
...* Sayangku ( bukan ) Jadulku...
* Di Chapter ini ada kalimat atau adegan yang mengandung kekerasan, jadi bagi pembaca mohon bijak dala. menyikapi 🙏🏻*
Kini kesibukan kami justru makin banyak setelah pindah rumah, aku kini jadi kepala dusun yang sering diminta warga pendapat dan sering dipanggil urusan masyarakat. Bang Parlindungan kini jadi guru mengaji. Cara mengajar Bang Parlindungan ternyata banyak disukai orang tua murid. Makin lama muridnya makin banyak. Awalnya hanya mengajari ucok dan Butet, kini hampir seluruh anak di dusun ini belajar mengaji di rumah. Bahkan ada beberapa anak dari dusun lain yang belajar di rumah. Bang Parlindungan selalu terima muridnya tanpa ada syarat tertentu. Gratis lagi.
"Hanya punya ijasah SD, tapi sekarang panggilanku Guru Parlin," kata suami di suatu malam, saat itu ada orang lewat dan menegur Bang Parlindungan dengan panggilan Guru Parlin.
"Iya, Bang, aku juga gini-gini bisa jadi pejabat, biarpun jabatannya Kepala Dusun," kataku sambil terkekeh.
"Iya, Dek, semoga ini bisa jadi amal untuk kita," jawab Bang Parlin. Di daerah perkebunan ini memang jarang ada orang yang mau mengajar mengaji.
"Dek, bagaimana kalau kita bangun satu ruangan di situ khusus tempat ngaji, di sini sudah tak muat, murid makin banyak," usul Bang Parlin seraya menunjuk tanah kosong di samping rumah.
"Saran bagus, Bang, tapi dananya dari mana ? selama ini kita masih mengandalkan uang yang masih ada, belum ada pemasukan," kataku kemudian.
"Iya, ya, Dek, andaikan kita sekaya dulu,"
"Sabar, Bang,"
Ada tamu datang, seorang wanita tua dan seorang perempuan muda. Aku lalu mempersilahkan masuk dan duduk, dugaanku mereka mau berurusan dengan kepala dusun. Kepala Dusun di sini memang banyak urusannya, mulai dari ukur tanah, urus KTP, perpanjangan tangan ke kepala desa.
"Mau urus KTP, Bu ?" tanyaku setelah menghidangkan minuman.
"Bukan, Bu, mau bicara sama Bang Parlin," jawab ibu tersebut.
"Bangggg!" panggilku kemudian.
Bang Parlin yang sedang di belakang lalu datang dan menyalami dua tamu ini.
"Ada apa, ya, Bu ?" tanya Bang Parlin.
"Tolong Bang Parlin, ini anakku dipukuli suaminya, tubuhnya memar semua, sampai biru-biru," kata ibu tersebut seraya menunjukkan tangan wanita muda yang bersamanya.
"Waduh, maaf, Bu, sepertinya ini urusan Kadus," kata Bang Parlin seraya menunjukku.
"Tapi anakku ini ingin suaminya kembali dan baik lagi," kata ibu tersebut.
"Maaf, Bu, saya kurang tau masalah begini, sebaiknya konsultasi ke Kadus saja atau langsung ke kantor polisi." kata Bang Parlin.
"Gini Bang Parlin, kami mendengar kabar kalau Bang Parlin bisa mengubah orang yang sangat jahat jadi baik," kata Ibu iitu lagi.
"Kabar dari mana itu, Bu ?" aku jadi ikut kepo.
"Kami dengar gitu, sampai yang zolim lima tahun pun jadi baik, sampai nangis minta maaf, suami anakku ini baru pergi dua bulan, dia ingin suaminya kembali dan jadi baik," kata Ibu itu lagi.
Wah, sepertinya suamiku akan jadi konsultan pernikahan atau dukun ini, cepat sekali berita beredar. Sampai dibilang suamiku bisa mengubah orang jadi baik. Kutatap Bang Parlin, dia justru angkat bahu. Akan tetapi kasihan juga melihat Ibu ini, sudah dipukul suami pun masih berharap suaminya kembali dan jadi baik.
__ADS_1
"Maaf sekali, Bu, saya tidak bisa mengubah orang, yang dulu itu hanya kebetulan," kata Bang Parlin.
"Tolonglah, Bang Parlin, kasihan anakku ini, dia hamil empat bulan," kata Ibu tersebut, sementara anak perempuan itu mulai menangis.
"Waduh, bagaimana, ya, Bu ?" kata Bang Parlin.
"Tolong kami, Bang Parlin, lihat anakku ini, kasihan dia." kata Ibu itu lagi.
Karena terus didesak, akhirnya aku minta nama dan foto lelaki/ suami anak Ibu itu. Mereka pun pergi.
"Ini urusan paranormal," kataku pada Bang Parlin seraya memberikan kertas itu padanya.
"Bukan, itu urusan Kadus, dia, wargamu," jawab Bang Parlin.
"Kasihan juga, Bang, dia lagi hamil, ditinggal suaminya lagi, sudah dipukuli, bantu napa, Bang," kataku pada Bang Parlin seraya melihat foto tersebut. Pria yang cukup tampan, akan tetapi aku tak mengenalnya, padahal warga Dusun ini hanya sekitar seratus orang.
"Mau Abang apain, Dek ? Lapor ke polisi ? Abang paling malas berurusan dengan polisi," kata Bang Parlin.
"Abanglah itu mau gimana ?"
Bang Parlin justru menghindar, "udah, kita tidur, Dek," Ajak Bang Parlin.
Akan tetapi aku tak bisa tidur, terbayang bagaimana sakitnya anak perempuan tadi, sudah dipukuli lagi hamil, ditinggal lagi. Entah kenapa ada lelaki sejahat itu, akan tetapi Bang Parlin benar, bagaimana kami bisa bantu ?
"Adek gak bisa tidur, Bang, terbayang kakak yang tadi,' Kataku pada Bang Parlin.
" Waduh, ini baru pemimpin bagus, gak bisa tidur kalau ada warganya yang kesusahan, seharusnya adek calon presiden saja," kata Bang Parlin seraya tertawa.
Bang Parlin lalu mengambil HP, sudah lama dia tak main HP, semenjak tinggal di desa, Bang Parlin bisa menyesuaikan hidup. Jauh dari gadget.
Dia lalu menelepon entah siapa. Lalu Bang Parlin bicara dalam bahasa Batak Angkola, sejurus kemudian, Bang Parlin memoto foto yang ibu tadi berikan.
"Siapa itu, Bang ?"
"Anak sepupu kita, dia kanit jahtanras sekarang di polres,"
"Siapa itu ?"
"Raja Siregar, anaknya sepupu yang tinggal di Palembang,"
"Oh, Abang bilang apa ?"
"Ya, Abang bilang ada orang di sini yang aniaya istrinya, dia suruh melaporkan, Abang bilang gak ada waktu, eeh, dia mau cari orangnya, makanya dia minta foto, biar dicari anak buahnya, dia benci sama orang yang aniaya perempuan." jelas Bang Parlin.
"Oooo,"
"Dia mau datang kemari minggu besok," kata Bang Parlin.
__ADS_1
Dua hari kemudian, laki-laki itu memang datang, entah bagaimana cara polisi menyuruhnya dia pulang atau bagaimana, aku tak tahu, akan tetapi pria itu sudah ada di dusun ini lagi, aku tahu karena bertemu dengan ibunya, dia cerita menantunya sudah pulang.
Malam itu dusun kami geger, aku dipanggil jam satu malam, kata warga ada mayat ditemukan di bawah pokok sawit, jantungku jadi berdebar, aku takut perempuan itu dibunuh suaminya. Segera kubangunkan Bang Parlin, lalu menelepon kepala desa, terus kepala desa menghubungi polisi.
Sebagai Kadus aku harus hadir di TKP mendampingi kepala desa, Bang Parlin tak ikut karena anak-anak lagi tidur. Mobil polisi pun datang, keberanikan diri untuk melihat mayat tersebut, ternyata mayat laki-laki, dan astaga, setelah kusenter wajahnya, ternyata laki-laki tampan itu, yang dilaporkan mengania istrinya, dia bersimbah darah dengan perut terbelah dan ******** terpotong. Ngeri.
Keesokan harinya, polisi menangkap istri pria tersebut, ternyata istrinya yang membunuh suaminya karena tak tahan terus disiksa, dia tikam perut suaminya dengan alat panen sawit yang tajam itu. Dari perut terbelah sampai ke ********. Ngeri.
"Tak semua harus dibantu, Bu Kadus," kata Bang Parlin siang itu, saat itu kami lagi menunggu Raja Siregar, polisi yang janji mau datang silaturahmi.
"Iya, ya, menurut Abang pantas gak laki-laki seperti itu ditebas perutnya sampai putus itunya ?" tanyaku pada Bang Parlin.
"Gak ada komentar, sudah ramai di medsos," jawab Bang Parlin.
"Itu hukuman yang pantaa, jadi laki-laki bisa mikir jika mau menyiksa pasangannya," jawabku.
"Ah, Kadus bicaranya begitu, nanti banyak yang niru bagaimana?" kata Bang Parlin.
"Iya, justru bagus, biar lelaki begitu habis di dunia ini," kataku.
Yang ditunggu akhirnya datang, Raja Siregar ini tampak masih muda, dia lalu salim pada Bang Parlin.
"Ayah yang suruh aku datang silaturahmi kemari, Uda," kata Raja.
Ternyata Bang Parlin lagi-lagi jadi idola polisi, Ayah si Raja ini ternyata salut sama Bang Parlin, dia sering bercerita tentang Bang Parlin pada anaknya.
"Ayah titip ini," kata Raja Siregar seraya menyerahkan segepok uang.
"Wah, uang apa ini ?" tanya Bang Parlin.
"Kata ayah, utangnya, aku mana tau," kata Raja Siregar.
Raja bercerita, Bang Parlin pernah bantu ayahnya si Raja ini dulu, sudah lama sekali, sudah ada lima belas tahun lebih. Luar biasa, mereka masih ingat jasa orang biarpun sudah belasan tahun.
"Alhamdulillah," Kata Bang Parlin. Ada yang aneh, biasanya Bang Parlin akan berusaha menolak, ini langsung diterima. Setelah Raja pulang, langsung kutanya suami.
"Begini jalan rezeki kita, Dek, ketika ada yang diinginkan, ada yang ngantar uang," kata Bang Parlin.
"Emang apa yang Abang inginkan ?"
"Buat yang baru, Dek,"
"Yang baru apanya, mau keluarga baru ya, mau kubelah ini," kataku saya meremas ************ Bang Parlin. Aku sebenarnya hanya gemas saja. Kebetulan ada laki-laki di dusun ini yang itunya terbelah karena dianiaya suami.
"Ampun, Dek, ampun, Abang mau bangun sekolah mengaji di situ, kan dah Abang bilang hari itu," kata Bang Parlin.
Memang mungkin begini rezeki kami, ada yang diinginkan ada yang antar.
__ADS_1
"Bang, aku ingin emas sebesar kepala kuda, ada yang antar nanti gak ?" candaku pada Bang Parlin. Dia justru mengacak rambutku sambil tertawa.
_To be Continued ..._