. Tak kulihat tadi karena dipegang-pegang si Butet. Pantas saja gak ada rasa, karena tak pakai saus dan cabe sial!


Kuraih HP itu lagi, kulihat postinganku, alhamdulillah belum terkirim, segera kuhapus. Aku berkali-kali mengucapkan alhamdulillah sambil mengelus dada.


"Kenapa, Dek?" tanya Bang Parlin.


"Gak ada, Bang," kataku seraya memasang wajah judes. Aku kesal suamiku selalu benar. Akan tetapi jiwa emak-emak yang selalu tak pernah salah meronta-ronta.


"Bang, aku mau mie ayam," rengekku kemudian.


"Tapi pesugihan, Dek,"


"Pokoknya aku mau mie ayam, kita makan di situ," kataku lagi.


"Ada apa sih, Dek, pasti gara-gara pemes ini," tanya suami.


"Pemes apaan, Bang?"


"Itu, apa namanya jika wanita sering emosi?"


"Pe Em Es, Bang," kataku.


Kemudian kuceritakan juga apa yang sudah terjadi seraya menunjuk bungkus saus dan cabe di meja.


"Alhamdulillah, Dek, untung juga sinyal rusak," kata suami ketika dia sudah melihat bungkusan kecil di meja.


"Alhamdulillah, Bang,"


"Abang kok jadi cemburu ini,"


"Lo, cemburu,"


"Iya, Dek, sepertinya sinyal pun sayang pada adek, dia rusak demi mencegah adek menyebarkan berita bohong,"


"Ish, Abang,"

__ADS_1


* Nah untung sinyal rusak 🤭 , ayo kita lanjut keseruan mereka *


__ADS_2