SAYANGKU JADULKU

SAYANGKU JADULKU
Season 2 Part 4


__ADS_3

...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...


Bu Parwati benar-benar menjamu kami bagaikan tamu agung. Dia perkenalkan kami pada anak dan saudaranya. Dia sebut Bang Parlindungan sebagai malaikat. Lebay memang. Hanya Bang Parlindungan yang dipuji-puji, aku tidak.


Dua hari di Malang, kami lanjutkan perjalanan. Kali ini kami mau ke Jogja. Kata Bang Parlin Kota asal presiden Jokowi. Kata Bang Parlin lagi presiden itu saudara jauhnya. Karena putri presiden pernah ditabalkan marga siregar. Padahal presiden Jokowi berasal dari Solo. Kadang memang Bang Parlin bisa sok tahu. hehehe.


Kereta api jadi pilihan transportasi kami dari Malang ke Jogja, semua ini karena si Ucok katanya dia pengen naik kereta api. Semua urusan tiket diurus Bu Parwati. Kami bahkan diberikan bekal makan di jalan. Karena perjalanan akan memakan waktu yang lama, sampai sekitar delapan jam.


Di Jogja kami langsung cari hotel. Terus jalan-jalan keliling Jogja naik becak. Ketika naik becak ini, ada kejadian lucu dan menggemaskan.


"Ayo, naik becak, keliling hanya sepuluh ribu," kata seorang Abang becak.


Bang Parlin langsung mengiakan, kami berempat naik dua becak, kata Bang Parlin kasihan tukang becaknya jika kami semua satu becak.


Becak di sini ternyata jauh berbeda dengan becak di Medan, di sini penumpang di depan, sedangkan tukang becak di belakang. Kalau di Medan penumpang disamping tukang becak.


Capek berkeliling, kami kembali ke hotel, Bang Parlin memberikan ongkos masing-masing dua puluh ribu, padahal katanya tadi sepuluh ribu saja. Yang lucu, Abang becak ini masih minta tambah ongkos. Padahal dia sendiri yang bilang sepuluh ribu.


"Bang, Malioboro di mana ya?" tanyaku ketika malam tiba. Konon di Malioboro banyak jual makanan.


"Mana tau aku, Dek, coba cek gugel?"


Segera kutanya Google, ternyata dekat dari hotel kami, naik taksi online hanya tiga puluh ribu ongkosnya. Kami pun berangkat.


Jalan kaki di seputar Malioboro ternyata asyik juga, ramai orang, kebanyakan anak muda, ada juga turis mancanegara. Beberapa kali tukang becak menawarkan jasanya. Kami menolak dengan halus.


"Lihat itu, Dek, pecel senggol," kata Bang Parlin seraya menunjuk warung jajanan.


"Itu makanan, Bang,"


"Kok senggol lah namanya, nanti kesenggol," kata Bang Parlin.


"Kita makan di situ, yuk, Bang?"


"Gak, ah, namanya aja udah senggol, gak selera," kata Bang Parlin.


Kami terus berjalan kaki, si Butet digendong Bang Parlin, si Ucok jalan kaki.


"Itu, Bang, itu sego empal, kayaknya enak," kataku lagi.


"Ah, tau kau, Dek, sego empal itu artinya apa?"


"Mana tau, Bang,"


"Haaa, adek mau makan yang gak tau artinya, empal itu artinya lari dari topik,, biasanya kita ngomong A, orang ngomong B, dia empal lah itu, sedangkan sego itu artinya rusak," jelas Bang Parlin.


"Hahaha, ini bahasa Jawa, Bang, bukan bahasa Batak Angkola," kataku seraya tertawa.


Setelah lelah mencari makanan, kami akhirnya makan nasi goreng, kata Bang Parlin nama makanan di sini aneh-aneh, dia gak mau makan yang namanya aneh.


Selanjutnya kami ke pasar Beringharjo, beli Batik untuk suami dan anak-anak, untukku gak ada yang cocok. Ketika berjalan lagi, kami ditegur seorang bule.


"Hallo, Sir, good night, may i ask, Sir?" kata bule tersebut.


Bang Parlin tampak bingung, akan tetapi dia tetap menjawab.


"Boh, biado mister, aha namaso," Bang Parlin justru menjawab dengan bahasa Batak Angkola.


Si bule tampak bingung. "Sorry, can speak English?" kata bule itu lagi.

__ADS_1


"Oh, Saya Siregar, bukan Lubis," kata Bang Parlin.


Aku tak dapat menahan tawa, "sorry, Sir, we, don't speak English," kataku seraya menarik tangan Bang Parlin.


"Abang diajak ngomong Inggris abang jawab pakai bahasa Batak," kataku setelah kami pergi.


"Dia pakai bahasa yang abang gak ngerti, Abang pake jugalah bahasa yang dia gak ngerti, biar sama-sama bingung," jawab suami.


Kami kembali ke hotel, Bang Parlin tidurkan si Ucok, sedangkan si Butet sudah tidur dari tadi.


"Habis dari sini kita ke mana lagi, Dek?" tanya Bang Parlin.


"Terserah Abang lah,"


"Kita ke Jakarta saja, Dek,"


"Jakarta?"


"Iya, Dek,"


Tiba-tiba HP jadul Bang Parlin bergetar, sepertinya ada panggilan, bila HP itu bunyi biasanya ada hal penting.


"Halo," aku yang terima telepon.


"Ini nomornya Bang Parlin?" terdengar suara dari seberang. Sepertinya suara laki-laki.


"Iya, benar, ini istrinya, dengan siapa ya?"


"Saya Burhan, saya pernah dibantu Bang Parlin, saya ingin berterima kasih," katanya lagi.


Segera kuberikan HP pada Bang Parlin, aku tak kenal si Burhan ini, mungkin salah satu orang yang pernah dibantu Bang Parlin. Tak lupa kuhidupkan speaker sebelum memberikan HP tersebut.


"Kau nya itu Burhan, di mana kau sekarang?" kata Bang Parlin.


"Di jakarta, Bang, hari itu aku pulang kampung, makanya kudapat nomor Bang Parlin,".


"Oh, kapan itu?"


"Itu, lebaran tahun lalu,"


Ah, aku mencium aroma tak beres, masa dapat nomor setahun lalu, baru ini nelepon.


"Kebetulan kali kami mau ke Jakarta ini," kata Bang Parlin.


"Oh, ya, memang sangat kebetulan, aku mau undang Abang datang,"


"Iya, kami cari tiket pesawat dulu, kami mau ke Jakarta,"


"Oke, Bang Parlin, ditunggu,"


Mereka lama bercerita, aku sampai bosan sendiri menguping, aku tertidur. Pagi harinya Bang Parlin langsung suruh aku cari tiket pesawat dari Jogya ke Jakarta, dapat, berangkat hari itu juga.


Di Jakarta kami langsung dijemput si Burhan ini, ternyata dia usaha grosir sembako. Kami dibawa ke rumahnya dan dijamu dengan masakan khas Tapanuli Selatan.


"Bang, lihat ini usahaku, semenjak Abang bantu itu, inilah usahaku, dulu sudah sempat jaya, sekarang lesu, aku ada niat mau kembangkan usaha," kata si Burhan ini.


"Bagus itu,"


"Itulah, Bang Parlin, maksudnya aku mau minjam modal dulu, bukannya aku gak bisa pinjam tempat lain ya, Bang, tapi yang Abang kasih sangat berkah," kata si Burhan ini.

__ADS_1


Tepat dugaanku, dia ada maunya, dasar memang. Sudah dibantu modal, eh, malah keenakan, minta lagi.


"Yang ini minjam, Bang, yang dulu kan hibah, sekarang aku pinjam, dalam dua tahun aku bayar, kukasih bunga lagi," kata Burhan lagi.


Kulihat Bang Parlin, takut juga aku dia terlena dengan rayuan si Burhan ini. Bang Parlin masih diam. Dia tak menjawab.


"Tau Abang penghasilan dari grosir sembakp ini, satu juta satu hari keuntungannya," kata Burhan lagi.


"Lalu kenapa bisa bangkrut, satu juta satu hari, seharusnya kau sudah kaya," kataku akhirnya.


"Itulah, Kak, godaan dunia itu, aku ingin meneladani Rasulullah, nikah sampai tiga kali, masing-masing istriku kubuat tokonya, ternyata mereka lari dengan uangku" kata Burhan lagi.


"Oh, begitu," kata Bang Parlin.


"Iya, Bang, karena itu tokoku habis, istri pertamaku juga ternyata sudah pergi, aku jadi tinggal sendiri, aku ingin bangkit lagi, pengalaman guru yang paling berharga, begitu kata Abang dulu,"


"Pergi?"


"Iya, dia ternyata sekongkol dengan istri mudaku, sama uang tabunganku pun habis, anakku dua juga pergi, bantu aku bangkit, Bang, akan kubalas para penghianat itu," kata Burhan lagi.


"Hahaha," reflek aku tertawa, lucu juga mendengar ceritanya, istri tua dan dua istri muda sekongkol membuat bangkrut seorang suami.


"Perempuan memang aneh, kadang gak ada akhlak, sudahlah aku tertimpa musibah begini masih ditertawai," kata Burhan.


"Hei, Burhan, jaga mulutmu, istriku tertawa karena lucu, kau lucu, kau sudah dibutakan oleh keinginan, nafsu duniawi, kau pikir sudah pintar kan? buat istri jadi karyawan toko tanpa digaji, satu lagi aku tidak bodoh, kerbau saja tak jatuh ke lubang yang sama dua kali, sekarang kau minta modal lagi, tiba-tiba ramah setelah sepuluh tahun, sudahkah kau jalankan yang kuajarkan?" kata Bang Parlin.


"Udah, Bang, tapi aku ditipu,"


"Siapa yang tipu?"


"Itulah, istri mudaku, kuangkat dia dari comberan, kubuatkan dia toko sembako, eh, dia larikan."


"Hahaha," kali ini Bang Parlin yang tertawa.


"Maaf, Burhan, kami pergi saja cari hotel," kata Bang Parlin.


"Tolong aku, Bang, ajari aku kembalikan barang hilang, modali aku lagi, Bang, atau aku bunuh diri," kata Burhan lagi.


"Kalau mau bunuh diri silakan, tapi kami pergi dulu, ingat saja satu hal, apa yang kita tanam itu yang kita tuai," kata Bang Parlin seraya berdiri dan menggendong si Butet.


Kami pergi dari toko Burhan itu. Memanggil taksi dan segera pergi cari hotel.


"Abang sedih, Dek, kadang kebaikan kita disalah gunakan orang, dulu aku kasihan lihat dia terlunta-lunta di desa, kerjanya tiap hari memungut berondolan, ketika ada uang zakat, kuberikan padanya, dia pun pergi merantau, sudah sukses bertingkah pula, abang benci ketika dia bilang mengikuti sunnah Rasulullah," Bang Parlindungan terus mengomel di perjalanan.


"Iya, Bang,


"Dia berlindung di balik agama, padahal tujuan dia buka cabang dengan karyawan tak digaji, dapat bonus lagi, akhirnya dia dapat karmanya." kata Bang Parlin.


Keesokan harinya, aku terkejut dengan berita di TV, saat itu kami lagi sarapan pagi di lobby hotel. Beritanya sungguh mengejutkan.


"Bang, lihat itu," kataku pada Bang Parlin.


"Innalillahi waini ilahi rojiun,"


Berita di TV adalah ditemukannya seorang pria meninggal dengan cara melompat dari lantai enam sebuah mall, yang paling mengejutkan adalah, yang bunuh diri itu adalah Burhan.


"Astagfirullah," Bang Parlin istighfar sambil mengelus dadanya.


* Duha ada ada aja nih gangguan libur bang parlin sekeluarga *

__ADS_1


__ADS_2