SAYANGKU JADULKU

SAYANGKU JADULKU
Season 2 Part 15


__ADS_3

...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...


Liburan tiba lagi, akan tetapi tidak seperti biasanya, kali ini Bang Parlin seperti tidak antusias, belum juga dia bahas soal liburan. Biasanya sebelum tiba masa liburan dia sudah bilang duluan.


"Bang, besok Ucok dah terima raport, ke mana kita liburan akhir tahun?" tanyaku akhirnya, saat itu kami lagi tiduran di depan TV, Ucok dan Butet belum tidur. Mereka asyik bermain.


"Terserahlah, Dek,"


"Kita ke luar negeri ya, Bang,"


"Ah, gak usah, Dek, alam Indonesia sudah bagus dan luas, ngapain ke luar negeri,"


"Kita liburan tipis-tipis aja kalau gitu,"


"Liburan tipis itu seperti apa, Dek?"


"Aduh, Bang, itu lo, liburan gak mahal, yang dekat aja gitu,"


"Kok namanya tipis-tipis,"


"Biar romantis, Bang," kataku seraya melirik si Ucok, dari tadi dia belum tidur, jam sudah menunjukkan angka sepuluh. Malam jum'at pula.


"Ah, kita liburan panas-panas aja, Dek,"


"Macammana pula liburan panas-panas ini, Bang?"


"Liburannya kita bikin adek untuk si Butet," suami berbisik. Aku tertawa seraya mencubit paha Bang Parlin.


"Kenapa pula dibilang liburan panas, Bang?"


"Kan, keringatan, Dek, makanya panas,"


"Bang, tidurkan si Ucok sama si Butet dulu napa, Bang, ceritain dongeng dulu," kataku lagi sambil bergaya centil.


Keinginan kami untuk memberikan adek untuk si Butet belum terkabul juga, Bang Parlin sepertinya ingin sekali punya anak banyak. Aku juga sudah rindu momong bayi. Akan tetapi belum jadi juga, mungkin pengaruh umur yang kini sudah empat puluh tahun. Kadang iri juga melihat teman sebaya, umur 40 anaknya sudah kuliah, aku, umur 40 anaknya masih kelas dua SD.


Akhirnya Bang Parlin mengajak Ucok dan Butet masuk kamar, mulai bercerita dongeng, kali ini Bang Parlin bercerita dongeng khas anak-anak. Judulnya "Asal mula kambing bertanduk".


"Dahulu kala, di negeri antah berantah, tinggallah Kambing dan Ayam, waktu itu Ayam adalah hewan yang perkasa, punya tanduk dan taji yang runcing, sedangkan kambing hewan yang lemah, tak punya senjata, selalu jadi incaran Harimau. Suatu hari tersiar kabar berita bahwasanya harimau akan datang mencari mangsa, kambing sangat ketakutan, sehingga dia menemui Ayam yang gagah perkasa. " Ayam yang gagah perkasa, tolong aku, pinjam dulu tandukmu, biar bisa aku melawan harimau," begitu Bang Parlin bercerita.


Kami memang keluarga kuno, jika orang tua lain menidurkan anak dengan gadget, kami masih dengan cara lama, kalau gak nyanyi ya, mendongeng.


Tiba-tiba aku teringat baju lingerie yang kubeli dua tahun lalu, semenjak dibeli belum pernah dipakai. Aku jadi berpikir untuk memakainya, seperti kata Bang Parlin mau liburan panas-panas, mana tahu Bang Parlin suka. Kupakai baju tersebut, berdiri mematung di depan cermin. Astaga! ternyata aku sudah makin gendut.


Bang Parlin datang, dia justru tertawa ngakak.


"Hahaha, apa-apaan ini, Dek?" katanya seraya tertawa.


Ah, niat hati ingin menyenangkan suami malahan ditertawai, sebel.


"Kalau gak suka tinggal bilang, Bang, gak usah ketawa juga," kataku sebel.


"Kau lucu, Dek, kapan kau beli itu?"


Apakah aku terlihat lucu? entahlah.


"Abang aja yang kuno, jadul, gak up date, katanya mau liburan panas-panas,"

__ADS_1


"Lo, kok jadi Abang yang kuno, Dek?"


"Iyalah, baju gini aja gak tahu, Abang pikir aku senang makai baju ini, tidak Bang, aku justru tersiksa, tapi semua kulakukan demi menyenangkan Abang, demi liburan panas-panas, apa yang kudapat? malah ditertawai." kataku kesal.


"Dih, Nunung merajuk,"


"Cukup, Bang, jangan pernah panggil aku Nunung, aku Nia, Nia," aku jadi emosi.


"Iya, Dek, iya,"


"Sekarang Abang tidur di luar, puasa satu abat," kataku seraya melemparkan bantal ke luar kamar.


"Oalahh, nasib," kata Bang Parlin seraya memungut bantal.


"Kau sudah seksi dari sononya, Dek, gak perlu baju itu juga bikin Abang nagih terus, seksi itu ukurannya bukan di baju, Dek, tapi keseluruhan," kata Bang Parlin lagi.


"Gak, lagi gak butuh rayuan," kataku sambil membalut badan dengan selimut.


Bang Parlin keluar dari kamar, lah, padahal aku mau terus dia rayu, ini malah dia pergi, lalu tiduran di depan TV. Untuk pertama kali setelah sekian lama kami tidur terpisah.


Besok paginya, Bang Parlindungan menjemput raport si Ucok, sedangkan aku ke sekolah TK si Butet, juga jemput raport. Ketika aku pulang, Bang Parlindungan dan Ucok belum ada di rumah. Coba kutelepon.


"Assalamu'alaikum," sapa Bang Parlin.


"Bisa bicara dengan si Ucok," kataku kemudian. Aku bilang gitu karena kami masih saling diam.


"Oh, ini siapa?" Bang Parlin gitu orangnya, suka menyambung pura-pura.


"Ini ibunya, orang sudah pulang semua, dia belum pulang," kataku kemudian.


"Oh, ayahnya lagi servis mobil, karena mau liburan keliling Aceh," kata Bang Parlin.


"Yang mau liburan si Ucok sama ayahnya, mamaknya gak ikut karena lagi merajuk,"


"Awas kau ya, Bang, kucubit nanti,"


Bang Parlin tertawa seraya menutup telepon.


Begitulah, ketika mereka pulang, kami sudah baikan lagi. Langsung merencanakan liburan keliling provinsi Aceh. Bang Parlin ternyata sudah mempersiapkan semua, mulai dari servis mobil sampai ***** bengeknya.


"Kita liburan tebal-tebal, Dek, sampai Sabang," kata suami.


"Kok tebal-tebal, Bang? "


"Kan adek yang bilang, liburan dekat itu liburan tipis-tipis, berarti kalau jauh kan, tebal." kata Bang Parlin.


"Sampai Sabang, Bang?"


"Iya, Mak, sekalian Merauke," si Ucok yang menjawab. Kami tertawa bersama, si Ucok ini memang suka menyimak pembicaraan orang tuanya, baru sesekali dia akan ikut-ikutan.


Keesokan harinya, kami sudah berangkat, tepat jam tujuh pagi. Bang Parlin nyupir sendiri, sebenarnya aku juga sudah pandai bawa mobil, SIM pun sudah punya, akan tetapi Bang Parlin tak memperbolehkan aku yang jadi supir.


Dari Medan ke Binjai, lanjut Stabat sampai ke Perbatasan Sumut-Aceh. Kota yang pertama kami singgahi adalah kota Langsa, kami singgah untuk istirahat dan makan siang.


"Bang, di sini semua perempuan namanya "Cut"" kataku ketika kami hendak singgah di rumah makan.


"Ah, mana mungkin, Dek?"

__ADS_1


"Gak percaya aja, Abang, coba Abang panggil "Cut" gitu, pasti semua perempuan menoleh," kataku lagi.


Bang Parlin benar-benar mencobanya, dia bicara dengan seorang perempuan yang kebetulan lewat.


"Maaf, Cut, numpang tanya, ya, Cut, makanan khas daerah ini apa saja?" kata Bang Parlin.


"Ada, mie wak, ada sop sekengkel, ayam tangkap, ada sate matang," jawab perempuan tersebut dengan logat Aceh yang kental.


"Terima kasih, Cut," kata Bang Parlin.


"Benarkan, Bang, di sini Cut semua nama perempuan, asal ada yang namanya Cut, pasti orang Aceh itu," kataku lagi.


"Iya, ya, Dek, Cut Keke, Cut Yanti, Cut Tari,"


"Iyalah, Bang, gak usah hapal nama artis segala, kita makan apa ini, Bang?"


"Namanya aneh-aneh, Dek, Ayam tangkap pula, emangnya ada ayam yang gak ditangkap dulu, sate matang lagi, emangnya ada sate mentah?"


"Itu, Bang, sepertinya enak?" kataku seraya menunjuk ikan gulai di steleng rumah makan."


Kami pun masuk ke rumah makan tersebut, Bang Parlin memanggil pelayan.


"Cut!"


Gak ada yang datang, Bang Parlin mengeraskan suara.


"Cut!"


"Gimananya kau, Dek, kau bilang Cut semua, ini gak ada yang namanya Cut," kata Bang Parlin.


Lalu datang pelayan menghampiri kami ...


"Kami pesan ikan lele yang itu, Cut," kata Bang Parlin.


"Itu sumbilang, Pak, bukan lele,".


"Oh, terserah apa namanya, itu ayam tangkap macammana, Cut, disembelih itu setelah ditangkap ,kan?" kata Bang Parlin.


"Iyalah, Pak,"


"Udah, itu juga bikin,"


Ternyata ayam tangkap itu ayam goreng dengan bumbu yang khas, enak juga, cabe hijaunya bikin nagih. Ikan sumbilang juga enak, makanan Aceh ini sepertinya cocok di lidah Bang Parlin, dia juga tampak makan dengan lahap.


"Gak adakah teman Abang di kota ini, biar kita istirahat sambil silaturahmi?" tanyaku pada Bang Parlin ketika kami cari hotel untuk istirahat.


"Tunggu abang lihat teman Facebook dulu," kata Bang Parlindungan.


"Gak usah, Bang, kalau teman Facebook," jawabku. Bukan karena apa, aku tahu semua teman Facebook Bang Parlindungan, temannya hanya seratusan orang. Gak ada yang tinggal di Langsa.


"Bagaimana kalau adek buat status kita ada di Langsa, siapa tahu ada yang ajak mampir," kata Bang Parlin.


Ide bagus, coba kuambil foto Bang Parlin lagi nyupir dengan caption:


(Langsa kota yang indah) tak lupa kutandai Bang Parlin.


Tak ada yang komen, sampai lima menit, tak ada yang komentar. Bang Parlin lalu memarkirkan mobil di salah satu hotel, tiba-tiba ada panggilan dari messenger, dari akun bernama Cut Ana, segera kuangkat.

__ADS_1


"Nia, Bang Parlin, kalian di Langsa, mampir ke mari," katanya langsung. Suaranya suara perempuan.


Wah, siapa dia?


__ADS_2