SAYANGKU JADULKU

SAYANGKU JADULKU
Season 2 Part 34


__ADS_3

...* Sayangku ( bukan ) Jadulku...


Setelah Pak Kepala Desa ditangkap, ramai-ramai warga desa menunjukkan bukti penyelewengan yang dilakukan kepala desa tersebut. Kasusnya jadi naik, bukti sudah banyak, ada banyak mark up biaya pembangunan yang ada di desa. Mulai dari jalan desa sampai pengairan. Ternyata setiap proyek, kepala desa mengambil lima puluh persen untuknya, pantas saja dia kaya raya.


Kepala desa itu akhirnya diberhentikan dari tugasnya. Bapak bupati menunjuk pelaksana tugas kepala desa sampai pemilihan kepala desa selanjutnya. Aku terkejut sekaligus terharu. Bapak bupati menunjukku sebagai pelaksana tugas kepala desa, itu artinya aku akan jadi kepala desa selama dua tahun ke depan, sampai dilakukan lagi pemilihan kepala desa.


"Bagaimana, Bang, aku terima, gak ?" tanyaku pada Bang Parlin, sebenarnya yang menjalankan tugas kepala desa seharusnya sekretaris desa, akan tetapi sekretaris desa pun ikut terlibat, dia sudah melarikan diri karena takut ditangkap. Sudah sempat kosong pemerintahan desa sebelum akhirnya Pak bupati menunjukku sebagai pejabat sementara.


"Bagaimana ya, Abang takut," jawab Bang Parlin.


"Takut apa, Bang ?"


"Jabatan itu amanah, Abang takut adek tak bisa amanah," jawab Bang Parlin.


"Makanya arahkan, Bang, dorong adek dari belakang, bila salah jalan, jewer telinga adek," kataku lagi.


"Abang tetap takut, Dek,"


"Takut apa lagi, Bang,"


"Abang takut jadi abang yang jadi kepala desa," kata Bang Parlin seraya tertawa.


Selama aku jadi Kadus memang Bang Parlin yang lebih sering berinteraksi dengan warga, jika ada masalah, Bang Parlin yang jadi tempat bertanya orang.


"Nggak, Bang, akan ada pelatihan, adek akan belajar," kataku lagi.


"Ok, Dek, ada syaratnya,"


"Apa itu, Bang ?"


"Yang pertama, adek tetap seorang Ibu rumah tangga,"


"Pasti, Bang,"


"Yang kedua, Abang tetap jadi kepala rumah tangga,"


"Ya, jelas, Bang,"


"Hanya itu, Dek."


"Cuma itu ?"


"Iya, Dek."


"Tambahlah syaratnya, Bang, biar adek makin semangat." kataku seraya mengerling nakal.


"Baiklah, satu lagi syaratnya berat, Dek,"

__ADS_1


"Apa itu, seberat apapun akan kupikul," kataku kemudian.


"Adek harus cari madu untuk Abang,"


"Apaaaa, Bang ?"


"Madu, Dek,"


"Ah, gak asyik, jangan bercanda, Bang,"


"Serius, Dek,"


Aku sungguh kesal aku tak suka Bang Parlin bercanda seperti ini, ini dia bilang serius, wah.


"Udah, gak usah jadi kepala desa, aku pulang ke Medan saja," kataku kesal seraya masuk kamar.


"Lo, Dek ?"


"Gak !"


"Padahal cuma madu, lo, madu asli, Abang butuh tenaga baru," kata Bang Parlin lagi.


Sebenarnya aku tahu Bang Parlin mau melucu atau bercanda, akan tetapi aku tidak suka candaan seperti ini. Dari sekian banyak candaan, Bang Parlin pilih madu, sebel.


"Dek, Abang cuma bercanda, maksudnya madu lo, Dek, madu asli, madu lebah," kata Bang Parlin lagi.


Malam harinya seperti biasa Bang Parlin mengajari anak-anak mengaji, rumah makin sesak saja, sementara bangunan yang di samping rumah belum selesai. Bang Parlin seperti kewalahan menghadapi beberapa anak yang nakal.


"Cukup untuk malam ini," kata Bang Parlin menutup pengajian. Lebih cepat dari biasanya, Anak-anak tentu saja senang cepat pulang.


Ternyata Bang Parlin mau membujukku, hahaha, dia juga mengajak Ucok dan Butet bercerita dongeng. Si Ucok protes.


"Aku sudah besar, Yah, gak jaman lagi cerita dongeng," kata Ucok seraya pergi ke depan TV.


Sampai jam sebelas malam, Ucok dan Butet baru tertidur.


"Dek, Abang ingin naik jabatan," kata Bang Parlin, dia masuk kamar, membiarkan dua anaknya tidur di depan TV.


"Naik jabatan macam mana, Bang ?" Tanyaku, sebenarnya aku sudah tahu dia mau minta jatah. Aku hanya ingin tahu bagaimana cara dia minta kali ini. Bang Parlin orang yang romantis, ada saja cara dia merayuku.


"Naik jabatan, Dek, jika adek kepala desa, Abang harus lebih tinggi," kata Bang Parlin lagi.


"Hahaha, Abang mau jadi camat ?"


"Gak, lah, Dek, pokoknya di atas kepala desa," kata Bang Parlin.


"Apalagi itu, Bang, mau jadi bupati ?"

__ADS_1


"Tidak, Dek,"


"Jabatan apa lagi di atas kepala desa, jika di desa itu, kepala desa jabatan tertinggi, Bang,"kataku lagi.


" Ya, sudah, Abang naik kepala desa saja, biar di atas kepala desa," kata Bang Parlin seraya menindih tubuhku.


"Hahaha," aku jadi tertawa bahagia, sudah lupa candaannya tadi.


"Makkkk !" terdengar suara Butet berteriak. sial, cepat-cepat kurapikan pakaianku.


"Tunggu dulu, Bang, Bu Kades mau jadi ibu rumah tangga dulu," kataku seraya keluar kamar.


Ternyata Butet mau ke kamar mandi, setelah Kutemani, kuantar mereka ke kamar masing-masing, mereka memang sudah punya kamar masing-masing. Sialnya, si Butet minta ditemani lagi. Padahal Bang Parlin mungkin sudah capek menunggu. Terpaksa kutemani Butet, seraya berharap dia cepat tidur, aku menyanyi kecil seraya menepuk-nepuk punggungnya.


Akhirnya Butet tertidur juga, dengan perlahan aku turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar kami. Akan tetapi aku kesal, Bang Parlin sudah tidur.


"Bang, gak jadi naik jabatan," bisikku ke telinga Bang Parlin.


"Hmmm," dia cuma mengguman dan lanjut tidur.


"Udah, abang jadi bawahan kepala desa," kataku seraya menindih tubuh Bang Parlin.


Tubuhku yang cukup besar membuat Bang Parlin seketika bangun, tapi dia seperti kesulitan.


"Mampus Abang jadi bawahan kepala desa," kataku seraya menciuminya.


"Gak, Abang mau naik jabatan," katanya seraya mendorong tubuhku. Lalu kami tuntaskan hasrat malam itu.


Aku dilantik bupati jadi kepala desa juga akhirnya, ada tiga kepala desa yang dilantik bersamaan, semuanya jadi kepala desa karena kepala desa lama berhalangan. Resmi sudah aku jadi kepala desa. Aku memakai pakaian putih-putih, dan topi.


Sungguh, perjalanan hidup yang tak terduga, Setahun lalu, kami sempat kesulitan hidup, sampai menjual mobil dan rumah, kini kami mulai menanjak lagi Bang Parlin tetap setia mengajar mengaji, pagi dan sore mengurus dua sapi limosin, malam hari mengajar anak-anak mengaji.


"Selamat pagi Bu Kades, bolehkah nanti malam aku naik jabatan," canda Bang Parlin di suatu pagi, saat itu aku mau berangkat ke balai desa.


"Ayah mau naik jabatan, memangnya ayah pejabat ?" ucok ternyata mendengar candaan Bang Parlin.


Bang Parlin tampak gugup, aku tak bisa menahan tawa.


"Ayahmu guru, Nak, guru itu jabatan tertinggi, bahkan presiden pun hormat sama guru," kataku coba menjelaskan.


"Guru itu bukan jabatan, guru itu profesi," jawab Ucok.


Waduh, si Ucok ini terlalu pintar, apa lagi yang harus kubilang.


"Jelaskan itu, Bang, salah sendiri kenapa punya anak pintar," kataku seraya naik motor dan berangkat.


. _Bersambung ..._

__ADS_1


__ADS_2