SAYANGKU JADULKU

SAYANGKU JADULKU
Season 2 Bab 23


__ADS_3

...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...


Terharu rasanya melihat kekompakan empat bersaudara ini, Bang Nyatan sebagai yang tertua lalu menanyakan berapa modal yang kami butuhkan. Sebenarnya banyak, sawit baru bisa panen empat tahun lagi, sedangkan sapi sudah habis. Sementara usaha sampingan Bang Parlindungan yang jual beli tanah tak diteruskan lagi. Kami butuh modal yang banyak. Untuk meminjam Bang Parlin pasti tidak mau.


"Dulu, aku pernah dimodali si Parlin, kalau tak salah waktu itu empat puluh juta, jadi dihitung dengan nilai uang sekarang, sudah banyak. Aku akan berikan seratus juta untuk kalian," kata Bang Nyatan.


Aku makin terharu, begitu mudahnya saudara ini membantu saudaranya, uang seratus juta dengan mudah dia berikan. Akhirnya aku kembali ke Medan, anak-anak harus sekolah, sedangkan Bang Parlin masih harus kerja di kebun sawit, sawit yang baru ditanam tak bisa ditinggalkan.


Untuk pertama kali semenjak menikah, aku merasakan LDR, berjauhan dengan suami, untunglah kami masih punya asisten rumah tangga. Bu Ratna tetap setia bekerja sama kami, padahal gaji terakhirnya sudah telat, baru ini bisa dibayarkan.


Aku juga terpaksa antar jemput anakku pakai motor, tak ada lagi mobil, kini aku benar-benar sendirian. Siang itu secara tak sengaja bertemu Rapi, saat itu aku terkejut dengan suara klakson mobil yang terus menerus di belakangku, aku sempat marah, ingin kumaki tapi ada Ucok di boncengan, aku tak ingin dia lihat ibunya maki orang. Akan tetapi klakson itu terus menerus, sedangkan lampu masih merah.


"Woi, pakai mata, lihat merah itu," kataku akhirnya.


Barulah kaca terbuka, kepala nongol dari mobil, ternyata Rapi.


"Ya, ampun, kaunya itu, Rapet, untung juga gak kulempar kau pake helm,"


"Hahaha, Niyet, Niyet," kata Rapi.


Lampu sudah berubah jadi hijau, aku harus jalan, akan tetapi Rapi masih memepetku.


"Apa kabar, Niyet," serunya dari balik kemudi.


"Kabar baik, dah kaya kau sekarang ya ?"


"Alhamdulillah, berkat ilmu dari Bang Parlin, aku bisa begini," kata Rapi, dia lalu meminggirkan mobilnya dan menyuruh aku berhenti.


"Mana Bang Parlin ?" tanyanya lagi.


"Itulah, dia sekarang di desa, urus kebun, kami bangkrut, mulai dari awal lagi sekarang,"


"Oh, begitu,"


"Aku mau tawarkan pekerjaan untukmu kalau kau mau."


"Pekerjaan apa itu ?"


"Jadi admin, istriku sekarang kan bisnis online, jadi mulai naik, ini saja tadi dari ngantar pesanan, jadi demi masa lalu aku tawarkan kau jadi admin," kata Rapi.


"Aku tanya suami dulu," jawabku sebelum akhirnya dia lanjut perjalanan.

__ADS_1


Aku mulai berpikir, memang aku harus kerja. Sawit kami baru tiga tahun lagi panen, Bang Parlin sepertinya tak tahu kerjaan lain selain sawit dan sapi, aku akan mengambil alih. Akan tetapi aku tak tertarik jadi admin seperti yang ditawarkan Rapi, aku ingin jualan online sendiri.


Aku mulai belajar, tanya sana tanya sini akhirnya kumulai jualan masakan, apa yang dipesan orang kumasak. Tiga hari kemudian aku dapat orderan pertama. Yaitu nasi goreng untuk pesta ulang tahun seorang anak. Segera kumasak, dibantu Bu Ratna, dengan cepat selesai tepat waktu. Aku terharu dengan penghasilan pertamaku sejak nikah.


Bang Parlin justru marah ketika tahu aku kerja, tak main-main dia langsung datang dari kampung.


"Ada apa ini, Dek ? apakah abang sudah tak sanggup menafkahimu sehingga adek kerja tanpa permisi?" kata Bang Parlin begitu dia sampai di rumah. Belum juga meletakkan tas. Kebetulan aku lagi sibuk bekerja.


"Bukan begitu, Bang, aku hanya membantu,"


"Iya, Dek, tapi harus ijin suami dulu, lihat itu si Butet, itu saja urus, Abang masih mampu, Dek, tolong, jangan buat abang makan penghasilan istri," kata Bang Parlin.


Seserius ini ternyata, Bang Parlin sepertinya marah sekali, seakan-akan aku telah melakukan kesalahan fatal, padahal aku hanya kerja.


"Bang, sudah saatnya abang berubah, jangan sok berprinsip begitu, sadarlah, Abang bukan lagi juragan sapi seperti dulu," aku kesal juga. datang-datang dia langsung marah.


"Dek !" Bang Parlin justru balas membentak, sehingga mengejutkan Butet yang sudah ada di gendongannya. Begitu Bang Parlin datang anak bungsuku itu memang langsung melompat ke ayahnya.


"Aku hanya kerja, Bang, bukan pergi shopping seperti istri orang lain, masa Abang marah," kataku tak mau kalah.


Aneh memang pertengkaran kami, suamiku justru marah aku ikut bantu cari uang, dia terlalu teguh memegang prinsipnya. Padahal dia sudah bangkrut, apa salahnya aku ikut bantu.


Sebel juga punya suami yang terlalu teguh pegang prinsip begini. Kerja pun salah, tapi kami kekurangan uang, butuh biaya banyak sampai sawit berbuah lagi.


Dengan perasaan kecewa terpaksa aku hentikan kegiatan jualan online, padahal sudah mulai ada pelanggan.


"Ini ada uang enam juta, cukup sampai satu bulan kan, Dek ?" kata Bang Parlindungan di suatu malam. Saat itu dia bersiap mau kembali ke desa mengurus kebun sawit.


"Iya, Bang, sudah lebih dari cukup," jawabku.


"Tolong ya, Dek, jangan kerja, jadi Ibu rumah tangga saja, itu pekerjaan mulia, Dek, mendidik anak itu pekerjaan berat, jangan tambah lagi kerjaan," kata Bang Parlin lagi.


"Iya, Bang, iya,"


"Kalau bisa, urus saja surat pindah si Ucok sama si Butet, kita pindah ke desa saja," kata Bang Parlin.


Tentu saja aku terkejut mendengarnya, dulu Bang Parlin bilang ingin tinggal di kota menikmati hidup, kini kembali lagi ke desa, sungguh aku tak bisa membayangkan tinggal di tengah kebun sawit, Anak-anak nanti tak punya teman. Seumur hidup aku tak pernah tinggal di desa, adapun pernah ke desa selalu ikut suami, aku bahkan tak bisa masak waktu di desa, karena tak terbiasa memakai kayu bakar.


"Bang, kenapa harus tinggal di desa ?" tanyaku dengan hati-hati.


"Kita mulai dari awal lagi, Dek, tak mungkin abang harus bolak-balik dari desa ke kota, ini hanya sampai sawit berbuah, Dek,"

__ADS_1


"Itulah kubilang, Bang, sebelum sawit berbuah aku kerja, biar gak berat kali Abang," kataku kemudian.


"Mulai lagi, Dek, tolong hargai aku sebagai kepala rumah tangga, jangan biarkan aku makan pencarian istri, tolong, Dek," kata Bang Parlin.


"Iya, Bang, iya," kataku akhirnya.


Bang Parlin berangkat lagi ke desa, tangisan si Butet mengiringi kepergian Bang Parlin. Aku ikut sedih, kata Bang Parlin sebulan lagi baru dia datang. Ini waktu terlama aku ditinggal.


Setelah dia pergi, aku justru tertarik lagi jualan online, aku tahu Bang Parlin tak lagi main medsos, dia pasti tak tahu. Toh, aku hanya mau kerja membantu suami. Uang yang dia berikan kumodalkan lagi, kali ini aku berjualan pakaian. Kutawarkan pada teman, pada saudara.


Hari itu aku mau antar pesanan orang, sekalian mau jemput si Butet sekolah. Pakaian yang kuantar tempatnya agak jauh, kebetulan pula yang pesan tidak ada di rumah, terpaksa kutunggu karena belum dibayar, untuk kembali sudah terlalu jauh. Ada satu jam aku menunggu baru yang pesan baju itu datang, dia ngajak ngobrol pula tentang model tas terbaru.


Aku baru ingat mau jemput si Butet karena melihat anaknya. Duh, sudah terlambat dua jam lebih, aku segera permisi dan tancap gas menuju sekolah Butet. Sedangkan Ucok pulang agak sore karena sekolah SDIT. sampai di gerbang sekolah, tak ada Butet di situ, biasanya dia sudah berdiri di gerbang menunggu aku datang menjemput.


"Pak, Butet ada lihat dah pulang ?" tanyaku pada penjual bakso bakar yang mangkal di gerbang sekolah.


"Oh, Butet, yang anaknya gemuk kan ?"


"Iya, Pak,"


"Tapi sudah lama pulang, tadi dia jajan bakso lagi." kata Bapak itu.


"Duh, dia pulang sama siapa ?"


"Gak tau, Bu, gak kuperhatikan tadi,"


Ya, Alloh, anakku, segera aku bertanya lagi pada Pak satpam, akan tetapi jawabannya tetap sama, sudah pulang semua murid. Segera kutelepon Bu Ratna, Bu Ratna bilang belum ada sampai di rumah. Ya, Alloh, dia baru tujuh tahun, sekolah ke rumah jaraknya tiga kilo meter, segera kupacu motor matic-ku lagi kulihat di pinggir jalan siapa tahu dia pulang jalan kaki, akan tetapi tak ada.


Sampai aku di rumah tak ada juga, kupacu lagi motorku, dalam hati aku berdoa. "Ya, Allah, lindungi anakku."


Sampai dua kali aku bolak-balik sekolah ke rumah, akan tetapi Butet tak kelihatan juga, aku mulai panik, bingung, Ya, Allah, inikah karena aku membantah suami?


Karena kalut dan panik, aku bawa motor kurang hati-hati, sehingga aku menabrak mobil yang lagi memutar.


Brukkkk !


Aku terpental, motorku menghantam body mobil mewah tersebut. Kemudian semua gelap, aku tak ingat apa-apa lagi..


Bagaimana nasib Butet ...


_Bersambung yaaa ..._

__ADS_1


__ADS_2