SAYANGKU JADULKU

SAYANGKU JADULKU
Season 2 Part 27


__ADS_3

...* Sayangku ( bukan ) Jadulku...


Ucok dan Butet mulai terbiasa hidup di desa, Ucok seperti mewarisi kepandaian ayahnya, dia rajin bantu mengurus sapi. Sapi itu juga tampak jinak pada Ucok. Sedangkan aku masih terus mencoba, aku bahkan belum bisa nyalakan api. Kalau mau hidupkan api selalu Bang Parlindungan yang kusuruh.


Dari kecil memang aku tinggal di kota, biarkan tidak kaya, akan tetapi tak pernah pakai kayu bakar, lah, di sini kayapun tetap pakai kayu bakar.


"Niyettt !" teriak Ucok di suatu sore, aku jadi terkejut.


"Ada apa panggil nama mamak, gak sopan kali kau, Cok ?" kataku kemudian.


Ucok tampak bengong, lalu ...


"Ya dipanggil sapi kok mamak yang merepet," kata Ucok.


Duh, aku sampai lupa, sapi itu namanya Niyet, lah, ternyata begini rasanya nama kita dipakai untuk nama sapi, padahal anakku tidak tahu aku dulu pernah punya panggilan Niyet.


"Iya, gak sopan kau teriak gitu, Cok,"


"Memang harus teriak, Mak, Niyet mau dibawa jalan-jalan," kata Ucok.


"Ah, Niyet lagi, entah kenapa, rasanya janggal sekali anakku panggil sapi, kenapa lah namanya harus nama orang, kalau gak Nunung, Rara, kini sudah Niyet pula.


"Mulai sekarang ganti nama sapi itu, Cok !"


"Mamak makin aneh saja,"


Bang Parlindungan datang, dia mengiring sapi raksasa, nama sapi itu Rembo, kekar berotot.


"Ayo, Cok," ajak Bang Parlin. Lalu ayah dan anak itu pergi masing-masing mengiring satu sapi.


"Bang, pangkas dulu nanti rambut si Ucok itu, dah panjang kali," teriakku sebelum mereka pergi, Bang Parlin hanya menunjukkan jempol tanda iya.


Aku mulai bosan di sini, orang hanya empat keluarga, mereka pun selalu sibuk dengan kerjaan masing-masing. Para Ibu-ibu yang tiga itu benar-benar wanita perkasa, mereka kerja mulai pagi sampai sore, malam jam sembilan sudah tidur, bangun jam empat pagi. Begitulah keseharian mereka.


Bersama Butet, aku berjalan-jalan di seputar kebun, kebun sawit yang sudah mulai tinggi tapi belum berbuah. Di sebelah selatan aku melihat kebun sayur di pinggir jalan, dua baris sepanjang jalan itu ditanami turung ungu yang sudah mulai berbuah itu kebun salah satu karyawan kami, itu memang usaha sampingan mereka.


"Mau ke mana, Bu ?" tegur seorang wanita agak tua.


"Jalan-jalan, melihat-lihat saja," jawabku kemudian.


"Oh, tunggu bentar ya, Bu," kata ibu itu lagi, seraya masuk ke dalam pondok, tak lama kemudian dia keluar lagi dengan membawa keranjang pandan berisi sayur bermacam-macam.


"Ini, Bu, untuk masak di rumah," kata Ibu tersebut.


Keranjang tersebut berisi daun ubi, kacang panjang, cabe, pokoknya sangat lengkap untuk dapur, aku jadi sangat terharu sekali. Ibu ini sudah tua, akan tetapi masih bisa berkebun dan menghasilkan. Sedangkan aku ? Ah, aku juga harus bisa. Aku akan berkarya di sini.


Aku pulang ke rumah, bawa sayur dan cabai yang cukup banyak, mungkin ini cukup untuk sayur tiga hari. Tentu saja aku sangat senang, sekaligus merasa tertampar, aku yang masih muda dan sehat tak melakukan apa-apa, ditinggal suami untuk kerja aku justru mengeluh, sementara Ibu tadi sudah tua, jalannya pun sudah bungkuk, tapi masih bisa berkebun.


Ketika Bang Parlindungan dan Ucok pulang, aku lihat Ucok sudah rapi, rambutnya sudah dipangkas, akan tetapi ketika kulihat bagian belakang, ada rambut gobel nya. Lah, dia meniru ayahnya atau ini perbuatan ayahnya.

__ADS_1


"Cok, sini dulu,"


"Apa, Mak ?"


"Ini kenapa dibiarkan panjang, biar dimarahi Bu Guru kau ?"


"Itu, Mak, tukang pangkas itu yang bikin, katanya biar kek ayah,"


"Nanti dimarahi guru,"


"Itulah, Mak, aku bilang juga gitu, tapi uwak itu bilang, "gurunya kan uwakmu sendiri, mana berani," gitu kata uwak itu,"


Kutatap Bang Parlindungan, dia hanya cengar-cengir, ini pasti ajarannya, aku sungguh kesal, cukup Bang parlin dan anaknya si Rara yang begitu, kuambil gunting, kupotong habis rambut gobel tersebut.


Ucok tak protes, Bang Parlindungan juga hanya tertawa.


"Bang, aku mau berkebun," kataku pada Bang Parlindungan, ketika malam tiba. Saat itu kami lagi duduk-duduk di rumah bagian bawah. Rumah di sini dua tingkat terbuat dari papan bagian bawah tak berdinding.


"Kita kan lagi berkebun sawit ini," jawab Bang Parlin.


"Aku mau berkebun sayur, abang kok gak berkebun sayur lagi, dulu di Medan, halaman seupil pun dikebunkan, ini luas," kataku.


"Mak, mana bisa berkebun sayur di sini, habislah dibikin si Niyet," Ucok yang menjawab.


"Kok habis pula, emang mau kuapain ?" duh, aku sudah salah lagi, Niyet maksudnya adalah sapi, lah, kenapa aku sebodoh ini, tentu saja gak bisa berkebun karena sapi berkeliaran. Aku baru inget, tempat ibu berkebun tadi di pagar tinggi.


"Itu ajak si Niyet menggosip, dia teman curhat paling baik, gak pernah bocor apapun yang kita katakan," Bang Parlindungan malah bercanda.


"Aku serius, Bang, aku ingin ada kegiatan," kataku kemudian.


Bang Parlin tampak terdiam, dia menarik napas panjang, aku tahu, bebannya sudah berat, akan tetapi aku benar-benar bosan, bukan karena bosan di desa, tapi bosan karena tak ada kerjaan. Aneh memang, padahal selama menikah dengan Bang Parlin dia tak pernah memperbolehkan aku, kerja, pernah kerja pun kulakukan secara sembunyi-sembunyi. Akan tetapi kini aku benar-benar sudah bosan.


"Kalau bosan di sini, pindah ke Medan lagi, Dek, Abang gak bisa seperti dulu lagi, kini tak ada lagi pemasukan, sawit belum berbuah," Bang Parlin akhirnya bicara serius.


"Abang bagaimana, sih, aku ke sini karena ingin bersama abang, malah disuruh pergi ke Medan," kataku sewot.


"Jadi, harus bagaimana lagi, Dek ? Dunia itu berputar, sekarang beginilah kita apa adanya, jadi tolong berhenti mengeluh, tak ada keluhan yang bisa mengubah nasib," kata Bang Parlin.


"Maaf, Dek, kalau Abang belum bisa membuatmu bahagia, ini juga diluar prediksi Abang, sabarlah, Dek, dua tahun lagi, kita bisa seperti dulu, keliling Indonesia, atau bahkan keliling dunia," kata Bang Parlin.


Tinggal di desa ini memang membosankan, jam sembilan malam sudah tidur, tak ada kegiatan lagi, mau main HP pun tak enak karena sinyal timbul tenggelam, mau nonton TV pun harus hidupkan genset, listrik di sini masih pakai genset.


Keesokan harinya, masih pagi Bang Parlin sudah pergi bawa truk, pulangnya bawa bambu dan kayu. Dia bersama seorang pekerja menurunkan bambu tersebut.


"Untuk apa, Bang ?"


"Buat pagar Dek, kita mau berkebun," kata Bang Parlin.


Aku hanya menonton mereka membuat pagar yang cukup tinggi, lahan sekitar lima puluh meter persegi dipagar. Bang Parlin seperti mendengar keluhanku, dia mungkin mau buat kebun sayur. Jauh dalam lubuk hatiku aku justru kasihan sama Bang Parlin, aku istrinya terlalu banyak menuntut, padahal sudah senang untuk ukuran desa.

__ADS_1


Ketika asyik buat kandang, ada tamu datang, mobil truk L 300 masuk kebun. Lalu seorang pria berperut buncit turun dari mobil, menyalami Bang Parlin.


"Siapa, Bang ?" tanyaku seraya menyalami tamu tersebut.


"Ini, Dek, toke lembu, si Rembo mau dijual,"


"Kenapa dijual, Bang ?"


"Untuk modal, Dek, lagian ini sapi tua, kita ganti yang lebih muda," kata Bang Parlin.


"Jadi jantan si Niyet nanti gimana ?"


"Niyet sudah hamil,"


Aku meninggalkan mereka bicara, aku pergi menjemput Ucok dan Butet, ketika kami pulang, Ucok marah ketika tahu Rembo mau dijual, dia menangis memeluk sapi besar tersebut. Dasar memang ayah dan anak sama, semua cinta sapi. Bang Parlin tampak kewalahan menenangkan Ucok.


"Memang kenapa harus dijual, Bang ?" tanyaku seraya memegangi Ucok.


"Untuk modal, Dek,"


"Untuk modal apa, gak kasihan lihat Ucok ini, Abang gak punya hati, udah tau anaknya sama dengan ayahnya, kejadian ini mirip si Nunung dulu, Abang juga sampai nangis, kok masih dibuat anaknya begini," aku jadi mengomel.


"Jadi bagaimana lagi, kau butuh hiburan, kau mau berkebun, berkebun juga butuh modal, tak bisa berkebun selama ada Rembo di sini, dia sekuat gajah, Abang harus bagaimana lagi ?apa sebenarnya maumu ?" tak disangka suara Bang Parlin jadi bicara keras.


Aku jadi emosi juga, kami jadi adu kuat suara, entahlah, baru ini kejadian begini.


"Apa mauku ? Abang tanya apa mauku, kalau mau jual sapi kenapa gak bilang-bilang, sesulit itukah ngomong, lihat anakmu jadi histeris begini, kau ajari dia suka sama sapi, sudah suka dia kau jual sapinya,"


Orang yang mau beli sapi itu jadi permisi pulang, mungkin dia takut mendengar suaraku yang menggelegar.


Jadi batal jual sapi, baru Ucok bisa tenang, aku tak habis pikir Ucok bisa persis seperti ayahnya, mencintai sapi berlebihan. Aku jadi menyesal pindah ke desa ini.


Aku dan Bang Parlin jadi saling gak tegur satu harian, dia sibuk entah apa, aku masuk rumah panggung, buat pagar pun jadi batal. Bang Parlin justru mondar-mandir entah ke mana, dia hidupkan motor, baru pergi entah kemana, sore baru dia kembali.


Ketika malam tiba, setelah Ucok dan Butet tidur, aku mendekati Bang Parlin, aku merasa bersalah juga.


"Maaf, Bang, adek bersikap kekanak-kanakan," kataku seraya memeluknya dari belakang.


"Iya, Dek, Abang yang salah, Abang bisa nasehati orang, tapi tak bisa menjalankan nasehat sendiri, Abang melakukan kesalahan seperti yang pernah dilakukan Dame, Abang egois," kata Bang Parlin.


"Maaf, Bang,"


"Kau benar, wanita memang butuh hiburan, menggosip salah satu hiburan wanita, Abang egois, wanita kota dikurung di kebun begini ya mana tahan,"


"Adek akan coba beradaptasi, Bang," kataku kemudian.


Lalu malam itu diakhiri dengan hubungan halal yang entah sudah berapa lama alpa. Mungkin ini juga yang membuat aku uring-uringan, Bang Parlin seperti lupa nafkah batin. selama di desa ini ...


* Ohhh... gimana sih abang.. lupa ngajak Nia ke bulan rupanya 🤭 *

__ADS_1


__ADS_2