
...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...
Sore itu kami lagi duduk-duduk di depan rumah. Ada pondok kecil dibangun Bang Parlin di halaman rumah, katanya untuk mengobati rindu ke kampung halaman.
"Bang, apa abang gak pengen bangun pabrik minyak goreng, kan bahan bakunya sudah ada?" tanyaku pada Bang Parlin.
"Gak, Dek, gak sampe ilmu Abang ke situ, biarlah itu mereka ahlinya yang kerjakan," jawab Bang Parlin seraya memberi makan ayam peliharaannya.
"Maksudnya biar bisa ditekan harga minyak goreng, Bang,"
"Ah, itu bukan urusan kita, Dek, biarlah itu urusan mereka pemangku kebijakan," jawab Bang Parlin. Bang Parlin kini memang tak lagi jadul, bicaranya juga sudah tak lagi kampungan, dia orangnya cepat belajar.
"Pak, Bu, permisi," Bu Ratna -ART kami datang.
"Iya, Bu, mau pulang, ya, Bu?" kataku kemudian.
"Iya, Bu, gini, Bu, kalau boleh, aku mau minjam dulu," kata Bu Ratna.
Bu Ratna baru tiga hari yang lalu minjam uang lima ratus ribu, kini dia mau pinjam lagi. Ada apa dengan Bu Ratna ini, padahal gajian juga baru seminggu yang lewat. Akan tetapi aku tak bertanya juga, kuambil uang dan kuberikan pada Bu Ratna.
Beliau menerima dan berterima kasih terus pulang, Bu Ratna memang pulang setiap sore, datangnya pagi.
"Ada yang aneh, gak biasanya Ibu itu minjam," kata Bang Parlin seakan tahu apa yang kupikirkan.
"Iya, Bang, aku juga mikirnya begitu,"
"Kita silaturahmi, yuk, ke rumahnya nanti malam," Ajak Bang Parlin.
"Iya, Bang,"
Malam harinya kami berangkat ke rumah Bu Ratna. Rumah Ibu itu ada di pinggiran kota Medan. Bang Parlin tahu rumahnya. Kami lebih dulu beli oleh-oleh martabak dan putu bambu.
Bu Ratna tampak terkejut dengan kedatangan kami. Ketika kami datang beliau sedang duduk di depan rumah.
"Pak Parlin, Bu Nia, tumben, ada apa ini?" kata Bu Ratna seraya menyalami kami, dia langsung ambil si Butet dari gendonganku.
"Masuk, Pak, Bu," kata Bu Ratna lagi.
"Mana anak-anak, Bu?" tanya Bang Parlin.
"Pergi semua, yang sulung, pergi main, yang bungsu ngaji," kata Bu Ratna, dia kemudian permisi ke dapur mau buat minum.
Ketika kami bincang-bincang, aku menunggu Bang Parlin bertanya duluan, akan tetapi dia tak bertanya juga, memang lancang rasanya kalau sampai bertanya kenapa minjam, akan tetapi aku tetap khawatir dengan Bu Ratna.
Datang seorang pria, tanpa salam dia masuk, pria buka baju, di tubuhnya penuh tato, dia tak bicara, langsung ke dapur.
"Itu suamiku, Pak," kata Bu Ratna tanpa kami tanya.
"Oh," aku makin heran, kapan dia menikah, setahuku Bu Ratna adalah janda.
"Baru dua bulan ini keluar dari penjara," kata Bu Ratna seraya berbisik.
"Ooo,"; aku mulai paham, mungkin selama ini suaminya di penjara, jadi dia ngaku janda, atau memang janda.
"Ratnaaa!" terdengar suara pria itu memanggil.
Dengan tergopoh-gopoh Bu Ratna pergi ke dapur. Rasa kepoku meronta-ronta, aku pun mendekat ke dapur dan menguping.
"Mana uangnya?" kata Suami Bu Ratna.
__ADS_1
"Ini," jawab Bu Ratna.
"Hanya segini, sudah kubilang aku perlunya lima ratus," kata pria itu lagi.
"Tapi untuk makan besok lagi, Bang," kata Bu Ratna.
Lalu terdengar suara piring pecah, aku segera berlari kembali duduk di dekat Bang Parlin. Jahatnya suami Bu Ratna, tak ada sopannya sama tamu.
Pria itu pergi lagi, wajahnya sangar, tak juga bicara pada kami.
"Maaf, Pak, Bu," kata Bu Ratna.
"Iya, gak apa-apa," jawabku.
"Jadi Ibu minjem uang untuk suami ibu?" kata Bang Parlin.
"Iya, Pak, kalau tak dikasih dia akan memukuliku," kata Bu Ratna, air matanya mulai keluar.
"Aku mulai hidup tenang setelah dia di penjara, kukira setelah lima tahun di penjara, dia akan berubah, makanya aku mau rujuk kembali, ternyata makin parah saja kelakuannya, aku sudah tak tahu bagaimana, tiap malam aku berdoa supaya suamiku dapat hidayah, tapi tidak berubah juga," kata Bu Ratna.
"Kenapa tak tinggalkan saja, Bu?" kataku kemudian. Geram juga aku mendengar cerita Bu Ratna ini.
"Ini rumah dia, Bu, rumah orang tuanya, kalau kami pergi, mau pergi ke mana? Aku tak punya siapa-siapa di sini, orang tuaku jauh di lombok sana," kata Bu Ratna.
"Jika Ibu sudah tak tahan, ada rumah kontrakan kami, Ibu tinggal di sana bersama anak-anak, lelaki seperti itu susah berubahnya, bukan tidak bisa berubah, tapi sulit, Bu," kata Bang Parlin.
"Iya, Pak, aku pikir-pikir dulu," kata Bu Ratna.
Kami pamit, setelah lama berbincang-bincang. Dalam perjalanan aku masih geram melihat suami Bu Ratna itu, mintak duit sama istri yang kerja jadi ART, tak ada sopan santun sama tamu.
"Bang, kita polisikan saja suami Bu Ratna itu," kataku pada suami.
Pagi harinya, Bu Ratna datang kerja, aku terkejut melihat mata Bu Ratna lebam, ketika kutanya kenapa, beliau bilang dipukul suaminya. Aku makin geram, Bang Parlin juga terlihat emosi dan menyarankan Bu Ratna supaya tak usah pulang dulu, dua anaknya ditelepon supaya datang ke rumah.
Begitu malam tiba, Bu Ratna tak pulang, dia juga ternyata takut pulang. Baru jam sepuluh malam, terdengar suara motor berknalpot bising memasuki halaman.
"Itu suamiku, Bu, aku takut," kata Bu Ratna.
Aku dan Bang Parlin yang keluar.
"Mana si Ratna?" tanya pria itu tanpa basa-basi.
"Di dalam, dia tak pulang hari ini," kata Bang Parlin.
"Apa, majikan macam apa kalian, pembantu pun ditahan," katanya dengan wajah garang.
"Kau suami macam apa yang beraninya pukuli istri," kata Bang Parlin.
"Oh, sudah berani ngadu ya, Ratttnaa!" panggilnya kemudian.
"Dia tidak pulang malam ini," kata Bang Parlin lagi.
Suami Ratna lalu duduk di kursi yang ada di depan rumah, "akan kutunggu sampai dia boleh pulang," katanya seraya menyalakan rokok.
Bang Parlin juga duduk, aku ikutan duduk, sementara Bu Ratna tak keluar dari rumah, dia bersama kedua anakku.
"Aku sudah banyak makan garam ya, lihat ini, ini kudapat di penjara cipinang, ini di tanjung gusta," kata pria itu seraya menunjukkan tatonya.
"Oh, begitu," kata Bang Parlin.
__ADS_1
"Ya, begitulah, kalau kalian ke pasar tiga, bilang saja namaku, semua orang kenal," katanya lagi.
"Kau hebat, tapi beraninya mukul perempuan," aku akhirnya tak dapat menahan lagi.
"Lihat ini, ini karena bertempur lawan polisi, ini ha," katanya seraya menunjuk bekas luka di kakinya.
Bang Parlin lalu menunjukkan lengannya, ada bekas luka cukup besar.
"Kau lihat ini, ini karena bertempur melawan makhluk seberat satu ton," kata Bang Parlin.
Aku tahu bekas luka itu karena diseruduk lembu yang mengamuk.
"Wah, hebat juga kau, aku baru pernah lawan orang yang beratnya seratus kilo," kata Suami Ratna.
"Tidak hebat, tak ada yang perlu dibanggakan di situ, jika kita bisa lindungi keluarga, itu baru hebat," kata Bang Parlin.
"Hei, kau sindir aku ya?"
"Bukan menyindir, tapi menunjuk hidungmu langsung, kau gak ada harga dirinya sama sekali, minta duit sama istri, pukuli istri, apa hebatnya, kau bilang bertempur lawan polisi, padahal kau ditembak polisi, puih," kata Bang Parlin.
"Hei, jangan macam-macam samaku, ya," kata pria itu seraya mengepal tinjunya.
Bang Parlin berdiri, dia pukul satu vas bungaku, vas yang terbuat dari semen itu hancur, hebat juga Bang Parlin.
"Lihat itu, bayangkan jika itu kepalamu," kata Bang Parlin.
Suami Ratna mulai melunak suaranya. Dia kemudian kembali duduk, tadi dia sempat berdiri.
"Jadi gini, Bu Ratna akan menuntut cerai, dia sudah bilang, kami akan urus perceraian kalian, jangan coba ganggu Bu Ratna dan anak-anak, atau kau rasakan ini," kata Bang Parlin seraya menunjuk tinjunya.
"Tapi, Bang," suami Bu Ratna mulai melunak.
"Apa lagi, kau gak bisa makan tanpa perempuan kan? Alangkah hinanya dirimu, jadi begini saja, aku kasih kau uang lima juta, pergi ke mana kau mau, lima tahun kau di penjara istri dan anakmu baik-baik saja," kata Bang Parlin.
"Betul, Bang?"
Bang Parlin lalu menyuruh aku ambil uang lima juta, lalu memberikan pada suami Bu Ratna. Aku heran juga, biasanya Bang Parlin tak suka memberi kepada orang yang begini.
"Ini uang lima juta, lihat ini," kata Bang Parlin lagi seraya menunjukkan foto di HP-nya, aku ikut melihat, ternyata yang ditunjukkan Bang Parlin foto Kapolsek Ali Akhir Pulungan.
Aku ingat foto itu, aku yang ambil, saat itu kapolsek tersebut lagi salim ke Bang Parlin.
"Lihat ini, polisi berpangkat melati satu saja salim dan mencium tanganku, kau jangan coba macam-macam," kata Bang Parlin lagi.
"Terima kasih, Bang," kata Pria itu seraya pergi.
Setelah dia pergi baru Bang Parlin minta es, katanya tangannya sakit karena memukul vas bunga.
"Jadi dari tadi Abang tahan sakitnya?" tanyaku.
"Iya, Dek, demi akting bagus," kata Bang Parlin seraya tertawa.
"Terus bagaimana bisa vas itu hancur?" tanyaku lagi.
"Tadi sudah jatuh dan pecah dibikin si Ucok itu, kata si Ucok dilem dulu biar mama gak marah," kata Bang Parlin.
"Ohhh," tak kusangka Bang Parlin pintar bersandiwara, dia berani pukul vas bunga itu karena sudah retak dan direkatkan dengan lem, pantas saja mudah pecah sekali pukul.
Sejak saat itu, suami Bu Ratna benar-benar menghilang, Bu Ratna bisa tenang, kini dia tinggal di salah satu rumah kontrakan kami.
__ADS_1
* Ahhh benar lah meleleh niyet dibuatnya! sudahlah tidak jadul, sekarangpun jago akting! alahmaaak sampe lupa niyet marah soal vas 🤠*