SAYANGKU JADULKU

SAYANGKU JADULKU
Season 2 Part 38


__ADS_3

...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...


Lima belas orang warga desa tiba-tiba sakit perut di pagi hari itu, sudah ada yang sadar dan mengembalikan kursi sekolah mengaji kami. Halaman sekolah tiba-tiba ramai, banyak Ibu-ibu datang memohon supaya suami mereka disembuhkan.


"Tolong, Bu, saya lagi hamil, suami saya sakit perut, tolong, Bu," kata seorang ibu sambil memegang perutnya yang buncit.


"Tolong anak saya, Bu, cuma dia tulang punggung keluarga, tolong," kata seorang ibu tua.


"Tolong suami saya, anakku empat ini kecil-kecil," kata Ibu yang lain.


Aku jadi panik dan bingung, sementara Bang Parlindungan tidak kelihatan.


"Baaaang!" panggilku kemudian.


Bang Parlindungan muncul dari dalam rumah, sesaat kuperhatikan wajah Bang Parlin, dia justru angkat bahu.


"Bang, bagaimana ini?" tanyaku.


"Tapi adek maunya begini," kata Bang Parlin.


"Tapi kan, ini kok banyak," kataku lagi.


"Makanya Dek, abang selalu hati-hati memakai ilmu itu, tapi adek memaksa, urus sendiri," kata Bang Parlin.


"Lo, kok jadi urusanku?"


"Iyalah, Dek, itu wargamu, adek yang minta begitu, sampai bilang soal permintaan segala," kata Bang Parlin lagi. Duh, suamiku ternyata marah telah kudesak kemarin.


Makin lama makin banyak orang berkumpul di depan rumah, semuanya ibu-ibu, akan tetapi belum kulihat istri Pak Kosim. Apakah dia gengsi atau bagaimana.


"Bang, adek minta maaf, Bang," kataku pada Bang Parlin, kutemui dia lagi masak sarapan di dapur.


"Iya, Dek, dimaafkan, tapi urus dulu wargamu," jawab Bang Parlin.


"Itulah, Bang, orang itu minta tolong terus, bagaimana caraku menolongnya?" tanyaku lagi. Ternyata setelah kudesak kemarin Bang Parlin marah, padahal baru kali ini aku minta dia gunakan ilmunya.


Bang Parlin akhirnya keluar rumah, diikuti Ucok yang sudah berpakaian sekolah. Ucok ini suka ingin tahu urusan orang dewasa, musti hati-hati bicara. Inipun dia sempat mendengar, akhirnya dia kepo ingin melihat.


"Maaf ibu-ibu sekalian, setelah barang semua kembali, suami ibu-ibu sekalian akan baik saja," kata Bang Parlin akhirnya.


"Tolong Bang Parlin, suami kami memang kurang ajar, baru dikasih rokok sebungkus sudah mau disuruh si Kosim itu," kata seorang Ibu.


Ya, ampun, hanya sebungkus rokok imbalan untuk mereka.


"Tolong maafkan suami kami, Bang Parlin, tolong," kata seorang Ibu lagi.


"Iya, Bu, dimaafkan, tapi tolong kembalikan kursi dan meja itu, itu saja, Bu, ini baru enam kursi, masih kurang banyak," kata Bang Parlin.


"Mereka pesta bakar ikan semalam, Bang Parlin, kursi itu jadi kayu bakar," kata seorang Ibu.

__ADS_1


"Astagfirullah, kursi untuk sekolah mengaji dibuat untuk kayu bakar?"


"Iya, Bang Parlin, aku lihat sendiri, mereka pesta miras di lapangan sana," kata Ibu itu lagi.


"Astagfirullah, kali ini aku yang istigfar, ternyata kursi kami dibuat untuk nyalakan api, dasar memang.


Desa kami geger, tiga ambulans datang dari kota, akan tetapi mereka bilang itu adalah keracunan miras oplosan. Lima belas warga desa dibawa ke rumah sakit, ada juga beberapa yang sadar dengan perbuatan mereka, enam orang sudah baikan. Ada sembilan orang lagi di rumah sakit.


Wartawan datang, sebagai kepala desa akulah yang pertama diwawancarai. Aku cerita apa adanya, tentu saja tak kuceritakan soal ilmu Bang Parlin.


Kurasa memang keracunan itu, Dek," kata Bang Parlin, ketika malam tiba.


"Kenapa Abang bilang seperti itu?"


"Sudah kita maafkan, kursi sudah kembali sebagian, tapi enam orang sudah baikan, seharusnya, jika sudah dimaafkan, mereka semua akan sehat kembali," kata Bang Parlin.


"Entahlah, Bang, aku jadi ikut pusing," kataku lagi.


"Makkkk, mamakk!" terdengar suara Ucok memanggil.


Aku dan Bang Parlin segera ke ruang tamu, di mana Ucok dan Butet lagi nonton TV.


"Udah, habis, tadi mamak ada di TV," kata di Ucok.


"Mamak masuk TV?"


"Emang kalau di sini gak cantik, Cok," Bang Parlin ikut bicara.


"Cantik juga, tapi di TV tadi lebih cantik, Yah, bicaranya pun gak kayak biasanya," kata Ucok.


Hahaha, dalam hati aku tertawa, memang ada stasiun TV tadi wawancara, tentu saja aku bersikap sopan dan bicara sesopan mungkin.


"Ucok dan Butet akhirnya masuk kamar masing-masing, sudah habis jatah nonton TV mereka, aku dan Bang Parlin pun masuk kamar.


"Selamat malam, Bu Kepala Desa, bagaimana kronologis kejadian ini?" Bang Parlin bercanda, dia bergaya bak reporter televisi.


"Begini, itu Bang Parlin memarahi kepala desa, padahal warga keracunan minuman keras oplosan, dia kira karena mereka mencuri," kataku melanjutkan candaan. Kadang kami memangnya seperti ini.


"Wah, siapa Bang Parlin ini, berani sekali marahi kepala desa," Bang Parlin masih lanjut bercanda.


"Itulah, dia satu-satunya atasan kepala desa di desa ini, cuma dia yang berani naik kepala desa," kataku lagi.


"Gak beres ini si Parlin, tindih napa?" kata Bang Parlin.


"Musti di atas aku ini, biar gak ada lagi atasan kepala desa di desa ini," kataku seraya menindih tubuh Bang Parlin.


"Waduh, mana bisa, cuma aku yang boleh jadi atasan kepala desa," kata Bang Parlin seraya membalik tubuhku.


Kami berduaan selanjutnya hanyut dalam buaian asmara, berdua mendaki bukit sampai akhirnya kami sampai di puncak bersama-sama.

__ADS_1


"Bang, nanti kalau pemilihan kepala desa, aku boleh ikut gak?" tanyaku pada Bang Parlin seraya mempermainkan rambut gobelnya.


"Boleh saja, tapii, Abang harus tetap jadi atasan kepala desa," kata Bang Parlin.


"Kenapa, Bang?"


"Di bawah sakit, Dek,"


"Lo, kenapa,"


"Adek makin gemuk saja, lama-lama bisa patah pinggang abang,"


"Ish, Abang,"


Tapi benar juga yang dikatakan Bang Parlin, semenjak pindah ke desa berat badanku memang bertambah. Mungkin sudah saatnya ini diet. Bang Parlin sudah mengeluh aku terlalu besar.


Keesokan paginya, aku dapat berita duka cita, dua orang yang dibawa ke rumah sakit itu meninggal dunia. Dua orang itu adalah orang yang pernah mengganggu kami ketika acara maulid nabi. Entah kenapa aku jadi merasa bersalah, hukuman sampai mati rasanya terlalu berat untuk mereka, mereka juga masih punya keluarga.


"Bang, kan Abang sudah maafkan mereka, kok bisa sampe mati, kasihan juga," kataku pada Bang Parlin.


"Itulah kubilang, Dek, kurasa bukan karena mereka mencuri lagi, tapi karena memang keracunan miras oplosan," kata Bang Parlin.


"Kasihan sekali, Bang,"


"Iya, Dek, ayo kita melayat," kata Bang Parlin.


Kami pun pergi ke rumah duka, ketika kami sampai, mayatnya belum datang dari rumah sakit. Rumah keduanya kebetulan berdampingan, mereka juga masih sepupuan pekerjaan mereka selama ini adalah kaki tangan kepala desa lama.


"Mampuslah, mati kafir orang itu, mati karena minum minuman keras, mencuri properti sekolah mengaji pula," terdengar ocehan seorang ibu-ibu.


"Iyalah, kerjanya pun begitu, peras sana peras sini," kata seorang yang lain.


Aku yang mendengar pembicaraan ibu-ibu ini jadi terenyuh, tak ada kelihatan orang yang sedih dengan kematian dua orang tersebut.


Terdengar suara ambulans datang, mayat telah tiba, begitu mayat diturunkan dari mobil, istri yang meninggal ini langsung datang menemuiku.


"Aku ikhlas, Bu, aku ikhlas, jika ada salah suamiku ini tolong dimaafkan, Bu, aku lihat sendiri suamiku mengacau di acara maulid itu, aku lihat sendiri suamiku mengambil kursi dari sekolah mengaji, aku saksi kejahatan suami, mungkin ini hukuman setimpal aku ikhlas, Bu, aku ikhlas," kata Ibu tersebut.


"Sabar, Bu, sabar," hanya itu yang dapat kukatakan.


Setelah selesai semua fardu kifayah, aku pun memberikan santunan untuk kedua keluarga tersebut, santunan itu mewakili seluruh warga desa. Tak ada orang lain menangisi kematian dua orang tersebut, hanya istrinya, bahkan anaknya yang sudah beranjak remaja tidak menangis. Dia justru datang berterima kasih ke rumah.


"Terima kasih Bang Parlin, Ayahku sering pukuli Ibuku, syukur Ayah mati," katanya.


"Astagfirullah,"


Akhirnya anak tersebut diangkat Bang Parlin jadi anak angkat. Bang Parlin berjanji akan membiayai anak tersebut sekolah di pesantren. Begitulah Bang Parlin, dia masih bisa baik pada orang yang telah memifnahnya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2