SAYANGKU JADULKU

SAYANGKU JADULKU
Season 2 Part 2


__ADS_3

...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...


Si Ucok kini sudah sekolah TK, setiap hari aku antar dia naik becak tetangga kami. Ini usul Bang Parlin, katanya untuk membantu tetangga tersebut. Seorang bapak tua yang di hari tuanya masih mengayuh beca. Kebetulan pula sekolah si Ucok tidak berapa jauh dari rumah.


Hari itu aku jemput si Ucok seperti biasa, akan tetapi ternyata ada acara sehingga anak sekolah agak lama pulang, Bapak tukang becak tersebut kusuruh menunggu. Aku duduk di kantin, di sini banyak emak-emak muda yang menjemput anaknya.


"Jemput anaknya, Bu," sapa seorang wanita padaku.


"Iya, Bu, katanya agak lama hari ini," jawabku sesopan mungkin.


"Iya, aku juga jemput anak, ngomong-ngomong gak kasihan sama anaknya naik becak tiap hari, panas lo," kata ibu yang satu lagi.


"Udah biasa, Bu," jawabku.


"Itulah gak sayang sama anak itu, suamiku mana dikasihinya aku naik becak," kata seorang Ibu yang lain.


Aku memilih diam saja, ingin juga rasanya aku pamer, akan tetapi teringat nasihat Bang Parlin.


"Aku lain lagi, pernah kubawa anakku naik becak ke sekolah, besoknya suamiku beli motor," kata seorang Ibu lagi.


"Sini gabung napa, Bu," panggil seorang Ibu. Aku menurut saja, takut dianggap sombong, biarpun sebenarnya aku kurang suka gabung dengan ibu-ibu sosialita ini.


"Suaminya kerja apa, Bu?" tanya seorang Ibu muda berambut pirang.


"Petani," jawabku singkat.


"Ooo, pantasan, tapi ini termasuk sekolah elit lo, Bu," kata seorang Ibu yang lain.


"Iya, Bu," jawabku, kesal juga perkataannya, secara tidak langsung dia mau bilang anak seorang petani tak pantas sekolah di sini.


Kadang kesal juga sama Bang Parlin, aku punya motor, malah disuruh naik becak, katanya emak-emak naik motor suka seenaknya di jalan raya. Akhirnya aku dapat hinaan halus begini. Jiwa pamerku mau berontak.


"Maaf, Bu, becaknya rusak," tiba-tiba datang tukang becak kami, tangannya hitam.


Ada kesempatan untuk sedikit pamer, segera kutelepon suami biar dia jemput kami pakai mobil. Bang Parlin langsung mengiyakan.


Ketika anak sekolah sudah pulang, sengaja aku menunggu jemputan suami di depan kantin tersebut. Para ibu-ibu masih kumpul di situ, kebiasaan mereka memang seperti itu, biarpun anak sekolah sudah pulang, masih kumpul sambil makan dan ngerumpi.


"Nunggu angkot ya, Bu," tanya seorang Ibu.


"Ngak, Bu, nunggu jemputan?" jawabku.


"Jemputan becak lain ya," tanyanya lagi.


Untunglah mobil Mitsubishi Strada kami sudah datang. Bang Parlin datang bersama Butet anak keduaku.


Sengaja aku tetap berdiri, menunggu suami membukakan pintu untukku, aku naik mobil setelah pintu dibuka suami, tak lupa aku melihat ke belakang sambil mengibaskan rambut, kulihat mereka melongo.


"Hmmm, dah mulai pamer nih," kata suami ketika mobil sudah jalan.


"Iya, Bang, mereka hina aku," kataku kemudian.

__ADS_1


"Hina bagaimana, Dek?" Kalau aku dihina Bang Parlin memang langsung emosi.


"Mereka bilang aku istri petani,"


"Ooh, itu bukan hinaan, Dek,"


"Bukan itu aja, Bang, kata mereka anak petani tak pantas sekolah di situ," Entah kenapa aku jadi berbohong.


"Wah, keterlaluan itu, mulai besok, kuantar jemput adek, bapak itu kita kasih uang bulanan aja," kata suami.


"Gak usah, Bang, adek bawa motor aja,"


"Tidak bisa, kalau perlu kita ganti mobil sama Pajero, enak saja orang itu hina anak istriku," kata suami.


Begitulah, biarpun gak jadi beli Pajero, akan tetapi sejak saat itu Bang Parlin selalu antar jemput kami ke sekolah. Dia bahkan berperan sebagai sopir pribadiku, seperti hari itu, aku dan Ucok duduk di kantin menunggu suami. Dia sepertinya terlambat. Begitu datang, dia langsung turun dari mobil dan membuka pintu untukku.


"Maaf, Nyonya, tadi macet," kata Bang Parlin, lebay memang.


Si Ucok jadi bengong melihat kami.


Besoknya Bang Parlin justru duduk di kantin bersama ibu-ibu sosialita tersebut. Ibu-ibu kepo itu tentu saja banyak tanya ini dan itu. Anehnya Bang Parlin merendahkan dirinya dan mengangkatku tinggi-tinggi.


Dame dan Rina datang berkunjung, Rina yang orang Medan memang dua kali setahun pulang ke Medan. Malam itu kami acara bakar ikan di depan rumah. Rina sudah punya anak satu, perempuan, panggilannya juga sie Butet.


"Karena ada dua Butet di sini, kita panggil nama asli aja lah ya, kan lucu Butet yang mana ini," kataku ketika kami makan.


"Panggil aja Butet menek sama Butet Godang gitu," usul Bang Parlin.


"Si Butet kalian siapa tadi nama aslinya," kata Rina.


"Si Merah?" guman Dame, biarpun dia bergumam, aku dengar juga.


"Kenapa si Rara?" tanyaku serius, aku tak suka anakku disebut si Merah.


"Mendengar namanya aku teringat si Rara," kata Dame.


"Apa hubungannya?" aku jadi makin penasaran.


"Si Rara dulu pernah ditabalkan marga siregar, sampai potong kambing bapaknya, nama gelarnya sama dengan si Butet, Naduma Sari Siregar,"


"Ooo, begitu ya, Bang, kurang apa lagi aku sampai nama anakku pun musti nama si Rara," kataku seraya berdiri. Aku benar-benar cemburu.


"Bukan begitu, Dek," kata suami.


"Bagaimana lagi, urusan apa si Rara sama anakku, yang kukandung sembilan bulan, kenapa harus nama si Rara?" kataku sengit.


"Apalah arti sebuah nama?" kata Bang Parlin.


"Sangat berarti, apalagi untuk orang yang gak bisa move on," kataku dengan suara keras.


"Dek, jangan marah gitulah," suami coba membujukku. akan tetapi aku benar-benar marah kali ini. Dia memberi nama anakku dengan nama mantannya, orang yang dia cintai secara rahasia. Sungguh aku tak bisa terima.

__ADS_1


"Makan itu si Rara," kataku sambil berjalan masuk rumah.


Sebenarnya aku merasa tak enak juga dengan Dame dan Rina, aku marah di depan mereka, akan tetapi sungguh aku tak bisa kontrol emosi lagi. Rara yang selama ini kucemburui ternyata punya nama yang sama dengan anakku.


(Maaf ya, Rina, aku marah di depan kalian,) pesanku pada Rina lewat WA.


(Gak apa-apa, Nia, sekiranya aku pun pasti marah jika begitu) balas Rina.


Aku berkurung di kamar, tak kubuka pintu biarpun Bang Parlin mengetuk beberapa kali. Aku terkejut dengan pesan WA dari Bang Parlin. Ini tak biasa, kami pasangan aneh, tak pernah berkirim pesan WA. Baru kali ini suami kirim WA.


(Dek, masa sama nama pun cemburu?)


(Itu hanya nama lo, Romi Julet aja bilang apalah arti sebuah nama?)


(Dek, udah, kita ganti nama si Butet saja, namanya terserah adek, mau si Rapet, Niyet, atau yet yet lain)


Aku tersenyum membacanya, akan tetapi hatiku masih panas. Sampai besok harinya Dame dan Rina pergi ke rumah orang tua Rina. Aku masih pasang aksi diam.


Bou Bang Parlin datang, beliau ini saudara sepupu dari Ayah Bang Parlin. Dialah satu-satunya keluarga Bang Parlin di kota ini.


"Kudengar kamu mardandi, Inang?" kata bou ini. (Mardandi\= Merajuk)


"Iya, Bou, masa nama anakku pun dia buat nama mantannya," kataku kemudian.


"Itu bukan nama mantannya, Inang, itu nama Bou-nya, di masyarakat Batak nama anak perempuan itu biasa diambil dari nama bou-nya, karena saudara perempuan dari ayah kita itu boru kita, timbal balik," terang bou ini.


Penjelasan seperti ini sudah pernah kudengar dari almarhum ayah mertua, yang mana kakek jadi Abang, tapi bou jadi boru?


"Tau kau siapa namaku, Inang?"


"Bu Sari," jawabku.


"Itu kependekan dari Naduma Sari Siregar, namaku juga diambil dari bou ayahku, jadi nama Naduma Sari oloan itu sudah turun temurun mulai dari nenek moyang, itu nama gelar, giliran anakmu yang dapat nama itu, adapun mantan si Parlin namanya sama, karena dia juga ambil nama dari nenek si Parlin. Tetua desa yang beri nama itu," jelas bou ini lagi.


"Jadi ...?


"Ya, begitulah, ini kebetulan ada foto silsilah keturunan kami, mulai dari atas, lihat itu, berapa orang yang namanya Naduma Sari? Banyak," kata bou itu seraya menunjukkan foto di HP-nya.


Kuperiksa silsilah itu, benar juga, setiap keturunan ada yang namanya Naduma Sari. Duh, aku telah buruk sangka pada suami, waktu dia berikan nama anakku diam memang bilang itu nama kerajaan. Duh, Bang Parlin.


"Terima kasih, Bou," kataku seraya salim. Aku segera berdiri dan cari Bang Parlin.


"Baaaang," teriakku.


"Apa, Mak, aku di sini?" justru si Ucok yang menjawab. Di dekat si Butet, aku memang sering menanggil, Ucok dengan panggilan Abang.


"Mana Ayahmu, Cok?"


"Itu, heboh kali Mamak," jawab si Butet seraya menunjuk Bang Parlin yang lagi shalat.


Begitu Bang Parlin selesai shalat, aku langsung minta maaf dan mencium punggung tangan suami.

__ADS_1


"Bang, maafkan adek, ya, Bang," kataku.


* yuk lanjut masih bersambung terus *


__ADS_2