SAYANGKU JADULKU

SAYANGKU JADULKU
Season 2 Part 12


__ADS_3

...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...


Aku kembali ke rumah dengan kepala tegak. Rasanya bahagia sekali bisa membantu orang, ternyata begini yang dirasakan Bang Parlin setiap kali bisa bantu orang.


Sampai di rumah, aku langsung laporan ke Bang Parlin.


"Semua sudah beres, Bang, Yuni sudah kembali, ayahnya sudah tak marah lagi, Yuni juga berjanji gak nakal lagi." kataku.


"Hebat Umak Ucok," kata Bang Parlin seraya menunjukkan jempolnya.


"Sini, Bang, Ucok udah tidur," kataku seraya melirik kamar.


Kodeku dengan cepat disambar Bang Parlin, segera kuganti baju dengan yang lebih seksi. Tutup pintu kamar dan ....


Tok, tok, tok.


"Assalamu'alaikum," terdengar suara ketukan dan salam di pintu.


Dengan raut wajah kesal, Bang Parlin keluar kamar, aku pun segera mengganti baju lagi, terus menyusul suami.Ternyata yang datang Pak Romli lagi, kali ini bersama istri dan Yuni-anaknya.


"Ini sekedar tanda Terima kasih kami, Pak Parlin," kata Pak Romli.


"Terima kasih, Pak," jawab Bang Parlin seraya menerima bingkisan itu. Setelah dibuka ternyata isinya rendang jengkol. Aku kesal juga, tadi aku berharap mie ayam atau bakso.


Mereka pulang, Bang Parlin pun makan untuk yang kedua kali malam ini, dia memang sangat suka rendang jengkol. Sedangkan aku tak suka. Soal makanan kami memang tak pernah akur. Aku sukanya bakso, dia sukanya soto.


Aku masuk kamar, ganti baju dinas lagi, lalu rebahan menunggu suami selesai makan. Lelah menunggu, sampai aku dongkol juga, akhirnya Bang Parlin masuk kamar juga.


"Dek, sakit kali pinggang Abang, kusukkan dulu, Dek?" kata suami.


Lah, malah minta kusuk lagi.


"Iya, Bang, besok makan lagi jengkol banyak-banyak, kalau perlu satu kuali makan, Bang, udah tau asal makan jengkol sakit pinggang, makan lagi, makan lagi," aku kusuk juga pinggang Bang Parlin pakai balsem. Biarpun mulutku terus mengomel.


Akhirnya Bang Parlin tertidur setelah kukusuk.


"Bang, hari ini kan ada undangan, gak pigi kita?" tanyaku pada Bang Parlin siang itu. Aku hampir lupa, ada teman lama yang undang, katanya pesta pernikahan anaknya.


"Bersiaplah, Dek," kata Bang Parlin.


Bang Parlin punya kebiasaan unik jika undangan. Kalau orang lain biasa menyesuaikan isi amplop dengan besarnya pesta, jika di gedung umpamanya isi amplopnya banyak. Bang Parlin justru terbalik, jika di tempat keluarga sederhana pestanya, dia akan isi amplopnya banyak, jika pesta orang kaya dia isi sesedikit. Pernah lagi kami undangan Bang Parlin isi amplop satu juta, alasannya pestanya sepi dan makanannya sederhana.


"Tumben semangat kali, Bang?" tanyaku pada Bang Parlin ketika dia kembali menyuruhku mandi.

__ADS_1


"Ini pestanya orang kita kan, Dek, pasti makanannya enak, ada rendang jengkolnya," kata Bang Parlin.


"Jengkol lagi," sungutku lalu ke kamar mandi.


Pestanya agak jauh, berada di pinggiran kota, bekas tanah garapan. Ketika kami sampai, pestanya sederhana saja. Betul tebakan Bang Parlin ada rendang jengkolnya.


"Kalian sebaya ya, Dek, dia udah punya mantu aja," kata Bang Parlin.


"Iya, Bang, umur tiga lapan sudah punya mantu, aku umur tiga sembilan baru kelas dua SD anaknya."


Tiba-tiba ada orang panggil nama Bang Parlin dari pentas.


"Bang Parlin Coboy padang Lawas, kami minta dengan sangat supaya sudi menyumbangkan sebuah lagu?" katanya lewat mikrofon.


Ternyata Rapi yang ada di pentas. Segera kusikut Bang Parlin.


"Kau aja dulu yang nyanyi, Dek, Abang malas," kata Bang Parlin.


"Aku nyanyi?"


"Iya, Dek, nyanyikan lagu rere ma narere," kata Bang Parlin.


Lagu Rere Na Rere adalah lagu lawas Tabagsel, sudah seperti lagu wajib jika ada orang tapsel yang menikahkan anak gadisnya. Aku memang sudah hapal lagu itu, akan tetapi menyanyikannya di pentas aku masih ragu.


"Assalamu'alaikum, saya akan coba nyanyikan lagu Rere Manerere," kataku setelah kami berada di pentas. Didampingi Bang Parlin,aku akhirnya bernyanyi.


"Rere au baya narere, silalat sian sigumuru,kehe au baya nakehe, selamat tinggal ma di homu," begitu lirik lagunya.


Arti lagu ini kira-kira ratapan anak gadis yang akan meninggalkan rumah orang tuanya. Ternyata lagu itu membuat aku terharu sendiri, teringat orang tuaku yang sudah meninggal, ketika tiba di reff, air mataku keluar.


"Sian menek lopus magang, au damang dainang boru naenjengan," begitu reffnya, yang artinya kira-kira begini.


Dari kecil sampai besar, aku anak manja, selamat tinggal ayah dan ibu, selamat tinggal kamar dan ranjangku, selamat tinggal teman sepermainan.


Ternyata mempelai wanita tidak tahan mendengar lagu itu, dia terus menangis, mungkin dia menghayati lagu yang kunyanyikan. Tiba-tiba mempelai wanita itu ikut naik panggung, dia ambil mikrofon dan ikut menyanyi seraya menyalami kedua orang tuanya.


Setelah lagu selesai, pengantin wanita pingsan di pelukan ayahnya. Lah, kok jadi begini?


Bang Parlin lanjut menyanyi, kali ini dia nyanyikan lagu andalannya, yaitu: Ungut-ungut, isinya seputar nasehat rumah tangga. Kali ini yang menangis justru ibu pengantin.


"Jarang-jarangnya kau yanyi, Dek, sekali nyanyi orang sampai pingsan," kata Bang Parlin seraya tertawa.


Kami pulang dari pesta itu, kehadiran kami hanya membuat pengantin wanita tangis sampai pingsan. Di perjalanan aku buka Facebook, ternyata si Rapi sudah membuat siaran langsung ketika aku nyayi, dia juga tag namaku. Ramailah komentar temen.

__ADS_1


Aku berselancar di Facebook, melihat-lihat status orang, tiba-tiba mataku tertuju ke status seseakun di grup, isinya begini.


(Mohon bantuannya, saya butuh modal tiga juta untuk bisa berdagang bakso, biar bisa nafkahi anak istri, barangkali di sini ada yang bisa pinjamkan tiga juta, dalam tiga bulan saya ganti, tanpa bunga biar gak riba, ini no rek nya)


Nomor rekening dan nama akun sama, kasihan juga lihatnya, dia minjam, bukan meminta, dan tak mau riba.


"Bang lihat ini, ada orang minjam, kita kasih ya," kataku seraya menunjukkan HP-ku.


Bang Parlin lihat sekilas, lalu ...


"Penipuan itu, Dek" kata Bang Parlin.


"Aku sudah lama main medsos ya, Bang, aku bisa bedakan mana penipuan mana yang tidak, kalau penipu, nama dan foto gak jelas, dia juga gak bilang minjam, ini, jelas, nama jelas, nomor rekening jelas." kataku lagi.


"Itu penipuan, Dek, gak percaya aja, Adek ini,"


"Gak, Bang, penipu biasanya akun cewek, mintanya lima ribu sepuluh ribu, ini tiga juta, alamat pun ada jelas, foto ada jelas, sekali-kali kita bantu orang di Dumay, Bang," kataku lagi.


"Abang gak percaya,"


"Kita taruhan, Bang, kalau ini betulan, Abang gendong aku dari pintu pagar ke kamar, kalau penipuan, aku yang gendong Abang," kataku lagi.


"Oke, Dek, silakan inbok, Dek, minta nomor WA,"


Pertama kuminta pertemanan, lalu minta nomor WA, pertemanan diterima, tapi nomor WA tak dia kasih, alasannya, gak punya WA. Tak habis akal, kuminta nomor telepon, ini pasti tak mungkin gak ada, lagi-lagi dia menolak, katanya berkomunikasi lewat inbok saja, aku mulai ragu. Masa orang mau minjam pun enggan kasih nomor telepon?


"Cok, kau mau lihat Nunung gendong gobel?" kata Bang Parlin sama si Ucok. Aku tahu dia mulai menggodaku.


"Siapa Nunung, Yah, apa gobel?" si Ucok heran juga.


Bang Parlin malah tertawa seraya melirik HP-ku. Aku kesal, Bang Parlin selalu benar. Dia yang dulu sering jadi korban penipuan lewat medsos kini mulai menertawaiku. Aku akui memang, Bang Parlin orang yang cepat belajar. Seperti selalu dia bilang. "Kerbau saja tidak mau jatuh ke lubang yang sama dua kali.


Setelah mencari informasi ke sana ke mari, akhirnya aku menyerah, ternyata benar penipu, aku tahu setelah menemukan screenshot postingan orang, kalau saja akun tersebut sudah meminjam mulai tiga tahun lalu. Untung juga belum kutransfer, akan tetapi aku harus gendong Bang Parlin dari pintu pagar ke kamar.


Begitu kami sampai di rumah, Bang Parlin tidak memasukkan mobil, dia parkir di piinggir jalan.


"Gendong, Mak," kata Bang Parlin bergaya bak anak kecil.


Aku memberikan punggungku, akan tetapi si Ucok yang duluan naik, "aku digendong, Mak, masa sudah ayah-ayah pun minta gendong," kata si Ucok.


Si Butet tak mau ketinggalan, dia juga minta gendong, akhirnya aku masuk rumah sambil menggendong dua anak.


"Aku tagih gendongan nanti malam aja, Dek," bisik Bang Parlin ke telinga ini.

__ADS_1


* nah nah... masih kasih kode abang kita ini 🤭, yuk kita lanjuuut lagi *


__ADS_2