SAYANGKU JADULKU

SAYANGKU JADULKU
Season 2 Part 28


__ADS_3

...* Sayangku ( bukan ) Jadulku...


"Dek, bagaimana kalau kita pindah ke desa sana, dekat sekolah itu ada rumah, adek tinggal di situ, Abang pergi pagi pulang sore," usul Bang Parlin di suatu hari.


"Memang kenapa kalau di sini, Bang ?" tanyaku kemudian.


"Abang merasa bersalah, Dek, adek tersiksa di sini, yang biasanya tinggal di kota," kata Bang Parlin lagi.


Apakah aku tersiksa di sini ? Di satu sisi, aku bahagia, bisa bersama Bang Parlin, akan tetapi di sisi lain, jujur saja memang aku tersiksa. Teman bicara pun tak ada, kadang ingin juga bertegur sapa, yang ada di sini cuma pekerja, tetangga terdekat jauhnya seratusan meter. Ditambah lagi di sini tak ada yang bisa kukerjakan.


"Rumah siapa itu, Bang?"


"Rumah orang, Dek mereka pindah, katanya mau dijual, dikontrak pun bisa," kata Bang Parlin.


"Di mananya itu, Bang?"


"Itu yang tepat di samping sekolah yang kita bangun dulu,"


"Oh, itu, boleh, Bang, cocok sekali, gak perlu antar jemput sekolah lagi," kataku kemudian.


"Iya, Dek, nanti kutanyakan bagaimana, kalau bisa dikontrak kita pindah ya," kata Bang Parlin.


Begitulah roda berputar, kami yang dulu punya rumah kontrakan enam pintu kini mau ngontrak rumah. Kita memang tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita selajutnya, akan tetapi yang terjadi padaku sungguh membuat badan terkejut. Mungkin bagi Bang Parlin itu biasa, karena dari kecil juga sudah tinggal di desa, akan tetapi bagiku ini luar biasa, seumur hidup aku belum pernah tinggal di rumah kontrakan. Biarpun orang tuaku tak kaya sekali, akan tetapi semenjak aku lahir orang tua sudah punya rumah sendiri.


Pagi itu aku dan Bang Parlin menemui yang punya rumah, sekalian antar Ucok dan Butet sekolah. Setelah rumahnya kulihat, aku langsung jatuh hati, rumahnya sudah modern, terbuat dari beton semua. Lantai juga sudah keramik. Ada kamar mandi sendiri. Dan tepat di samping sekolah, mungkin aku bisa berjualan di sini, mengisi kekosongan.


"Kalau bisa belilah, Pak Parlin, kami butuh modal ke kota, anakku mau sekolah di kota, kami harus pindah," kata yang punya rumah.


"Gak bisa dikontrak dulu, Pak ?" tanya Bang Parlin.


"Bisa, cuma kan mau dijual juga, kalau laku nanti ya kalian harus pindah,"


"Berapa harganya, Pak ?" tanyaku.


"Seratus lima puluh saja bagi Bang Parlin itu kecil," kata Bapak tersebut.


Ah, belum tahu saja Bapak ini, Bang Parlin yang dulu beda dengan Bang Parlin yang sekarang.


"Bentar ya, Pak, kami berunding dulu," kataku kemudian.


Aku dan Bang Parlin kemudian menjauh untuk berunding. Ada uang seratusan juta sebenarnya. Tapi uang itu untuk biaya pupuk dan segala macam, serta gaji para karyawan.


"Bagaimana, Bang, aku suka rumah itu," kataku kemudian.

__ADS_1


"Iya, Dek, tapi harganya seratus lima puluh juta, uang kita tinggal berapa lagi ?"


"Seratus dua juta, Bang,"


"Ha, kalau pun kita beli uangnya masih kurang, apa nanti gaji karyawan, sawit belum berbuah, sapi masih anakan," kata Bang Parlin.


"Ngutang aja dulu, Bang, aku pengen rumah itu," kataku lagi.


"Kau kan tahu, Dek, Abang paling anti berutang,"


Bang Parlin memang anti berutang, dia lebih baik menjual hartanya dari pada berutang. Belum pernah kulihat dia berutang, biarpun cuma jajan di warung sebelah.


Kami pulang tanpa solusi, untuk mengontrak pun Bang Parlin tidak mau, karena mau dijual pemiliknya juga. Bagaimana nanti jika kami kontrak tiba-tiba laku, harus pindah lagi ?


Padahal di Medan kami punya rumah, rumah warisan orang tuaku sudah kami beli dari dulu, sampai sekarang masih kosong. Aku lalu dapat ide untuk menjual rumah itu saja. Ketika kusampaikan pada Bang Parlin, dia tak setuju karena suatu saat nanti kami akan ke Medan juga. Akhirnya buntu, aku yang terlanjur suka sama rumah itu harus menahan diri.


Kami kembali ke kebun, tetap tinggal di rumah panggung di tengah kebun sawit. Bang Parlin sepertinya sudah pasrah, aku juga memang harus terima nasib, karena akulah dulu yang minta tinggal di sini, padahal aku sudah senang tinggal di Medan, tak tahan berjauhan dengan suami akhirnya begini.


"Ayah, jadi kita pindah ?" tanya Ucok di suatu sore, saat itu, kami sekeluarga lagi membawa Niyet dan Rembo jalan-jalan di pinggir sungai.


"Gak jadi, Cok," aku yang menjawab, aku yang memang bilang sama Ucok akan pindah ke dekat sekolahnya.


"Laahh, sayang sekali, padahal enak di situ, banyak teman, dekat ke sekolah," kata Ucok.


Bang Parlin hanya diam, matanya lurus menatap dua sapinya yang lagi merumput. "Atau kita jual saja yang dua itu, Dek ?" tanya Bang Parlin.


Anakku ini belum tahu permasalahan, jikapun dijual dua sapi tersebut, harganya tak sampai seratus lima puluh juta, lagi pula sapi itu kesayangan Bang Parlin sama Ucok.


Bang Parlin masih menatap dua sapi tersebut, kedua sapi itu pemberian orang. Satu diberi Rara, satu lagi diberikan teman Bang Parlin. Apa iya pemberian orang dijual ? Aku jadi ikut berpikir.


Semenjak itu Bang Parlin jadi sering termenung, mungkin dia merasa gagal membahagiakan keluarga. Ternyata Ucok juga ingin pindah. Memang tak ada teman sebaya Ucok di kebun sawit ini. Kesehariannya hanya berteman dengan Rembo si sapi raksasa.


Malam itu kulihat Bang Parlindungan berzikir, sampai jam tiga dini hari dia masih berzikir, aku heran sekali, semenjak nikah dengannya baru tiga kali ini dia berzikir begitu lama, pertama ketika rumah kami kemalingan, yang kedua ketika Ucok diculik orang. Kini apa lagi?


Dia hanya tidur sebentar, lalu solat subuh, terus pergi mengurus sapi. Lanjut mengantar Ucok dan Butet ke sekolah. Pulangnya Bang Parlindungan lanjut kerja, tak ada candaan lagi seperti biasa. Apakah aku sudah melukai hatinya lagi ?


Ketika malam tiba, sehabis salat isa, Bang Parlindungan kembali berzikir. Kali ini dia bahkan menutup badannya pakai selimut. Terus berzikir sampai larut malam, aku jadi khawatir dengan suamiku ini.


"Bang, kalau memang gak bisa pindah, gak apa-apa, Bang, adek ikhlas tinggal di sini," kataku pada Bang Parlin, ketika tengah malam dia istirahat berzikir dan lagi makan.


"Iya, Dek, kalau kita sudah tak mampu, menengadahlah ke atas, minta sama Tuhan," kata Bang Parlin.


Aku justru jadi khawatir Bang Parlin terganggu kejiwaannya, masa sudah tiga hari berturut-turut berzikir terus tiap malam. Padahal waktu Ucok diculik orang saja hanya zikir satu malam, ada apa ini ?

__ADS_1


Siang itu kami lagi makan, Ucok dan Butet baru dijemput Bang Parlin. Ketika kami asyik makan, tiba-tiba HP jadul Bang Parlin berbunyi, itu sesuatu yang jarang terjadi. HP itu lebih banyak disimpan sekarang, aku heran tiba-tiba bunyi, padahal dicharge pun jarang.


"Katanya dia Ilham," kata Ucok, Ucok yang menerima telepon tersebut.


"Siapa Ilham ?" tanyaku seraya mengambil HP tersebut.


"Kak Nia, ini saya Ilham," katanya dari seberang.


"Maaf Ilham yang mana ya ?" tanyaku seraya coba mengingat nama Ilham.


"Ilham yang sepupunya Rapi,"


"Oh kau nya itu, ada apa ?" Aku lalu teringat dulu dia larikan sapiku seharga tiga ratus juta, berani sekali dia menelepon ke mari.


"Aku mau datang ke rumah kakak, tapi rumah itu kosong kata tetangga kakak di desa,"


"Ya, kami di desa sekarang, memang ada apa ?"


"Begini, Kak, dulu kan pernah kami larikan uang kakak,"


"Ya, terus,"


"Hari itu kami sudah bayar setengah,"


"Ya, mau kau minta lagi ya ?"


"Bukan, Kak, tiga hari ini aku terus dihantui rasa bersalah, sudah capek aku cari kakak," katanya.


"Jadi ?"


"Jadi aku datang ke desa, sekarang lagi di simpang, aku tak tahu yang mana rumah kakak,"


Wah, dia datang ke mari? segera kuberitahu Bang Parlin, akan tetapi dia tampak tak terkejut, Bang Parlin lalu pergi menjemput Si Ilham ini. Ketika mereka datang, Ilham ini ternyata sudah kaya, dia datang naik fortuner. Begitu sampai dia langsung menyalamiku dan minta maaf.


"Tiga hari ini aku tak bisa tidur, selalu mimpi dikejar sapi, aku jadi teringat sapi kakak yang kularikan. Dulu kami baru bayar setengahnya, ijinkan aku bayar sisanya, kebetulan aku lagi ada rezeki," kata Ilham sambil berurai air mata.


Aku belum bisa bicara masih terkejut, lalu seorang pria turun dari mobil membawa bungkusan.


"Ini sisa uangku, Kak, seratus lima puluh juta lagi, tolong terima biar aku bisa hidup tenang," kata Ilham lagi.


Kuterima bungkusan berisi uang tersebut, tanganku gemetar, kulihat Bang Parlin, dia mengangguk.


"Terima kasih," hanya itu yang bisa aku katakan.

__ADS_1


Ilham lalu pulang. Tak lupa dia berterima kasih pada kami. Aku baru paham apa yang terjadi, ternyata Bang Parlin tiga hari ini menggunakan ilmunya supaya Ilham membayar hutang. Jumlahnya pas sekali, kami butuh seratus lima puluh juta, datang orang bayar hutang segitu juga. Luar biasa suamiku.


. _Bersambung yaaa ..._


__ADS_2