
...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...
Bu Ratna sangat berterima kasih sekali, dia bahkan berjanji akan setia bekerja pada kami selama yang dibutuhkan. Aku baru tahu ternyata dia orang Lombok, bertemu suaminya ketika sama-sama TKI di negeri jiran. Lalu pulang ke Medan untuk menikah. Setelah punya anak perangai asli suaminya baru kelihatan. Tak kerja, mabuk dan narkoba kerjanya tiap hari. Sampai akhirnya ditangkap polisi, saat itu mereka sudah punya dua anak. Yang kecil masih dua tahun. Bu Ratna berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya.
Pernah juga diceraikan suaminya, saat itu Bu Ratna tidak mau mengantar narkoba untuk dia ke penjara, suaminya menceraikan dia ketika berkunjung. Bu Ratna merasa bebas. Sampai lima tahun kemudian, laki-laki itu bebas dari penjara, dia memohon rujuk kembali dan berjanji akan berubah. Akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya, bukannya berubah, lelaki itu malah makin menjadi. Sampai akhirnya kini Bu Ratna bisa bebas dari lelaki tersebut.
Malam itu kami lagi tiduran di depan TV, jam baru menunjukkan angka sembilan. Si Ucok lagi asyik sendiri dengan mainan barunya, si Butet sudah tidur. Sambil menunggu si Ucok tidur, iseng-iseng kuajak Bang Parlin main teka-teki.
"Bang, kita main pertanyaan, yuk?"
"Ayo, silakan duluan,"
"Gini, Bang, ditusuk ada dua, dibuang ada, satu, ditarik tidak ada, apa itu coba?" katanya seraya menaik-turunkan alis.
"Hmmm, apa ya, sate,"
"Salah, Bang,"
"Hmmm, apa lagi ya, Abang menyerah,"
"Huruf U, Bang,"
"Kok huruf U?"
"Ditusuk kan dua huruf u nya, dibuang satu, ditarik gak ada,"
"Ooo, iya, ya," Bang Parlin sampai mengambil pena dan menulis kata ditusuk itu.
"Giliran Abang," kataku lagi.
"Oke, tunggu ya, ini, apa itu gantung mokmok?"
"Apanya Abang ini, teka-teki pakai bahasa planet?"
"Ya, itulah, apa jawabannya?"
"Gantung mokmok, berarti digantung gendut, apa ya, tunggu, nangka!" jawabku. Aku sekarang memang sudah mulai ngerti bahasa Batak, biarpun rasanya lidah ini sulit untuk berbicara Batak, akan tetapi aku sudah paham hampir semua.
"Salah, Dek,"
"Kok salah lagi, pasti nangka,"
"Salah,"
"Terus apa lagi?
"Mamak si Ucok digantung,"
"Ish, Abang," kataku seraya menimpuk kepalanya pakai bantal. Dia justru tertawa.
"Ada lagi, Dek, jatuh bom, naik bendera, apa itu coba?"
"Apa ya, tunggu kupikir dulu," kataku seraya memegang kepala.
"Aku tau," tiba-tiba Ucok ikut-ikutan, ternyata dia menyimak obrolan kami.
"Apa, Cok?"
"Jangan bilang, Cok,"
"Sapi buang air besar," kata si Ucok.
"Ooonnde, dasar peternak sapi," kataku seraya menjitak kepala suami.
Suami malah membalas, si Ucok ikut-ikutan, jadilah dua laki-laki ini memukuliku dengan pelan. Kami tertawa bersama pada akhirnya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," tiba-tiba tamu datang.
"Waalaikumsalam," jawab kami serentak. Si Ucok yang buka pintu, ternyata yang datang tetangga. Pak Romli yang rumahnya dua rumah dari rumah kami
"Ada apa ya, Pak?" tanya Bang Parlin seraya menyalami Pak Romli.
"Itu, Pak, tolong saya dulu Pak Parlin?" katanya lagi.
"Iya, Pak, ada apa?" kata Bang Parlin.
"Itu si Yuni, kemarin kumarahi karena pacaran, terus pagi tadi dia pergi sekolah, sampai sekarang belum pulang, ibunya sudah capek mencari gak ketemu juga, ini udah malam lagi," kata Pak Ramli.
Yuni adalah putri Pak Romli, masih sekolah SMA.
"Apa yang bisa kami bantu, Pak?" kata Bang Parlin, sementara aku jadi pendengar yang baik.
"Kudengar, Pak Parlin bisa mengembalikan yang hilang, tolong kembalikan putri kami, Pak, tolong," kata Pak Romli lagi.
Bang Parlin terdiam, dia tampak berpikir, aku tahu dia bisa mengembalikan barang yang hilang, tapi itu harus barang sendiri. Tak bisa punya orang.
"Tolonglah, Pak?" kata Pak Romli lagi.
"Apa HP-nya gak bisa dihubungi?" tanyaku kemudian.
"Bisa, ibunya tadi hubungi bisa, tapi dia gak mau pulang, gak mau bilang dia ada di mana?"
"Udah, tenang saja, Pak, nanti juga dia pulang," kataku mencoba menghibur Pak Romli.
"Aku takut dia bersama pacarnya," kata Pak, Romli.
Kulihat Bang Parlin, suamiku ini selalu punya solusi untuk setiap masalah, tapi kali ini kulihat Bang Parlin seperti buntu, dia terus diam.
"Baik, Pak, akan kami coba cari," kata Bang Parlin akhirnya.
Kuminta nomor HP si Yuni ini, mana tau dia mau menerima teleponku, aku cukup dekat dengan gadis itu. Akan tetapi berkali-kali ditelepon tak diangkat, dikirim pesan juga tak dibalasnya. Pak Romli kelihatan makin cemas.
Bang Parlin ambil HP, dia seperti mengutak-atik HP-nya.
"Bang, bagaimana, kalau bisa abang bantulah dulu, kasihan bapak itu, kasihan si Yuni," desakku kemudian.
"Iya, Dek, ini lagi berusaha," kata Bang Parlin.
"Berusaha, berusaha, tapi malah main HP," kataku lagi. Tiba-tiba pintu rumah kami ada yang ketuk. Aku segera berdiri buka pintu, ternyata anak muda tetangga kami yang datang. Dia ahli IT, sedang kuliah komputer.
"Ada apa, Anto?" tanyaku.
"Tapi Bang Parlin manggil aku," jawab Anto. Bang Parlin aneh mau cari orang kok masih sempat sempatnya manggil si Anto ini.
"Sini Anto, periksa dulu nomor ini, ini emailnya, lacak dulu ada di mana," kata Bang Parlin.
Duh, Bang Parlin selangkah lebih maju lagi, kenapa tak terpikir olehku tadi begitu? Padahal aku juga ingin jadi pahlawan.
Anto kembali ke rumahnya, baru datang lagi dengan alat-alatnya. Dia pun mulai bekerja.
"Bang, kok gak bilang tadi sama Pak Romli pakai cara begini?" tanyaku pada Bang Parlin.
"Udah kok, udah Abang bilang, bapak itu yang ngasih emailnya." kata Bang Parlin.
"Kenapa gak pake ilmu aja, Bang, kek hari itu Ucok hilang?"
"Gak bisa, Dek, ini aja dulu kita coba," kata Bang Parlin.
Anto terus bekerja dengan laptopnya, dia tampak serius sekali.
"Gak mungkin, ini gak mungkin," kata Anto.
__ADS_1
"Apanya yang gak mungkin, Anto?" tanyaku penasaran.
"Dia hilang kan, dia bawa HP-nya? Menurut alat ini dia gak ke mana-mana, dia ada di rumahnya." kata Anto.
"Oh, barangkali dia tinggalkan, HP?" kataku lagi.
"Gak mungkin, mana ada anak jaman sekarang bisa jauh dari HP,"
"Jadi?"
"Jadi dia ada di rumahnya," kata Anto.
"Ah, gak beres alatmu itu, orang udah cari ke mana-mana, masa di rumah," kataku lagi.
"Gak tau lagi, Kak, hanya begitu yang bisa kubantu," kata Anto.
"Ya, udah, makasih, ya," kata Bang Parlin seraya menyalamkan uang.
"Gak usah, Pak," kata Anto, tapi dia terima juga uang itu. Mulutnya mengatakan tak usah, tapi tangannya berkata lain.
"Jadi kesimpulannya bagaimana, Bang?" tanyaku pada Banget Parlin.
"Kesimpulannya, Yuni gak pernah pergi, dia sembunyi di rumahnya," kata Bang Parlin.
Kuambil HP, langsung ke, aplikasi WA, mencari nomor Yuni yang tadi kusimpan.
(Yuni, aku tau kau ada di mana, kau sembunyi di rumahmu sendiri, dah makan belum?)
Begitu pesanku pada Yuni, karena dari tadi pesanku dibacanya, meminjam istilah Bang Parlin, pesan WA-ku sudah dicangkul biru dua kali.
(Kakak kok bisa tau?) dengan cepat kali ini datang balasannya.
(Aku kan ada ilmu sedikit) balasku kemudian.
(Tolong aku, Kak, jangan bilang Ayah, Ayah akan membunuhku)
(Tenang saja, aku yang atasi,)
(Jemput aku, Kak, aku ada di loteng)
(Oke, tunggu di situ,) pesanku lagi. Kali ini aku akan jadi pahlawan.
"Bang, aku ke rumah Yuni, ya, biar aku yang tangani dari sini, Abang jaga si Ucok Butet saja, " kataku pada Bang Parlin.
Dengan langkah pasti aku datang ke rumah Yuni yang hanya berjarak dua rumah. Begitu aku datang langsung disambut Ibu Yuni dengan tangisan ternyata orang sudah ramai di rumah itu.
"Menurut penerawangan Bang Parlin, Yuni tak ke mana-mana, dia ada di rumah ini," kataku dengan gaya meyakinkan.
"Mana mungkin, sudah kami cari semua kamar, " kata Pak Romli.
"Mungkin disembunyikan sesuatu, tapi dia di rumah ini, aku akan keluarkan dia dengan syarat Pak Romli minta maaf pada Yuni," kataku lagi.
"Baik, aku akan minta maaf," kata Pak Romli.
Aku lalu berjalan ke dapur, mengambil HP dan mengirim pesan ke Yuni.
(Dah, keluar kau sekarang, ayahmu gak akan marah lagi, dia justru akan minta maaf,)
(Oke, Terima kasih, Kak)
Tralaa, lalu turunlah Yuni dari loteng rumahnya, dia masih berpakaian sekolah. Ternyata dia sembunyi di loteng membawa bekal, power bank, camilan dan tikar dia bawa turun. Lucu juga anak ini.
Pak Romli lalu memeluk anaknya sambil menangis, Yuni minta maaf ke ayahnya, janji akan fokus sekolah, gak akan pacaran lagi.
Aku pulang dengan kepala tegak, ternyata begini rasanya jadi pahlawan.
__ADS_1
* cie ....cie..... jadi pahlawan katanya 🤠*