
...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...
Ada apa dengan nama Naduma Sari? kenapa banyak orang bernama sama, mulai dari saudara sepupu Ayah mertua, anak kami, bahkan Rara pun ditabalkan nama itu, kini kami bertemu anak perempuan bernama Naduma Sari.
"Bisa ceritakan bagaimana ibu bisa menikah dengan ayah kami, tanpa kami tahu, sejak kapan kalian menikah, sama berapa, tinggal di mana?" tanya Bang Parlin.
"Begini Parlin, Parlindungan Siregar, sebenarnya aku tak butuh pengakuan, aku bahagia bersama ayah kalian, itu saja sudah cukup bagiku," kata Ibu tersebut.
"Begini, Bu, bila benar kami akan berikan hak Ibu, yaitu seperdelapan dari harta peninggalan ayah kami," kata Bang Parlin lagi.
"Sudah kubilang, Pain, aku tak butuh pengakuan kalian, toh selama ini pun aku dirahasiakan, tapi bila kalian ingin tahu juga, begini ceritanya," kata ibu tersebut, dia menghentikan ceritanya sejenak, memperbaiki letak duduknya.
Kami para anak dan menantu yang penasaran duduk melingkari ibu tersebut.
"Aku tak akan bicara bohong, ini saksinya, kuburan Ayah kalian pun di sini,"
"Iya, Bu, kami percaya," kataku kemudian.
"Sebenarnya ini bukan juga rahasia, hanya dirahasiakan dari kalian, ini permintaan Ayah kalian, beberapa orang di desa tahu. Kami tinggal di dekat kebun si Parlin, sekali seminggu Ayah kalian datang. Di desa itu semua orang tahu. Kami menikah ketika si Parlin ini cari pekerja di kebun kalian. Aku yang seorang janda datang melamar pekerjaan, Ayah kalian justru balik melamarku untuk jadi istrinya. Padahal usia kami jauh berbeda, aku baru tiga puluh tiga, Ayah kalian sudah lima puluhan. Kami menikah di desa kami, saat itu si Parlin sedang mengurus anak angkatnya yang mau masuk pesantren. Beberapa karyawan lama juga tahu, entah kenapa kalian tidak tahu. Tak ada yang berani memberitahu kalian. Saat dia sakit, aku juga datang berkunjung, aku yang sarankan supaya Ayah kalian tinggal di desa sewaktu sakit, aku ingin mengurus Ayah kalian di waktu sakitnya. Aku juga mendengar kalian yang berebut mengurus Ayah kalian, maafkan aku, akulah yang menang. Selama di desa, aku yang antar makan ayah kalian tiap hari, aku yang masak untuk ayah kalian, kalan tahu kan ayah kalian itu sangat pilih-pilih kalau soal makanan." Ibu itu bercerita, kami mendengar dengan seksama.
"Tapi kan kami pakai katering?" tanyaku kemudian.
Aku ingat betul, sewaktu Ayah Mertua sakit, ada katering yang selalu antar makanan untuk ayah.
"Ya, begini nasib istri rahasia, aku yang masak, uang belanja dikasih samaku, dihitung katering, padahal aku masak untuk suami sendiri," kata Ibu tersebut, dia mulai menangis.
"Baiklah, kami percaya, akan kami berikan hak Ibu, dan adik kami ini akan kami tanggung biaya sekolahnya," kata Bang Parlin.
"Sebenarnya sudah, waktu ayah kalian sakit sudah dia berikan hakku, tapi jika kalian mau kasih ya, aku terima, dan terima kasih mau membiayai sekolah adik kalian ini, pesan ayah kalian, setamat SD, dia masuk pesantren," kata Ibu itu lagi.
__ADS_1
Ternyata Ayah mertua tak lugu amat, dia nikah lagi tanpa sepengetahuan anaknya. Wajar saja memang, beliau masih sehat waktu itu.
Akhirnya terungkap sudah, betul kata Ibu tersebut, beberapa orang saudara Ayah di desa tahu pernikahan itu. Kami pun menghitung harta peninggalan Ayah mertua dan seper delapannya lalu diberikan kepada ibu tersebut.
"Si Parlin ini memang selalu punya feeling bagus, dia ajak ziarah ternyata karena ada rahasia yang mau terungkap," kata Bang Nyatan.
"Iya, akhirnya kami rasakan juga punya adik ipar," kata Kak Sofie.
Liburan kami di desa justru lebih banyak dihabiskan di sawah dan sungai. Makan di sawah itu ternyata enak sekali. Kami beramai-ramai ke sawah untuk panen padi tetangga. Ternyata di desa ini ada tradisi jika panen akan makan beramai-ramai. Kami semua ikut, sampai tak muat di pondok sawah. Lauknya ikan gabus yang dicari sendiri oleh Bang Parlin dan Dame.
"Selanjutnya kita ke mana?" tanya Bang Parta.
"Pulanglah, Bang, liburan sudah habis," jawab Bang Parlin.
Sebelum kami masing-masing pulang, kami menggelar pesta terakhir, yaitu pesta durian. Aku kurang suka dengan buah durian, akan tetapi karena semua orang makan, akhirnya kumakan juga.
Kami akhirnya berpisah, Bang Parta pergi bersama Dame ke Pekanbaru untuk berangkat naik pesawat ke Kalimantan. Bang Nyatan pulang ke Jambi. Kami kembali ke Medan. Naik bus jadi pilihan kami.
Ada kejadian lucu ketika di Bus, entah kenapa aku mabuk perjalanan kali ini, padahal sudah jauh berjalan. Sebelum pulang kami memang makan pakai rendang ayam kampung, sebelumnya sudah pesta durian. Mungkin akumulasi dari makanan itu semua tubuhku jadi sakit. Berkali-kali mau buang angin, kucoba tahan karena malu.
Ketika sudah tak tahan lagi, kukeluarkan juga, bersamaan dengan suara keras klakson bus. Lega rasanya, tak ada yang tahu aku buang angin. Akan tetapi baunya teramat bau. Bau durian busuk.
Seisi bus jadi heboh, sedangkan Bang Parlin dan si Ucok terlelap tidur. Para penumpang heboh, mereka saling tuduh, aku malu untuk mengakui.
Bus terus berjalan, perutku justru makin sakit, Buang angin terus, untung juga tak bersuara. Jadi aku aman. Akan tetapi baunya makin menusuk hidung. Bus yang ber-AC jadi pengap, tak ada angin keluar, jendela juga tak bisa dibuka. Akhirnya baunya membuat orang satu bus protes ke supir.
Bus berhenti, si sopir buat himbauan.
"Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, kami minta kepada penumpang yang bawa joruk atau bahan sambal tempoyak supaya membuangnya, demi kenyamanan kita bersama." kata si sopir.
__ADS_1
Aku pura-pura tidur, lucu juga rasanya, si sopir mengira ada joruk, padahal aku buang angin. Untuk mengaku tentu saja aku malu.
"Ada apa?" Bang Parlin terbangun.
Supir bus mengulangi pengumumannya, Bang Parlin sok jadi pahlawan, dia ambil tiket bus.
"Lihat ini peraturan naik bus, di sini tertulis dilarang bawa buah durian," kata Bang Parlin.
Duh, bagaimana ini, semua mengira itu durian busuk, padahal aku kentut. Tak ada yang mau ngaku, tentu saja tak ada. Akhirnya kernet bus memeriksa bawaan penumpang satu persatu, tak ada yang bawa daging durian tersebut.
Bus akhirnya berjalan, si Ucok sama si Butet tak terganggu juga, mereka masih terlelap tidur. Aku coba juga tidur setelah mengoleskan balsem ke perutku.
Menjelang subuh, perutku rasanya kembung lagi akhirnya aku tak tahan, kubisikkan pada Bang Parlin apa yang terjadi denganku. Dia justru tertawa.
"Dek, kau racuni satu bus," kata Bang Parlin.
Akhirnya Bang Parlin mengaku pada sopir, aku malu sekali, bus pun berhenti di depan sebuah klinik. Kami turun untuk berobat, bus lanjut pergi.
"Kita ditinggal, Bang," protes kita.
"Iya, Dek, Abang yang suruh, dari pada satu bus tidak nyaman, kita yang mengalah, lagi pula kau harus berobat." kata Bang Parlin.
Ternyata kami sudah di Siantar, setelah selesai berobat, Bang Parlin justru ajak kami untuk lanjut liburan di Siantar. Istirahat sampai siang, aku sudah merasa baikan. Bang Parlin mengajak kami Naik becak siantar. Becak bermotor yang motornya motor gede peninggalan jaman Belanda. Keliling kota Siantar dan lanjut ke Kebun binatang Siantar si Ucok senang sekali.
"Gara-gara mamak sakit perut, kita jalan-jalan lagi," kata, si Ucok riang.
"Mamakmu butuh piknik, Cok, biar gak dia racuni satu bus," kata Bang Parlin.
Kubalas dengan cubitan di perut Bang Parlin.
__ADS_1
Sore harinya kami pulang ke Medan.
* Ternyata healing itu lelah ðŸ¤, yuk kita lanjut yah melihat keseruan mereka 😉*