
...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...
Siapa Cut Ana? karena tidak tahu bicara dengan siapa, kumatikan panggilan telepon, terus kupriksa akun tersebut. Tak berteman dengan Bang Parlin, kami berteman, tapi belum pernah kulihat dia komen di statusku, penasaran kuklik akunya, cari foto, akan tetapi tak ada foto sama sekali, ini mungkin jenis orang yang hanya melihat tapi tak pernah meninggalkan jejak.
"Siapa itu, Dek?" tanya Bang Parlin?"
"Gak kenal, Bang,"
"Adek ini bagaimana, sih? gak kenal tapi berteman, tau pula nama Abang,"
"Teman fb-ku hampir lima ribu, Bang, gak mungkin aku kenal semua,"
Akun Cut Ana itu menelepon lagi, kali ini dia video call lewat messenger. Aku lihat wajahnya, pakai jilbab hitam, wajahnya seperti tak asing, akan tetapi aku sungguh lupa.
"Niyet, sombong kali kau, gak kenal lagi samaku," katanya.
Aku baru ingat siapa dia, dia Riswana, teman masa SMA-ku. Setahuku dulu dia gak pakai Cut.
"Kaunya itu, Riswana? kok di Langsa ini kau, kan kau orang Binjai?" kataku.
"Iya, hidup membawaku ke mari, datanglah ke rumahku," katanya kemudian.
Kami pun saling tukar nomor WA, terus dia sharelok lokasinya. Batal masuk hotel, kami memutuskan pergi ke rumah si Cut Ana ini. Begitu kami sampai, aku terpana dengan rumahnya sangat besar. Mobil mewah terparkir di depan rumah tersebut. Ternyata si Cut Ana ini orang yang sangat kaya.
Kami dijamu makan minum di rumah tersebut, akan tetapi tak kulihat suami Cut Ana, tak ada juga anak-anaknya, untuk bertanya aku segan. Dia sepertinya masih seperti dulu, pendiam dan cenderung tertutup. Dia kaya raya, akan tetapi tak pernah unggah kekayaannya di medsos, bahkan foto dirinya tak ada di medsosnya.
"Enak kau ya, Ana," kataku ketika kami duduk-duduk di gazebo depan rumahnya.
"Alhamdulillah,"
"Kok kau tertutup kali, gak gabung geng kita, ada si Rapet, si Malik," tanyaku lagi.
"Kau kan tahu, Niyet, aku orangnya kurang gaul,"
"Jadi, bagaimana bisa kau begini?"
"Karena suami,"
"Oh, ya, mana suamimu,"
"Dia di Brunei, Niyet, pulang hanya tiga bulan sekali,"
"Oh, begitu,"
"Suamiku memang kaya, Niyet, tapi dia hanya satu malam bersamaku, baru tiga bulan pergi, apakah aku bahagia?"
"Bahagia itu ukuran di sini," kataku seraya menunjuk dada.
"Entahlah, Nia, anak pun tak ada, aku mau minta cerai saja,"
"Sudah kau pikirkan?"
"Sudah satu tahun ini aku pikirkan, padahal suamiku punya kapal, kan seharusnya bisa dia punya lebih banyak waktu, tapi dia gak mau, katanya lautan itu rumah pertamanya, aku dikasih pilihan tinggal di Brunei ataupun di sini, aku pilih di sini, dia melanglang buana sampai entah kemana, sekarang lagi di Brunei,"
"Tunggu dulu, tanya dulu Bang Parlin," usulku kemudian.
"Memang Bang Parlin bisa apa?"
__ADS_1
"Suamiku punya solusi hampir di setiap masalah," kataku kemudian.
Lalu kupanggil Bang Parlin yang lagi bermain bersama Ucok dan Butet. Kuceritakan pada Bang Parlin masalah yang didapat temanku ini. Bang Parlin tampak berpikir. Lalu ....
"Bisa telepon suaminya?" tanya Bang Parlin.
"Bisa, kebetulan dia lagi di darat," kata Cut Ana.
Lalu Cut Ana melakukan panggilan video dengan suaminya tersebut.
"Saya Parlin, keluarga Ana," kata Bang Parlin memperkenalkan diri.
"Ya, Ada apa ya,"
"Begini, kami mau bawa Ana keliling Indonesia, bisa satu bulan, mulai Sabang Sampai Marauke," kata Bang Parlin.
"Maaf, saya tidak izinkan,".
"Hanya sebulan,"
"Satu bulan pun, tidak boleh,"
"Tapi Anda pergi keliling dunia tiga bulan,"
Lelaki itu tampak terdiam, dia mungkin tak tahu harus ngomong apa.
"Tapi kan ini kerja, cari uang?" kata Pria itu akhirnya.
"Belum cukup kah?"
"Tidak ada kata cukup, aku lakukan ini karena butuh dan suka,"
"Anda siapa sih, berani sekali ngomong begitu,"
"Sudah dibilang, aku Parlin, saudaranya Ana, kami akan pergi ya, hanya satu bulan,"
"Tidak bisa,"
"Ini kami sudah mau berangkat,"
"Tunggu sampai malam, aku datang," katanya seraya menutup panggilan.
"Waw! hebat, Bang Parlin, sudah belasan tahun tak pernah dia begitu, sekali telepon langsung datang," seru Cut Ana.
"Laki-laki memang begitu, kadang egois, tapi takut istrinya kenapa-kenapa," kata Bang Parlin.
"Abang berbohong, kita kan hanya sampai Sabang, gak sampai Merauke," kataku protes.
"Ada tiga jenis kebohongan yang disukai Rasulullah, satu bohong suami pada istrinya, dua bohong ketika taktik di medan perang, dan ketiga bohong untuk mendamaikan dua orang yang berselisih, kurasa ini masuk yang ketiga," kata Bang Parlin.
"Tunggu dulu, Bang, apa tadi yang pertama?"
"Bohong suami sama istrinya,"
"Oh, berarti Abang sering bohongi aku ya," kataku cemberut.
"Iya, Dek,"
__ADS_1
"Ish, Abang, contohnya dulu, kapan Abang bohong? Apa yang Abang bohongkan?"
"Begini, Dek, contohnya Abang bilang masakan adek enak, padahal keasinan," kata Bang Parlin seraya tersenyum.
"Ooo, lagi?"
"Abang bilang adek seksi, padahal ...!"
"Padahal apa, Bang?"
"Padahal bukan cuma seksi, tapi seksi sekali,"
Aku tertawa seraya mencubit pinggang Bang Parlin.
"Hahaha, aku iri dengan kebahagiaan kalian," kata Cut Ana.
Malam harinya suami Ana benar-benar datang, kami juga masih menginap di rumah besar tersebut. Begitu datang tangis haru Ana pecah, entah, padahal menurutnya baru dua minggu yang lalu suaminya datang. Kini sudah datang lagi.
"Saya sangat tertarik dengan keliling Indonesia ini," kata suami Ana, ketika kami makan malam bersama.
"Sudah lama saya ingin keliling Indonesia, kebetulan kalian mau pergi, kita pergi bersama sekalian," katanya lagi.
Kulihat Bang Parlin, dia justru angkat bahu, itu tandanya dia sudah tak tahu, dalam hati aku tertawa, ini kebohongan yang bagaimana?
"Memangnya gak kerja?" tanyaku kemudian.
"Aku mau jujur saja, maafkan aku, Ana, sebenarnya bisa saja aku tidak kerja, tapi aku tak bisa menghentikan hobby yang berpetualang itu, satu hari saja gak jalan, aku sudah mau stress, pernahnya kuajak kau ikut, tapi kau bilang kau orang rumahan," kata Suami Ana.
Kutarik Bang Parlin untuk bicara berdua, kebohongannya sudah fatal, kini kami harus keliling Indonesia,bagaimana dengan sekolah Ucok, bagaimana dengan Butet? mana bisa dibawa keliling Indonesia sampai Merauke sana.
"Bang, bagaimana ini, ini kebohongan demi kebaikan itu ya?" cecerku ketika kami berdua.
"Duh bagaimana lagi, kita keliling Indonesia sekalian,"
"Apa, Bang, bagaimana sekolah si Ucok?"
"Udah, kita ikuti saja sampai Sabang, baru balik ke Medan, orang itu lanjut, kita sampai di Medan saja," kata Bang Parlin.
Suami Ana benar-benar mau ikut, mobil fortuner mereka siapkan. Suami Ana tampak antusias sekali. Dia bahkan mencari dua sopir, satu untuk mereka, satu untuk kami.
"Terima kasih, Bang Parlin, entah bagaimana caraku berterima kasih," kata Cut Ana sebelum kami berangkat.
"Iya, sama-sama," kata Bang Parlin.
"Tolong terima ini, Bang Parlin, sebagai tanda terima kasihku," kata Cut Ana seraya memberikan amplop.
"Aduh, kok pake amplop, gak usah," kata Bang Parlin.
"Kami terima, terima kasih banyak," kataku seraya meraih amplop itu.
"Gak boleh tolak rezeki, Bang," kataku ketika Bang Parlin melihat ke arahku.
Kami berangkat, kota Loksumawe adalah persinggahan berikut.
"Bang, kita buka biro konsultasi aja, Bang, kayaknya Abang berbakat," candaku seraya menunjukkan isi amplop ke Bang Parlin.
"Sedekahkan uang itu, Dek, bagi dua lembar setiap kita singgah di mesjid, lima kali dalam satu hari, berarti satu juta sehari, sampai habis," kata Bang Parlin.
__ADS_1
* yuk kita masih lanjut apa lagi yang akan dibuat bang parlin ini nanti 🤠*