SAYANGKU JADULKU

SAYANGKU JADULKU
Season 2 Part 8


__ADS_3

...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...


Empat keluarga Pa Siregar sepakat mau lanjutkan liburan ke Palembang. Ini saran dari Bang Parta, sebelum merantau ke Kalimantan, dia memang pernah merantau ke Palembang. Semua setuju usul Bang Parta.


Dengan mengendarai dua mobil, kami pun berangkat. Dari Tanjung Jabung Barat ke Kota Palembang memakan waktu sekitar 5 jam. Kami berangkat pagi sekalian. Tengah hari sudah tiba di kota palembang.


"Kita cari makanan dulu," usulku kemudian.


"Dasar tukang makan," jawab Rina. Akan tetapi Dame yang bawa mobil justru mengiayakan.


Kami makan di restoran khas Minang, terus lanjut perjalanan menuju Jembatan Ampera. Konon jembatan ini ikon kota palembang.


"Ini sungai terpanjang di Sumatera, Dek," kata Bang Parlin.


"Iya, Bang, tau, kita cari jajanan, yuk," ajakku pada suaminya. Sementara Bang Nyatan dan Bang Parta sibuk foto-foto.


Kami berjalan mencari jajanan, Bang Parlin sekarang sudah banyak tahunya, dia sering menerangkan sesuatu padaku.


"Makanan khas Palembang, Pempek, Dek," kata suami.


"Iya, Bang, tau, siapa juga yang gak tau, lihat itu, Bang, ada rumah makan di atas air," seruku seruku seraya menunjuk rumah makan di sungai.


"Mbok Sri, pasti masakan Jawa," kata suami.


"Ayo kita coba, Bang," ajakku.


Kami masuk ke rumah makan tersebut. Sepertinya ini kapal yang disulap jadi rumah makan. Coba kulihat menu, kebanyakan pindang dengan aneka ikan. Aku yang hobby makan langsung memesan pindang ikan gabus. Satu jam kemudian kami kembali berkumpul dengan seluruh keluarga. Setelah musyawarah kami sepakat cari hotel untuk menginap.


Malam itu Bang Parta mengajak kami berwisata ke curuk maung. Air terjun yang katanya indah tapi berada di tempat tersembunyi. Perjalanan lima jam dari Palembang. Awalnya kami semua setuju, akan tetapi ketika Bang Parta bilang untuk sampai ke air terjun harus jalan kaki selama satu jam, aku langsung tak setuju. Ada Ucok dan Butet, bagaimana bawanya?


Malam itu kami berunding mau ke mana lagi setelah ini. Dame menyarankan lanjut ke Lampung dan sekalian menyeberangi Selat Sunda. Aku tak setuju karena baru dari sana. Bang Nyatan justru menyarankan berpetualang ke pedalaman Sumatera Selatan.


"Kita ziarah ke makam ayah saja," usul Bang Parlin.


"Setuju," jawab Kak Sofie dengan cepat.


"Iya, juga ya, semenjak ayah mertua meninggal, kita belum pernah ziarah bersama-sama." kata istri Bang Nyatan.


Akhirnya kami putar arah, melanjutkan perjalanan kembali ke desa kelahiran para Pa siregar ini, perjalanan yang cukup jauh. Kata Bang Nyatan, akan menempuh perjalanan selama satu hari satu malam. Itu bila tak pernah istirahat. Jauhnya seribu kilometer lebih.


Kami memlih jalan lintas timur melewati provinsi Jambi dan Riau. Memulai perjalanan sehabis subuh. Sore hari sudah sampai di Pekanbaru. Di kota ini kami istirahat, mencari penginapan.


Keesokan harinya, setelah salat subuh, kami lanjut lagi. Perjalanan dari Pekanbaru melewati perkebunan sawit yang sangat luas, kiri kanan kebun sawit. Kami memlih jalan dari Rokan Hulu. Malam harinya sudah tiba di desa kelahiran Para Pa siregar ini. Rumah peninggalan mertua masih ada, selama ini memang kami gaji orang untuk mengurusnya.


Malam harinya rumah ramai dengan orang yang datang, untung juga kami bawa oleh-oleh yang banyak. Setiap tamu diberi Bang Parlin sekaleng biskuit dan satu kain sarung.


Pagi harinya kami sarapan lontong sebelum pergi ziarah ke makam ayah mertua. Jarak pemakaman dari desa sekitar lima ratus meter. Kami berjalan kaki. Ketika tiba di areal pekuburan dari jauh, terlihat seorang bermukena putih di samping kuburan Ayah mertua.


"Siapa itu?" Bang Nyatan yang duluan bertanya.

__ADS_1


"Entah," jawab Bang Parlin.


Kami terus berjalan mendekat, akan tetapi orang bermukena putih itu sepertinya tak sadar dengan kedatangan kami,.


"Jangan-jangan kuntilanak?" kata Rina.


"Ah, mana mungkin," jawab Bang Nyatan.


Aku justru jadi takut sendiri, entah siapa wanita itu, pagi-pagi sudah ada di kuburan. Setelah kami mendekat, baru terdengar suara orang baca yasin. Ternyata wanita itu membaca yasin di kuburan ayah mertua.


"Assalamu'alaikum," sapa Bang Parta.


Wanita itu tak menjawab salam kami, dia terus baca yasin. Dia sudah menyadarinya kedatangan kami, aku tahu karena dia sempat menoleh ke arah kami. Akhirnya kami tunggu dia selesai baca yasin.


"Assalamu'alaikum," sapa Bang Nyatan lagi setelah wanita itu selesai berdoa.


"Waalaikumsalam," jawabnya.


"Ibu ini siapa ya?" Tanyaku penasaran.


"Maaf, kalian mungkin tak kenal aku, aku janda bapak ini," katanya membuat aku terkejut.


"Janda" tanya Kak Sofie.


"Ah, gak mungkin," Bang Nyatan sepertinya tak percaya.


"Banyak rahasia Ayahmu, Panyahatan Siregar!" kata ibu tersebut.


"Ya, taulah, anak tiri sendiri,"


"Aku gak percaya, gak mungkin Ayah nikah lagi tanpa kami tahu," kata Bang Parta.


"Gak apa-apa kalau kalian tak percaya, toh selama ini pun aku tak butuh kalian percaya, tapi aku ibu tiri kalian, kalian tak tahu bagaimana rasanya suami meninggal tapi tak bisa dilihat." katanya seraya berdiri. Lalu berjalan meninggalkan makam tersebut.


Kami semua saling berpandangan, lalu Bang Parlin berlari memanggil Ibu tersebut. Mereka tampak bicara, entah apa yang mereka bicarakan aku tak dengar. Akan tetapi ibu itu kembali lagi dan bergabung bersama kami. Aku masih tak mengerti, bagaimana bisa almarhum ayah mertua menikah lagi tanpa setahu anak-anaknya?


Setelah selesai ziarah kami pulang dengan berjalan kaki, ibu tersebut permisi juga pulang ke rumah saudaranya di desa sebelah. Setiba di rumah kami pun mulai diskusi seputar ternyata Ayah mertua meninggalkan seseorang istri.


"Kalau itu benar, kita harus memberikan hak ibu tiri kita, seperlapan dari harta ayah hak dia," kata Bang Parlin.


"Jangan mudah kita percaya, tanya dulu apa ada bukti, buku nikah atau apa saja," kata Kak Sofie.


"Benar, rasanya kok aneh, masa gak ada yang tahu, atau jangan-jangan dia ingin harta,"kata Rina.


"Dugaanku juga begitu, dia tiba-tiba muncul ketika kita datang, waktu ayah sakit, ke mana dia?" aku ikut memberikan pendapat.


"Iya, entah macam cerita itunya," kata Bang Nyatan.


''Cerita apa itu?"

__ADS_1


Bang Nyatan lalu bercerita tentang seorang wanita yang galau karena banyak utang, dia ingin menangis sepuasnya tanpa orang curiga, dia malu karena utang yang banyak, akhirnya dia pergi ke makam, dan menangis sepuasnya di samping makam orang yang baru dikubur. Seorang wanita datang menghampirinya, lalu berkata. "Ini uang, tolong jangan nangis di makam suamiku, aku tau kau salah satu istrinya, tolong pergi, jangan bikin malu atau minta bagian." terkejutlah wanita tersebut, dia dapat uang yang banyak, cukup untuk melunasi uangnya.


"Hahaha," kami semua justru tertawa mendengar cerita Bang Nyatan tersebut.


Setelah lama berunding, akhirnya kami sepakat untuk memberikan hak wanita tersebut, dari pada ayah mertua tak tenang karena meninggalkan hutang, yaitu seperdelapan dari harta peninggalan ayah mertua. Masalahnya sekarang adalah wanita itu tak datang lagi. kami tak tahu bagaimana menghubunginya.


Aku dan Rina dapat tugas mencari di desa sebelah. Akan tetapi wanita itu tak ditemukan juga, bagaimana kami mau mencarinya, namanya saja kami tak tahu. Kami pulang tanpa hasil.


"Kok rasanya tak tenang ya," kata Bang Nyatan, setelah kami melapor.


Bang Parlin lalu mengambil HP jadulnya, mulai menghubungi dan bertanya kepada entah siapa, lama juga dia bertelepon. Setelah selesai ...


"Ayah kita memang sering pergi satu hari entah ke mana, begitu cerita dari karyawan kita di kebun, mereka juga tak tahu ayah punya istri lagi, tapi bila benar pun ayah menikah lagi, aku tak bisa salahkan ayah," kata Bang Parlin.


"Terus di mana kita cari dia?" kata Bang Parta.


"Kita ke makam ayah lagi, siapa tau dia datang lagi?" usulku kemudian.


Semua setuju, kamipun kembali ke makam keesokan paginya, benar saja, wanita itu sudah di situ lagi, dia tetap pakai mukena putih, kali ini dia bersama seorang anak perempuan sekira umur sebelas tahun.


"Assalamu'alaikum," salam kami.


"Waalaikumsalam,"


"Jujur dulu, Bu, ibu ini siapa?" tanyaku kemudian.


"Udah kubilang, aku janda Almarhum, beliau ini baik sekali,"


"Di mana ibu tinggal, selama ini ke mana, adakah bukti surat nikah atau apa apa saja?" tanya Bang Parta.


"Tak ada surat nikah, karena kami nikah siri, tak perlu kutunjukkan bukti, karena aku juga tak butuh pengakuan," kata Ibu tersebut.


"Kalau Ibu bisa tunjukkan bukti atau saksi, kami akan berikan hak ibu, seperdelapan dari harta peninggalan Ayah kami," kata Bang Parlin.


"Ini siapa?" Tanyaku seraya menunjuk gadis kecil yang di sampingnya.


"Ini anakku, adik kalian,"


"Wah, kami punya adik perempuan?" kata Bang Parlin setengah berteriak.


"Siapa namamu, Dek?" tanyaku seraya berlutut di depan anak tersebut.


"Duma, Kak," jawabnya.


"Naduma Sari Oloan?"


"Bukan, Naduma Sari Putri,"


Wah?!

__ADS_1


* lihat itu niyet lihat! naduma juga 🤭 *


__ADS_2