SAYANGKU JADULKU

SAYANGKU JADULKU
Season 2 Part 26


__ADS_3

...* Sayangku ( bukan ) Jadulku...


Urusan sekolah Ucok dan Butet mudah saja, karena sekolah yang dulu didirikan keluarga Bang Parlindungan tak berapa jauh dari kebun. Kakak kandungku sendiri yang jadi kepala sekolah di situ sampai sekarang. Resmilah kami kini tinggal di desa.


Rara-sapi betina jenis limosin itu jadi kesayangan Bang Parlin, dia mengurus sapi tersebut dengan telatan. Aku jadi cemburu pada sapi tersebut. Bayangkan, begitu bangun pagi, yang pertama dia lakukan adalah membersihkan kandang sapi tersebut, memberinya makan, baru mandi dan salat Subuh. Sementara anak istrinya belum sarapan.


Dia bahkan mengajak sapi itu bicara, tentu saja sapi tak membalas, dia terus bicara sendiri. Kadang bernyanyi menenangkan sapi tersebut. Nyanyiannya masih seperti dulu, yaitu Ungut-ngut, lagu daerah khas Tapanuli Selatan.


Sedangkan aku sendiri tak pernah diajak bicara lama begitu. Jika sore hari dia akan bawa sapi tersebut ke pinggir sungai. Padahal banyak sapi yang lain, Bang Parlindungan hanya mengurus sapi yang satu itu, sapi lain diurus orang yang kami gaji.


"Dek, Rara butuh jantan, Abang bawa dia dulu ke tempat kawan ya, ada kawan Abang yang punya sapi limo jantan, biar dikawinkan," kata Bang Parlin di suatu hari.


"Di mana kawan Abang itu ?"


"Di Pasaman, Dek,"


"Di Pasaman ?"


"Iya, Dek,"


"Abang mau bawa sapi ke Pasaman yang sangat jauh itu, hanya untuk sapi kawin ?"


"Iya, Dek, Rara butuh jantan, sudah musim kawin ini,"


"Berapa lama pula itu, Bang ?"


"Di jalan dua hari pulang pergi, kawinnya tergantung sapi kawan itu,"


"Astagfirullah,"


"Kok, istighfar, Dek ?"


"Sapi kan banyak itu, kenapa harus jauh ke sana ?"


"Banyak pun gak ada yang bibitnya unggul,"


"Berapa pula biayanya itu, Bang ?"


"Sekitar tiga juta,"


"Ya, Alloh, untuk kawinkan sapi pun tiga juta, kayak mau kawinkan anak perawan saja,"

__ADS_1


"Iya, Dek, kalau beranak nanti anaknya bisa laku dua belas juta, kalau dibesarkan, bisa mencapai seratus juta," kata Bang Parlin.


"Terserah Abang lah," kataku kesal. Ya, aku kesal, datang kemari, jadi ibu-ibu desa, semua kulakukan supaya tidak LDR- an. Bang Parlin malah pergi untuk kawinkan sapi, lama pula.


"Adek kok gitu, gak ikhlas nampak ?" Bang Parlin sepertinya tahu yang kupikirkan.


"Iyalah, Bang, aku rela tinggal di desa demi bisa bersama Abang, Abang malah pergi kawinkan sapi,"


"Itu bagian dari pekerjaan, Dek,"


"Lo, sekarang kan sudah canggih, sapi bisa disuntik hamil, gak perlu kawinkan lagi,"


"Harus kawin, Dek, biar bagus,"


"Kenapa gak Abang kawini aja tuh sapi, lebih sayang Abang sama sapi dari pada sama istri," kataku.


"Ah, makin banyak saja tingkah kaulah, Dek," kata Bang Parlin seraya pergi.


Bang Parlin sepertinya marah, dia diam saja ketika menjelang magrib pulang, tak bicara sama sekali, dia mandi dan salat magrib. Biasanya kami salat magrib berjamaah kini dia tak mengajak kami, tak juga mengajak anaknya. Dia salat sendiri.


Kenapa Bang Parlin bisa sensitif begini, apakah karena sapi itu bernama Rara, yang kebetulan dikasih Rara. Aku tak habis pikir ada orang menghabiskan dana tiga juta dan waktu satu minggu hanya untuk kawinkan sapi. Sungguh aku cemburu pada sapi ini. Tiap hari dia dielus Bang Parlin, dimandikan, diberikan vitamin, aku ? dia seperti lupa padaku, asyik terus dengan sapinya.


Dua anakku lalu sarapan, sudah berpakaian sekolah, siap-siap pergi sekolah, biasanya Bang Parlin yang antar mereka. Akan tetapi kali ini Bang Parlin belum memanaskan motor, ada apa lagi ini.


"Ucok, mamak dulu yang antar ya, Ayah mau pergi ambil truk, mau nganter Rara," kata Bang Parlin pada anaknya, dia mungkin sengaja bicara keras supaya kudengar.


"Mana sarapan, Dek ?" tanya Bang Parlin.


"Minta sama si Rara," jawabku ketus, sambil menghidupkan motor. Aku harus antar anakku sekolah, melewati jalan becek dan berlubang, semua karena Rara, sapi sialan itu.


Biarpun aku sudah tak setuju, Bang Parlin tetap saja pergi, ketika aku pulang antar kedua anakku, sudah ada truk di depan rumah, ada juga Rara di dalam truk tersebut. Tak bisa kubayangkan aku harus sendiri urus semua di sini, semua karena Rara.


"Dek, Abang pergi ya, kalau lancar hanya empat hari," suamiku masih pamit.


"Iya, Bang, pergilah," jawabku kemudian.


"Rara, mulai sekarang kuganti namamu jadi Niyet saja, istiku cemburu itu," kata Bang Raja seraya mengelus kepala sapi tersebut, lalu memeriksa ikatannya.


Dalam hati aku tertawa, Bang Parlin benar-benar masih bisa melucu, padahal aku sudah kesal padanya.


"Nanti di sana jumpa sama si Rembo, jangan banyak tingkah ya, langsung jajar saja, biar cepet kelar, nanti aku disuruh yang kawini kau, bagaimana nanti anakmu ?" kata Bang Parlin lagi. Aku tak bisa menahan tawa lagi. Akhirnya tawaku pecah.

__ADS_1


"Lihat itu, kita ditertawakan, nasib kita memang lain, Rara, eh, Niyet, kalau gak diiriin ya dicemburuin," kata Bang Parlin.


"Udah, Bang, cukup, aku gak cemburu lagi," kataku akhirnya.


"Haaa, gitu dong, Abang berangkat ya, mau oleh-oleh apa ?"


"Bawa suami sama si Rara," jawabku asal, "biar gak dia gangguin suamiku lagi," sambungku lagi.


Bang Parlin tertawa, baru kali ini dia tertawa begitu dalam seminggu ini. Aku lalu salim, dia kecup keningku, lalu berangkat membawa Rara yang sudah berganti nama jadi Niyet.


Aku jadi tinggal sendiri di rumah papan bertingkat, di kebun seluas sepuluh hektar, hanya ada empat keluarga.


Aku sudah membayangkan akan tinggal sendiri, berteman sapi dan ayam, kuambil HP, ingin kupanggil Ria untuk menemaniku di sini, akan tetapi begitu Bang Parlin berangkat, sudah datang Ria-adikku. Ternyata Bang Parlin sudah lebih dahulu menghubungi Ria, Bang Parlin menyuruh Ria supaya tinggal di rumah dulu selama dia pergi. Sebelum aku memikirkannya, Bang Parlin sudah melakukannya.


Tiga hari, Bang Parlin belum pulang, ketika kuhubungi, Bang Parlin malah bercanda, katanya dia cari jodoh untuk Rara yang sudah dia ganti namanya jadi Niyet.


"Jadi kapan pastinya pulang, Bang ?" tanyaku.


"Sabar dulu, Dek, semenjak Rara ganti nama jadi Niyet, dia sekarang rewel, gak mau ditinggal," kata Bang Parlin.


"Ish, Abang,"


"Iya, betul, Dek, mungkin nular dari Nia, hahahaha,"


Seminggu kemudian, Bang Parlin sudah pulang, aku terkejut, ada sapi besar di truk tersebut, dia bawa dua sapi limosin, betul juga Bang Parlin, aku hanya bercanda, malah dia serius, dia bawa jodoh untuk Niyet.


"Sapi siapa, Bang ?"


"Sapi kita, Dek ?"


"Abang beli ?"


"Dikasih, Dek,"


"Mana mungkin ada yang mau ngasih sapi raksasa begini," kataku.


Bang Parlin lalu bercerita, temannya yang dia bilang itu ternyata orang yang pernah dibantu Bang Parlin modal usaha, dulu pernah diberikan Bang Parlin zakat sebanyak dua puluh lima juta, ketika tahu Bang Parlin butuh jantan sapi, dia suruh datang ke tempatnya, ternyata hendak memberikan sapi tersebut.


"Terima kasih ya, Alloh," batinku, benar juga kata pepatah, "orang sabar urusannya lancar".aku hanya bercanda bawa oleh-oleh suami untuk Rara, ternyata candaanku jadi Do'a, dan dikabulkan Tuhan.


* Yuk masih kita lanjut saja bagaimana selanjutnya sapi sapi ini yuk *

__ADS_1


__ADS_2