SAYANGKU JADULKU

SAYANGKU JADULKU
Season 2 Part 25


__ADS_3

...* Sayangku ( bukan ) Jadulku...


Semua serasa kembali ke awal. Bang Parlin menerima satu Sapi dari Rara, Sapi betina yang sudah berumur tiga tahun. Sapi itu dicari sendiri oleh Rara di peternak daerah Medan. Di satu sisi aku terharu dengan perhatian Rara, akan tetapi di sisi lain justru aku cemburu. Dia jauh-jauh dari Bandung untuk membantu kami, aku cemburu karena masa lalu Bang Parlin yang sempat dekat dengan Rara.


"Ini, Bang Pain semua sudah kubayar, bahkan biaya membawanya ke desa pun sudah kebayar," kata Rara seraya menunjuk sapi di atas truk yang sudah parkir di halaman rumah.


Sapi jenis limosin, sapi mahal yang beratnya bisa mencapai satu ton.


"Terima kasih, Rara, kau memang yang terbaik," kata Bang Parlin.


"Mulai kembali hidupmu, Bang Pain, Abang pasti bisa sukses lagi," kata Rara lagi.


Percakapan dua orang ini selalu membuat aku cemburu, Bang Parlin sampai bilang Rara yang terbaik, lah, jadi aku apa?


Sapi tak lagi diturunkan dari truk, hanya dikasih makan dan minum, truk itulah yang membawa sampai ke desa, semua sudah dibayar Rara. Bang Parlin berangkat ke desa lagi. Aku ditinggal lagi.


Surat pindah sekolah Ucok dan Butet akhirnya kuurus, jika memang Bang Parlin mau tinggal di desa, biarlah, sebagai istri yang ikut suami aku harus menurut. Aku ingin memberikan kejutan pada Bang Parlin, kami akan datang ke desa.


Surat pindah akhirnya kudapat, toh ada sekolah keluarga Bang Parlin di desa, akan kemasukkan kedua anakku sekolah di situ. Setelah semua beres, kuajak adikku untuk mengantar kami ke desa.


Jika pulang kampung, Ucok dan Butet selalu senang, mereka tampak antusias ketika kuajak pulang kampung. Perjalanan yang seharusnya dua belas jam jadi molor, mobil yang kami tumpangi mengalami kerusakan. Kami berjalan siang, berangkat pagi sekali, rencananya akan tiba di desa menjelang Magrib, akan tetapi sampai malam belum sampai juga, mobil sering rusak, alhasil, kami sampai di simpang arah ke kebun tepat tengah malam, sopir mobil rental itu akhirnya menyerah melihat kondisi jalan masuk ke perkebunan. Dia tak mau lagi ambil resiko membawa mobilnya masuk ke perkebunan.


"Maaf, Bu, ini uang ongkos ke sana, mobil ini tak sanggup ke sana lagi, sekali lagi maaf, Bu," kata sopir itu.


"Mana bisa begitu, masa diturunkan kami di sini, tengah malam pula," kataku protes.


"Maaf, Bu, betul-betul, mobil ini tak sanggup melewati jalan ini lagi, nanti rusak di tengah jalan lagi bagaimana ?" katanya.


"Ah, kau tidak profesional, tidak bertanggungjawab," kataku kesal, sudahlah terlambat di jalan, diturunkan pula sebelum sampai.


Tak ada lagi angkutan, kami numpang di warung yang ada simpang tersebut coba kuhubungi suami, akan tetapi tak diangkat, mungkin dia sudah tidur. Ah, rencana jadi berantakan, padahal aku ingin memberikan kejutan untuk suami. Malah aku terdampar di sini, benar-benar tidak bertanggungjawab sopir mobil rental tersebut. Kami ditinggalkan di sini, tengah malam pula.


Kucoba terus hubungi suami, namun tak diangkat, mana bisa kami tidur di warung ini. Ada dua anakku yang masih kecil-kecil. Akhirnya ada orang lewat naik motor.


"Bang, kenal Bang Parlin ?" tanyaku.


"Oh, toke i, kenallah,"


"Tolong bilang kami ada di sini," kataku lagi.

__ADS_1


"Kami siapa ?"


"Anak-anaknya,"


"Baik, Kak,"


Kami kini hanya menunggu, jam sudah menunjukkan angka dua, perjalanan dari sini ke kebun masih jauh, ada sekitar tiga puluh kilometer lagi. Akan tetapi Bang Parlin tak jua datang menjemput. Aku jadi sedih, untung juga aku ajak adikku, sehingga aku tak begitu takut.


Sampai jam empat, baru ada respon dari pangggilanku, Bang Parlin akhirnya menelepon.


"Ada apa, Dek tengah malam nelepon ?" tanya suami. Duh, ternyata dia belum tahu.


"Ayah!" teriak si Butet begitu tahu ayahnya menelpon.


"Iya, ada apa, Abang jadi takut ini, tengah malam menelepon sampai sepuluh kali," kata Bang Parlin.


"Bagaimana bilangnya ya, Bang ?"


"Bilang saja ada, apa ? Ah, jangan bikin Abang jadi takut," kata Bang Parlin.


"Gini, Bang, kami mau buat kejutan, kami datang ke desa, tapi tertahan di simpang, karena mobil yang kami rental tidak mau masuk ke dalam ... "


"Itulah, Bang, jemput kami sekarang, di warung dekat simpang,"


"Aduh, Dek, benar-benar kejutan, kejutan yang membuat susah sendiri,"


"Susah sendiri bagaimana, Bang ?"


"Kejutanmu benar-benar kejutan, bagaimana si Butet, si Ucok ?"


"Mereka baik saja, jemputlah Bang,"


"Itulah, Dek, Abang tak lagi di kebun, Abang di rumah Ayah dulu, lagi cari pedet, perjalanan dari sini ke sana bisa delapan jam lagi, adek sih, kejutannya keterlaluan," kata Bang Parlin.


"Aduh, jadi kami harus bagaimana, Bang ?"


"Udah, tunggu saja hari terang, nanti ada yang jemput kalian, Abang belum bisa datang, pedetnya belum dapat," kata Bang Parlin.


Ya, Allah, kejutanku benar-benar membuat terkejut, aku juga jadi terkejut, badanpun ikut terkejut, nasiblah.

__ADS_1


Kami akhirnya tidur di warung tersebut sampai pagi, untung juga yang punya warung baik, dia kenal Bang Parlin. Begitu pagi tiba, sudah ada mobil yang jemput kami, mobil bak terbuka pula, yang biasa dipakai bawa sapi. Adikku terpaksa duduk di belakang, karena kursi depan hanya cukup untuk kami.


"Ini benar-benar kejutan, aku menduduki kotoran sapi," gerutu adikku, aku hanya bisa tertawa. Niatku memberikan kejutan benar-benar berantakan.


Kami sampai di kebun sawit, langsung masuk ke rumah papan bertingkat milik kami, benar-benar perjalanan yang melelahkan, sampai dua puluh empat jam di perjalanan. Aku langsung merebahkan diri, sedangkan dua anakku sudah tidur sejak dalam perjalanan.


Ketika aku bangun, sudah ada yang mengantarkan makanan, nasi dan lauk ikan sungai.


"Makan dulu, Bu," kata ibu tersebut seraya tersenyum.


"Oh, terima kasih," jawabku, aku memang sudah lapar sekali.


"Bang Parlin keluar daerah, katanya cari sapi anakan," kata Ibu itu lagi.


"Iya, Bu, aku sudah diberitahu," jawabku sambil makan, kedua anakku dan adikku masih tidur, aku segan untuk membangunkannya, mereka sudah lelah dalam perjalanan dua puluh empat jam.


Ketika hari sudah siang, kakak dan Ria adikku datang, aku baru merasa lega. Kedua saudaraku ini ada di desa ini karena kami bantu dulu, mereka sekarang sudah sukses punya kebun sawit sendiri, juga punya sapi yang lumayan banyak.


Sore harinya Bang Parlin baru datang, dia bawa enam ekor sapi anakan. Ucok dan Butet tampak gembira dengan kehadiran ayah mereka. Berebutan mereka bertanya pada ayahnya, tentang sapi, tentang sawit, tentang ikan dan banyak lagi, Bang Parlin menjawab semua pertanyaan anaknya dengan sabar.


"Kejutannya luar biasa, Dek," kata Bang Parlin.


"Maaf, Bang," hanya itu dapat kukatakan, kejutanku memang luar biasa, sampai akupun ikut terkejut, badan pun rasanya sakit semua.


"Si Rara sepertinya merajuk, Bang," lapor seorang karyawan kami.


""Rara? siapa Rara ?" aku langsung bertanya.


"Itu, nama sapi, Bu," jawab karyawan tersebut.


"Bang, kenapa namanya harus Rara ?" tanyaku pada Bang Parlin.


"Itu hanya nama, Dek, karena kebetulan Rara yang kasih sapinya," jawab Bang Parlin.


"Kenapa harus Rara, kenapa, Bang ?" tanyaku lagi.


"Seperti Williams Shakespeare bilang, " what is the meaning of a name ?" kata Bang Parlin.


Duh, ini benar-benar kejutan, aku yang terkejut, Bang Parlin kini sudah tahu Williams Shakespeare ...

__ADS_1


. _Bersambung ..._


__ADS_2