SAYANGKU JADULKU

SAYANGKU JADULKU
Season 2 Part 7


__ADS_3

...* Sayangku ( bukan ) Jadulku*...


Dunia terbalik, suami yang dulu jadul kini bilang aku jadul hanya karena aku tak tahu siapa itu Ateng, ingin bertanya sama Google kami sedang berada di pesawat.


"Aku mau buang air kecil, Bang," kataku pada Bang Parlin.


"Ya, udah, sana ada toilet, gak usah takut airnya jatuh ke bumi, airnya ditampung," kata suami.


"Hahaha," aku jadi tertawa, suamiku kini mengajari aku buang air di pesawat. Dia yang dulu bahkan tak pandai pakai sendok, tak bisa memakai toilet duduk, kini mengajari aku.


Penerbangan dari Jakarta ke Jambi hanya butuh waktu sekitar satu setengah jam. Menjelang siang kami sudah mendarat di bandara Sultan Thaha Saifuddin. Tak ada yang menjemput kami, mereka memang sudah beritahu duluan kalau saja tak bisa jemput karena baru saja menjemput Bang Parta.


Setelah turun dari pesawat, segera keambil HP dan mencari cara ke Tanjung Jabung Barat, tempat Bang Nyatan tinggal. Ada bus, ada juga mobil travel.


"Kita ke Jambi aja dulu, Dek, jalan-jalan," usul Bang Parlin.


Akhirnya kami cari taksi online ke kota jambi, ingin cari makan siang sekalian jalan-jalan.


"Bang di mana ada jual makanan enak," tanyaku pada sopir taksi yang kami tumpangi.


"Oh, tergantung mau makan apa, Bu," jawab sopir tersebut.


"Makanan khas Jambi ini lah, Bang," kataku lagi.


"Ada gulai tepek, Tempoyak, nasi gemuk, sate ikan ...,"


"Tunggu, nasi apa tadi?" potong Bang Parlin.


"Nasi gemuk, Pak,"


"Haa, itu cocok untuk adek," kata Bang Parlin seraya tertawa.


"Body shaming, Bang,"


"Nasi gemuk, ya, Dek, bukan Nia gemuk," kata Bang Parlin lagi.


"Aku mau nasi gemuk, biar aku gemuk," si Ucok ikut bicara.


"Tapi nasi gemuk itu hanya pagi bukanya, siang gini sudah tak ada, Pak," kata sopir itu.


"Haa, kan, cukup aku yang gemuk, nasi gak usah," kataku riang.


"Udah, sate ikan aja, Bang," kata Bang Parlin.


Si sopir pun membawa kami ke penjual sate ikan. Ternyata sate ikan itu bukan ditusuk, tapi dibungkus di daun pisang. Aku sampai tertawa melihat Bang Parlin heran, dia suka sate, tapi sate yang ini bukan sate katanya.


Gak jadi makan sate yang bukan sate, Bang sopir bawa kami ke sebuah rumah makan. Rumah makan yang menyediakan makanan khas Jambi. Aku tertarik melihat sambal ikan teri campur pete, kata mereka namanya sambal tempoyak, aku pesan itu, sedangkan Bang Parlin dan anak-anak cari aman dengan makan makanan nasional yaitu: Nasi Goreng.


Aku sungguh terkejut, ternyata sambal itu rasanya manis, bau durian lagi, aku paling gak suka bau durian.

__ADS_1


"Ini joruk, enak ini," kata Bang Parlin. Dia justru suka, dia habiskan pesananku.


"Gulai tepek, Bang, kayaknya enak," Tanyaku pada Bang Parlin.


"Ah, namanya genit, Dek, masa tepek?" jawab Bang Parlin.


"Tepek itu maksud dipipihkan, Pak, ikan gabus," kata seorang pelayan yang mendengar pembicaraan kami.


"Oh, begitu,"


Taksi yang kami tumpangi mau juga sampai ke tempat Bang Nyatan, ongkosnya lumayan juga, tapi kami pilih itu saja. Perjalanan dari Jambi ke Kuala Tungkai memakan waktu hamil empat jam, satu jam kemudian baru kami tiba di kebun Bang Nyatan. Di situ sudah menunggu Bang Parta serta Dame. Empat bersaudara itu akhirnya berkumpul. Jarang ini terjadi.


Keluarga Pa Siregar punya istri berbeda suku, Bang Parta istrinya orang banjar, Bang Nyatan istrinya orang batak, sedangkan si Dame istrinya asli Medan. Aku yang juga kelahiran Medan tapi campuran Melayu, Minang dan Jawa.


"Kak Nia, aku mau curhat," kata Rina di suatu malam. Saat itu kami berdua di dalam kamar.


"Iya, Rin, aku mendengarkan," kataku kemudian.


"Bang Dame, Kak,"


"Kenapa dia?"


"Dia punya hobby baru, aku sangat kesal,"


"Hobby apa itu?"


"Game online, semalam aku main game, semenjak dia kenal HP andorid kerjanya main game terus,"


"Gak tau, Kak, tapi tiap pagi dia pergi ke kebun juga,"


"Oh, kalau sampai gak mengganggumu, biar sajalah dia dengan hobbynya," kataku kemudian.


"Tapi itu judi, Kak, kemarin setelah kami panen dia bayar utang pulsa sampai dua juta, buat apa pulsa sampai dua juta?"


"Wah?"


"Dia main judi online, Kak, bayarnya pakai pulsa, sampai dua juta pulsa dalam dua minggu, aku kesal, Kunasehati, dia selalu bilang Iya, iya, tapi jalan terus," kata Rina.


"Adukan sama Bang Parlin,"


"Itulah, aku takut mereka jadi bertengkar,"


"Biar aku yang bilang,"


Pagi harinya, kubilang sama Bang Parlin tentang keluhan si Rina ini, Bang Parlin sepertinya terkejut juga, ketika kami makan siang bersama. Bang Parlin bicara,"


"Dame, masih kau ingat gak kita makan indan caok?" tanya Bang Parlin.


"Masih, Bang, ibu kita buat indan caok karena tak ada lauk," kata Dame.

__ADS_1


"Masih ingat kau waktu sekolah dulu, sepatumu berlidah," kata Bang Parlin lagi.


"Masih, Bang, bila jalan keluar kaus kakinya, jadi dibilang orang sepatu berlidah," kata Dame.


"Masih ingat nasehat Ayah kita?"


"Masih, Bang, jauhi tiga penyakit laki-laki, minuman keras, judi dan wanita,"


"Oh, jadi masihh kau ingat semua, kupikir kau sudah lupa?"


"Gak, Bang, aku selalu ingat asal kita, ingat perjuangan orang tua kita,"


"Lalu kenapa kau bertingkah sekarang, tak tahukah kau judi itu salah satu perusak rumah tangga, perusak usaha?"


"Bertingkah bagaimana, Bang?"


"Kau berjudi, game online yang sampai gitu itu, judi," kata Bang Parlin.


Dame terdiam, dia menunduk.


"Ingat, Dame, ingat siapa kita, dari mana asal kita, ingat nasehat ayah, tolong Dame, aku minta tolong, jangan berjudi, cari kesibukan lain, jangan pernah berjudi, lihat itu anakmu, inginlah kau dia menderita seperti kita waktu kecil?" kata Bang Parlin.


"Iya, Bang," Di luar dugaan Dame menangis. dia berusaha menyembunyikan air matanya.


"Kenapa?" tanyaku, heran juga dia dinasehati justru menangis.


"Aku teringat Ibu kami, dulu waktu kami kecil kami pernah makan telur dadar satu dibagi empat, hanya kami yang dapat, ibu gak makan, dia bilang dia gak bisa makan telur karena sakit bisul, beliau makan pakai garam saja, lama baru aku tahu ternyata beliau tak makan karena mementingkan anaknya, huhuhu," Dame menangis seperti anak kecil.


"Dia adikku, aku tahu kelemahannya, dia akan berubah jika disinggung tentang masa kecil kami," kata Bang Parlin ketika aku tanya apa yang membuat Dame sampai nangis begitu.


Lain lagi cerita istri Bang Nyatan, katanya suaminya hobby main Facebook, seperti orang yang baru kenal Facebook, apa-apa diunggah, sedikit-sedikit posting. Cerita Kak Sofie-istrinya Bang Parta lain pula. Katanya suami banyak yang naksir, dia jadi tak tenang, tiap malam selalu periksa HP-nya. Ditambah Bang Parta orangnya suka tebar pesona. Selalu ramah pada siapa saja, dan Bang Parta teramat tampan. Mungkin dia lagi memasuki masalah puber ke dua.


"Parlin, nasehati dulu abangmu itu," kata Kak Sofie setelah bercerita panjang lebar.


"Bang Parta abangnya, aku adeknya, masa adek yang nasehati abangnya?" kata Bang Parlin.


"Tapi kau lebih bijaksana, Parlin, Bang Parta juga mengakui, dia banyak belajar darimu," kata Kak Sofie.


"Begini ya, Kak, dalam rumah tangga itu selain butuh cinta dan materi, juga butuh kepercayaan. Kalau tidak percaya sama suami, alamat tak tenang hidupmu, Kak. Satu lagi adalah saling memahami, Bang Parta itu dari dulu begitu, penampilannya selalu rapi, ramah pada siapa saja, ya, pahami sifatnya, kecuali dia berbuat yang tidak-tidak." kata Bang Parlin.


"Abang ini, kok jadi Kak Sofie yang dinasehati," kataku protes.


"Iyalah, Dek, hubungan suami istri itu ibarat arus listrik, ada positif ada negatif, tak ada orang yang sempurna, kalianlah para bidadari yang menyempurnakan seorang suami," kata Bang Parlin.


"Terus dari mana Abang bisa bicara begitu, macam penasehat pernikahan saja kudengar," kataku lagi.


"Makanya, Dek, jangan jadul jadi orang, belajar sama Google."


Lah, aku disebut jadul lagi?

__ADS_1


Catatan kaki


_indan caok \= Nasi sama kelapa parut, digonseng tanpa minyak_


__ADS_2