SAYANGKU JADULKU

SAYANGKU JADULKU
Season 2 Bab 17


__ADS_3

...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...


Uang dalam amplop pemberian Cut Ana benar-benar disedekahkan Bang Parlin. Setiap dapat waktu solat, kami singgah di mesjid. Bang Parlin memasukkan uang ke kotak infak.


Mobil kami dan mobil Cut Ana berjalan beriringan, mereka di depan, kami di belakang. Ketika melewati perkebunan karet rakyat, tiba-tiba mobil yang di depan berhenti mendadak. Supir kami ambil jalur kanan untuk menghindari tabrakan, untung juga kenderaan dari arah lain tak ada, sehingga kami aman. Akan tetapi ternyata mobil Cut Ana menabrak pengendara motor. Sayur berserakan di jalan. Seorang pria tergeletak juga.


Kami berhenti, suami Cut Ana turun dari mobil, aku dan Bang Parlin juga. Lelaki pemgemudi motor itu lalu mencoba berdiri.


"Maaf, Pak, saya buru-buru, langsung masuk jalan tadi tanpa melihat," kata pria tersebut.


Dalam hati aku salut dengan pria itu, biasanya bila pengendara motor dan mobil kecelakaan, yang salah selalu mobil, kali ini belum apa-apa dia sudah minta maaf.


Pria itu mencoba menghidupkan motornya lagi, Bang Parlin membantu memuat kembali sayuran ke motor tersebut.


"Tidak usah lagi, Pak, saya buru-buru," katanya seraya mengengkol motor.


"Sayurnya ditinggal, Pak,"


"Iya, Bu, saya buru-buru," kata Pria itu seraya terus mengengkol motornya yang sepertinya gak mau hidup.


Keringat membanjirnya dahi pria itu, dia terus saja berusaha menghidupkan motornya, akan tetapi tak hidup juga.


"Memang mau kemana buru-buru?" tanya suami Cut Ana.


"Itu, Pak, istri saya mau lahiran, ini dia tadi telepon, makanya saya buru-buru," kata pria tersebut.


"Ayo kami antar," kata Suamiku.


Akhirnya, motor itu beserta seluruh muatannya diangkat supir kami, mobil kami yang punya bak terbuka di belakang jadi tempatnya. Kami pun lanjut ke desa pria tersebut.


Sampai di desa itu, orang-orang tampak heran melihat kami, dua mobil masuk pekarangan rumah semi parmenen. Sudah ada beberapa orang di rumah itu. Pria itu langsung turun, dia berbicara memakai bahasa Aceh. Pria itu keluar dari rumah lagi, terus menemui kami yang berkumpul di mobil Cut Ana. Kami lagi memeriksa bemper mobil itu yang penyot.


"Maaf, Pak, bolehkah minta tolong, istri saya maupun lahiran, kata Bidan musti dibawa ke rumah sakit, dioperasi. Boleh numpang pakai mobil ini, Pak?" kata tak pria itu.


"Boleh, boleh," jawab Cut Ana.


Beberapa ibu-ibu tampak menggotong tubuh seorang perempuan naik mobil, lalu kami tanjap gas menuju rumah sakit terdekat.


Liburan kami jadi begini, akan tetapi suami Cut Ana malah menyarankan menunggu istri pria tersebut selesai lahiran. Kami cari makanan di sekitar rumah sakit.


"Kita lanjut saja," tawarku kemudian.


"Tunggu dulu, kita lihat dulu perkembangannya, mana tau dia butuh bantuan kita lagi," kata Suami Cut Ana.

__ADS_1


Ternyata Pria ini mirip Bang Parlin, mau berlelah-lelah membantu orang. Betul saja, pria itu keluar lagi dari rumah sakit, dan beliau tampak tergesa-gesa.


"Ada apa, Pak?" aku mendekati dan bertanya.


"Aduh, Bu, bagaimana bilangnya ya, saya jadi segan,"


"Bilang saja, Pak, gak apa-apa," kata Bang Parlin.


"Boleh numpang lagi mobilnya, motorku rusak, hanya itu kendaraan satu-satunya," kata pria tersebut.


"Boleh, boleh, mau ke mana?"


"Istri saya harus dioperasi, BPJS kami gak ada, mereka minta jaminan dulu, aku mau ke rumah gadai, gadaikan surat tanah kebun," kata pria itu.


"Memang butuh berapa, Pak?" kata Bang Parlin.


"Sepuluh juta, Pak,"


"Oh, pakai uang kami aja," kata Bang Parlin seraya membuka pintu mobil.


Akan tetapi suami Cut Ana sepertinya tak mau kalah, dia langsung ambil duit dengan gerak cepat, ketika Bang Parlin masih menghitung uang, suami Cut Ana sudah memberikan uangnya kepada pria itu.


Mata pria itu berkaca-kaca, menerima uang tersebut.


"Saya ambil dulu surat tanahnya, Pak," kata pria tersebut.


Ketika Bang Parlin datang dengan uang di tangan, pria itu sudah pergi masuk ke rumah sakit lagi. Bang Parlin bingung, "mana dia?" kata Bang Parlin.


"Sudah pergi, Bang," jawabku.


"Tapi uangnya masih di sini," kata Bang Parlin.


"Sudah kukasih duluan, entah kenapa aku merasa tertampar dengan sikap Bang Parlin, tanpa kenal langsung bantu, sementara aku yang lebih kaya hanya diam," kata suami Cut Ana.


Suamiku ini memang hebat, dia bisa menularkan kebaikan kepada orang lain. Aku baru tahu Suami Cut Ana adalah seorang kapten kapal. Bersama temannya yang orang Brunei mereka join beli kapal. Niatnya setelah beli kapal bisa istirahat untuk keluarga. Akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Suami Cut Ana makin sering pergi. Ternyata dia kecanduan berpetualang. Cut Ana jadi kaya raya, karena gaji kapten saja sudah puluhan juta, apalagi pemilik kapal sekaligus kaptennya.


Perjalanan kami jadi tertunda, akan tetapi justru makin asyik. Setelah selesai operasi kami dipersilahkan untuk melihat bayi tersebut. Kulihat Cut Ana sampai meneteskan air mata, mungkin dia ingin sekali punya anak. Karena katanya, dia sudah menikah sembilan belas tahun, tapi tak kunjung dikaruniai keturunan.


Pria itu berterima kasih pada kami sambil menangis, ketika kami hendak pamit untuk melanjutkan perjalanan, dia memberi apa yang bisa dia beri. Kelapa, sayuran dan beberapa ikan kering dia berikan. Ada juga beras satu karung. Dia sampai memohon supaya kami Terima. Akhirnya mobil kami penuh dengan hasil pertanian.


Kami melanjutkan perjalanan ketika malam sudah tiba, tujuannya adalah cari hotel terdekat untuk bisa menginap.


Mobil yang di depan berhenti di depan sebuah hotel. Kulihat ke luar, ada tulisan hotel Kuta Binjai. Wah, apakah kami kembali ke Binjai, jangan-jangan kami jalan salah arah. Akan tetapi pertanyaan dalam hatiku terjawab sendiri setelah melihat tulisan lagi. Ternyata bukan kota Binjai Sumatra Utara, ini kuta Binjai kabupaten Aceh Timur.

__ADS_1


Cut Ana dan suaminya yang memang orang Aceh membuat komunikasi jadi lancar. Kami dapat tiga kamar untuk istirahat. Satu untuk kami, satu untuk Cut Ana, dan satu lagi untuk supir.


"Kita minum kopi sanger dulu," kata Cut Ana ketika kami sudah di kamar masing-masing. Dia bicara lewat telepon.


"Apa itu kopi sanger?" tanya Bang Parlin yang mendengar pembicaraan kami.


"Entah lah, Bang, kita ikuti saja," kataku seraya turun ke bawah sambil bawa si Butet.


Bang Parlin dan Ucok nyusul ke bawah. Di loby hotel sudah menunggu Cut Ana dan suaminya. Aku memperhatikan orang yang buat kopi sanger ini, unik juga, kopi disaring dengan saringan mirip kerucut, setelah terhidang, kopi sanger ini ternyata kopi susu, tapi rasanya lain.


"Aku sudah berpetualang ke berbagai negara, entah kenapa petualangan ini makin menarik," kata suami Cut Ana.


"Iyalah, belum katam Indonesia sudah ke mana-mana, belum tahu lagi daerah kami, udah pernah ke danau Toba?" kata Bang Parlin.


"Belum, hidupku selalu di atas kapal, kalau lagi kapal bersandar, ya di kota pelabuhan. Tak pernah masuk pedalaman begini," jawab Suami Cut Ana.


"Maaf, bukan mau kepo atau apa, ya, kalian gak mau punya anak atau memang tak bisa punya anak?" tanyaku akhirnya. Sudah dari kemarin pertanyaan ini kusimpan.


Cut Ana dan suaminya saling berpandangan, mungkin mereka saling menunggu siapa yang menjelaskan. Akan tetapi lama mereka terdiam.


"Ada satu usaha untuk bisa punya anak, yaitu minta maaf kepada mantan, bisa saja ada mantan sakit hati, doa orang teraniaya itu mudah terkabul," kata Bang Parlin.


Kulihat Cut Ana menunduk, pandangan matanya terlihat sedih, sedangkan suaminya memandang ke arah Butet yang ada di pangkuanku. Ada apa dengan dua orang ini?


"Usaha dan berdo'a, usahanya termasuk yang kubilang tadi, satu lagi tentu genjot terus, bertanya ke dokter ahlinya," Bang Parlin terdengar mau melucu, akan tetapi mereka tak tertawa.


"Kami chidfree," kata Suami Cut Ana.


Aku terkejut, ternyata benar ada orang seperti ini, mereka kaya tapi tak mau punya anak, entah bagaimana perasaan Cut Ana, sudah hidup ditinggal suami, tak boleh punya anak. Ah, benar juga, yang terlihat bahagia itu belum tentu bahagia.


"Apa itu chilfree, apakah sejenis penyakit?" tanya Bang Parlin.


Kucubit paha Bang Parlin pelan, dia melihatku, kukedipkan mata memberikan kode supaya dia tak lanjut bertanya. Akan tetapi dia tak paham.


"Apakah childfree itu semacam aliran keagamaan?" tanya Bang Parlin lagi.


"Jangan sok tahu, Bang, tanya dulu Google," kataku akhirnya.


Bang Parlin buka HP, beberapa menit kemudian.


"Ya, Allah, kucing saja tau hukum alam, masa kalian tidak, memang kalian amuba, bisa membelah diri? " Bang Parlin justru makin berkata menyakiti pasangan ini.


"Abang gak akan ngerti," kata Suami Cut Ana.

__ADS_1


"Kecuali kau mandul, atau istrimu mandul, alasan lain, aku gak akan ngerti, gak masuk akalku, sapi aja mau berkembang biak, masa kalian tidak?"


* nah...nah... ceramah abang kita ini, tapi selalu patokannya sapi 🤭*


__ADS_2