SAYANGKU JADULKU

SAYANGKU JADULKU
Season 2 Bab 19


__ADS_3

...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...


Pertemuan itu jadi haru biru. Tangisan Cut Ana begitu memilukan, padahal itu tangis bahagia menurutku. Dia bahagia dengan perubahan drastis suaminya.


"Bang, hebat juga Abang ya," bisikku pada suami.


"Ya, iyalah," jawab suami seraya membusungkan dada.


"Aku serius, Bang, sepertinya Abang cocok jadi semacam penasehat perkawinan," bisikku lagi.


"Alhamdulillah, dapat pujian dari istri," jawab Bang Parlindungan.


Malam itu kami menggelar acara bakar-bakar di depan villa. Ayam dan ikan jadi pilihan. Cut Ana yang jadi koki kali ini, katanya dia akan masak ikan bakar khas Aceh. Bang Parlin tak mau tinggal diam, dia giling cabe beserta ikan asin katanya namanya sambal tuk-tuk. Aneh juga, ikan asin dipisahkan dari tulangnya, baru dicobek bersama cabe dan bawang yang sudah direbus. Tak lagi dimasak, tak lagi digoreng. Kupikir tidak akan enak, akan tetapi ternyata enak sekali. Sambal tuk-tuk itu jadi teman makan ikan bakar.


Keesokan paginya kami lanjutkan perjalanan, tujuan selanjutnya adalah pulau Sabang. Menuju tempat paling barat Indonesia. Kami berkendara menuju pelabuhan Ulee Lheue. Pelabuhan itu hanya berjarak sekitar setengah jam perjalanan dari pusat kota Banda Aceh. Mobil dititipkan di pelabuhan tersebut. Baru kami naik kapal ferry menuju pelabuhan Balohan, Sabang.


Sesampainya di Sabang, kami menyewa mobil rental. Baru pergi ke pantai Iboih. Pantai yang sangat indah. Di sini kami menghabiskan waktu sampai siang, lanjut perjalanan ke tugu kilometer nol. Sore harinya kembali ke Banda Aceh.


Kami pulang kembali ke Langsa, perjalanan darat yang memakan waktu semalaman. Tiba di Langsa istirahat di rumah Cut Ana.


"Bang Parlin, aku tak tahu lagi bagaimana caraku berterima kasih pada kalian, kalian membuat perubahan besar dalam keluarga kami." kata Cut Ana ketika kami sarapan pagi bersama


"Iya, Bang, entah kenapa perkataan Abang selalu seakan menjewer telingaku. Aku masih ingat perkataan Abang " Sapi saja mau berkembang biak, kenapa kalian tidak?" itu seperti menamparku. Melihat anak kalian aku jadi berubah." sambung suami Cut Ana


"Udah, gak usah dibesar-besarkan," kata Bang Parlin.


"Kami minta maaf, tidak bisa ikut keliling Indonesia, kami mau di sini dulu, menebus waktu yang belasan tahun terbuang percuma." kata Suami Cut Ana lagi.


Bang Parlin kemudian menceramahi suami istri tersebut.


"Rumah tangga itu ibarat angkot, kau supirnya, istrimu kernetnya, biarpun kau bosnya, tapi harus menurut ke kernet, dia bilang berhenti, kau harus berhenti, bukan jalan sesuka hati. Terus sudah pernahkan kalian bayar zakat, kulihat harta kalian melimpah. Ibarat rumah zakat itu jendelanya. Kalau tak ada jendela, alamat rumah jadi pengap. Bersihkan udara dengan jendela, bersihkan harta dengan zakat,"


"Iya, Bang, selama ini kami memang alpa bayar zakat." kata suami Cut Ana.


"Tolong bayar kalian, kalau aku ya, bayar zakat itu ke satu orang yang membutuhkan, biar bisa mengubah hidup seseorang itu, rata-rata tiap tahun aku bayar zakat dua puluh lima juta, itu semua diserahkan ke satunya orang, kami sendiri yang seleksi."


"Iya, Bang, selama ini karena bayar pajak kami tak bayar zakat lagi," kata Suami Cut Ana


"Itu dua hal yang berbeda, pajak itu kewajiban untuk negara, zakat itu kewajiban karena agama,"


"Iya, Bang, sebagai zakat pertama kami, bolehkah kami berikan ke Bang Parlin saja," kata Suami Cut Ana.


"Aduh, mana bisa, masa sih gak tahu siapa saja yang berhak menerima zakat?"


"Begini saja, Abang jadi amil zakat aja dulu kali, ini," usulku kemudian. Bukan karena aku ingin zakatnya. Tapi aku tertarik menyalurkannya.


Akhirnya Bang Parlin tak juga setuju, kata Bang Parlin sudah ada amil zakat resmi. Kami akhirnya pulang ke Medan. Petualangan kami ke provinsi Aceh berakhir dengan banyak kenangan.

__ADS_1


"Bang, bukankah sudah waktunya kita bayar zakat ini?" tanyaku pada Bang Parlin. Saat itu kami lagi menikmati udara sore hari di kebun sayur depan rumah.


"Iya, ya, Dek, beruntung sekali abang punya istri seperti adek, udahlah cantik, soleha lagi,"


"Hmmm, tumben merayu sore-sore, Bang?"


"Bukan rayuan, Dek,"


"Aku ada usul, Bang, bagaimana kalau zakat kita kali ini kita umumkan di Facebook?"


"Usul apaan itu, Dek?"


"Maksudnya gini, Bang, kita buat pengumuman di Facebook, yang betul-betul membutuhkan suruh inbox, tujuannya biar tepat sasaran dan pemancing untuk orang kaya lain." kataku lagi.


"Abang gak setuju, Dek, itu bisa membuat kegaduhan sosial, bisa membuat orang sakit hati, yang iri makin iri, yang tidak dapat akan sakit hati. Tetap seperti sedia kala,"


Mencari sendiri orang yang akan diberi zakat memang agak susah, akhirnya aku minta bantuan tetangga, tetangga ini sudah pernah dapat zakat kami, dia kuminta mencari orang yang betul-betul butuh. Bu Robiyah nama tetangga ini. Kerjanya jualan jamu keliling, tentu saja dia tahu banyak yang butuh.


Dua hari kemudian, dia datang lagi bersama seorang Ibu. Ibu-ibu tersebut terlihat lusuh pakaiannya.


"Ini, Bu Nia, dia janda, anaknya tiga masih kecil-kecil, butuh uang untuk modal usaha dagang di rumah," kata Bu Robiyah seraya menunjuk temannya dan tiga anak kecil.


"Oh, suaminya kemana, Bu, meninggal atau cerai?" tanyaku kemudian.


"Sudah meninggal, Bu, tiga tahun lalu, aku berjuang menghidupi tiga anak," katanya.


"Oh, rumahnya di mana, Bu?" Diapun menyebutkan alamat.


"Riana,"


"Oh,"


"Terima kasih duluan, Bu, tak bisakah sekarang saja?" katanya.


"Oh, maaf, Bu, gak bisa, kami harus lihat dulu, bukan tak percaya ya, Bu, hanya memastikan zakat kami tepat sasaran,"


"Tolong sekarang saja, Bu, entah berapa saja dulu,"


Duh, ini kok maksa sekali, akan tetapi aku berpikir mungkin dia sangat butuh sekali. Kulihat tiga anak yang dia bawa, yang paling besar mungkin masih sebaya si Ucok. Akhirnya kuberi juga lima ratus ribu. Zakat kami tahun ini memang meningkat, tiga puluh juta akan dibayarkan.


Kuceritakan pada Bang Parlin tentang calon penerima zakat kami. Bang Parlin justru mengajak untuk melihat malam itu juga. Padahal aku sudah janji lusa.


"Kenapa malam ini, Bang?"


"Semacam kunjungan dadakan, aku curiga dia tak seperti yang dia bilang," kata Bang Parlin.


"Lo, yang bicara dengan Ibu itu aku, Bang, kok bisa Abang bilang gitu,"

__ADS_1


"Udah, Dek, percaya saja feling Abang, ayo kita ke sana."


Akhirnya malam itu kami ke alamat yang disebut, padahal hari sudah jam sembilan malam. Aku terkejut ketika di simpang lampu merah ada pengemis. Yang membuat aku terkejut adalah anak itu yang tadi datang ke rumah. Duh, sesulit itukah mereka, sampai anaknya ikut mengemis.


Ketika kami sampai di alamat yang dituju. Aku melihat beberapa pria duduk di teras rumah main gitar dan nyanyi-nyanyi. Di depan mereka masing-masing ada gelas berisi minuman warna putih kecoklatan. Kuperiksa kembali alamat itu, benar ini adanya.


"Benar ini rumahnya Riana?" tanyaku.


"Benar, si Riananya lagi pergi sebentar beli tambul, ini suaminya," jawab salah seorang di antara mereka.


Wah, beli tambul? Suami? Belum sempat aku berpikir datang dua orang anak, dua anak tersebut memberikan uang kepada seorang pria berambut gondrong.


Aku mengajak Bang Parlin pulang, baru saja kami naik ke mobil, Riana datang.


Bang Parlin kembali turun dari mobil, mencegat Riana, dia tampak terkejut.


"Bu Riana?" tanya Bang Parlin.


"Riana melihat ke arahku, dia sepertinya gugup.


"Iya, betul, bukankah kalian datang lusa?"


"Ternyata begini ya, demi uang suami pun dibilang sudah mati," kataku kesal.


"Jangan salah kan aku ya, itu ide Robiyah, katanya uangnya kami bagi dua," Kata Riana.


"Ya, Allah, jadi?"


"Kalian bohong, kalian bilang lusa datangnya," katanya lagi.


Duh, dia sudah berbohong bilang suaminya mati, kami pula yang dituduh berbohong. Kami pergi, feeling Bang Parlin memang benar.


Kutemui Robiyah malam itu juga, ternyata ini modus Robiyah supaya bisa dapat zakat lagi. Aku baru dapat keterangan, ternyata tiga anak itu bukan anak mereka, Riana dan suaminya adalah sindikat pengemis yang mempekerjakan anak-anak. Bang Parlin tampak geram sekali.


Bang Parlin yang anti berurusan dengan polisi, kali ini rajin, keesokan harinya dia ke kantor polisi, mengadukan Riana ke polisi. Sore harinya polisi langsung bergerak, Riana dan suaminya ditangkap dengan tuduhan mempekerjakan anak dibawah umur. Anak-anak asuhannya mengemis, baru setoran ke mereka.


"Ternyata dunia ini dipenuhi orang orang jahat, ya, Bang," kataku pada Bang Parlin.


"Iya, Dek, untung kita tak salah sasaran,"


"Jadi zakat kita untuk siapa Bang?' Tanyaku.


"Anak yang tiga itu, Dek, kasihan mereka, mereka sudah dimanfaatkan untuk cari makan orang dewasa, abang mau angkat mereka jadi anak angkat, membawanya ke pesantren, uang zakat kita itu biayanya."


"Iya, Bang, aku setuju,"


Tiga anak tersebut dibawa Bang Parlin ke pesantren, uang zakat kami dititipkan ke ustadz-nya. Cukup untuk biaya ketiga anak itu selama enam bulan. Akan tetapi baru seminggu kami dapat kabar, tiga anak itu sudah lari dari pesantren.

__ADS_1


Begitulah memang, kadang ada orang yang tega menjual anak, ada orang yang tak mau diurus.


* Ahh yasudahlah.... yuk kita lanjut lagi *


__ADS_2