SAYANGKU JADULKU

SAYANGKU JADULKU
Season 2 Part 3


__ADS_3

...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...


Sekali setahun kami selalu jalan-jalan, salah satu kesukaan Bang Parlindungan adalah keliling Indonesia. Kali ini Bang Parlindungan sampai buat status Facebook, dia buat hanya aku dan Bang Parlin yang bisa lihat. Dia memang sudah mulai lancar menggunakan medsos.


(Kepingin HEALING keliling pulau jawa, pengen ke Jogja, pengen ke Borobudur)


Begitu status Bang Parlin, tapi dia sudah bisa privasi Facebook-nya, hanya aku dan Bang Parlin yang melihat.


"Abang makin canggih aja sekarang, ya, apanya itu Healing Bang," Tanyaku di suatu malam. Saat itu kami lagi tiduran di depan TV, si Ucok dan si Butet sudah tidur di kamar.


"Canggih apanya, abang kan udah gak Jadul, abang mau kayak status orang2, Healing pun entah apa Dek" sambil terkekeh...


"bilang aja alan-jalan bang, Healing itu penyembuhan, pemgobatan secara jiwa, orang2 itu kayak abang, mau jalan jalan aja pake bilang Healing, pakai status Facebook lagi," sungut ku...


"Hanya pengen, Dek, gak pun tak apalah, iyapun , Healing healing Taik kucing" bang pain masih terkekeh...


"Abang sudah bergeser dari prinsip hidup Abang sendiri, pengen kan berarti keinginan, bukan kebutuhan," kataku lagi. mencoba mengingatkan sang Jadul yang kini gak jadul lagi...


"Iya, memang, Dek, tapi keinginan yang bisa jadi kebutuhan, kita butuh piknik lo, Dek, biar gak panik, biar gak rintik," kata suami lagi.


"Apa rintik, Bang, hujankah?"


"Udahlah, Dek, kita piknik ke bulan saja dulu,"


"Bulan?"


"Iya, Dek, bulan, kita terbang ke bulan,"


"Hahaha,"


Suamiku ini belum juga berubah, bila minta jatah selalu saja ada caranya merayu. Rayuannya memang receh, tapi selalu membuat aku meleleh.


Ketika kami hendak terbang ke bulan, tiba-tiba terdengar suara tangis si Butet, diikuti suara panggilan si Ucok, buyar sudah, untung juga tadi Bang Parlin kunci kamar anak.


Bang Parlin yang urus si Butet, aku urus si Ucok yang minta ke kamar mandi. Akhirnya dua anakku ditidurkan Bang Parlin dengan cerita dongeng. Dia memang suka bercerita dongeng sama si Ucok. Kali ini Bang Parlin cerita Si Sampuraga, legenda dari tanah Mandailing.


"Sampuraga marga apa, Bang?" Tanyaku memotong cerita Bang Parlin.


"Gak bermarga," jawab Bang Parlin.


"Mana mungkin, semua orang Batak ada marganya, mana mungkin si Sampuraga tak punya marga," tanyaku protes.


"Harahap," kata Bang Parlin.


"Ah, gak mungkin, biarpun aku Harahap tabalan, gak rela aku Sampuraga anak durhaka itu marga Harahap," kataku protes lagi.


"Itulah alasannya makanya Sampuraga itu gak bermarga diceritakan nenek moyang kita dahulu, andaikan ada marganya mungkin keturunannya akan malu, dicap keturunan Sampuraga, semacam kode etik cerita," jelas Bang Parlin.


Luar biasa, orang jaman dahulu sudah tahu kode etik cerita, tanpa menyabut marga tokoh ceritanya. Karena tokohnya anak durhaka.


"Mamak ini gangguin aja," si Ucok protes karena cerita Bang Parlin terhenti.

__ADS_1


Lah, anakku ini sepertinya mirip ibunya, suka protes. "Udah, lanjutkan," kataku akhirnya.


Ada setengah jam Bang Parlin bercerita legenda Si Sampuraga, aku justru ikutan tertidur. Terbangun karena dibangunkan Bang Parlin.


"Dek, Ucok sama Butet dah tidur itu," kata Bang Parlin. Kulirik jam sudah baru menunjukkan angka sepuluh. Kami pun melanjutkan terbang yang tertunda. Kepakkan kembali sayap, terbang menuju bulan.


Akan tetapi lagi-lagi ada gangguan, kali ini suara telepon yang terus berbunyi. Kami hentikan aktivitas karena yang bunyi telepon jadul suami. HP Nokia 1100 itu jarang berbunyi, jika ada panggilan berarti masalah penting.


"Halo, assalamu'alaikum," salam dan sapaku seraya menhidupkan speaker.


"Waalaikumsalam, maaf mengganngu, kenalkan, saya Purwati dari Malang," katanya dari seberang.


Apa pula dari Malang telepon, siapa pula Purwati ini?


"Iya, ini keluarga Parlin Nia, ada yang bisa kami bantu," kataku mencoba ramah.


"Maaf sekali lagi, bila saya mengganggu, tapi saya sangat mengagumi Bang Parlin," katanya lagi.


"Wah, apaan? mengagumi suami orang,"


'Maaf, jangan salah sangka dulu,"


"Jelass saya salah sangka, ada perempuan menelepon jam sepuluh malam, bilang kagum pada suamiku," kataku kemudian.


"Maaf, aku menelepon jam segini karena baru jam segini aku ada waktu," katanya lagi.


"Bang, ada penggemarmu ini," kataku pada suami seraya menyerahkan HP tersebut.


Ini orang selalu minta maaf, sebel juga, dia bertele-tele, orang sudah di ubun-ubun.


"Iya, Bu, ada keperluan apa ya, Bu?"


"Begini Bang Parlin, pertama aku minta maaf telah lancang menelepon,"


"Bilang aja apa maumu, dari tadi maaf, maaf entah apa," kataku kesal.


"Maaf, Bu, Pak,"


"Haa, maaf lagi, oke, kamu dimaafkan, katakan apa maumu,"


"Begini, Bu, Pak, aku dapat bantuan modal cuma-cuma dua tahun yang lewat, sekarang usaha kami sudah maju, jadi aku penasaran, karena kata orang yang bantu aku gak usah dibayar, bayarnya ke orang lain, aku tanya kenapa, dia bilang, karena dia juga dapatnya begitu, penasaran, kutelusuri siapa yang memulai ini, saya sangat kagum, takjub dengan metode kebaikan ini, setelah saya telusuri sampai ke atas, ternyata Bang Parlin yang memulai, jadi aku ingin berterima kasih, kalau kalian berkenan, aku undang kalian datang ke malang, aku ingin tunjukkan pada anak-anakku contoh orang yang luar biasa," katanya panjang lebar.


"Undang kami ke Malang?"


"Iya, Pak, Bu, jika kalian bersedia, kami akan kirim tiket pesawat," katanya lagi.


"Baik, Bu, kami bersedia, tapi gak usah kirim tiket, kami pesan sendiri saja, kebetulan kami memang mau jalan-jalan," kata Bang Parlin.


Setelah cerita sekian lamanya, telepon pun ditutup.


"Rezeki Papa soleh memang begini, pengen jalan-jalan ada yang undang," kata Bang Parlin saraya melanjutkan terbang ke bulan.

__ADS_1


Keesokan harinya Bang Parlin serius pesan tiket Medan Malang, dapat berangkat keesokan harinya. Selama itu pula aku terus berkomunikasi dengan wanita bernama Purwati ini. Ternyata orang yang dibantu Bang Parlin salah satunya orang jawa yang merantau ke Sumatra, saat itu orang tersebut ingin pulang kampung tapi tak punya duit karena sudah lama gak kerja, dia kecelakaan dan tak bisa kerja lagi. Bang Parlin memberikan uang dua puluh lima juta sebagai zakat, pesan Bang Parlin jika sukses bantu orang lain. Dia ternyata sukses sebagai pedagang bakso di kota Surabaya. Dan sudah tiga orang yang dia bantu, Purwati ini salah satunya.


Kami berangkat dari Medan naik pesawat. Penerbangan memakan waktu sekitar lima jam. Tiba di bandara Abdulrahman Saleh, Purwati dan dua anaknya sudah menunggu. Kami langsung dibawa ke warung bakso Purwati ini. Kami dijamu dengan berbagai macam hidangan khas Malang, ada orem-orem, tempe mendol, dan banyak lagi.


Purwati benar-benar menjamu kami, akan tetapi Bang Parlin minta izin untuk menginap di hotel saja, anak Purwati yang sudah dewasa langsung membawa kami ke hotel.


"Jalan-jalan yuk, Bang," kataku pada Bang Parlin. Hari itu sudah sore, akan tetapi entah kenapa aku ingin jalan-jalan melihat kota Malang.


Kami akhirnya keluar, si Ucok dan Butet ikut serta, Ucok berjalan kaki, sedangkan Butet digendong Bang Parlin.


"Mak, beli itu, Mak," kata si Ucok seraya menunjuk penjual cendol. Kami pun mendekat ke penjual tersebut, seorang ibu-ibu dia lagi menyusun gelas.


"Beli cendol, Bu," kata Bang Parlin.


"Sampun telas," jawab ibu tersebut seraya terus menyusun gelas.


"Iyalah, pakai gelaslah," jawab Bang Parlin.


"Wong edan," kata ibu itu lagi.


"Tau aja ibu ini, kami memang orang Medan,"


Ibu tersebut sepertinya bingung, aku juga ikut bingung. Untunglah ada orang yang menjelaskan, ternyata cendolnya sudah habis.


Kami berjalan lagi, kami pilih jalan kaki sambil melihat-lihat. Bang Parlin mengajak masuk ke sebuah warung, katanya dia haus dan dari tadi si Ucok minta minum.


"Bikin dulu Mandi tiga," kata Bang Parlin.


"Mandi?" penjaga warung itu tampak bingung.


"Manis dingin, Bu, teh manis pakai es," jelasku. Di Medan teh manis dingin memang biasa disebut mandi.


"Oh, nganteni," kata ibu tersebut.


"Nganteni katanya orang pesan teh manis dingin," rungut Bang Parlin.


"Cepatlah, Wak, haus kali," kata si Ucok.


"Ojo kesusu, wong sibuk,"


"Ah, gak beres ini, udah dibilang teh manis dingin, mau susu lagi katanya," kata Bang Parlin.


Warung itu sangat ramal memang, heran juga lihatnya, banyak orang antri beli teh manis. Akhirnya pesanan kami datang juga, langsung diminum Bang Parlin dan si Ucok.


"Berapa, Bu? tanya Bang Parlin ketika kami selesai minum.


"Rong puluh ewu," jawab ibu tersebut.


"Gak ada, kami gak makan telur puyuh," kata Bang Parlin seraya melihat telur puyuh rebus di meja.


"Hahaha," si ibu dan beberapa pengunjung lain tertawa.

__ADS_1


* Ah seringnya begini kalau bang Parlin dan Niyet jalan jalan tuh 🤭 *


__ADS_2