
...* Sayangku ( bukan ) Jadulku...
Bulan berikutnya, sudah ada dana masuk untuk gaji empat orang guru ngaji. Bang Parlindungan dan tiga orang anak angkatnya dapat honor dari pemerintah kabupaten. Aku kurang tahu dari pos mana diambil bupati, akan tetapi bapak kadis pendidikan minta dibuatkan rekening khusus sekolah mengaji tersebut.
"Selamat malam Pak Guru, gaji bulan ini sudah masuk, banyaknya lima juta, dibagi empat orang tenaga pengajar, masing-masing satu juta dua ratus lima puluh," laporku pada suami sambil bercanda. Sampai sekarang Bang Parlindungan memang masih menyerahkan padaku jika urusan bank.
"Ya, udah, sini uangnya," kata Bang Parlin, saat itu, murid mengaji Bang Parlin lagi sibuk belajar, tiga orang anak angkat Bang Parlin yang mengajari mereka.
Ruangan hanya dua, tapi gurunya ada empat, masing-masing guru mengajar murid sepuluh sampai lima belas orang. Satu ruangan disekat jadi dua, jadilah empat lokal dengan empat guru.
"Mana bisa diambil malam-malam begini, Bang, senin baru bisa," kataku lagi. Karena kebetulan malam itu malam sabtu.
"Pakai uang kita dulu, Dek," kata Bang Parlin. ATM terdekat di daerah kami jauhnya sampai dua puluh lima kilometer, itupun ATM nya sering kehabisan uang.
Ketika murid sudah pulang semua, Bang Parlin memanggil ketiga anak angkatnya.
"Begini, kita dapat gaji dari pemerintah, bulan lalu honor masih enam ratus ribu, sekarang sudah naik, jadi satu juta setengah," kata Bang Parlin.
"Satu juta dua ratus lima puluh, Bang," selaku kemudian, aku takut Bang Parlin salah bicara.
"Bukan, satu setengah juta," kata Bang Parlin.
"Tapi semua lima juta, Bang, bagi empat, tentu saja satu juta dua ratus lima puluh, bagaimana sih, perlu kalkulator lagi," protesku.
"Iya, Dek, satu juta setengah kali tiga, empat juta setengah, tinggal lima ratus untuk beli kapur dan operasional sekolah," kata Bang Parlin.
"Jadi, Abang ?"
"Abang kan dari semula memang tak bergaji,"
"Ah, Abang, mana bisa begitu," kataku. Rasanya gak adil, masa Bang Parlin sudah lelah begitu tapi tak terima gaji.
"Bang, Abang tak sekaya dulu lagi, sadar napa ?" sambungku lagi.
"Dek, kita masih cukup, kaya itu ukurannya dicukupnya, apa kita kekurangan ?" tanya suami.
"Dek, orang kaya yang sebenarnya adalah orang yang cukup, biarkan rumahnya sederhana, kendaraannya hanya motor, jika dia merasa cukup, itulah orang kaya, sebaliknya, orang miskin adalah orang yang kurang, biarpun mobilnya sepuluh, rumahnya gedung sawitnya ratusan hektar, jika dia masih merasa kurang, dia itu orang miskin, contohnya kepala desa, udah kaya, sawit luas, eh, uang ngaji pun dikorupsi,"
__ADS_1
"Hei, Bang, mana ada aku korupsi uang ngaji," aku jadi sewot, malah diceramahi.
"Opps, maaf, Dek, salah ngomong abang maksudnya, kepala desa yang lama itu, yang udah dipenjara,"
"Makanya, Bang, hati-hati bicara, salah sedikit, bedanya jauh, mantan kepala desa abang bilang, jangan kepala desa, kalau kepala desa itu, aku, Bang," kataku kemudian.
Tiga orang anak angkat Bang Parlin malah cekikikan, mungkin mereka merasa lucu dengan obrolan kami.
Akhirnya Bang Parlin memberikan uang gaji guru itu masing-masing satu setengah juta, Bang Parlin tetap ngotot tidak terima gaji, ketiga anak angkat Bang Parlin itu tampak terharu.
"Bang Parlin memang idolaku, karena Bang Parlin, aku jadi tersentil, karena itu, aku ambil gaji hanya enam ratus ribu saja, toh, kami masih lajang, kami juga kerja di kebun sawit, aku serahkan sembilan ratus ribu untuk Bang Parlin, jika Bang Parlin tak mau terima, pakai saja untuk kesejahteraan sekolah, beli bangku dan lainnya," kata salah seorang anak angkat Bang Parlin ini.
Lah, di tempat lain orang rebutan uang, sampai korupsi, menipu dan merampok, di sini, malah begini, Bang Parlin memang bawa aura positif. Kebaikannya bisa menular. Luar biasa suamiku.
Akhirnya disepakati, gaji mereka hanya enam ratus ribu sebulan, selebihnya disimpan untuk digunakan nanti bila ada keperluan sekolah atau apa.
Bulan Rabiul Awal tiba, salah satu guru ngaji mengusulkan sekolah mengaji kami mengadakan peringatan maulid nabi. Bang Parlin menyambut baik usulan tersebut, biayanya akan diambil dari uang kas pengajian.
Di desa ini, kata orang tua murid belum pernah ada peringatan maulid nabi. Karena sekolah mengaji pun baru ada. Bang Parlin tampak sangat bersemangat, dia turun langsung melatih murid melakukan pertunjukan. Ada lomba berpidato, lomba hapalan surah pendek. Lomba azan dan lomba kesenian bernuansa Islami.
Aku sudah melatih kedua anakku, Ucok akan marhaban, sedangkan Butet sudah kulatih hapalan. Jurinya adalah para ulama desa.
Acara sudah dimulai, akan tetapi Ustadz yang kami undang sebagai penceramah belum datang. Ketika ditelepon, katanya dia akan tiba satu jam lagi. Acara pun dimulai.
Tiba giliran Ucok, jadwalnya dia akan marhaban, akan tetapi, Ucok sepertinya gugup, tangannya gemetar, aku belum tahu ternyata Ucok demam panggung. Wah, bisa buat malu ini, anak kepala desa kok begitu ?
Bang Parlin naik pentas, dia berbisik pada Ucok, entah apa yang dia bisikkan aku tak tahu.
"Assalaamu'alaikum, bapak-bapak ibu-ibu hadirin sekalian, tadinya saya mau marhaban, tapi Ayah bilang, jadilah diri sendiri, saya tak pandai marhaban, saya minta seruling," kata Ucok.
Duh, anakku, kok malah minta seruling ? kulihat Bang Parlin yang duduk di sampingKu, dia lalu berdiri dan berlari masuk rumah, sesaat kemudian datang lagi dengan seruling di tangan, Bang Parlin antar seruling itu ke panggung dan memberikan pada Ucok. Aku jadi teringat ketika Bang Parlin dipaksa temanku naik panggung, dia minta seruling. Dasar memang anak dan ayah sama saja.
Ucok memainkan seruling itu, suaranya mendayu-dayu, dia dan Bang Parlin memang biasa main seruling jika menggangon sapi. Lalu Ucok menyanyi.
"Tanggal dua belas hari senin, Rabaul awal nama, bulan, tahun gajah namanya tahun, lahir seorang manusia mulia, dialah Muhammad utusan Tuhan." begitu lirik lagu Ucok, nadanya seperti yang biasa dinyanyikan Bang Parlin, ungut-ungut.
Tanpa terasa air mataku menetes, para hadirin pun tampak hening, padahal tadi sudah mulai terdengar ejekan karena Ucok gugup. Ah, anakku ini memang mirip ayahnya. Ucok lanjutkan main seruling, hadirin terdiam. Hanya suara serulingnya yang kedengaran.
__ADS_1
"Itu anakku," kata Bang Parlin seraya bertepuk tangan setelah Ucok selesai.
"Abang bisikkan apa sama dia ?" tanyaku kemudian.
"Abang hanya bilang, kalau gak bisa marhaban, jangan paksakan, jadilah diri sendiri, lakukan apa yang kau bisa."
"Oh, pantas saja," kataku seraya ikut bertepuk tangan, "itu anakku juga," sambungku kemudian.
Ustadz belum datang juga, padahal acara selanjutnya adalah ceramah Ustadz, kami jadi gelisah, ditelepon Ustadznya tidak diangkat, akhirnya setelah berkali-kali ditelepon, Ustadz tersebut minta maaf tak jadi datang, dia tak mau sebutkan alasannya, hanya itu, dia batal datang.
Kami jadi kalang kabut, desa ini wilayah perkebunan, tak ada yang bisa jadi penceramah.
"Yah, Ayah kan Ustadz pande ceramah," kata Ucok pada ayahnya.
"Iya juga, ya, Bang, sana gantikan ustadz itu," kataku kemudian.
Bang Parlin lalu naik panggung, aku deg-degan, kami akan ditertawakan.
"Assalamu'alaikum, karena Ustadz kita berhalangan datang, saya akan menggantinya," kata Bang Parlin.
"Huhuhu," terdengar teriakan mengejek dari barisan bu-ibu.
Setelah salam dan pidato pembuka, Bang Parlin terdiam sejenak, aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, dia akan ambil tema apa. Bang Parlin justru bercerita tentang kami, tentang aku yang memberikan gaji pada guru mengaji, tentang tiga pemuda yang menolak digaji banyak, cukup hanya uang tranportasi. Tapi Bang Parlin tak cerita tentang dirinya.
"Apa pelajaran yang kita petik dari cerita saya ? Dunia ini masih ada orang-orang hebat,di tengah-tengah jaman kapitalis sekarang, masih ada orang hebat, dia istri saya dan tiga anak angkat saya, anak angkat saya itu dulu pernah mencuri sawit, kini dia jadi guru ngaji, dunia ini berputar, jadi bapak-bapak ibu-ibu semua, marilah kita berlomba-lomba dalam kebaikan." kata Bang Parlin, disambut tepuk tangan para hadirin. Aku lega, ternyata suamiku tidak malu-maluin.
Setelah Bang Parlin selesai ceramah, tiba-tiba dua orang pria naik ke panggung dan merampas mikrofon dari tangan pembawa acara. Aku kenal dua pria tersebut. Mereka adalah orang kepercayaan kepala desa lama yang sudah di penjara.
"Saudara-saudara, sekolah ini telah mencoreng nama baik islam, nama baik agama, tiga gurunya telah mencabuli murid perempuan, kami ada bukti," kata salah satu tersebut dengan lantang.
Wah, fitnah apalagi ini.
"Tunjukkan buktinya, siapa anaknya ?" seru seseorang.
"Kami tak mungkin beberkan di sini, tapi kami punya bukti, untuk Anda Parlin dan Nia yang telah memfitnah kepala desa, ingatlah, karma berlaku. Katanya seraya turun dari panggung.
. _lanjutin besok yaaa_
__ADS_1