SAYANGKU JADULKU

SAYANGKU JADULKU
Season 2 Part 13


__ADS_3

...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...


"Cok, kau bercita-cita jadi apa nanti?" terdengar Bang Parlindungan bertanya sama si ucok kami, saat itu kami lagi duduk-duduk di kebun depan rumah. Halaman rumah kami kini memang mirip kebun. Biarpun kebanyakan tumbuhannya adalah sayur.


"Aku bercita-cita jadi orang Batak, Yah," jawab si Ucok sambil tepuk dada.


Mendengar itu aku jadi tertawa, masa cita-cita jadi orang Batak?


"Ucok, kau itu sudah jadi orang Batak, itu bukan cita-cita, cita-cita itu seperti dokter, polisi, tentara, gitu," Bang Parlindungan coba menasehati.


"Aku orang Medan, Yah, lahir di Medan kok, aku ingin jadi orang Batak kek ayah itu," kata si Ucok lagi.


"Memang kenapa dengan ayahmu?" akhirnya aku bertanya juga.


"Itu tante Rahma bilang ayah orang Batak yang hebat, aku ingin jadi orang Batak yang hebat seperti Ayah," kata si Ucok.


"Siapa Tante Rahma, Cok?" Aku justru makin penasaran.


"Bu Guru kami,"


"Kenapa kau panggil Tante, bukan Ibu, gak sopan itu," tanyaku lagi.


"Tante Rahma yang bilang kok, kalau di sekolah panggil Ibu, kalau di luar sekolah panggilannya Tante, gitu, Mak," terang Ucok.


Kulihat Bang Parlindungan, dia justru pura-pura bego, siapa pula Rahma ini, setahuku guru kelas Ucok laki-laki.


"Udah ada tante si Ucok ya, Bang, kok gak kenalin ke kita?" godaku ke Bang Parlin.


"Itu Bu Wati, Dek?"


"Oh, Bu Wati yang guru agama itu?"


"Iya, Dek,"


Aku baru tahu, ternyata Bu Wati, guru agama di sekolah Ucok, dia guru honorer, pernah kami bantu dengan uang zakat, karena beliau baru ditinggal mati suaminya.


"Mamak ini gak tau aja, Tante Rahma kan namanya Rahmawati, Ayah manggilnya Rahma, kata ayah Wati nama jelek," terang Ucok lagi.


Kulihat Bang Parlin, aku merasa ada yang aneh, kok bisa-bisanya Bang Parlin mengubah panggilan guru Ucok?


Keesokan harinya ketika kami menjemput si Ucok sekolah, entah kenapa ingin rasanya aku bertemu Bu Guru agama si Ucok ini, kenapa dia suruh anakku manggil tante, kenapa Bang Parlin mengubah panggilan orang. Biasanya Bang Parlin yang jemput si Ucok, kali ini aku ikut.


Ketika kami sampai di pintu gerbang sekolah, kulihat Bu Rahma sudah berdiri di gerbang bersama Ucok dan seorang anak perempuan lain.


"Assalamu'alaikum, Bang Parlindungan," salam Bu Rahma.


"Waalaikum salam," Aku yang jawab seraya menurunkan kaca jendela, sedangkan si Ucok salim ke gurunya lalu naik ke mobil.


"Ayo kami antar pulang, Bu," tawarku kemudian.


"Gak usah, Bu Nia, rumahku kan berlawanan arah," tolak Ibu itu ramah.


"Ayolah, Bu, kebetulan kami juga mau ke sana," kataku lagii.


"Oh, iya, ya," Bu Rahma lalu naik.


Setelah masuk mobil dia ambil HP dan menghubungi seseorang, terdengar dia bicara.


"Bang, aku sudah pulang, gak usah jemput lagi,"


"Iya, Bang, ini sama orang tua murid,"


"Maaf, ya, Bang,"


Begitu dia matikan sambungan, aku kepo juga, kutanya sama siapa dia bicara, Setahuku dia seorang janda, suaminya sudah meninggal sejak setahun yang lalu.

__ADS_1


"Itu, ayahnya anak-anak, biasanya dia yang jemput," kata Bu Rahma.


Duh, aku sudah berburuk sangka, ternyata dia sudah punya suami lagi.


"Bang Parlin memang hebat, baik, dia yang kenalkan aku dengan suamiku yang ini," kata Bu Rahma lagi.


Wah, diam-diam Bang Parlin sudah jadi Comblang, kenapa aku gak tahu ya, Bang Parlin juga gak pernah cerita.


"Itu si Hamdan, Dek, si Hamdan hari itu cari calon istri, aku kenalkan sama Bu Rahma, aku yang sarankan Bu Rahma ganti nama panggilan, Wati itu bahasa arabnya jelek artinya." Bang Parlin akhirnya menerangkan juga. Aku kenal Hamdan, dia rekan bisnis suami ketika bisnis jual beli tanah. Dia memang sudah lama menduda.


Ah, aku memang selalu souzon dengan suamiku ini, dia pernah di pesantren, tentu tahu bahasa Arab.


"Kenapa gak sekalian Bu Megawati abang suruh ganti nama?" kataku kemudian.


"Wah, gak berani Abang, Dek,"


"Memang Wati itu artinya apa?" tanyaku lagi.


"Pokoknya jelek, Dek, gak usah dibilang lagi,"


Aku jadi berpikir, apakah kami sudah kurang komunikasi? sehingga suamiku sendiri menjodohkan orang tanpa setahuku?


Bu Rahma sudah kami antar, kami pun pulang ke rumah, terjebak macet di tengah jalan.


"Bang, kenapa Abang gak pernah cerita soal Bu Rahma?" tanyaku kemudian.


"Demi menjaga perasaanmu, Dek?"


"Lo, apa hubungannya dengan perasaanku?"


"Begini, Dek, kalau Abang cerita soal janda sama adek, bagaimana perasaan adek?"


Iya, ya, tentu saja perasaanku campur aduk, cemburu pasti, apalagi itu janda cantik, ah, suamiku pandai menjaga perasaan ini, aku saja yang selalu berprasangka buruk.


"Bagaimana, Dek?" tanya suami lagi.


Ucok sudah kelas dua SD, sudah mulai main keluar rumah naik sepeda. Dia anak yang aktif dan pintar pertanyaannya kadang membuat aku bingung sendiri. Seperti hari itu ...


"Mak, air bisa basi?" tanyanya seraya minum air mineral.


"Mana bisa basi itu, Cok," jawabku.


"Jadi ini kok ada tanggal kadaluarsanya, kan gak bisa basi?" tanya si Ucok lagi seraya menunjukkan botol air mineralnya.


Aku tak dapat berkata apa-apa lagi, tak tahu bagaimana harus menjelaskan, karena memang aku tak tahu kenapa air mineral ada tanggal kedaluwarsanya. Biasanya bila begini, aku lempar pertanyaan ke Bang Parlin, tapi saat ini dia tak ikut, aku jemput Ucok naik motor, kami singgah di warung karena hujan.


"Bagaimana pelajaran di sekolah?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Gurunya bodoh,,"


"Hei, Cok, mulutmu itu, gak boleh ngomong gitu," kataku seraya memegang mulutnya.


"Benaran kok, Mak,"


"Gak boleh ngomong gitu, memang kenapa kau bilang gurunya bodoh?" aku penasaran juga.


"Kan gini, Mak, ada pertanyaan cerita. Jika kamu punya uang sepuluh ribu, terus beli bakso tujuh ribu lima ratus, berapa lagi sisanya?"


"Terus kau jawab berapa, Cok?"


"Aku jawab gak ada lagi, gurunya marah,"


"Yang salah kau, Cok, seharusnya sisa dua ribu lima ratus," kataku coba menerangkan.


"Ah, mamak sama aja sama guru kami,"

__ADS_1


"Ya, iyalah, Cok, ini sepuluh ribu, beli bakso tujuh ribu lima ratus, berapa baleknya?" kataku seraya menunjukkan uang sepuluh ribu.


"Gak ada, Mak, habis, karena Ayah bilang kalau beli bakso yang grobak, baleknya gak usah diterima lagi, ayah selalu gitu kalau beli," kata si Ucok.


"Hahaha," aku tak dapat menahan tawa. Entah bagaimana Bang Parlin mengajari anaknya ini.


Setelah sampai di rumah, kuceritakan pada Bang Parlin perihal si Ucok tersebut, dia malah ikut tertawa. "Salah Abang ya, Dek," kata suami.


Sore harinya hujan lagi, si Ucok minta izin main hujan, Bang Parlin memang tak melarang anaknya mandi hujan, katanya biar badannya kebal, gak seperti anak kota kena hujan sedikit sudah sakit. Hujan sudah reda, tapi si Ucok belum pulang juga, aku mulai resah.


Bang Parlin pun keluar hendak memanggil anaknya. Akan tetapi si Ucok sudah pulang, dia pulang sambil menangis, sepedanya sudah tak ada, badannya hitam kena lumpur mungkin, lututnya berdarah.


"Kenapa, Cok?" tanya Bang Parlin.


"Si Bogel, Yah,"


"Kenapa si Bogel, diapainnya kau?" tanya Bang Parlin. Bogel adalah anak tetangga kami, sudah tamat SD, terkenal bandel dan tak sekolah lagi.


"Aku lewat naik sepeda, Yah, dia dorong aku ke paret, padahal gak ada kuapa-apain dia," lapor anakku sambil menangis.


"Sepedamu mana?"


Masih di paret, Yah, gak bisa kuangkat dari paret, si Bogel gak mau bantu, dia malah ketawain aku," kata si Ucok.


"Ayo ke sana," kata Bang Parlin seraya menarik tangan anaknya.


"Mandikan dulu, Bang," kataku.


"Gak, nanti aja," jawab Bang Parlin.


Khawatir terjadi apa-apa, kuikuti dari belakang, si Butet kutitipkan ke ART kami. sampai di rumah si Bogel ini. Bang Parlin lalu mengetuk pintu dan mengucap salam. Keluar Ibu si Bogel, dia tampak heran, mungkin dia belum tahu perbuatan anaknya.


"Bu, anak ibu mendorong anakku sampai masuk paret," kata Bang Parlin.


"Aduh, anak itu bikin ulah lagi, betul-betul keturunan ayahnya," kata Ibu tersebut seraya berteriak memanggil anaknya.


Tapi anaknya tak datang, padahal menurut ibunya tadi ada di kamar mandi. Ternyata anak itu lari lewat pintu belakang.


"Maaf, bang Parlin, Bu Nia, si Bogel ini memang bandel, aku sudah tak tahu bagaimana mengajarinya, ayahnya pun tak peduli," kata Ibu Gobel.


"Memang ayahnya ke mana, Bu?" tanyaku penasaran. Biarpun rumah kami hanya berjarak sekitar tujuh rumah, aku tak tahu memang.


"Tapi tergoda janda, demi janda dia jandakan istrinya, anaknya jadi gini, memberontak terus, sekolah gak mau, aku sudah menyerah, hampir tiap hari ada orang datang kemari," kata ibu itu.


Tadinya aku ingin marah, akan tetapi setelah melihat dan mendengarkan pengakuan ibu itu, aku justru jadi kasihan. Begitu beratnya penderitaan ibu ini, cari makan lagi, anaknya empat. Bogel yang paling besar.


Kami pulang tanpa hasil, hanya permintaan maaf ibu tersebut, seraya berjanji akan memukul anaknya jika sudah pulang.


"Dek, kasihan Ibu itu ya," kata Bang Parlin ketika kami sudah sampai di rumah.


"Iya, Bang,"


'Kita bantu, yuk, Dek,"


"Bantu bagaimana, Bang,"


"Kita, angkat si Bogel jadi anak angkat, kita sekolahkan,"


"Abang ini bagaimana, sih, udah bandel gitu,"


"Anak itu mirip Dame waktu kecil, dia juga dulu bandel, kalau dibiarkan bisa hancur masa depannya," kata Bang Parlin.


Dua hari kemudian, Bang Parlin pulang sambil bawa si Bogel ini, Bang Parlin menceramahinya habis-habisan, entah bagaimana tiba-tiba anak itu menangis.


"Aku benci ayahku, aku benci, aku bandel pun tak dia openi," kata Bogel.

__ADS_1


Oh, berarti anak ini kurang perhatian, dia bandel untuk mencari perhatian ayahnya. Kasihan juga, akhirnya Bang Parlin minta izin ke ibunya kalau kami akan mengurus Bogel.ibunya tentu saja setuju. Bang Parlin bawa anak itu pulang kampung, memasukkannya ke pesantren tempat dia dulu menimba ilmu.


* Yuk Kita masih lanjutkan ini perbuatan mereka *


__ADS_2