SAYANGKU JADULKU

SAYANGKU JADULKU
Season 2 Bab 21


__ADS_3

...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...


Ucok kini sudah mulai besar, umurnya sudah tujuh tahun. Sudah duduk di bangku kelas dua SD. Sedangkan si Butet sudah sekolah TK. Keseharianku kini mengantar jemput anak sekolah. Sedangkan Bang Parlindungan makin menekuni bisnis jual beli tanah.


Siang itu aku terkejut ketika pulang dari jemput anak, ada tamu banyak sekali, yang membuat aku terkejut adalah ada mobil berplat khas polisi. Ada apa ini ?


Ketika aku masuk, beberapa pria tampak sedang berbicara dengan suami. Aku mendekat, salah seorang tamu berkameja putih menunjukkan berkas padaku, isinya yang membuat aku terkejut, berkas itu surat penangkapan suami, suamiku dituduh terlibat mafia tanah. Duh.


Suamiku orang yang malas berurusan dengan polisi, kini dia pula yang jadi tersangka. Yang paling menyakitkan mata dan hati, suamiku diborgol.


'Tenang saja, Dek, Abang tak bersalah," kata suami.


"Ayah !" dua anakku memeluk ayah mereka. Sedihnya rasanya, Bang Parlindungan diperlakukan bak penjahat saja.


Polisi membawa suamiku, para tetangga sudah ramai berkumpul di depan rumah. Ada yang bisik-bisik, ada yang mencibir. Begitu polisi pergi, langsung kuhubungi abangku, dialah rekan bisnis Bang Parlin jual beli tanah.


"Kenapa Bang Parlin sampai terlibat Mafia tanah ?" tanyaku. Bang Parlin orang yang sangat hati-hati bila berhubungan dengan jual beli, aku heran kenapa bisa kena.


"Kami ada proyek besar, nilainya ratusan milyar, ini perlakuan pesaing," kata abangku.


"Pesaing bagaimana, Bang ?"


"Kami beli tanah setelah kami sepakat, ternyata ada perusahaan pengembang yang tertarik, si Parlin tak mau jual, karena tanah itu strategis."


"Jadi kenapa bisa ditangkap polisi ?"


"Suratnya ternyata tumpang tindih, ada dua kepemilikan, kami dituduh palsukan sertifikat tanah,"


"Aduhh, Bang, bereskan itu,"


"Iya, tenang saja, semua pasti beres,"


Abangku bergerak cepat, dia menyewa pengacara, akan tetapi setelah beberapa kali sidang, kami tetap kalah, sementara orang yang membuat sertifikat itu sudah lari. Banyak yang tersangkut. Akhirnya ditempuh dengan jalan damai, uang kami yang beli tanah itu hangus. Yang beli juga tak bisa mengembalikan, kami juga harus bayar denda, bayar pengacara mahal lagi. Pokoknya kami habis. Sapi dua ratus ekor dijual semua. Tinggal sawit yang lagi mengalami istirahat panen, panennya jauh berkurang karena sawit sudah tua.


"Ini ujian bagi kita, Dek, diuji dengan kekayaan kita lulus, kini diuji dengan kemiskinan,"kata Bang Parlin ketika mobil kami terpaksa dijual untuk menutupi biaya operasional kebun.


"Banyak yang Abang bantu orang, minta bantuan napa, Bang ?" kataku lagi.


"Udah, Dek, kita jalani saja," kata Bang Parlin.

__ADS_1


Aku tak bisa diam, kutemui adikku yang paling bungsu, dia pernah kami bantu modal buka bengkel. Akan tetapi dia tak bisa bantu kami, katanya uangnya habis bangun rumah.


"Kami beli saja rumah ini yang enam pintu," usul adekku.


Ya, Allah, dia yang dulu kami bantu cuma-cuma tak mau membantu, dia justru mau beli rumah Bang Parlin yang selama ini dia tempati gratis. Memang urusan uang, tak ada saudara.


Ketika kubilang sama Bang Parlin, dia justru setuju dijual saja.


"Kita butuh banyak biaya, Dek, sawit itu harus diremajakan, butuh empat tahun baru panen lagi." begitulah alasan Bang Parlin.


Akhirnya kami jual rumah itu pada adikku, luar biasa juga, dia bisa mengumpulkan uang sampai segitu banyak selamat enam tahun ini. Ketika kami terpuruk, dia justru naik daun. Bengkelnya maju, kini dia mempekerjakan empat karyawan.


Aku usulkan pada Bang Parlin minta bantuan saudaranya, dia tak mau, padahal semua saudaranya pernah dia bantu. Dasar memang Bang Parlin terlalu baik.


Kebun sawit kami ditumbang, biaya menumbang dan membersihkan lahan saja sudah banyak. Gaji karyawan tidak boleh menunggak, beli bibit dan pupuk lagi. Kami benar-benar kesulitan saat ini.


"Dek, kita jual emasmu dulu, ya," kata Bang Parlin di suatu pagi. Dia baru Terima telepon dari desa, sawit yang baru ditanam butuh pupuk.


Berat rasanya memberikan emasku itu, akan tetapi Bang Parlin janji akan dia ganti dengan yang lebih banyak.


"Sudah berapa orang yang Abang bantu, gak bisakah mintak bantuan mereka dulu, Bang Nyatan, Abang yang bantu dulu, Bang Parta juga, masa sih Abang gak bisa minta bantuan mereka ?" kataku dengan suara agak tinggi.


"Kalau kita masih mampu, tak usah dulu, Dek," kata Bang Parlin. Memang kadang aneh Bang Parlin ini, dia kesusahan begini, bahkan memberitahu saudaranya saja tidak.


Sapi tak bisa dipelihara lagi, karena sawit masih kecil, menunggu sawit tumbuh besarnya baru mulai pelihara sapi. Jadi kali ini benar-benar tidak ada pemasukan. Bang Parlin tak mau lagi bisnis jual beli tanah, katanya trauma.


Aku berinisistif menggadaikan emasku, untuk menjualnya aku merasa sayang, tak kuberitahu Bang Parlin, kalau kuberitahu dia akan marah. Dia tak mau terlibat riba.


Diam-diam kubawa semua emasku ke pegadaian, kugadaikan semua. Dengan sistem pinjaman. Aku pulang membawa uang yang cukup banyak mungkin cukup untuk beli pupuk dan gaji karyawan. Pada Bang Parlin kubilang emasnya dijual.


Bertepatan dengan libur sekolah, kami pulang kampung, gaji karyawan sudah dua bulan tak dibayar, Bang Parlin mau memberikan langsung seraya memantau kebun yang baru ditanami sawit. Sekalian mau jual truknya satu. Karena biaya banyak masih dibutuhkan.


Ketika kami sampai, sawit kelihatan tumbuh subur, padahal pupuknya kurang.


"Lapor, Bang Parlin, ada yang butuh alat berat ini, lahan sebelah sana batang sawit lama masihh menumpuk," kata salah satu karyawan kami.


"Dana hanya cukup untuk gajian kalian, itu lain kali saja," kata Bang Parlin.


"Kami sudah gajian, Bang,"

__ADS_1


Aku terkejut, Bang Parlin melihatku, aku angkat bahu tanda tak tahu, siapa yang gaji mereka, belum ada kukirim uangnya.


"Siapa yang gaji kalian?" tanya Bang Parlin.


"Ya, Abanglah, seperti biasa lewat Kak Ria," jawab mereka.


Ria, adikku itu, selama ini memangnya gajian lewat dia, tapi bulan lalu dan bulan ini belum ada kukirim. Kutatap Ria yang duduk di sudut rumah, dia tersenyum seraya mengangguk.


"Kau bayar gaji mereka dua bulan ?" tanyaku memastikan, setelah para karyawan pergi.


"Iya, Kak, sepertinya kalian butuh bantuan, ini belum seberapa dibanding kebaikan Bang Parlin pada kami," kata Ria.


Kakaku datang, begitu datang dia menyerahkan uang yang cukup banyak.


"Ini, Parlin, tolong terima, ini belum seberapa dibanding bantuanmu dulu pada kami," kata kakakku.


"Alhamdulillah," Aku sampai menitikkan air mata, terharu, ternyata para saudaraku masih ingat kebaikan Bang Parlin.


Akhirnya kami bisa membersihkan lahan menyewa alat berat membersihkan batang sawit yang tumbang.


Malam itu kami lagi santai di rumah panggung, Bang Parlin lagi main HP, dia memakai HP-ku, karena HP -nya tidak ada paketnya.


"Apa ini, Dek ?" tanya Bang Parlin seraya menunjukkan SMS di HP-ku.


Duh, itu SMS tagihan pinjamanku bulan ini, apa yang harusnya kubilang sama Bang Parlin.


"Dek, gitu amat kau, Dek, baru diuji begini sudah terjebak riba kau, Dek, kan kau tahu sendiri, riba itu seperti apa,"; kata Bang Parlin.


"Aku hanya mau bantu, Bang,"


"Bantu apa, bantu abang terjerumus ke neraka, lebih baik hidup miskin dari pada terjebak riba, berapa utangmu ?" Bang Parlin tampak marah, suaranya bergetar, baru kali ini kulihat Bang Parlin semarah ini.


"Berapa ?" Bang Parlin membentak.


"Seratus jutaan, Bang, seharga emas itu,"


"Abang kecewa, Dek, kecewa sekali, kebun ini akan dijual saja, Abang tak mau terjebak riba, lunasi utangmu semua," kata Bang Parlin.


( Duh ... !!! )

__ADS_1


.


__ADS_2