
...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...
Aku kembali diwawancarai reporter televisi masih seputar meninggalnya dua orang warga desa karena keracunan miras oplosan. Aku katakan apa adanya tidak kuceritakan istri mantan kepala desa yang mencampur minuman orang pakai racun serangga.
"Mamak ada di TV, mamak masuk TV," teriak Butet seraya berlari masuk rumah. Ternyata dia baru dari warung sebelah, yang punya warung tunjukkan di TV ada aku lagi diwawancarai.
"Mamakku jago, masuk TV," kata Butet lagi seraya menghidupkan TV kami.
"Ah, sudah habis," kata Butet, dia kelihatan kecewa.
Aku dan Bang Parlin hanya senyum-senyum melihat tingkah Butet tersebut. Dia terus menonton TV, katanya menunggu mamaknya muncul di TV lalu dia rekam pakai HP-nya.
"Assalamu'alaikum," ada suara salam di pintu, reflek aku melihat ke pintu, ternyata mantan kepala desa yang datang, dia sepertinya sudah sehat.
"Bang Parlin," katanya seraya menyalami suami.
Bang Parlin mempersilahkan tamu itu duduk, lalu aku ke dapur mengambil minum.
"Keputusan saya tepat Bang Parlin," kata kepala desa itu seraya duduk.
"Tepat bagaimana, Pak?" aku yang bertanya seraya menghidangkan teh manis di meja.
"Saya telah berjudi, saya minta tolong ke musuh, ternyata pilihan saya tepat orang-orang di sekeliling saya ternyata penjilat semua begitu saya susah, mereka menjauh," kata kepala desa itu lagi
"Maksudnya, Pak?" tanya Bang Parlin.
"Begini, Parlin, dulu saya sangat benci kalian, semenjak kalian datang, saya susah, apalagi setelah saya ditangkap polisi, saya menghabiskan uang dua ratus juta biar bisa bebas, setelah saya bebas, masalah lain datang lagi, HP -ku dibuka istri, jadi ketahuan selingkuh selama ini, sakitnya istriku malah balas selingkuh dengan selingkuh, apa gak gila itu?"
"Salah satu orang yang kupercaya menjaga keluarga justru jadi selingkuhan istriku, aku marah sekali, aku ancam akan bunuh dia, atau kusuruh orang bunuh dia, kuberikan pilihan, dia pergi secara baik-baik atau kubunuh,"
"Terus?" aku jadi penasaran juga.
"Eh, dia malah ancam bunuh balik, sejahat-jahatnya saya ini, saya sayang anak-anak, saya tak ingin kejiwaan anak saya terganggu mengetahui orang tuanya sama-sama selingkuh, akhirnya dia racuni kami semua, malam itu kami rapat, rapat ingin menghancurkan kalian, hahaha, ironis memang, ada seseorang yang beli tuak satu jerigen, kami akhirnya minum-minum, ada yang ambil kursi sekolah mengaji kalian, itu bukan suruhanku, itu inisiatif mereka sendiri, kau tahu sendiri, mereka seperti apa, ternyata istriku mencampur tuak tersebut dengan racun serangga, kami sudah sadar rasanya yang lain, tapi tetap kami minum juga, akhirnya kami semua tepar," dia mengambil nafas panjang, lalu lanjut bercerita.
"Di rumah sakitnya, aku ketakutan sekali, aku tak tahu yang mana teman yang mana musuh lagi istri sendiri sudah jadi musuh, anak buahku pun berkhianat, akhirnya kuputuskan memanggilmu, pilihanku tepat, terima kasih Bang Parlin.
"Oh, sama-sama,"
"Saya datang sebenarnya mau minta tolong lagi, saya sudah malu di desa ini, istriku ternyata lari bersama selingkuhannya, saya malu, jadi saya minta tolong beli dulu seluruh aset saya, saya mau pindah ke Lampung saja," kata Pak Kosim.
__ADS_1
"Dari sekian banyak orang di desa ini, saya hanya percaya pada kalian, Bang Parlin, tolong beliau aset saya itu semua," katanya lagi.
Aku dan Bang Parlin berpandangan, aset Pak Kosim banyak di desa ini, kebun sawitnya saja sudah milyaran harganya mana kami sanggup, akan tetapi jujur saja aku tergiur dengan asetnya, mungkin Bang Parlin punya cara.
"Baik, Pak, saya pikirkan dulu, nanti saya kasih kabar," kata Bang Parlin. Tepat dugaanku, Bang Parlin juga tergiur dengan aset Pak Kosim, sawitnya sudah panen. Dekat desa pula. Rumahnya juga besar di pinggir jalan.
"Hanya Bang Parlin yang bisa saya percaya, jika Bang Parlin tidak bisa, terpaksa saya jual ke orang luar desa," kata Pak Kosim lagi.
Setelah Pak Kosim pergi, kulihat keseriusan di wajah Bang Parlindungan.
"Apa lihat-lihat, Dek?" tanya Bang Parlin.
"Kenapa Abang bilang pikirkan dulu, emang abang ada uang milyar," kataku kemudian.
'Kita usahakan satu minggu ini, jika tidak ada ya, kita lepaskan," kata Bang Parlin.
"Satu minggu? Abang mau cari uang milyaran satu minggu?"
"Kalau Allah berkehendak, apa yang tidak mungkin?" kata Bang Parlin.
Ya, Bang Parlin benar, kalau Allah berkehendak siapa tahu Bang Parlin ajak semua saudaranya patungan membayar aset Pak Kosim. Akan tetapi aku pesimis Bang Parlin orangnya tidak mau ngutang, tidak mau susahkan saudara.
"Seperti permintaan Bang Parlin, ini saya sertakan juga daftar penghasilan sawit tersebut selama setahun terakhir," kata Pak Kosim.
Wah, Bang Parlin pula yang minta, ternyata suamiku ini memang serius. Setelah Pak Kosim pergi, kubombardir Bang Parlin dengan berbagai pertanyaan.
"Memangnya ada uang abang tiga milyar? Atau Abang mau pinjam ke bank, sudah bergeser kah prinsip Abang, aku gak mau lo, Bang,jika harus berutang, biarpun asetnya menjanjikan, tapi aku tetap tidak mau jika harus minjam ke bank, pinjam ke Bang Parta pun aku gak mau, Bang, karena biar bagaimana pun utang itu pemutus persaudaraan paling ampuh," kataku.
"Iya, Dek, iya," kata Bang Parlin.
Keesokan harinya, Bang Parlin ajak aku melihat kebun Pak Kosim, dia periksa semua, banyak bertanya pada karyawan, ah, Bang Parlin main teka-teki, cerita dia gak mau.
"Bang, Abang serius mau beli ini," tanyaku pada Bang Parlin, saat itu kami berada di tengah kebun sawit Pak Kosim.
"Iya, Dek, lahan ini menjanjikan, jika bisa kita beli, mungkin kita bisa seperti dulu lagi," kata Bang Parlin.
"Dari mana uangnya, Bang,"
"Tunggu rezeki dari Tuhan, Dek,"
__ADS_1
Ah, kesal juga sama Bang Parlin ini, dia seperti menyembunyikan sesuatu.
"Bang, aku istrimu ya, sekaligus kepala desa di sini, jika aku tak diberi tahu dari mana uangnya, aku gak mau tanda tangan," kataku pura-pura mengancam.
"Cie, cie, Bu Kades marah," Bang Parlin malah menggoda.
"Aku akan persulit urusannya, gak mau diajak ukur tanah, gak mau disuruh tanda tangan," kataku lagi, seraya memasang wajah judes.
"Baik, Dek, Abang ceritakan, lima bulan lalu, pengacara datang ke mari, dia menawarkan menuntut balik orang yang menipu kita dulu,"
"Menipu yang mana?"
"Itu yang Abang beli tanah sengketa,"
"Oh, terus? kenapa aku tak lihat pengacara itu?"
"Adek sibuk di kantor desa,"
"Oh, terus?"
"Dia menawarkan untuk menuntut balik hak kita, karena kita juga korban, jika berhasil, mereka dapat setengah dari semuanya, kutanya abang, katanya dia mendukung, kuserahkan semua sama mereka. Pas kemarin datang Pak Kosim, pengacara itu sudah mengabarkan, kita menang, tuntutan kita berhasil, tinggal eksekusi, serahkan semua urusannya sama abangmu itu, bagian kita yang lima puluh persen dibagi dua lagi, besok mereka akan datang antar duitnya," Bang Parlin menjelaskan panjang lebar.
Ternyata ketika aku sibuk jadi kepala desa, Bang Parlin juga sibuk urus itu, pantasan kulihat belakangan ini dia sering telepon.
"Berapa bagian kita Bang?" tanyaku lagi.
. "
"Ya, cukup untuk bayaran aset Pak Kosim itu,"
"Alhamdulillah, tapi dulu kita rugi ratusan milyar, Bang, masa kembali cuma tiga milyar," kataku lagi.
"Hmm, gitulah sifat rakus itu, Dek, baru saja alhamdulillah, sudah ngeluh lagi," kata Bang Parlin.
"Iya, deh, Bang, Alhamdulillah,"
Keesokan harinya, benar kata Bang Parlin, abangku datang beserta rombongan pengacara. Aku terkejut setelah tahu bagian kami ternyata lima milyar, penurut pengacara itu, yang berhasil dituntut dua puluh satu milyar, satu milyar ongkos perkara dan segala macam, sepuluh milyar bagian pengacara dan timnya, lima milyar untuk abangku, lima milyar untuk kami.
Wah, kami jadi milyarder lagi.
__ADS_1
BERSAMBUNG