SAYANGKU JADULKU

SAYANGKU JADULKU
Season 2 Bab 18


__ADS_3

...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...


Perjalanan kami lanjut lagi, Ucok dan Butet tampaknya senang saja, macam-macam pertanyaan Ucok, Bang Parlin berusaha menjawab dengan santai.


"Mak, kata Bu Guru, bumi ini bulat, tapi kita udah jalan jauh, kok belum terasa bulatannya?" tanya Ucok ketika dalam perjalanan.


Aku terkesima, sekaligus terdiam, gak tau harus jawab apa. Sungguh aku tak tahu bagaimana cara menjelaskan hal yang begitu pada Ucok yang baru delapan tahun, aku merasa otaknya lebih dulu dewasa dari umurnya.


"Tanya Ayah," jawabku singkat. Memang selalu begitu, jika ada yang tak bisa kujawab, Bang Parlin yang jadi sasaranku.


Akan tetapi karena Bang Parlin sedang tidur, Ucok tak bertanya lagi, dia justru bertanya hal lain.


"Mak, Childfree itu apa?"


Duh, ada-ada saja pertanyaan anak ini, akan tetapi coba kujelaskan.


"Chidfree itu artinya bebas anak," jawabku singkat.


"Jadi tante Ana kok chillfree?"


"Aduh, yang banyak kalilah pertanyaan kau, Cok? Tante Ana gak punya anak, makanya cildfree," kataku lagi, seraya berharap Ucok tak bertanya lagi. Anak ini memang suka menyimak obrolan orang dewasa.


Ketika kami singgah di salah satu Mesjid, tanpa diduga Ucok berkata pada Suami Cut Ana.


"Om, aku akan berdo'a semoga om sama tante punya anak, biar gak chilfree," kata Ucok.


"Makan apa kalian bikin anak kalian ini, kok pintar gitu?" kata Suami Cut Ana. Aku tahu dia berkata begitu karena gak tahu harus bilang apa.


Aku hanya tertawa, sedangkan Cut Ana terlihat sedih. Kami salat dan istirahat sejenak selama istirahat si Ucok terus saja ngoceh entah ke mana saja. Ada-ada saja pertanyaannya yang membuat aku cukup tergelak. Sampai Suami Cut Ana tak bisa bicara lagi.


Lhokseumawe kota pemberhentian kami berikutnya. Begitu sampai yang pertama kami cari adalah hotel. Begitu dapat, baru cari makanan. Kali ini kami makan makanan khas Aceh yaitu mie Aceh, tak ada yang spesial dari mie ini, karena di Medan pun sudah banyak menjamur masakan khas aceh ini. Setelah itu kami lanjut makan kerang rebus. Uniknya kerang rebus ini pakai sambal nenas. Enak, buah nenas membuat daging kerang mudah dimakan dan tentu saja enak.


Ternyata Suami Cut Ana punya hobby minum kopi, kami diajak minum kopi di salah satu warung. Kopi pancung namanya. Aneh, kukira kopi pancung ini kopi dengan makanan kue pancung, ternyata kopi dengan aroma yang sangat khas. Yang unik menyajikan kopinya ini hanya setengah gelas, entah apa gunanya biar setengah gelas aku tak tahu. Begitu kopi diminum, penjaga warung datang menawarkan tambah air panas. Begitu selalu, kuhitung sampai tiga kali suami Cut Ana tambah air panas.


"Melihat kalian aku jadi berubah pikiran," kata Suami Cut Ana.


"Berubah pikiran bagaimana?" tanya Bang Parlin.


'Ternyata punya anak asyik juga, bisa juga berpetualang seraya bawa anak, lebih seru, pergaulanku dengan orang luar selama ini membuat pikiranku jadi seperti mereka, bagi kami yang hobby petualangan, punya anak itu hambatan, biasanya bila sudah punya anak, akan pensiun berpetualang. Melihat kalian aku jadi berubah pikiran," kata Suami Cuy Ana panjang lebar.

__ADS_1


"Jadi ...?" tanyaku penasaran.


"Yah, kami akan mulai mencoba punya anak, mumpung istri masih empat puluh tahun, kurasa belum terlambat," kata Suami Cut Ana.


Cut Ana lalu menghambur ke pelukan suaminya, sepertinya dia sudah tak peduli orang lagi ramai di warung itu. Akan tetapi mereka justru bicara dalam bahasa Aceh, tentu saja aku tak mengerti. Akan tetapi Cut Ana mengeluarkan air mata, akan tetapi bibirnya tersenyum.


Sambil bergandengan tangan mereka kemudian masuk ke kamar mereka, aku dan Bang Parlin hanya saling pandangan.


"Coba tebak Bang, apa yang mereka omongkan," tanyaku pada Bang Parlin.


"Ayo bikin anak, Sayang, kita bukan amuba yang bisa membelah diri, gitu kata Cut Ana." Kata Bang Parlin seraya tertawa.


Aku ikut tertawa, "bukan gitu, Bang, kata Cut Ana gini, Bang aku mau punya anak kek si Nia itu, ayo kita bikin," gitu Bang."


"Memangnya anak bisa dibikin, yang bikin anak itu Tuhan," Ucok ikut-ikutan. Duh, aku sampai lupa ada Ucok di sini si tukang nyimak, aku jadi malu, Bang Parlin senyum-senyum.


"Cok, Butet, ayo kita cerita, ada cerita baru ayah," kata Bang Parlin pada dua anaknya.


Perjalanan kami lanjut keesokan harinya, pemberhentian berikut adalah Banda Aceh, begitu sampai mesjid raya Baiturrahman lah yang pertama kami kunjung, salat dzuhur di Mesjid tersebut. Lalu mencari makanan untuk disantap siang.


Bagaimana kalau kita cari villa saja, yang bisa masak, kebetulan ada sayur di situ," usul Bang Parlin. Di mobil kami memang ada sayur pemberian pria yang kami bantu sudah mau layu, akan tetapi masih ada yang segar. Akhirnya kami ke pinggiran kota, mencari villa yang bisa disewa.


Kami masak layaknya keluarga, Cut Ana justru minta dimasak ikan sale gulai khas Tapanuli karena kebetulan ada ikan mas kering. Aku mana pandai. Akhirnya Bang Parlin yang ambil alih.


Aku hanya tersenyum. Suamiku memang luar biasa, aku juga akui itu, dia bisa masak enak, katanya itu karena dia pernah mondok. Selama mondok memang harus masak sendiri.


Setelah selesai makan, kami lanjut mencari tempat wisata, museum tsunami jadi tujuan.


"Di mana adek waktu gempa besar itu?" tanya Bang Parlin ketika kami melihat-lihat nama ribuan orang korban tsunami.


"Waktu itu aku masih SD, Bang, itu minggu pagi kan, aku masih tidur, tau-tau macam diayun kurasa," kataku.


"Abang di mana waktu itu?"


"Abang sudah di pesantren saat itu, kami lagi di mesjid mengaji, datang gempa, kebetulan Abang dekat mikrofon mesjid, gak tau apa yang harus abang lakukan, akhirnya Abang azan, sampai selesai azan baru berhenti.


"Aku kehilangan seluruh keluargaku saat itu," kata Cut Ana.


"Kok bisa?"

__ADS_1


"Habis disapu tsunami, karena itulah aku tinggal di Medan, aku diselamatkan relawan, ditampung keluarga jauh dari Medan." kata Cut Ana.


Ternyata dibalik sifat pendiam Cut Ana, menyimpan kenangan teramat sedih. Seluruh keluarga meninggal dalam satu hari.


Tiba-tiba, Suami Cut Ana datang mendekati kami, dari tadi dia sibuk menelepon.


"Maaf, aku harus pergi, kapal mau berangkat, aku harus pergi, maaf sekali," kata Suami Cut Ana.


"Sekarang juga, Bang?" tanya Cut Ana.


"Iya," lalu mereka bicara dalam bahasa Aceh, sepertinya bertengkar, Cut Ana menangis.


"Tolong Bang Parlin, simpan dulu mobilku di tempat aman, sekalian aku titip istriku," kata Suami Cut Ana sebelum dia pergi dengan buru-buru.


Tinggal Cut Ana menangis, kami coba menghiburnya.


"Kau berani ambil resiko?" tanya Bang Parlin.


"Resiko bagaimana, Bang?" aku yang menjawab.


"Ini pertanyaan untuk Cut Ana, berani ambil resiko?"


"Berani, Bang."


"Gini, kirim pesan WA untuk suamimu, isinya singkat "pilih kapal atau istri? Kalau pilih istri jangan pergi, kalau pilih kapal, istri pergi," itu saja.


"Saran apaan itu, Bang? Nanti dia pilih kapal bagaimana?" aku jadi yang sewot.


"Kemungkinannya 70: 30, makanya kutanya berani ambil resiko,"


"Berani, Bang," kata Cut Ana seraya mengambil HP, aku jadi khawatir juga, entah apa-apa saran Bang Parlin ini.


"Matikan data HP-mu, sekarang kita hanya menunggu." kata Bang Parlin setelah Cut Ana mengirim pesan WA.


Dia kemudian membawa mobil Cut Ana ke penyimpanan mobil, lalu kami semua pulang ke villa yang kami sewa.


Sampai sore, suami Cut Ana belum datang juga, aku jadinya yang deg-degan, sedangkan Bang Parlin justru berzikir, sementara Cut Ana sepertinya tenang, aku tahu, dia juga pasti deg-degan. Ketika Magrib tiba, kami salat berjamaah, suami Cut Ana belum datang.


"Aku ikhlas ya, Allah, aku ikhlas," terdengar suara Cut Ana dalam do'a nya.

__ADS_1


Tiba-tiba ada motor masuk pekarangan Villa, ternyata ojek online. Suami Cut Ana yang ada di boncengan.


"Aku pilih istri, aku pilih istri, " katanya seraya memeluk istrinya.


__ADS_2