SAYANGKU JADULKU

SAYANGKU JADULKU
Season 2 Bab 41


__ADS_3

...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...


Kami kembali jadi milyarder, luar biasanya uang lima milyar itu diantar abangku dan pengacara itu dalam bentuk tunai. Jadilah uang satu tas besar diberikan pada kami. Bang Parlindungan tampak biasa saja, padahal aku sudah keringatan melihat uang tersebut.


"Hitung dulu, Bang Parlin," kata pengacara tersebut.


"Sudah, aku percaya pada kalian," kata Bang Parlin seraya menerima uang tersebut.


"Tasnya bonus saja," kata pengacara itu seraya tertawa.


Aku baru tahu, ternyata lima bulan mereka mengerjakan kasus kami, sempat adu kuat beking, adu argumen, bahkan pengacara itu pernah disogok satu milyar asal diam, tapi dia yakin akan menang, sehingga dia kerahkan semua kekuatan. Dalam lima bulan, mereka hanya mengerjakan kasus kami.


Abangku juga mendadak kaya, dia bagi juga uangnya untuk saudara kami yang tinggal di desa. Setelah mereka pulang, proses pengalihan lahan Pak Kosim pun dilakukan kami melibatkan notaris dari ibukota kabupaten.


"Selamat pagi Pak Milyarder!" sapaku pada Bang Parlin pagi itu. Kami memang biasa bercanda, pernikahan sudah lebih sepuluh tahunan, tapi kami tetap harmonis. Sering bercanda.


"Pagi juga Kades Milyarder," jawab Bang Parlin.


"Gak ke ladang hari inikah, Pak Milyarder?" tanyaku lagi.


"Nanti, Bu Kades M," jawab Bang Parlin.


"Ish, Pak Milyarder, bilang milyarder saja pake inisial," kataku kemudian.


"M itu bukan untuk milyarder, tapi M untuk ...."


"Untuk apa, Bang, untuk apa?" desakku, aku tahu dia mau bilang manis.


"M, itu inisial Montok," kata Bang Parlin.


"Ish, gak asyik kali," kataku seraya mencubit pinggangnya


Tiba-tiba Ucok tertawa ngakak, duh, ternyata dia mendengar candaan kami.

__ADS_1


"Kenapa tiba-tiba milyarder?" tanyanya seraya memakai sepatu.


"Mamakmu itu, Cok," Bang Parlin malah lempar ke aku.


"Tapi mamak Montok," kata Ucok seraya tertawa.


Gemes juga akhirnya, dua lelakiku itu akhirnya kucubit, kami kemudian tertawa bersama. Butet yang baru siap mandi terheran-heran melihat kami yang tertawa.


Resmi sudah kami memiliki semua aset Pak Kosim, dia dan anak-anaknya lalu pergi dari desa, katanya mau pindah ke Lampung, beli lahan baru di sana. Rumah besar miliknya jadi kosong. Mau dikontrakkan juga tak ada yang berminat. Sementara aku sudah nyaman di rumah kami ini, di sini dekat sekolah, dua saudaraku juga dekat, mereka sering berkunjung.


"Bang kita buat apa rumah itu?" kataku pada Bang Parlin di suatu hari.


"Entahlah, Dek, itu resikonya beli rumah di desa, mau dikontrakkan pun gak ada yang mau," kata Bang Parlin.


"Tulis saja di situ Bang, dikontrakkan, gitu, mana tau ada yang minat,"


"Kita jual saja, Dek, gak pengen ke kota kah seperti dulu, kita sudah ada modal, Dek, sawit sudah ada yang panen, ada dua milyar lagi simpanan," kata Bang Parlin.


"Aku gak mau ke kota lagi, Bang, di sini nyaman," kataku kemudian.


"Yakin, Dek?"


"Yakin sekali, Bang,"


Akhirnya rumah mewah bekas Pak Kosim itu direhab Bang Parlin, katanya dia mau buat rumah itu semacam penginapan. Ini ide si Ucok, saat itu kami lagi membahas rumah tersebut, Ucok yang suka dengarkan omongan orang dewasa tiba-tiba nyeletuk.


"Bikin kek gitu, Ayah," kata Ucok seraya menunjuk TV, siaran TV kebetulan flim animasi Upin Ipin, episode ketika Tok Dalang punya home stay. Bang Parlin justru menuruti saran anaknya.


"Ucok-Butet home stay" itu nama yang diberikan Bang Parlin. Pekerjanya diambil Bang Parlin dari mantan anak angkatnya, dulu dia punya tujuh anak angkat di pesantren, tiga orang sudah jadi guru ngaji, dia merekrut tiga orang lagi mengurus rumah tersebut.


Ternyata ide Ucok mantap juga, baru buka sudah ada orang yang menginap, ternyata banyak toke sawit yang mengeluhk tak ada tempat menginap di daerah ini. Para toke ini kebanyakan tinggal di kota.


Setelah sekian lama, Bang Parlin hendak membayar zakat lagi. Sudah tiga tahun absen, kini dia hendak memberikan zakat tiga puluh juta kepada satu orang, aku ditugaskan mencari orang tersebut.

__ADS_1


Diam-diam, aku mulai melihat warga desa ini, siapa kira-kira yang pantas menerima zakat kami. Aku lalu teringat janda yang suaminya meninggal karena keracunan miras oplosan tersebut. Kini mereka sudah tak ada yang biayai. Anak-anaknya masih sekolah. Akan tetapi jadi dilema karena mereka dua keluarga, jika diberikan satu orang, kasihan yang satunya.


"Bang, aku sudah dapat calon penerima zakat kita," kataku pada Bang Parlin.


"Siapa?"


"Itu, janda yang dua itu, yang suaminya meninggal tempo hari," kataku lagi.


Bang Parlin menatapku, pandangannya seperti lain, ada apa?


"Alhamdulillah, istriku naik pangkat," kata Bang Parlin.


"Naik pangkat bagaimana, Bang? aku kasih kepala desa lo," kataku.


"Naik pangkat, Dek, Abang terharu, sebagai ucapan terima kasih, Abang tambah zakatnya sepuluh juta, karena sapi kita juga akan panen," kata Bang Parlin.


Aku masih belum mengerti, naik pangkat bagaimana?


"Begini, Dek, adek sudah bisa balas orang yang jahat pada kita dengan kebaikan, adek tahu kan, suami mereka yang dulu fitnah kita, suami mereka yang fitnah guru ngaji itu, tapi adek balas dengan kebaikan, itu hanya dilakukan manusia langit, adek naik pangkat," jelas suami seraya memeluk dan mencium keningku.


"Alhamdulillah, aku naik pangkat, susah juga dapat pengakuan dari suami," kataku kemudian.


Akhirnya empat puluh juta kami berikan kepada kedua keluarga tersebut, masing-masing dapat dua puluh juta. Satu keluarga pergi ke kota dengan modal yang kami berikan, satu keluarga lagi membuka warung sembako.


Begitulah akhir cerita, kami kini sudah kaya lagi, kami sudah lulus diuji dengan kekayaan, lulus juga diuji dengan kemiskinan. Kini kami akan wakafkan waktu kami untuk kebaikan. Sawit kami justru makin luas, makin banyak panen. Bang Parlin masih seperti dulu, jika pagi bawa sapi, malam mengajar mengaji.


Sedangkan aku makin menemukan bakat di desa ini, ketika ada pemilihan kepala desa lagi, aku ikut pemilihan dan menang mutlak tujuh puluh persen.


Tamat


terimakasih banyak aku ucapkan kepada kalian yang sudah mau membaca kisah ini dari season 1 hingga tamat 🙏🏻


sudah kita lalui banyak perjalanan bang parlin dan nia dari mulai berdua hingga hadirnya ucok dan butet. sekali lagi terimakasih

__ADS_1


__ADS_2