
...* Sayangku ( bukan ) Jadulku...
Bang Parlin mau bangun sekolah mengaji di samping rumah. Lahan seluas lima kali sepuluh itu akan dibangun parmenen. Dananya juga sudah ada pemberian orang tua Raja Siregar. Anak dari keponakan Bang Parlin yang tiba-tiba datang memberikan uang.
Material bangunan mulai dipesan, tukang juga sudah dicari. Perijinan pun mulai kuurus. Ketika mengurus perizinan ini kepala desa sempat bertanya padaku.
"Maaf, Bu Kadus, bukan maksud berburuk sangka atau bagaimana, dari mana kalian bisa bangun sekolah mengaji begitu, karena dari keterangan warga sekolah mengaji itu gratis?" tanya bapak kepala desa tersebut.
"Hehehe, begitulah Pak, selalu ada rezekinya," jawabku.
"Hati-hati dapat dana dari sumber tak jelas, Bu, nanti terjebak *******," kata bapak kepala desa ini lagi.
Waduh, bisa-bisanya bapak kepala desa ini curiga begitu, haruskah kujelaskan semua dari mana kami dapat dana ?
"Ah, tidaklah, Pak,"
"Hati-hati saja, Bu, hanya itu pesan saya, sebetulnya maaf ya, saya juga heran dengan kalian, saya dapat info kalian dapat uang untuk beli rumah itu hanya dalam jangkauan satu minggu, sementara sawit kalian masih belum panen, baru lima bulan sudah mau bangun lagi, saya saja yang kepala desa dan punya lahan sawit tidak bisa begitu." kata bapak kepala desa ini.
Dalam hati justru aku tertawa, ternyata memang di mana-mana ada yang seperti ini, dulu waktu di kota, kami dituduh pelihara babi ngepet, karena punya uang banyak tapi kelihatan tak bekerja. Sekarang kami dicurigai dapat dana dari ******* karena bangun sekolah mengaji. Memang kalau dipikir secara logika tidak mungkin, dalam satu minggu bisa dapat uang seratus lima puluh juta. Apakah aku harus jelaskan semua ?
Pembangunan pun dimulai, ada dua tukang yang mengerjakan, rencananya akan dibuat dua ruangan, murid-murid akan dibagi dua kelas, itu artinya kami harus cari guru lain. Siapa guru yang rela tak digaji ?
Mungkin jalan rezeki kami memang dari berbagai arah, begitu kami mulai membangun banyak yang menyumbang tenaga ataupun material bangunan. Para orang tua murid bergotong royong membangun sekolah itu.
Ternyata tinggal di desa jika kita cepat maju akan jadi gunjingan orang. Bahkan sekelas kepala desa pun ikut menggunjing kami. Sampai kepala desa bilang kami harus menjelaskan materi pelajaran yang diajarkan Bang Parlindungan. Bahkan disuruh menjelaskan dari mana dana membangun sekolah tersebut.
"Jangan sampai desa kita ada bibit radikal, cara mengajar Bang Parlindungan unik, orang sekarang pakai iqro, dia masih alip ba ta, terus sekolah gratis, tapi bisa bangun gedung, kalian harus jelaskan dari mana dananya, jangan sampai desa kita jadi tempat pencucian uang atau tempat penampungan uang *******." begitu kata kepala desa saat dia datang berkunjung.
Mungkin dia hanya merasa kalah pamor sama Kadus, seorang Bang Parlindungan bisa menggerakkan hampir seluruh bapak-bapak desa ikut bergotong-royong, bisa menggalang dana entah dari mana saja.
Kulihat Bang Parlindungan, berharap suamiku ini mau menjelaskan, mungkin penjelasan Bang Parlindungan bisa diterima akal.
"Bagaimana aku harus menjelaskan ya, Pak ?" kata Bang Parlin.
"Jelaskan saja, apa susahnya ?" kata bapak kepala desa.
"Begini, Pak, ini uang saya, tanah saya, kenapa harus dijelaskan ? Karena panjang ceritanya," kata Bang Parlindungan.
"Semua harus transparan, Bang Parlin, bukan masalah ini uang siapa ?" kata Bapak Kepala Desa.
"Maaf, Pak, lihat itu sekolah itu saya juga yang bangun dulu, saat itu bapak belum jadi kepala desa, sekarang sudah diambil alih pemerintah," kata Bang Parlin.
Kepala desa itu tampak tak puas dengan jawaban Bang Parlin, memang rasanya kepala desa ini seperti curiga atau tak senang kami bangun sekolah mengaji.
"Begini ya, Bang Parlin, saya akan usulkan biaya ke pemerintahan Kabupaten, pakai dana desa, tapi harus ada laporan pertanggungjawaban," kata kepala desa itu lagi.
__ADS_1
"Tunggu dulu, apa ada saya minta bantuan, toh pembangunan sudah jalan, dan akan selesai bulan depan, semua biayanya sudah ada," kata Bang Parlin.
"Untuk mencegah biaya siluman, Bang Parlin, saya dapat info ada orang datang kemari malam-malam naik mobil, itu siapa ? Kenapa tak ada laporan sama saya," kata kepala desa ini.
Kepala desa ini seperti mencari masalah saja, sampai orang yang datang ke rumah kami pun dia cari tahu.
Kesal juga sama Bang Parlin, kenapa dia gak cerita saja, biar kepala desa itu diam. Kalau aku yang cerita segan rasanya, selain kepala desa ini atasanku, masih ada Bang Parlindungan, aku tak mau langkahi dia.
Kepala desa itu akhirnya pergi, Bang Parlindungan tak juga menjelaskan apa-apa, kata Bang Parlindungan percuma dijelaskan. Rasa iri kepala desa akan menjadi-jadi jika tahu uangnya pemberian polisi. Ah, jalan pikiran Bang Parlin memang kadang aneh.
Tiga hari kemudian, entah dari mana dan siapa yang buat, sudah ada proposal permintaan dana untuk membangun sekolah mengaji. Kami tahu tentang proposal itu ketika ada orang suruhan kepala desa suruh tandatangan. Kemarin dia juga sudah datang foto-foto tempat kami.
"Apa ini ?" tanya Bang Parlin.
Ini proposal, Bang, kata kepala desa tanda tangan dulu, Bapak Kepala Desa juga sudah tanda tangan, tinggal butuh tanda tangan bapak dan Bu Kadus," kata pria tersebut.
"Untuk apa ?" Bang Parlin membaca surat tersebut.
"Untuk diajukan ke rapat desa, dana desa akan turun," kata pria tersebut.
Aneh, masa proposal dibuat kepala desa? Seharusnya kami yang buat jika memang butuh, ini tidak. Lucu juga, kami seperti dipaksa memakai dana desa.
"Bilang sama Bapak itu, kami tak butuh dana desa, dananya untuk keperluan lain saja," kata Bang Parlin.
"Kenapa gak terima saja, Bang ?" tanyaku pada Bang Parlin.
"Tanggungjawabnya berat, Dek,"
"Dari pada kita dapat masalah, Bang."
Bang Parlin tak menjawab lagi, dia kembali membantu tukang membangun rumah tersebut. Bang Parlin memang begitu, tak sembarangan terima uang, padahal dipikir-pikir itu rezeki, masa ditolak.
"Bang, rezeki gak boleh ditolak lo," kataku pada Bang Parlin ketika aku mengantar minum untuk mereka.
"Itu bukan rezeki, Dek, itu uang dana desa, dipergunakan seharusnya untuk pembangunan desa, lihat itu, jalan masih ada yang rusak, kenapa gak ke situ saja, lagi pula itu masih proposal, nanti baru dimusyawarahkan dengan BPD, Abang gak mau terlibat," jawab Bang Parlin. Kalau sudah begini aku tak bisa bicara lagi.
Berselang dua jam kemudian, Pak Kepala Desa datang ke rumah, saat itu tukang sudah istirahat, Pak kepala desa itu mengajak Bang Parlin bicara berdua, aku tak mau ketinggalan kuikuti mereka masuk rumah.
"Begini Bang Parlin, aku ajak Bang Parlin kerjasama saling menguntungkan," kata Bapak Kepala Desa itu.
"Kerja sama apaan, Pak ?" tanya Bang Parlin.
"Ini proposal tolong tanda tangani, uangnya kita bagi dua, jika dapat lima puluh juta, masing-masing kita dua puluh lima juta," kata Bapak tersebut.
Bang Parlin terdiam, takut juga aku dia tergiur itu korupsi namanya, ternyata ini tujuan kepala Desa ini, dia mau korupsi dana desa.
__ADS_1
"Kenapa harus ajak saya, Pak ?" tanya Bang Parlin.
"Karena Bang Parlin dipercaya orang, jika diusulkan untuk bangun sekolah mengaji pasti anggota BPD setuju," kata kepala desa itu lagi.
Bang Parlin tampak berpikir, dia memegang kepalanya, khawatir juga aku Bang Parlin tergiur. Akhirnya yang kutakutkan terjadi juga.
"Baiklah, sini proposalnya," kata Bang Parlin.
Kepala desa itu memberikan berkas tersebut, Bang Parlin membaca dengan seksama. Lalu dia menandatangani berkas tersebut, Bang Parlin juga suruh aku tanda tangan. Bang Parlin mengedipkan matanya dua kali, aku tahu maksudnya. Akhirnya kutandatangi juga.
"Bang, Abang mau dua kali terjerat hukum ya ?" kataku setelah kepala desa itu pergi.
"Tapi adek bilang kemarin terima saja," kata Bang Parlin.
"Tapi kan ini korupsi namanya, kepala desa itu minta setengah uangnya, Abang bantu orang melakukan tindak pidana korupsi," aku mulai mengomel.
"Udah, Dek, percaya saja sama abang," kata Bang Parlin.
Ketika ada musyawarah dengan anggota BPD, Bang Parlin dipanggil, aku juga ikut. Ramai orang berkumpul di balai desa. Uang dana desa sudah cair. Proposal kami pun dibicarakan.
"Kalian pasti sudah kenal Bang Parlin, dia mengajar mengaji gratis untuk anak-anak. Dia telah mewakafkan waktunya untuk kebaikan. Jadi ketika dia ajukan proposal pembangunan sekolah mengaji gratis, saya langsung rekomendasikan. Ini proposalnya," kata Bapak Kepala Desa. Lalu seorang pria membagikan fotokopi proposal tersebut kepada seluruh hadirin.
"Kalau untuk pembangunan sekolah mengaji kami setuju, bila perlu gajinya diambil dari dana desa," usul seorang tokoh masyarakat.
Tak butuh waktu lama, semua setuju, lalu Bang Parlin dipersilahkan berbicara ke depan.
"Terima kasih semuanya, saya sangat terharu dengan dukungan Bapak ibu semua, proposal itu dengan cepat disetujui, tetapi seperti kalian tahu, sekolah itu hampir selesai dan dananya pun sudah ada saya persiapkan." kata Bang Parlin.
Orang-orang mulai bisik-bisik, aku juga menunggu ke arah mana pembicaraan Bang Parlin.
"Jadi saya akan memakai dana itu menggaji seorang guru mengaji, saya sudah tak sanggup sendirian, jadi uang dua puluh lima juta itu akan saya pergunakan menggaji guru selama satu tahun, perbulan dua juta, sisa satu juta untuk beli kapur dan keperluan lain," kata Bang Parlin.
"Tunggu tapi dananya lima puluh juta?" tanya seorang anggota BPD.
"Kami sudah janji dengan bapak kepala desa, dua puluh lima juta untuk beliau sebagai uang pelicin, dua puluh lima juta lagi untuk keperluan sekolah." kata Bang Parlin, bukan begitu, Pak ?" sambung Bang Parlin lagi seraya menatap Kepala Desa.
Aku sungguh terkejut, musyawarah itu jadi heboh, Pak kepala Desa sibuk membantah. Akan tetapi orang lebih percaya pada Bang Parlin.
"Kalau seperti itu kami tak setuju!" teriak seorang anggota BPD.
"Kalau tak setuju ya, udah, gak apa-apa, sekarang kalian sudah tahu seperti apa kepala desa kita, " kata Bang Parlin.
. _Bersambung nih yaa ..._
.
__ADS_1