
...* Sayangku ( bukan ) Jadulku...
"Alhamdulillah." Hanya ucapan itu yang keluar dari mulut Bang Parlin ketika uang itu kami terima. Padahal aku sampai menangis terharu.
Hari itu juga kami berangkat ke rumah yang mau dibeli tersebut. Langsung nego harga dan pengurusan surat-surat.
"Apa kubilang, bagi Bang Parlin uang segitu kecil," begitu kata Bapak yang punya rumah, belum tahu saja bapak ini, Bang Parlin sampai tiga malam tidak tidur.
Prosesnya cepat, kepala desa gerak cepat mengurus segalanya. Dua minggu kemudian sudah resmi rumah itu kami beli, kami mulai mempersiapkan pindah rumah.
"Bang, kalau Abang bisa membuat orang begitu, kek si ilham itu, gak bisa tidur teringat utang terus, kenapa bukan yang nipu kita surat tanah palsu abang bikin kek gitu, itu uang banyak lo, Bang, ratusan miliar," kataku pada Bang Parlin sore itu, seperti biasa kami lagi membawa sapi jalan-jalan.
"Beda, Dek ?"
"Beda di mananya, Bang ?"
"Itu Abang yang beli tanah, bukan orang yang nyutang,"
"Sama saja, Bang,"
"Gak sama, Dek, orang yang mencuri baru bisa, ini Abang yang tidak hati-hati beli tanah tak beres suratnya, itu kesalahan Abang juga,"
"Oh, jadi kapan kita pindah, Bang ?"
"Hari minggu, Dek,"
Ucok yang paling antusias mau pindah ini, bisa dimaklumi, semenjak tinggal di desa, dia tak pernah punya teman bermain hanya di sekolah yang ada temannya, ketika di rumah hanya sapi teman dia bermain.
"Bagaimana caranya kalian tiba-tiba bisa punya uang banyak gitu, padahal kemarin baru mau menjual rumah, kini sudah beli ?" tanya Ria ketika dia bantu aku pindahan.
"Bang Parlindungan itu, Ria," jawabku.
"Emang kenapa Bang Parlin ?"
"Jangan bilang-bilang ya, dia itu punya kepandaian, orang yang mencuri di rumah kami bisa dia buat sakit, gak sembuh sampai orang tersebut kembalikan yang dia curi," jawabku kemudian.
"Wah ?"
"Iya, Ria, kau ingat dulu pernah aku modali orang ternak sapi, si Ilham itu,"
"Ya, yang dia larikan itu sapi kalian ?"
"Ha, itu dia, dia datang ganti uangku, padahal sudah tujuh tahun lebih, katanya tiga hari dia gak bisa tidur, teringat terus utangnya, asal tertidur, mimpi dikejar sapi," kataku lagi.
"Hebat Bang Parlin,"
"Gak begitu hebat, buktinya dia tertipu ratusan milyar, di penjara lagi, sekiranya uang yang itu bisa kembali ?"
Truk lama kamu yang tinggal satu jadi tranportasi mengangkut barang. Jarak ke sekolah itu sekitar delapan belas kilo meter melewati perkebunan sawit. Sebenarnya sekolah itu sendiri masih di tengah kebun sawit, akan tetapi ada sekitar empat puluh kepala keluarga yang tinggal di sekitarnya. Sudah jadi dusun.
Ketika kami sudah resmi pindah, langsung ditawari kepala desa jadi kepala Dusun di tempat itu, karena kebetulan orang yang pindah tersebut adalah kepala dusun. Bang Parlin menolak karena katanya dia tak pantas dan sibuk urus sapi.
"Kalau Bang Parlin tidak bisa, ibu saja yang jadi kadus, masyarakat pasti setuju, Bang Parlin sudah terkenal di situ," kata Kepala desa.
Wah, aku jadi Kadus ?
Setelah mempertimbangkan dan minta ijin pada Bang Parlin, aku setuju, masyarakat sekitar yang hanya seratusan penduduk juga setuju, resmilah aku jadi Kadus di tempat itu. Nama dusun itu juga mengambil nama orang tua Bang Parlin, yaitu dusun Pardomuan. Karena nama sekolah itu dulunya juga sekolah Pardomuan sebelum diambil alih pemerintah dan jadi sekolah negeri.
Bu Kadus adalah panggilanku kini, lumayanlah dari pada panggilan yang dulu, Niyet. Kini aku lebih tenang dan bahagia, Bang Parlin pergi pagi pulang sore, kadang dia tidur di kebun. Pekerjaanku jadi lebih mudah, Anak-anak sekolahnya dekat.
Malam itu, Bang Parlin lagi mengajari anaknya mengaji, memang itu tugas rutin Bang Parlin belakangan ini, tiga kali seminggu dia akan mengajari Ucok dan Butet mengaji. Ada tamu datang, aku kenal Ibu tersebut, dia salah satu orang tua murid yang sering datang antar anaknya sekolah.
__ADS_1
"Ada apa ya, Bu ?" tanyaku.
"Maaf, Bu Kadus, ingin bicara dengan Bang Parlin," kata Ibu tersebut.
"Ohw, Bang Parlin lagi mengajar ngaji anaknya, kalau boleh tahu ada apa ya ?" tanyaku kepo. Ya, tentu saja aku penasaran, ada Ibu muda cantik mau bertemu suamiku.
"Mau bicara sama Bang Parlin saja, aku tunggu," kata Ibu tersebut seraya duduk.
Setelah Bang Parlin selesai mengajar anaknya, dia lalu datang menemui Ibu tersebut, aku terus nempel suami, kepo juga aku ada apa ?
"Maaf, Bang Parlin, mau mintak tolongnya kalau bisa," kata Ibu tersebut.
"Iya, Bu, apa yang bisa saya bantu ?" jawab Bang Parlin.
"Begini, Bang Parlin, hari itu kan adik iparku datang, dia minta tolong samaku, suami adikku itu usaha kelontong, jadi kekurangan modal, padahal tempat mereka bagus, suaminya juga rajin,"
"Tunggu, ini mau curhat atau apa ?" potongku kemudian.
"Hehehe, maaf Bu Kadus," katanya sambil cengengesan.
"Terus ?" kata Bang Parlin.
"Jadi karena usahanya bagus, aku kasihlah tambahan modal, janjinya dia bayar setelah satu tahun, sekarang sudah lima tahun, dia tak mau bayar utangnya, bagaimana caranya aku bisa tagih tanpa merusak hubungan yang bersaudara ? gitu, Bang Parlin."
"Lo, kok samaku, Bu, aku mana ngerti," jawab Bang Parlin.
"Tapi menurut gosip yang beredar, Bang Parlin bisa membuka hati orang supaya bayar hutangnya secara baik-baik," kata Ibu itu lagi, Bang Parlin menatapku, aku jadi merasa tertuduh. Padahal aku hanya cerita pada Ria, apakah Ria cerita ke orang ?
"Wah, ini urusan Bu Kadus, apa wilayahnya sekitar sini ?" kata Bang Parlin seraya melirikku, aku tahu Bang Parlin lagi sindir aku.
"Tidak, Bang Parlin, usahanya di kota kecamatan, padahal mereka sudah kaya, masa bayar hutang sepuluh juta saja gak mau," kata Ibu itu.
"Wah, maaf, Bu," kata Bang Parlin.
Bang Parlin tampak bingung, dia lama terdiam.
"Maaf, Bu, suamiku bukan deb kolektor," aku yang bicara akhirnya.
"Tolonglah, Bang Parlin," kata Ibu itu lagi. Aku jadi sedikit kesal, malu jadi ketahuan aku cerita ke orang, kalau Bang Parlin bisa membuat orang terbuka hatinya untuk membayar hutang. Akhirnya begini, suamiku didatangi orang seperti dukun saja.
"Begini saja, Bu, utang itu pemutus silaturahmi paling ampuh, kalau tanpa memutus silaturahmi itu sulit, contohnya sekarang saja pasti adiknya gak pernah datang kan ?"
"Iya, Bang Parlin,"
"Begitulah, dibayar tidak dibayar silaturahmi akan renggang, kecuali diikhlaskan," kata Bang Parlin.
"Berat, Bang, itu sepuluh juta, lagian mereka kaya, bahkan lebih kaya dari pada aku sekarang," jawab Ibu tersebut.
"Berarti beratlah kalau gitu," jawab Bang Parlin.
"Adakah amalannya kira-kira biar terbuka hatinya bayar hutang," kata Ibu itu lagi.
Bang Parlin lagi-lagi diam, aku tahu dia punya amalannya, akan tetapi aku juga tahu dia tak akan sembarangan memberitahu orang, aku yang istrinya saja gak diajari.
"Ada caranya satu, Bu, inipun jika Ibu mau dan siap," kata Bang Parlin akhirnya.
"Mau Bang, siap,"
"Begini, Bu, Ibu datangi rumahnya, bilang begini, " Saya mau zakatkan uang saya itu, jadi kalau memang kalian tak bisa bayar, aku zakatkan untuk kalian saja, dari pada jadi urusan nanti samaku di akhirat, bagaimana tidak jadi urusan, aku mau masuk sorga, kau datang cari aku untuk bayar hutang, lebih baik kuzakatkan saja, tapi tolong minta surat miskin dari kepala dusun kalau saja kau memang pantas menerima zakat," gitu bilangnya," kata Bang Parlin.
Cara ini pernah dilakukan Bang Parlin waktu temanku pinjam duitku, berhasil memang. Cara ini pula yang diajarkan Bang Parlin. Jadi lucu, padahal Ibu itu mengharapkan ada amalan khusus.
__ADS_1
"Baik, Bang Parlin, akan kucoba," kata Ibu tersebut seraya pamit.
Setelah dia pergi Bang Parlin justru tertawa, entah lucu di makanya aku tak tahu.
"Kau cerita ke orang ya, Dek ?"
"Iya, Bang, hanya cerita ke Ria, padahal sudah kubilang jangan bilang-bilang gitu," jawabku.
"Memang gitu, Dek, adek bilang ke orang yang dipercaya, terus Ria bilang ke orang yang dipercaya, akhirnya menyebar,"
"Maaf, Bang,"
Pagi itu Bang Parlin belum berangkat ke kebun, dia sedang membuat alat tangkap ikan dari bambu. Ada mobil parkir di halaman rumah, aku heran siapa, tak biasanya tamu datang naik mobil.
Seorang lelaki turun dari mobil, pakaiannya tampak bagus, tidak seperti orang kebanyakan di desa ini.
"Apa benar ini rumah Kadus di sini ?" kata pria tersebut.
"Benar, saya sendiri, ada apa ya ?" tanyaku, Bang Parlin juga tampak kepo, dia menghentikan pekerjaannya dan datang mendekat.
"Saya mau ngurus surat keterangan miskin," katanya.
Aku terkejut, orang dengan mobil begini mau ngurus surat keterangan miskin, bukan warga di sini pula.
"Warga mana ?" tanyaku kemudian.
"Saya dari ibukota kecamatan, butuh surat keterangan miskin dari Kadus, tak penting Kadus mana, yang penting surat dari Kadus," katanya lagi.
"Buat apa ?" Bang Parlin ikut kepo.
"Apa perlu saya jelaskan buat apa, pokoknya buat saya bayar dua ratus ribu," kata pria itu.
"Apa syarat untuk dapat zakat ?" tanya Bang Parlin lagi.
"Ya, seperti itulah kira-kira, tapi tidak persis, hanya syarat untuk memutihkan utang,"
Ini pasti adik ipar yang datang tempo hari, ya, Allah, dia serius minta surat miskin hanya karena tak mau bayar utang sepuluh juta. Ada orang seperti ini, samaku pula dia datangnya, padahal dia bukan warga sini, apakah ini kebetulan ?
"Lihat bapak yang menyapu sekolah itu," kata Bang Parlin seraya menunjuk penjagaan sekolah yang kebetulan menyapu halaman sekolah.
"Iya, memang kenapa ?"
"Dia lebih terhormat, lebih kaya dari pada kau, utang cuma sepuluh juta mau kau berdoa supaya miskin, dasar mental miskin kau, kudoakan kau semoga miskin, bapak itu saja tak mau ngurus surat miskin, kau, sepuluh juta itu hanya seharga ban mobilmu, di mana harga dirimu ?" kata Bang Parlin.
"Tunggu dari mana kalian tahu mau putihkan uang sepuluh juta ?" katanya lagi.
"Hei, suamiku ada ilmu hebat, dia bisa baca pikiran orang, jangan coba-coba ngaku miskin, do'a suamiku biasanya makbul, mampus kau jadi miskin nanti," aku ikut geram juga akhirnya.
"Gara-gara utang sepuluh juta, itupun sama saudaramu sendiri, yang sudah bantu kau dulu ? Bagiku kau lebih rendah dari pada pencuri," kata Bang Parlin lagi.
"Dari mana kalian tahu utang sama saudara ?" pria itu makin terlihat kebingungan.
"Sudah dibilang suamiku orang hebat, bisa baca pikiran,"
"Sana kau bayar utangmu, buat malu laki-laki aja kau !" kata Bang Parlin.
Orang itu lalu pergi, dia masih geleng-geleng kepala sebelum masuk ke mobilnya.
"Begitulah, Dek, apa yang kita mulai datangnya ke kita juga," kata Bang Parlin.
"Maksudnya, Bang ?"
__ADS_1
"Kita usulkan minta surat dari Kadus, datangnya dia ke mari, dari segitu banyak Kadus," kata Bang Parlin.
* masih lanjut kita dengan keseruan Nia jadi ibu kepala dusun 🤠*