SAYANGKU JADULKU

SAYANGKU JADULKU
Season 2 Part 33


__ADS_3

...* Sayangku ( bukan ) Jadulku...


"Itu fitnah !" teriak Bapak Kepala Desa seraya berdiri.


Para hadirin banyak yang bisik-bisik, Kepala Desa itu tentu saja mencoba membela dirinya di depan orang.


"Itu fitnah keji, saya hanya berniat membantu, malah difitnah begini, mana buktinya, coba tunjukkan," kata Bapak Kepala Desa lagi.


"Maaf, Pak, tak usah diperpanjang lagi," kata Bang Parlin.


"Akan kuadukan kau ke polisi dengan pasal pencemaran nama baik, di pertemuan begini kau fitnah saya, ini namanya air susu dibalas air tuba, saya murni hanya ingin membantu," kata Bapak Kepala Desa, suaranya keras menggelegar. Kepala Desa ini masih muda, masih lebih tua Bang Parlin.


"Sudahlah, Pak, nanti Bapak makin malu, sudah selesai, proposal itu tak disetujui," kata Bang Parlin.


"Iya, terserah, tapi ini belum berakhir, akan kuadukan kau ke polisi, biar tau kau dulu siapa saya ?" kata Kepala Desa itu seraya menampar dadanya.


Suasana jadi tegang, para hadirin yang memenuhi ruangan itu mulai ribut. Ada juga yang membela Kepala Desa. Dia berdiri, aku kenal pria itu, dia kepala dusun dari dusun sebelah.


"Kita pikir pakai logika dulu, tak mungkin Bapak kepala desa merusak namanya hanya karena uang dua puluh lima juta, padahal ada dana desa lima ratus juta pertahun, mana mungkin beliau mau dua puluh lima juta," katanya kemudian.


"Bisa saja, jika semua proyek dia ambil setengah, sudah berapa dia dapat, dana desa lima ratus juta untuk dia setengahnya," kata seorang wanita yang duduk paling sudut.


"Ya, saya juga curiga dengan berbagai proyek, seperti itu, proyek air bersih, baru setengah tahun airnya sudah tak jalan lagi, atau itu proyek WC umum, masa bangunan dua kali empat dananya empat puluh lima juta," kata seorang pria.


"Terserah kalian mau bicara apa, tapi ini fitnah, kalau tak ada bukti, jangan sembarangan ngomong, dan kau Parlin, saya tunggu permintaan maaf Anda dua kali dua puluh empat jam, jika tidak bisa tunjukkan bukti kau dipolisikan," kata kepala Desa tersebut, seraya keluar dari ruangan.


Aku justru jadi khawatir, Bang Parlin orang yang sangat takut berurusan dengan polisi, dan bukti ? tentu saja kami tak punya, hanya pengakuan dari Bang Parlin, atau pengakuan dariku, apa polisi bisa percaya ?

__ADS_1


Setelah kepala desa pergi, rapat jadi berubah, ada yang mengusulkan jika terbukti korupsi supaya diadukan ke Camat atau Bupati. Akan tetapi banyak juga yang mendukung Kepala desa ini. Mereka mungkin bagian yang dapat proyek dari kepala desa.


"Kita audit dulu semua proyek desa, dana desa sudah cair tiap tahun," usul seseorang bertubuh gemuk. Aku kenal pria itu, dia anggota BPD dari dusun kami.


BPD adalah badan permusyawaratan desa. Semacam DPR-nya desa, anggota BPD juga dipilih oleh warga desa. Desa ini termasuk luas, semuanya perkebunan kelapa sawit, terdiri dari sembilan dusun.


"Mau audit seperti apa ? itu kan tiap proyek ada plangnya, di situ tertulis apa saja, berapa biaya," kata seorang pria berbadan tegap.


"Permisi Bapak-bapak, ibu-ibu, saya pulang dulu, assalamu'alaikum," kata Bang Parlin seraya mengajakku keluar ruangan.


"Bang, Abang cari musuh, kita pendatang di sini, masa cari musuh," kataku pada Bang Parlin ketika kami sudah tiba di rumah.


"Semua warga desa ini pendatang, Dek, justru kita termasuk yang duluan datang, nama dusun ini saja ambil nama Ayah," kata Bang Parlin.


"Abang lawan kepala desa, Abang tak punya bukti, kenapa Abang gak hidup lurus saja, masa kepala desa pun abang jebak," aku terus mengomel, tentu saja aku khawatir, bagaimana kalau kepala desa itu serius mau polisikan Bang Parlin, satu kali tersangkut masalah hukum sudah membuat Bang Parlin bangkrut, tambah ini lagi.


"Abang mau telepon siapa ?"


"Itu, si Raja, mana tau jadi ditangkap, biar ada jaga-jaga," kata Bang Parlin.


Aku jadi kesal, Bang Parlin sepertinya mau anggar beking, dia mau tunjukkan jika dia punya saudara polisi. Aku tak suka ini.


Setelah kejadian rapat desa itu, Bang Parlin tetap bersikap seperti biasa, padahal aku sudah deg-degan menunggu polisi datang menjemput, aku yakin bapak kepala desa itu tak akan tinggal diam. Bang Parlin tetap membantu tukang menyelesaikan pembangunan sekolah mengaji tersebut.


Empat hari kemudian, ancaman kepala desa itu terbukti, ada polisi datang ke rumah, aku sudah takut, perkataan kami akan melawan perkataan kepala desa, aku yakin kepala desa itu akan menggunakan segala cara membersihkan namanya, suap menyuap sudah biasa baginya.


Melihat mobil polisi datang, Bang Parlin tetap tenang, dia justru sibuk menelepon. Para polisi justru dipersilahkan masuk, Bang Parlin juga menyuruh aku hidangkan minuman.

__ADS_1


"Begini saudara Parlin, kami dari polsek, dan dapat pengaduan dari kepala desa, ini surat penangkapan saudara," kata polisi tersebut.


"Cepat ya, prosesnya, kejadian baru tiga hari sudah terbit surat penangkapan," kata Bang Parlin.


Kepala desa datang, masih belum turun dari motornya, dia sudah berteriak.


"Tangkap tukang fitnah itu, tangkap," kata Kepala Desa tersebut.


Kemudian iring-iringan mobil masuk pekarangan sekolah. Ada tiga mobil yang datang, aku hanya melongo melihatnya ternyata yang datang Raja dan Camat, wah, bisa seserius ini urusannya, sampai camat pun datang.


Camat tersebut lalu masuk rumah, dia menyalami Bang Parlindungan, camat itu justru salim sama Bang Parlindungan. Wah, hebat suamiku.


"Ini teman lamaku, dia abang kelasku di pesantren dulu," kata camat tersebut.


"Karena semua sudah kumpul di sini, ada polisi, ada camat, ada juga orang dari polres, saya ingin tunjukkan buktikan," kata Bang Parlindungan.


Aku heran, bukti apa yang mau ditunjukkan Bang Parlin ? Dia kemudian mengambil HP jadul dari kantongnya, dan memperdengarkan suara. Wah, suara bapak kepala desa ketika menawarkan proposal itu, ternyata diam-diam Bang Parlin merekam. HP jadul ituitu memang dilengkapi dengan alat perekam suara.


Wajah kepala desa merah padam, ada polisi dan camat di situ, ada juga orang dari polres, Bang Parlin memperdengarkan suara dari HP judulnya, jelas terdengar suara kepala desa yang menawarkan proposal dengan syarat bagi dua.


"Sudah saya bilang, Pak, jangan diperpanjang lagi, tapi Bapak ngotot, maaf," kata Bang Parlin.


Akhirnya kepala desa itu yang dibawa ke kantor polisi langsung ke polres, tak disangka Bang Parlin sudah mempersiapkan semuanya, bahkan pengaduan ke polres pun sudah dia lakukan secara online, dibantu Raja, polisi yang anak dari sepupu Bang Parlin.


Desa jadi geger, satu persatu warga mulai berani menunjukkan belang kepala desa. Akhirnya Bupati mencopot jabatan kepala desa, setelah menerima pengaduan dari masyarakat. Banyak proyek dana desa yang telah dikongkalinkong kepala desa. Baru terungkap setelah kepala desa itu mencoba mengajak Bang Parlin. Bang Parlin memang yang terbaik.


* Bersambung*

__ADS_1


* Mari kita tunggu apa lagi masalah mereka 🤭*


__ADS_2