SAYANGKU JADULKU

SAYANGKU JADULKU
Season 2 Part 30


__ADS_3

...* Sayangku ( bukan ) Jadulku...


"Abang paling benci orang begitu, udah kaya pun masih mau ngurus surat miskin hanya untuk putihkan utang, ampun," Bang Parlindungan masih mengomel setelah pria itu pergi.


"Iya, Bang, saran Abang gak mantap kali ini, gak semua orang punya rasa malu," jawabku kemudian.


Bang Parlindungan lanjut membuat alat penangkap ikan, alat itu katanya namanya lukah atau bubuh, terbuat dari bambu. Katanya nanti akan diletakkan di sungai setelah memasukkan umpan kelapa di dalam. Sampai siang dia terus sibuk membuat luka tersebut.


Bang Parlindungan memang orang yang bisa menyesuaikan diri, ketika hidupnya mapan, dia keliling Indonesia, bersedekah ke sana ke mari, ketika bangkrut, dia tetap semangat, mulai dari awal lagi. Yang membuat aku salut adalah, selalu ada jalan rezeki, biarpun kami saat ini tak ada pemasukan, tapi bisa beli sapi, bisa menggaji karyawan, bahkan bisa beli rumah.


Siang hari, Ucok dan Butet sudah pulang sekolah, mereka berdua langsung antusias bertanya pada Ayah mereka.


"Ini apa, Yah ?" tanya si Butet.


"Lukah,"


"Luka, mana luka Ayah ?"


"Luka, untuk nangkap ikan di sungai, biar kita bisa bakar ikan kalau bawa si Rembo jalan-jalan," kata Bang Parlin.


"Horeee, bakar ikan," teriak Butet.


"Assalaamu'alaikum," salam dari seorang ibu.


"Waalaikumsalam," kami semua menjawab serempak. Yang datang ternyata ibu yang kemarin minta solusi pada Bang Parlindungan.


"Maaf, Bu, jika cara yang saya bilang tidak ampuh, maaf seja, ternyata tidak semua orang punya rasa malu," kata Bang Parlindungan seraya menyalami wanita tersebut. Wanita itu datang bersama seorang anak, mungkin dia lagi menjemput anaknya seperti biasa.


"Saya datang justru mau berterima kasih, Pak,"


"Terima kasih untuk apa ya, Bu ?"


"Karena ajaran bapak itu, adik iparku itu sudah membayar hutangnya, jadi saya datang ingin berterima kasih, tolong terima ini," kata ibu itu seraya memberikan amplop.


"Oh, tidak, Bu, saya tak bisa terima, maaf, Bu," kata Bang Parlindungan.


"Memang kapan dia bayar, Bu ?" tanyaku kepo, karena baru tadi pagi orang itu datang ke mari minta surat miskin.


"Tadi sekitar jam sepuluh, datang dia ke rumah, pakai acara nangis lagi, padahal dia laki-laki, aku jadi terharu, memang ampuh ajaran Bang Parlin," kata Ibu itu lagi.


"Memang bagaimana ceritanya, Bu ?" Bang Parlin ikutan kepo juga.


"Gini, kemarin aku datangi rumahnya, bilang padanya persis seperti yang Bang Parlin ajarkan, dia bilang iya, tunggu besok, tadi dia datang, dibayarnya sepuluh juta, dilebihkannya lagi satu juta, karena katanya itu wajar, karena sudah lima tahun, sampai nangis dia bilang terima kasih," kata ibu tersebut.


Aku dan Bang Parlin berpandangan, amplop masih terletak di kursi kayu, akhirnya kuambil juga amplop tersebut. Ibu itu lalu permisi pulang.

__ADS_1


"Dek mana boleh kau terima itu," Bang Parlin langsung protes.


"Boleh, Bang, aku juga belajar dari Bang Parlin, anggap saja kita penyalur sedekah," kataku seraya berjalan menghampiri bapak penjaga sekolah yang hendak menutup gerbang sekolah.


"Pak, ini sedikit rezeki untuk bapak," kataku seraya memberikan amplop tersebut, tak kubuka berapa isinya, kuberikan semua pada bapak tersebut.


"Terima kasih, Bu," jawab bapak itu dengan berlinang air mata.


Aku berjalan masuk rumah seraya angkat kepala, Bang Parlin masih memandangiku, mungkin dia tak percaya di saat sulit begini aku kasihkan amplop tanpa melihat isinya berapa. Padahal aku belajar dari Bang Parlin, pernah juga ada orang ngotot bayar, Bang Parlin menerimanya dan menyedekahkan kembali.


"Mamakmu keren, Cok," kata Bang Parlin.


"Kerenlah, Yah, anaknya juga keren," jawab Ucok.


"Ayahku juga keren," Butet ikut-ikutan. Akhirnya kami tertawa bersama.


Sore itu dengan naik truk Bang Parlin, kami semua ke kebun. Niyet dan Rembo lalu dikeluarkan Bang Parlin dari kandangnya, kami berjalan kaki menuju sungai, Bang Parlin bawa dua lukah yang tadi dia buat.


Pinggir sungai banyak ditumbuhi rumput yang bagus untuk pakan sapi, ini adalah tempat kesukaan Bang Parlin, apalagi sekarang baru selesai panen padi, sehingga sapi bisa bebas masuk sawah orang yang di pinggir sungai.


Bang Parlin lalu turun ke sungai sambil bawa dua lukah, lalu naik lagi, kami duduk di pondok yang ada di pinggir sawah tersebut.


Bang Parlin mulai menunjukkan kepandaiannya seruling dia keluarkan dari tas, lalu memainkan seruling tersebut, suaranya mendayu-dayu, nyanyian Bang Parlin selalu membuat aku ngantuk.


Anak-anak justru bermain lumpur, Bang Parlin justru membiarkannya, aku juga tertidur di pangkuan Bang Parlin.


"Ada apa, Butet ?" tanyaku.


"Bang Ucok, Mak, dia mau tangkap ular," kata Butet seraya menunjuk Ucok yang berlari di lumpur.


"Mana ?" Bang Parlin berlari mendekati si Ucok, aku ikut berlari.


Ternyata ada ular sawah yang cukup besar, anehnya Ucok malah mengejar ular tersebut, tampaknya ular itu sulitnya bergerak, jalannya lambat.


"Ucok!" teriak Bang Parlin ketika Ucok menangkap ekor ular tersebut, aku menjerit histeris. Ada apa dengan anakku ini, masak dia gak takut ular.


Bang Parlin langsung mengangkat Ucok dan membawanya menjauh, Ucok malah meronta, katanya ingin nangkap ular kek di youtube. Ya, Allah, anakku sudah jadi korban youtube, dia pikir nangkap ular itu gampang seperti di video.


Ular itu masih mencoba lari, akan tetapi dia seperti kesulitan berjalan di lumpur.


"Mak, aku ingin nangkap ular kek Panji itu," kata Ucok lagi.


"Jangan, Nak, gak boleh," kataku.


"Kata Ayah kita gak boleh takut sampe ular, ular yang takut sama kita, ini ular sawah, Ayah bilang gak berbisa," kata Ucok lagi.

__ADS_1


"Oh, berarti ini ajaran Abang ya," kataku kesal, kutarik telinga suami dan Ucok.


"Ayo, pulang!" bentakku.


Aku kesal juga, selain karena nonton youtube, Ucok ternyata dapat ajaran sesat dari ayahnya, masa anak diajari jangan takut sama ular.


"Ambil HP, Dek, biar senang si Ucok," Bang Parlin malah ikut nangkap ekor ular tersebut.


Setahuku Bang Parlin memang sering nangkap ular, ular sawah sering ketemu di lahan sawit. Bang Parlin bahkan pernah menangkap ular besar ketika kami pergi ke tempat Bang Parta di Kalimantan.


"Ambil, Mak, biar kita videoin Bang Ucok," Butet justru ikut mendukung.


Segera kuberlari mengambil HP yang ada di pondok. Bang Parlin dan Ucok mulai beraksi, Bang Parlin menangkap bagian kepala, si ucok memegang bagian ekor, benar-benar ayah dan anak yang kompak. Tak ada takutnya sama ular. Semua kuvideokan. Ngeri juga melihat Ayah dan anak ini, mereka menganggap ular seperti hewan biasa saja.


"Ambil goni, Mak," teriak Ucok.


"Di mana pula cari goni di sini, udah buang saja ularnya," kataku seraya terus merekam


Ucok sudah sembilan tahun, rasa ingin tahunya sangat besar. Cocok pula dengan ayahnya yang banyak pengetahuannya. Akhirnya ular itu dilepaskan Bang Parlin ke rerumputan, Ucok yang sepertinya sudah senang sekali, dia masih sempat bicara dengan ular tersebut.


"Hei, ular sawah, jangan main di sini lagi ya, untung ketemu sama kami," "Kalau ketemu orang lain, kulitmu sudah jadi ikat pinggang," Bang Parlin menyambung ocehan anaknya. Mereka memang klop beraninya, klop gilanya.


Ketika kuputar video itu, Bang Parlin malah melarang ku-upload di Facebook, sedangkan anaknya sudah ingin di-upload di youtube atau tiktok. Di sinilah Ayah dan anak tersebut berbeda pendapat.


"Gak usah cari sensasi, Cok, terkenal boleh, tapi jangan terkenal karena nangkep ular, terkenal karena hafiz Qur'an, baru mantap," begitu kata Bang Parlin.


Setelah ular itu dibuang, Bang Parlin kembali turun ke sungai bersama anaknya, aku terus saja merekam aksi mereka, kali ini mau ngangkat bubu, dua bubu diangkat, dapatnya cuma empat ekor ikan.


"Rezeki kita memang pas dikasih Alloh, kita empat orang, dapat ikan empat," kata Bang Parlin.


Ikan itu lalu dibakar, kami makan bersama di pondok tersebut. Nasi dan lauk memang sudah dibawa dari rumah. Ikan itu hanya penambah. Rasanya sedap dan bahagia. Aku jadi ketagihan mem- videokan semua. Saat kami makan pun kuuambil gambarnya. Mungkin suatu saat nanti akan jadi kenangan.


Ketika kami pulang ke rumah, sudah menjelang magrib, bergegas kami mandi dan Sholat Magrib berjamaah. Selesai Sholat, saatnya Ucok dan Butet belajar mengaji yang jadi guru adalah ayah mereka.


"Assalaamu'alaikum, Bu," tetangga sebelah rumah datang bertamu.


"Wa'alaikumussalaam,"


"Bu Kadus, setiap kudengar Bang Parlin mengajar mengaji, aku selalu teringat waktu kecil dulu, belajarnya sama, bolehkah anakku ikut belajar di sini ?"


Kutanya Bang Parlin, Bang Parlin justru senang, akhirnya dua anak tetangga itu ikut belajar mengajar, cara mengajar Bang Parlin masih cara dulu, Alip ba ta, seperti kita kecil dulu. Besok malamnya dua tetangga datang lagi ingin anaknya ikut belajar mengajar, Bang Parlin tetap setuju.


Akhirnya seminggu kemudian, rumah kami sudah penuh anak-anak mengaji, ada sekitar dua puluh anak yang diajari Bang Parlin.


Aku jadi Kadus, Bang Parlin jadi guru ngaji. Begitulah kehidupan kami di desa.

__ADS_1


. _Bersambung ..._


__ADS_2