
...* Sayangku ( bukan ) Jadulku...
"Ada apa, Pak ?" tanyaku pada seorang polisi yang berdiri mengawasi dari kejauhan.
"Ini Bu, kami mau melakukan penangkapan terduga kasus cabul, tapi warga menghalangi," kata polisi tersebut.
"Menghalangi bagaimana, Pak,"
"Lihat sendiri itu, kami tak bisa masuk, terduga ada di dalam," kata polisi tersebut.
"Boleh lihat surat penangkapan ?" kataku lagi.
"Ibu ini siapa ?" dia malah balik bertanya.
"Saya kepala desa, Anda mau menangkap warga saya tanpa kordinasi dengan saya lebih dulu," kataku tegas.
"Oh, kami memang tak memberitahu kepala desa karena kepala desa juga diduga terlibat." kata polisi tersebut.
"Terlibat apa ?"
"Terlibat kasus cabul, ini kasus serius, Bu,"
"Mana komandan kalian, silakan masuk dulu, saya mau bicara," kataku kemudian.
Dia lalu bicara dengan HT, terus tiga orang polisi datang. Warga masih ramai mengelilingi rumah kami. Ternyata warga pasang badan melindungi guru mengajinya. Aku jadi terharu.
"Bapak-bapak ibu-ibu, bapak polisi ini mau masuk, tolong diberi jalan," kataku dengan suara lantang. Warga pun memberikan jalan, polisi itu masuk rumah.
"Aku gak bersalah Bu, aku gak mau ditangkap," kata salah satu guru mengaji kami. Dia sepertinya ketakutan.
"Untuk masalah salah tidak bersalah, nanti kita bicara di kantor, atau pengadilan yang memutuskan," kata polisi tersebut.
"Tidak bisa, saya tidak ijinkan bapak membawa warga saya tanpa bukti," kataku tegas.
"Sudah ada bukti, Bu, ada pengaduan dari orang tua murid, ini berkasnya," kata polisi tersebut.
Aku lihat berkas tersebut, tampak sekali rekayasa, bukti visum pun tidak ada, berani sekali polisi ini. Kuambil HP, lalu memperdengarkan bukti pembicaraan kami dengan kepala desa.
"Ini jaman digital, suara seperti itu mudah saja dibuat," kata polisi tersebut.
"Sebenarnya bisa saja kami melawan, lihat itu massa sudah ramai, sekali teriak, mereka akan bergerak. Tapi kami tetap patuh pada hukum, ini rekayasa juga," Bang Parlindungan bicara seraya menunjuk berkas.
"Nanti dibuktikan di kantor," kata polisi itu lagi mereka tetap ngotot.
__ADS_1
Kulihat salah satu guru ngaji kami merekam pembicaraan ini, aku jadi dapat ide.
"Begini saja, Pak, ini antara kita saja, berapa bapak dibayar, akan kami gandakan," kataku kemudian.
Polisi itu terdiam, dia tampak berpikir, lalu ...
"Anda mencoba menyuap saya ?" kata polisi tersebut.
"Bukan, saya hanya bertanya, berapa kalian dibayar ? akan saya gandakan," kataku lagi.
"Oke, baik, ternyata Ibu ini pemain juga, kami dibayar masing-masing lima juta, yang bayar Pak Kosim, ... "
"Stop, cukup, sudah jelas kalian dibayar, kami tak akan ijinkan kalian bawa mereka, bila perlu terjadi pertumpahan darah." kataku balik mengancam.
"Waw! hebat, Anda menjebak saya," kata polisi tersebut.
"Maaf, jika Anda tetap bersikeras, video pembicaraan ini akan tersebar, saya yakin masih banyak polisi yang jujur," Bang Parlin ikut bicara.
"Anda mau anggar beking ?"
"Beking saya, Tuhan, tapi teman saya AKP Raja Siregar, dia polisi yang jujur," kata Bang Parlin.
Polisi itu akhirnya angkat tangan tanda menyerah, mereka malah minta supaya kasus ini tak diperpanjang. Mereka juga minta video dihapus, tapi Bang Parlin tidak mau. Hebat juga Raja Siregar ini, mendengar namanya saja polisi ini sudah keder.
Akhirnya polisi itu pulang, tak ada yang bisa mereka bawa. Kami justru makin kuat, ada rekaman video pengakuan polisi kalau mereka dibayar. Ini polisi bodoh atau apa, mudah sekali dipancing.
"Berat, Dek, lawan kita berat, cukup kita bertahan saja," kata Bang Parlin.
Aku sempat melihat nama orang tua yang mengadu tersebut, siang itu aku mendatangi rumahnya, ternyata beliau seorang janda, kerjanya mengutip brondolan sawit. Ketika aku datang, beliau tampak ketakutan sekali. Belum sempat aku bicara.
"Ma'afkan aku, Bu, aku dipaksa kepala desa," katanya seraya bersujud.
"Jangan bersujud, Bu," kataku sambil mengangkat bahunya.
"Aku ditawarkan kepala desa, jika aku bersedia mengaku, aku boleh mengutip brondolan di kebunnya selama yang kumau, utangku padanya juga lunas, maafkan aku, Bu," kata Ibu itu seraya menangis.
"Emang berapa utang Ibu ?"
"Banyak, Bu, utang almarhum suamiku dulu jadi utangku," kata Ibu itu.
"Pikirkan juga anak Ibu, bagaimana perasaannya dibilang dicabuli guru ngaji, bagaimana nanti jika dia dewasa ?"
"Iya, Bu, maaf, aku benar-benar salah, sekarang saja anakku sudah tak mau sekolah, katanya malu sama temannya," kata Ibu itu.
__ADS_1
Ketika aku pulang dari rumah Ibu itu, aku jadi kepikiran terus, ternyata banyak warga yang tidak sejahtera di desa ini, banyak yang terjerat utang riba. Aku akan mengusulkan dana desa tahun depan untuk modal usaha bagi orang seperti Ibu ini.
Ketika kuceritakan pada Bang Parlin, Bang Parlin tampak sedih sekali.
"Itulah, Dek, seandainya kita masih kaya, orang seperti itulah yang dapat zakat kita, sekarang, jangankan bayar zakat, gaji pegawai saja sudah syukur, Abang jadi pengen kaya lagi, Dek," kata Bang Parlin.
Kepala desa lama sepertinya belum menyerah, kali ini dia lakukan cara kasar. Pagii itu sekolah mengaji kami berantakan, kursi dan papan tulis ikut hilang. Luar biasa, aku langsung menemui kepala desa, aku yakin dialah pelakunya, atau orang suruhannya. Dipikir secara logika, mana mau pencuri kursi bekas, dijual pun gak akan laku. Bang Parlin juga sepertinya marah, tapi seperti biasa dia tetap kalem.
"Anda mau main kasar ?" kataku ketika sampai di rumah besarnya.
"Kasar apaan ?" dia masih coba betkilah.
"Baik, Anda mau cara gitu ya, ingat saja," kataku seraya pulang. Aku sudah habis kesabaran.
Persetan dengan jabatan ini, persetan dengan membalas kejahatan dengan kebaikan seperti ajaran Bang Parlin.
"Bang !" teriakku ketika sampai di rumah.
"Apa, Dek, kok teriak-teriak ?"
"Aku ada permintaan sama abang,"
"Boleh, Dek, asal jangan minta abang kawin lagi," Bang Parlin masih sempat bercanda.
"Ish, Abang, ini serius, Bang, aku minta Abang pergunakan Ilmu Abang sekali ini, buat orang yang mencuri kursi dan meja itu sakit perut," kataku kemudian.
"Waduhh, itu hanya kursi, Dek, mungkin orang butuh bahan bakar," Bang Parlin masih terus bercanda.
"Abang! aku serius lo, Bang, serius !" suaraku mengeras.
"Ok, Dek, gak usah ampai bentak segala, nanti malam ya," kata Bang Parlin.
Subuh itu, suasana desa masih gelap, akan tetapi terdengar suara ribut-ribut di luar, aku yang baru selesai salat subuh pun keluar rumah. Ternyata beberapa orang sedang membawa bangku dan menumpuknya di depan rumah.
"Ada apa ini ?" tanyaku.
"Kami hanya disuruh Pak Kosim," jawab mereka singkat.
Setelah hari terang, enam orang ibu-ibu datang ke rumah, mereka nangis-nangis minta maaf.
"Tolong suami kami, Bu, Pak Parlin, tolong," kata mereka.
Aku baru dapat penjelasan, ternyata lima belas orang suruhan kepala desa lama sakit perut, termasuk mantan kepala desa. Ternyata mereka bawa masing-masing satu kursi. Wah, ternyata sebanyak ini, kupikir tadi hanya kepala desa yang kena.
__ADS_1
_Mohon Sabarrr dulu yaaa Kelanjutan nya ..._
Bang Parlin sama Keluarga lagi Mudik ke Kampung ... 😷