
...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...
"Aduh, Dek, abang jadi merasa bersalah sekali," kata Bang Parlindungan.
Foto Burhan terpampang di layar televisi. Ada pula wawancara dari tetangga Burhan. Dia mengaku sebelum kejadian melihat ada tamu sepasang suami-istri dan dua anak. Ya, Allah, itu kami.
"Bagaimana ini, Bang?" aku juga ikut khawatir.
"Seandainya tadi kita bantu, Dek," kata Bang Parlin.
"Tidak, Bang, yang seperti itu tak layak dibantu,"
Aku makin khawatir ketika berita di TV menayangkan vidio CCTV ketika kami pulang dari toko Burhan. Ya, Allah, apakah kami akan tersangkut kasus di sini, niat kami di sini hanya liburan.
Tiba-tiba HP jadul Bang Parlin berbunyi, ada panggilan dari nomor tak dikenal. Bang Parlin memberikan padaku, dan ...
"Halo, ini keluarga Parlin Nia, dengan siapa ya?" kataku kemudian.
"Selamat pagi, Bu, kami dari kepolisian, ada korban diduga bunuh diri, kami periksa HP-nya, nomor ini yang terakhir dia hubungi," kata polisi itu.
"Oh, ya, benar, kami sudah lihat di berita TV," kataku dengan dada berdebar.
"Bisa datang ke kantor polisi sekarang," kata polisi itu lagi.
Duh, bagaimana ini, Bang Parlin orang yang anti berurusan dengan kantor polisi, kulihat Bang Parlin. Dia angkat bahu. Itu tandanya terserah aku.
"Baik, Pak, kantor polisi mana ya, Pak?" kataku akhirnya, ini harus dijelaskan, aku khawatir kami dicurigai yang bukan-bukan.
Pak polisi itu lalu mengatakan nama polseknya, "atau beritahu keberadaan kalian biar dijemput," katanya lagi.
"Kami saja yang ke sana, Pak," jawabku dengan cepat, tak bisa kubayangkan kami dijemput mobil polisi.
"Kita disuruh datang ke kantor polisi, Bang," laporku pada suami.
"Ah, gak mai, kita pulang saja," jawab Bang Parlin. Suamiku ini memang sangat anti berurusan dengan polisi.
"Harus, Bang, kita harus jelaskan yang sebenarnya, nanti kita dicurigai," kataku lagi.
"Pokoknya gak mau, kita ke sini mau liburan, masa jadi berurusan dengan polisi," Bang Parlin tetep tidak mau.
"Udah, Abang tunggu di sini, jaga anak-anak, biar aku sendiri yang pergi," kataku akhirnya.
__ADS_1
"Jangan, Dek, mana mungkin Abang biarkan adek pergi sendiri," cegah Bang Parlin.
Akhirnya setelah bujuk rayu Bang Parlin mau juga diajak ke Kantor polisi. Di kantor polisi kami sudah ditunggu oleh polisi, kami langsung diarahkan ke ruangan juper. Ada polisi berpangkat melati satu, Aku heran juga, kenapa langsung ada Kapolseknya, Melati satu di Polsek itu berarti kapolsek, bukan anak buahnya atau juper yang periksa.
"Selamat Pagi, Pak, maaf mengganggu," kata Pak Kapolsek tersebut.
"Pagi juga, Pak," jawab Bang Parlin.
"Bisa ceritakan hubungan Anda dengan korban?" kata Pak Kapolsek tersebut. Di sampingnya ada seorang polisi lagi mengetik di komputer.
"Bisa, Pak, kami tak ada hubungan keluarga, hanya saja saya pernah bantu dia dulu untuk modal usaha,"
"Lalu kalian datang menagih gitu?" potong polisi yang disampingnya.
"Bukan, Pak, kami datang karena dia undang, kebetulan kami lagi di Pulau Jawa ini, si Burhan ini dulu pernah saya bantu modal, dia bangkrut ditipu istrinya sendiri, dia minta modal lagi, mana kukasih, katanya kalau gak kubantu dia akan bunuh diri, istrinya minggat, istri mudanya melarikan uangnya, ya, silakan bunuh diri, tapi kami pergi dulu, kata saya, ya, kan gitu, Pak, masa dia mau bunuh diri di dekatku," kata Bang Parlin.
Polisi yang lagi mengetik justru tertawa.
"Jadi Anda kasih dia modal, bangkrut, lalu dia minta lagi, berapa Anda ambil bunganya?" tanyanya kemudian.
"Bunga apa?"
"Bunga pinjaman,"
"Hahaha," Polisi itu tertawa lagi. Entah apa yang lucu. Aku jadi kesal juga. Sementara kapolsek terus mengamati kami.
"Ada yang lucu kah, Pak?" aku akhirnya bicara juga.
"Maaf, Bu, lucu saja, masa jaman sekarang ini masih ada yang kasih orang modal tanpa bayar, tanpa pinjam, kasih saja begitu? bukan saudara pula," kata polisi ini.
"Begini ya, Pak, suami saya bayar zakat tiap tahun, setiap tahun zakatnya kira-kira dua puluh lima juta dan semua itu diberikan kepada satu orang yang betul-betul membutuhkan, dan si Burhan ini salah satu yang mendapat zakat suami saya, apakah itu sesuatu yang lucu?" aku geram juga akhirnya.
"Bang Parlin?" kapolsek tiba-tiba berseru. "Parlindungan Siregar?" jelasnya lagi.
"Iya, Pak," kata Bang Parlin. Aneh juga, padahal baru datang tadi data kami sudah dijelaskan.
"Parlindungan Siregar? yang kebun sawit dan sapinya banyak?"
"Iya, Pak," kataku dan Bang Parlin hampir bersamaan.
Kapolsek itu berdiri, dia salim dan cium punggung tangan suami. Lah, ada apa ini, siapa dia? Polisi yang di depan komputer pun sepertinya heran.
__ADS_1
"Ibuku Sari, Sarilanna Lubis," kata polisi itu lagi.
Aku masih belum tahu, akan tetapi Bang Parlin juga sepertinya masih bingung. Kapolsek lalu menyuruh kami masuk ke ruangannya. Aku tambah heran. Tak sabar juga menunggu apa hubungan Bang Parlin dengan polisi ini.
"Maaf, Bang, Parlin, Bang Parlin mungkin tak kenal ibuku, tapi ibu saya dulu sering cerita tentang Bang Parlin, orang kaya yang dermawan. Saya juga jadi begini karena Bang Parlin,"
Aku justru makin heran, tak kenal tapi bagaimana bisa karena Bang Parlin?
"Begini Bang Parlin, dulu ketika saya lolos masuk akademi kepolisian, ibu saya tak punya uang sama sekali. Ada tetangga kami yang bantu, oh, kenalkan dulu, nama saya Ali Akhir Pulungan. Tetangga kami itu baik sekali, dia cerita tentang arisan kebaikan dari Bang Parlin, ibu saya diberikan uang untuk biaya saya, katanya bayarnya sama orang lain yang membutuhkan, Ibu saya selalu berpesan supaya saya seperti Bang Parlin, rendah hati tapi kaya raya, berbuat baik tanpa mengharapkan pamrih," jelas kapolsek tersebut.
Aku mulai paham, Pak Ali Akhir ini dibantu oleh orang yang pernah dibantu Bang Parlin, dia generasi kedua dari kebaikan berantai tersebut. Luar biasa.
"Apakah bapak sudah lakukan seperti yang dilakukan suamiku?" aku akhirnya bertanya juga.
"Sudah, bahkan saya sudah bantu lima orang, setiap saya bantu saya selalu berpesan bantu tiga orang, saya selalu bilang ini ide Bang Parlin, alhamdulilah ya, Allah, akhirnya saya bertemu idola saya," kata kapolsek itu lagi.
Wah, ada kapolsek mengidolakan suamiku.
"Kebaikan berantai ini luar biasa, bayangkan, setiap tahun satu orang yang terbantu, jika sepuluh tahun sudah sepuluh orang, sepuluh orang itu bantu tiga orang jadi tiga puluh, yang tiga puluh bantu tiga orang, jadi sembilan puluh. Luar biasa, saya salah satu hasilnya," Pak kapolsek ini tampak antusias.
"Siapa nama tetangganya?" tanya Bang Parlin.
"Pak Komar, dia pengusaha bahan bangunan, Bapak itu sering cerita tentang Bang Parlin," jawab polisi tersebut.
"Oh, Pak Komar, beliau itu yang pertama saya bantu dulu, dia tukang bangunan dulu, lalu sakit gak bisa kerja lagi, katanya dia mau buka toko bahan bangunan saja, saya kasih dua puluh juta, itu zakat harta pertama saya," kata Bang Parlin.
"Pak Komar sudah meninggal, Bang,"
"Innalillahi waini ilaihi rojiun,"
Kami akhirnya jadi tamu istimewa, dijamu di ruangan kapolsek. Siang harinya dibawa kapolsek makan di restoran. Sore harinya pulang kerja rumah kapolsek tersebut.
Tiba di rumah kapolsek, Ibu polisi itu ternyata tinggal bersamanya, tangis haru pun terjadi. Ibu tersebut sampai memeluk Bang Parlin.
Malam itu kami habiskan bercerita tentang masa lalu. Luar biasa, tak saling kenal tapi bertemu layaknya saudara dekat yang sudah lama tak jumpa. Kebaikan berantai Bang Parlin ternyata ada juga hasilnya. Memang jika dipikir-pikir, sudah lima belas tahun Bang Parlin berzakat, kebaikan itu sudah menyebar sampai ke mana-mana. Tak selamanya berhasil, ada juga yang tidak berhasil. Burhan contohnya, dia justru jumawa setelah sukses.
Kami di ajak keliling jakarta, tiga hari di Jakarta tiap hari pergi jalan-jalan. Mulai dari Ragunan, Monas, Ancol, sampai taman safari Indonesia kami datangi. Tak lupa aku foto-foto, iseng kufoto diriku lagi bersama si Ucok di Monas, ku-upload di Facebook.
(Nia, kalian di Jakarta ya, gak bilang-bilang?) si Rara yang duluan komentar.
Lah, ke Bandung lagi ini.
__ADS_1
* Nah...nah...apa bakal cemburu lagi niyet ke si merah ini 🤭😁 .... *